
Naluri manusia selalu merasa kurang.
Bagi seseorang yang belum mempunyai pasangan, melihat kesempurnaan hidup ketika
saat ia telah mendapatkan pasangan hidup. ia mulai berfikir, bahwa saat menikah
masih ada sesuatu yang kurang, yaitu anak-anak yang menjadi buah hatinya. Saat
tuhan menganugerahkan keturunan, terasa masih ada yang kurang lagi, yaitu
kendaraan, rumah, jabatan dan kekayaan. Jadi, impian atau cita-cita sebenarnya
suatu problem. Selesai problem pertama, maka akan muncul problem baru. Begitu
seterusnya.
Manusia merupakan ciptaan Allah
tercanggih. Tidak ada Kecerdasan yang melebihi kecerdasan yang dimiliki manusia,
bahkan termasuk ciptaannya. Manusia bisa membuat robot buatan atau kecerdasan
buatan yang sering disebut “AI” (artificial intelligence). Ia bisa
berbangga diri dengan karya monumentalnya. Sayangnya, manusia sering tidak
menyadarinya. Sehebat apapun karyanya sebenarnya tetap kalah dengan sendirinya.
Meskipun pada aspek tertentu, manusia bisa kalah oleh buatannya sendiri. tapi
sehebat apapun, manusia merupakan makhluk terbaik dari segala ciptaan-nya.
Sehebat apapun manusia, ia sebenarnya sedang menunjukan suatu kelamahan ada
dirinya sendiri. Ia boleh bangga bisa menciptakan teknologi yang mutakhir, tapi
ia harus malu kemampuannya kalah oleh makhluk Allah lainnya. Manusia bisa
menciptakan telor buatan, tapi tidak bisa menetas sebagaimana yang dilakukan
oleh ayam. Manusia bisa menciptakan robot nyamuk, tapi tidak bisa menciptakan
nyamuk yang bisa berkembang biak. Dari sini semakin paham, bahwa manusia sangat
lemah dan tidak bisa berbuat apa apa tanpa pertolongan-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Q.S.
Al-Baqarah [2]: 26 berbunyi: “Sesungguhnya Allah tidak malu membuat
perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”. Lanjutan
ayatnya sebagai berikut: “Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa
perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan,”apa
maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak
orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang
diberi-nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang
yang fasik”.
Namun manusia selalu egois. Kadang
ia bererilaku melebihi statusnya dan kapasitasnya. Ia berjalan di muka bumi
dengan penuh keangkuhan atas kecerdasan, kekuasaan, dan kekuatannya. Pandangan
sinis kepada orang disekitarnya dan menganggap orang lain berada di bawah
kemampuanya telah membentuk pribadi yang adigang-adigung. Persaaan ini terus
dibawa, sehingga kesadaran terhadap dirinya sendiri lupa. Hati tertutup untuk
mengakui kelebihan orang lain, dan terus menganggap orang lain tidak memunyai
kekuatan dan kehebatan.
Orang tua kita telah mengajarkan
melalui cerita-cerita anak kecil tentang kura-kura dan kancil. Kita boleh
tertawa saat mendengar cerita tersebut. Kita bisa menganggap ini sebuah lelucon yang menyesatkan akal ikiran
manusia. Namun dalam kenyataanya, cerita tersebut sering terjadi dalam realita
kehiduan. Betapa banyak orang-orang yang hebat saat sekarang ini hancur karena
kehebatannya dan terlalu cepat larinya mengejar kekayaan dunia. Akal nya
terlalu cepat berfikir untuk meraih segala yang diinginkan. Kecerdasan akal
menjadi tertutup oleh nafsu. Akal akhirnya hanya berisi program-program yang
terlihat baik dan menyenangkan, tetapi hakikatnya racun yang mematikan
kehiduannya.
Egoisme merupakan cermin dari
keangkuhan diri. Ia lawan dari ketawadhuan yang sering kita dengar dalam
kehiduan sehari-hari. Nabi Muhammad telah bersabda, “Tidak akan masuk surga
barangsiapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sekecil biji sawi,
dan tidak akan masuk neraka barangiapa yang dalam hatinya terdapat iman walauun
sekecil biji sawi. Seorang bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang
suka berpakaian bagus. Beliau menjawab, Allah swt maha indah dan menyukai
keindahan. Sombong adalah berpaling dari al-hak dan mencemooh manusia”.
Fudhail mengatakan, tawadhu yaitu
pasrahlah kepada kebenaran, patuhi dan terimalah ia dari siapapun yang
mengatakannya. Ia juga mengatakan, Allah swt mewahyukan kepada gunung gunung,
aku akan berbicara dengan seorang nabi di salah satu uncak di antaramu. Maka
gunung-gunung itu lalu berlomba-lomba meninggikan dirinya dengan sombongnya,
sedangkan gunung Thursina justru merendahkan dirinya dengan penuh kerendahan
hati. Maka Allah swt berbicara kepada nabi Musa as, dipuncak gunung ini,
dikarenakan ketawadhu’annya. Junaidi mengatakan, “Tawadhu’ adalah merendahkan
sayap terhadap semua makhluk dan bersikap lembut kepada mereka”
Tawadhu telah melahirkan kedamaian
hati, sedangkan egoisme telah melahirkan angkara murka terjadi di muka bumi.
Tawadhu’ melahirkan aktivitas kesadaran jiwa untuk senantiasa menebarkan
kebaikan kepada semua orang. Berikut ini kisah menarik dari seorang pelajar
yang bernama Endang Arifin. Ia meninggal dunia saat berusaha menolong pelajar
SMP Jepang yang hampir tenggelam di sebuah pantai di Prefektur Miyazaki pada
musim panas 2007 lalu. Saudara Endang yang datang ke Jepang sebagai peserta
magang bidang perikanan dari Indonesia, pada suatu hari libur mengunjungi
pantai tersebut bersama teman-temannya. Saat itu bersama temannya bergegas
menceburkan dirinya ke laut, terdengar teriakan minta tolong dari seorang
pelajar SMP. Pelajar SMP itu berhasil ditolong oleh beberapa sahabat saudara
Endang. Namun Endang yang menceburkan diri menolong pelajar tersebut, malah dia
sendiri ditelan oleh arus pusaran air yang cepat hingga mengorbankan jiwanya
Tawadhu adalah kekosongan hati dari
debu-debu kebencian terhadap kehidupan yang ia jalani. Ia senantiasa penuh jiwa
optimisme dalam menjalankan hidupnya. Tuhan dalam hatinya adalah sumber inspirasi
untuk melakukan apapun dengan penuh kekuatan jiwa. Pikiranya sudah melampui
batas-batas kepentingan dunia semata. Ia sudah tidak sebatas pada orientasi
keuntungan pribadi, tapi ia telah memposisikan bagaimana hari-harinya
mendapatkan pengakuan dari Allah sebagai kekasih-Nya.
Islam mengajarkan pentingya
optimisme dalam menata kehiduan yang lebih baik. Ia menjadi penggerak roda
kehidupan sepanjang sejarah. Optimisme berbeda dengan egoisme. Meskipun pada
saat tertentu keduanya saling bersinggungan, optimisme sejati merupakan
pancaran kejujuran dalam melihat dirinya sendiri dan akan terus memperbaiki
kualitas diri. Jadi, kendala yang mengalangnya sebagai jalan untuk interopeksi
diri dan mengembangkan diri untuk bisa menundukan segala halangan dengan profesionalitas.
Egoisme justru sering menutup diri dari kelemahan diri dan mencoba untuk
mendesain diri dengan segala kesukesan fatamorgana. Bisa jadi akan terlihat
baik, tapi lambat laut akan terbuka sendiri tentang diri kita sebenarnya.
Seperti sebuah produk bangunan yang terbuat asal-asalan. Terlihat bagus, tapi
pada akhirnya cepat hancur akibat dari kondisi bangunan yang tidak sesuai
dengan prosedurnya.
Allah berfirman dalam Q.S.
Yunus[10]: 6-7 sebagai berikut:”Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan
(tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan
dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang
melalaikan ayat-ayat Kami”. Ayat tersebut menggambarkan bahwa ada sebuah
perilaku sebagian manusia yang terombang-ambing dalam ketidakpastian dalam
menghadapi kehidupan. Mereka tidak bisa melihat rahasia-rahasia kehidupan yang
diletakan dari setiap peristiwa, kejadian, dan segala perintah-perintah-Nya
serta larang-larangan-Nya. Manusia yang penuh keraguan akan masa depan
(akherat) melihat segala aktivitas perintah-perintah Allah dan
larang-larangan-Nya adalah sebatas pekerjaan yang tidak memberi keuntungan
duniawiyah. Akibatnya, mereka menjalankan perintah-perintah-Nya penuh dengan
keraguan, dan melihat larangan-larangan-Nya malah merasakan suatu kenikmatan.
Sebentar lagi puasa di bulan
ramadhan pun tiba. Semua bisa saja mempunyai pandangan yang berbeda tentang
ibadah tersebut, sebagian ada yang menyambutnya dengan penuh kebahagiaan,
sebagian menyambutnya dengan penuh kesedihan. Perbedaan tersebut karena mereka
mempunyai sudut pandang berbeda terhadap perintah-Nya. Imam Al-Ghazali melihat
ibadah puasa sebagai ibadah yang mempunyai manfaat terhadap pribadi seseorang
yang menjalankan ibadah tersebut. Menurutnya ada beberapa manfaat sebagai
berikut: pertama, puasa merupakan ibadah yang bermanfaat bagi keribadian
seseorang. Melalui puasa, seseorang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan
menjadi lebih terkontrol. Kedua, puasa merupakan ibadah yang bermanfaat bagi
kesehatan. Melalui puasa, seseorang dapat mengurangi resiko penyakit yang
disebabkan oleh kelebihan makan dan minuman. Ketiga puasa juga merupakan ibadah
yang bermafaat bagi kemajuan spiritual seseorang. Melalui puasa, seseorang dapat
meningkatkan kesadaran akan Tuhan dan keberadaan-Nya. Keempat, Puasa juga merupakan ibadah yang bermanfaat
bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Melalui puasa, seseorang dapat
memahami bagaimana orang lain merasakan kelaparan dan kehausan, sehingga dapat
membantu memecahkan masalah kelaparan dan kemiskinan di masyarakat.
Tuhan telah meletakan hikmah puasa begitu
besar bagi orang-orang yang memahaminya dengan kejernihan hati. Puasa telah
mengajarkan harmoni kehidupan yang baik dan benar baik terhadap sesama manusia
maupun kepada alam sekitarnya. Puasa telah melahirkan kehalusan perasan dan
empati kepada sesama manusia sehingga tumbuh rasa kasih sayang dan saling
menghargai keberagaman sebagai bagian dari kecintaan kepada sang pencipta. Orang
yang benar-benar ahli puasa, telah melihat manusia dengan pandangan ilahiah.
Ia sudah tidak menempatkan manusia sebagai obyek yang subyektif. Ia telah
menempatkan manusia sebagai subyek yang obyektif, bahwa siapapun bisa menjadi
orang yang mulia dan siapapun harus menghargai proses dan hasilnya dengan penuh
kelapangan hati.
Seorang muslim dalam melaksanakan puasa
bisa menahan lapar dan dahaga. Namun terkadang tidak bisa menahan emosi, egoisme
dan kemarahan serta hal-hal yang bersifat spiritual. ujub atau takabur atas
segala asesoris dunia yang melekat pada dirinya, dan memandang sebelah mata
kepada orang yang mempunyai nasib berada di bawah nya. Akhirnya puasa hanya
sebatas prosedural, dan kehilangan subtansional. Banyak orang berpuasa, tapi
hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Dhahirnya puasa, tapi batinya liar tidak
terkendali menuruti hawa nafsu. Itu sebabnya, mengendalikan egoisme spiritual
pribadi masing-masing menjadi sangat penting agar optimisme menjadi puasa
sebagai jalan perubahan diri benar-benar terealisasi dalam kehidupan di masa
mendatang.
Penulis : Admin MUI
Belajar Bersama Lebah dan Semut
15 Agustus 2026   Oleh : Khairan Efendi   190
Dari Sudut Makam, Saya Menemukan Wajah Kemerdekaan
12 Agustus 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   242
Sekolah Aman: Membangun Ruang Belajar yang Menumbuhkan Karakter dan Masa Depan
30 Juli 2026   Oleh : Khairan Efendi   40
Menjemput Hidayah, Bukan Menantinya.
30 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   65
Jejak Lereng Muria, antara Meniti Tangga dan Menata Hati
19 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   48
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1587
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1315
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1169
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1005
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      963