Avatar

Admin MUI

Penulis Kolom

26 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Egoisme dan Optimisme Menjelang Masuk Bulan Ramadhan



Sabtu , 02 Maret 2024



Telah dibaca :  888

Naluri manusia selalu merasa kurang. Bagi seseorang yang belum mempunyai pasangan, melihat kesempurnaan hidup ketika saat ia telah mendapatkan pasangan hidup. ia mulai berfikir, bahwa saat menikah masih ada sesuatu yang kurang, yaitu anak-anak yang menjadi buah hatinya. Saat tuhan menganugerahkan keturunan, terasa masih ada yang kurang lagi, yaitu kendaraan, rumah, jabatan dan kekayaan. Jadi, impian atau cita-cita sebenarnya suatu problem. Selesai problem pertama, maka akan muncul problem baru. Begitu seterusnya.

Manusia merupakan ciptaan Allah tercanggih. Tidak ada Kecerdasan yang melebihi kecerdasan yang dimiliki manusia, bahkan termasuk ciptaannya. Manusia bisa membuat robot buatan atau kecerdasan buatan yang sering disebut “AI” (artificial intelligence). Ia bisa berbangga diri dengan karya monumentalnya. Sayangnya, manusia sering tidak menyadarinya. Sehebat apapun karyanya sebenarnya tetap kalah dengan sendirinya. Meskipun pada aspek tertentu, manusia bisa kalah oleh buatannya sendiri. tapi sehebat apapun, manusia merupakan makhluk terbaik dari segala ciptaan-nya. Sehebat apapun manusia, ia sebenarnya sedang menunjukan suatu kelamahan ada dirinya sendiri. Ia boleh bangga bisa menciptakan teknologi yang mutakhir, tapi ia harus malu kemampuannya kalah oleh makhluk Allah lainnya. Manusia bisa menciptakan telor buatan, tapi tidak bisa menetas sebagaimana yang dilakukan oleh ayam. Manusia bisa menciptakan robot nyamuk, tapi tidak bisa menciptakan nyamuk yang bisa berkembang biak. Dari sini semakin paham, bahwa manusia sangat lemah dan tidak bisa berbuat apa apa tanpa pertolongan-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 26 berbunyi: “Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”. Lanjutan ayatnya sebagai berikut: “Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan,”apa maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”.

Namun manusia selalu egois. Kadang ia bererilaku melebihi statusnya dan kapasitasnya. Ia berjalan di muka bumi dengan penuh keangkuhan atas kecerdasan, kekuasaan, dan kekuatannya. Pandangan sinis kepada orang disekitarnya dan menganggap orang lain berada di bawah kemampuanya telah membentuk pribadi yang adigang-adigung. Persaaan ini terus dibawa, sehingga kesadaran terhadap dirinya sendiri lupa. Hati tertutup untuk mengakui kelebihan orang lain, dan terus menganggap orang lain tidak memunyai kekuatan dan kehebatan.

Orang tua kita telah mengajarkan melalui cerita-cerita anak kecil tentang kura-kura dan kancil. Kita boleh tertawa saat mendengar cerita tersebut. Kita bisa menganggap ini  sebuah lelucon yang menyesatkan akal ikiran manusia. Namun dalam kenyataanya, cerita tersebut sering terjadi dalam realita kehiduan. Betapa banyak orang-orang yang hebat saat sekarang ini hancur karena kehebatannya dan terlalu cepat larinya mengejar kekayaan dunia. Akal nya terlalu cepat berfikir untuk meraih segala yang diinginkan. Kecerdasan akal menjadi tertutup oleh nafsu. Akal akhirnya hanya berisi program-program yang terlihat baik dan menyenangkan, tetapi hakikatnya racun yang mematikan kehiduannya.

Egoisme merupakan cermin dari keangkuhan diri. Ia lawan dari ketawadhuan yang sering kita dengar dalam kehiduan sehari-hari. Nabi Muhammad telah bersabda, “Tidak akan masuk surga barangsiapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka barangiapa yang dalam hatinya terdapat iman walauun sekecil biji sawi. Seorang bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang suka berpakaian bagus. Beliau menjawab, Allah swt maha indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah berpaling dari al-hak dan mencemooh manusia”.

Fudhail mengatakan, tawadhu yaitu pasrahlah kepada kebenaran, patuhi dan terimalah ia dari siapapun yang mengatakannya. Ia juga mengatakan, Allah swt mewahyukan kepada gunung gunung, aku akan berbicara dengan seorang nabi di salah satu uncak di antaramu. Maka gunung-gunung itu lalu berlomba-lomba meninggikan dirinya dengan sombongnya, sedangkan gunung Thursina justru merendahkan dirinya dengan penuh kerendahan hati. Maka Allah swt berbicara kepada nabi Musa as, dipuncak gunung ini, dikarenakan ketawadhu’annya. Junaidi mengatakan, “Tawadhu’ adalah merendahkan sayap terhadap semua makhluk dan bersikap lembut kepada mereka” (An-Naisabury, 1997).

Tawadhu telah melahirkan kedamaian hati, sedangkan egoisme telah melahirkan angkara murka terjadi di muka bumi. Tawadhu’ melahirkan aktivitas kesadaran jiwa untuk senantiasa menebarkan kebaikan kepada semua orang. Berikut ini kisah menarik dari seorang pelajar yang bernama Endang Arifin. Ia meninggal dunia saat berusaha menolong pelajar SMP Jepang yang hampir tenggelam di sebuah pantai di Prefektur Miyazaki pada musim panas 2007 lalu. Saudara Endang yang datang ke Jepang sebagai peserta magang bidang perikanan dari Indonesia, pada suatu hari libur mengunjungi pantai tersebut bersama teman-temannya. Saat itu bersama temannya bergegas menceburkan dirinya ke laut, terdengar teriakan minta tolong dari seorang pelajar SMP. Pelajar SMP itu berhasil ditolong oleh beberapa sahabat saudara Endang. Namun Endang yang menceburkan diri menolong pelajar tersebut, malah dia sendiri ditelan oleh arus pusaran air yang cepat hingga mengorbankan jiwanya (Ikeda, 2010).

Tawadhu adalah kekosongan hati dari debu-debu kebencian terhadap kehidupan yang ia jalani. Ia senantiasa penuh jiwa optimisme dalam menjalankan hidupnya. Tuhan dalam hatinya adalah sumber inspirasi untuk melakukan apapun dengan penuh kekuatan jiwa. Pikiranya sudah melampui batas-batas kepentingan dunia semata. Ia sudah tidak sebatas pada orientasi keuntungan pribadi, tapi ia telah memposisikan bagaimana hari-harinya mendapatkan pengakuan dari Allah sebagai kekasih-Nya.

Islam mengajarkan pentingya optimisme dalam menata kehiduan yang lebih baik. Ia menjadi penggerak roda kehidupan sepanjang sejarah. Optimisme berbeda dengan egoisme. Meskipun pada saat tertentu keduanya saling bersinggungan, optimisme sejati merupakan pancaran kejujuran dalam melihat dirinya sendiri dan akan terus memperbaiki kualitas diri. Jadi, kendala yang mengalangnya sebagai jalan untuk interopeksi diri dan mengembangkan diri untuk bisa menundukan segala halangan dengan profesionalitas. Egoisme justru sering menutup diri dari kelemahan diri dan mencoba untuk mendesain diri dengan segala kesukesan fatamorgana. Bisa jadi akan terlihat baik, tapi lambat laut akan terbuka sendiri tentang diri kita sebenarnya. Seperti sebuah produk bangunan yang terbuat asal-asalan. Terlihat bagus, tapi pada akhirnya cepat hancur akibat dari kondisi bangunan yang tidak sesuai dengan prosedurnya.

Allah berfirman dalam Q.S. Yunus[10]: 6-7 sebagai berikut:”Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami”. Ayat tersebut menggambarkan bahwa ada sebuah perilaku sebagian manusia yang terombang-ambing dalam ketidakpastian dalam menghadapi kehidupan. Mereka tidak bisa melihat rahasia-rahasia kehidupan yang diletakan dari setiap peristiwa, kejadian, dan segala perintah-perintah-Nya serta larang-larangan-Nya. Manusia yang penuh keraguan akan masa depan (akherat) melihat segala aktivitas perintah-perintah Allah dan larang-larangan-Nya adalah sebatas pekerjaan yang tidak memberi keuntungan duniawiyah. Akibatnya, mereka menjalankan perintah-perintah-Nya penuh dengan keraguan, dan melihat larangan-larangan-Nya malah merasakan suatu kenikmatan.

Sebentar lagi puasa di bulan ramadhan pun tiba. Semua bisa saja mempunyai pandangan yang berbeda tentang ibadah tersebut, sebagian ada yang menyambutnya dengan penuh kebahagiaan, sebagian menyambutnya dengan penuh kesedihan. Perbedaan tersebut karena mereka mempunyai sudut pandang berbeda terhadap perintah-Nya. Imam Al-Ghazali melihat ibadah puasa sebagai ibadah yang mempunyai manfaat terhadap pribadi seseorang yang menjalankan ibadah tersebut. Menurutnya ada beberapa manfaat sebagai berikut: pertama, puasa merupakan ibadah yang bermanfaat bagi keribadian seseorang. Melalui puasa, seseorang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan menjadi lebih terkontrol. Kedua, puasa merupakan ibadah yang bermanfaat bagi kesehatan. Melalui puasa, seseorang dapat mengurangi resiko penyakit yang disebabkan oleh kelebihan makan dan minuman. Ketiga puasa juga merupakan ibadah yang bermafaat bagi kemajuan spiritual seseorang. Melalui puasa, seseorang dapat meningkatkan kesadaran akan Tuhan dan keberadaan-Nya. Keempat, Puasa juga merupakan ibadah yang bermanfaat bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Melalui puasa, seseorang dapat memahami bagaimana orang lain merasakan kelaparan dan kehausan, sehingga dapat membantu memecahkan masalah kelaparan dan kemiskinan di masyarakat.

Tuhan telah meletakan hikmah puasa begitu besar bagi orang-orang yang memahaminya dengan kejernihan hati. Puasa telah mengajarkan harmoni kehidupan yang baik dan benar baik terhadap sesama manusia maupun kepada alam sekitarnya. Puasa telah melahirkan kehalusan perasan dan empati kepada sesama manusia sehingga tumbuh rasa kasih sayang dan saling menghargai keberagaman sebagai bagian dari kecintaan kepada sang pencipta. Orang yang benar-benar ahli puasa, telah melihat manusia dengan pandangan ilahiah. Ia sudah tidak menempatkan manusia sebagai obyek yang subyektif. Ia telah menempatkan manusia sebagai subyek yang obyektif, bahwa siapapun bisa menjadi orang yang mulia dan siapapun harus menghargai proses dan hasilnya dengan penuh kelapangan hati.

Seorang muslim dalam melaksanakan puasa bisa menahan lapar dan dahaga. Namun terkadang tidak bisa menahan emosi, egoisme dan kemarahan serta hal-hal yang bersifat spiritual. ujub atau takabur atas segala asesoris dunia yang melekat pada dirinya, dan memandang sebelah mata kepada orang yang mempunyai nasib berada di bawah nya. Akhirnya puasa hanya sebatas prosedural, dan kehilangan subtansional. Banyak orang berpuasa, tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Dhahirnya puasa, tapi batinya liar tidak terkendali menuruti hawa nafsu. Itu sebabnya, mengendalikan egoisme spiritual pribadi masing-masing menjadi sangat penting agar optimisme menjadi puasa sebagai jalan perubahan diri benar-benar terealisasi dalam kehidupan di masa mendatang.



Penulis : Admin MUI


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Bersama Lebah dan Semut
15 Agustus 2026   Oleh : Khairan Efendi   190

Dari Sudut Makam, Saya Menemukan Wajah Kemerdekaan
12 Agustus 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   242

Menjemput Hidayah, Bukan Menantinya.
30 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   65

Jejak Lereng Muria, antara Meniti Tangga dan Menata Hati
19 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   48

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1587


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1169


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1005


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      963