Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

33 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pelita Diujung desa



Selasa , 02 Desember 2025



Telah dibaca :  968

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah dan pepohonan hijau, hiduplah seorang pemuda bernama Hasan. Ia dikenal cerdas, cepat memahami pelajaran, dan memiliki suara merdu saat membaca Al-Qur’an. Namun satu kekurangan yang dimilikinya ialah hatinya mudah merasa lebih tinggi dari orang lain, Setiap kali ia diminta mengajar anak-anak di masjid, ia melakukannya setengah hati. Baginya, kemampuan itu sudah cukup menjadi bukti bahwa ia berada “di atas” penduduk desa yang menurutnya sederhana. Bahkan kepada ayahnya sendiri, ia sering berkata, “Ayah belum tentu bisa memahami kitab seperti aku.”

Sikap itu membuat ayahnya sedih. Akhirnya, ia mengajak Hasan menemui seorang ulama sepuh yang tinggal di ujung desa, seseorang yang dikenal sebagai Kyai Muthahhar. Meski rumahnya sederhana dan pintunya sudah tua dimakan usia, banyak orang datang untuk meminta nasihat darinya.

Hasan, karena merasa dirinya sudah cukup berilmu, datang dengan tatapan meremehkan.

Saat sampai, sang ulama keluar sambil memegang tongkat. Ia tersenyum dan berkata pelan,
“Assalamualaikum, alhamdulillah ada tamu Istimewa rupanya.” Hasanpun menjawab salamnya, namun dengan sikap yang kaku.

“kyai…,”, “anak saya merasa ilmunya cukup. Mohon beri ia sedikit nasihat.” Tutur sang ayah

Kyai Muthahhar memandang Hasan lama, lalu berkata, “Hasan, masuklah ke dalam rumahku. Tapi… masuklah melalui pintu belakang.”

Hasan bingung. “Mengapa harus pintu belakang? Bukankah pintu depan lebih besar dan lebih layak?”

Sang Kyai tersenyum dan menjawab, “Karena pintu depan tidak bisa dilalui oleh seseorang yang datang dengan dada penuh kebanggaan.”

Hasan terdiam. Namun ia tetap mengikuti perintah itu. Saat menuju pintu belakang, ia menemukan kenyataan bahwa pintu itu sangat kecil dan rendah, hanya cukup dilewati jika seseorang menundukkan badan, bahkan hampir merangkak. Hasan merasa tersinggung. “Ini merendahkanku,” gumamnya. Namun ia tetap masuk. Ketika ia berhasil melewati pintu sempit itu, sesak nafasnya terasa. Dan di sudut hatinya, muncul sesuatu yang baru: rasa kecil, rasa hampa, rasa bahwa dirinya hanyalah manusia biasa.

Di dalam rumah, sang ulama sudah menunggu sambil tersenyum.

“Hasan,” katanya, “pintu tadi adalah gambaran ilmu dan hikmah. Tidak akan masuk cahaya hikmah kepada seseorang yang merasa dirinya tinggi. Tidak akan turun keberkahan ilmu kepada seseorang yang menuntut ilmu untuk meninggikan kedudukan. Dan tidak akan masuk ketakwaan ke hati yang keras oleh rasa lebih dari yang lain.”

Sang ulama melanjutkan perkataannya dengan lembut:

“Ilmu itu seperti air. Ia akan turun ke tempat yang rendah. Jika hatimu tinggi, ilmu tidak akan menetap di sana meski engkau hafal banyak kitab.” Hasan pun menunduk. Dadanya terasa hangat dan sakit pada saat yang sama, Ayahnya memperhatikannya sambil tersenyum haru.

Kemudian Kyai Muthahhar mengambil segelas air. Ia menuangkannya pelan-pelan ke mangkuk besar. Lalu ia berkata: “Lihat, air ini jatuh ke mangkuk yang berada di bawah. Ia tidak pernah naik ke atas. Bila engkau ingin menjadi wadah ilmu, rendahkan hatimu. Rendahkan egomu. Rendahkan pandanganmu terhadap sesama.” “Karena semakin rendah dirimu di hadapan manusia, semakin tinggi dirimu di hadapan Allah.”

Hasan tak mampu menahan air matanya. Ia sadar betapa selama ini ia belajar bukan untuk Allah, melainkan untuk dipuji. Ia membaca bukan untuk mencari ridha, melainkan untuk merasa hebat, Air mata mengalir jatuh ke lantai rumah tua itu., Kyai Muthahhar pun mendekat dan mengusap pundaknya.

“Anakku,” katanya lembut, “Aku tahu Allah mencintaimu. Karena itu Dia mengizinkanmu merasakan luka di hatimu sendiri sebagai tanda agar kau kembali kepada-Nya.” Hasan menangis lebih keras. Ia merasa pintu kecil tadi seakan menjadi jalan masuk cahaya ke dalam jiwanya, Sejak hari itu, Hasan berubah.

Ia kembali mengajar anak-anak di masjid, tapi dengan wajah yang lebih ramah. Ia mengucapkan salam terlebih dulu kepada orang-orang desa yang dulu ia anggap rendah. Ia meminta maaf kepada ayahnya. Ia memuliakan siapa saja yang ditemuinya, Dan malam itu, ia berdiri dalam shalat dengan hati yang lembut, air mata jatuh tanpa ia tahan.

Dalam sujud panjangnya, ia berbisik:m“Ya Allah, Engkaulah Pemilik Ilmu, aku hanyalah hamba yang jahil. Ampuni kesombonganku.” Sementara itu, di rumah kecil di ujung desa, Kyai Muthahhar tersenyum, memandang langit yang penuh bintang….Ia berkata, seolah berbicara kepada malam: “Hikmah tidak diberikan kepada orang yang merasa pintar, tetapi kepada orang yang merasa membutuhkan Allah.”

Pembaca yang Budiman, siapapun dan dimanapun kita, berprofesi sebagai apapun, merasa rendah diri itu sangat penting untuk semakin mempertanjam ilmu pengetahuan dan makrifat kepada Allah, terkadang kita sering merasa diri kita itu tinggi dan lebih dari orang lain, padahaal disanalah mulai bibit-bibit ke fujuran itu disemaikan oleh syetan, bukan kah iblis jauh lebih faham tentang ilmu pengetahuan, tapi karena ada titik kesombongan dalam dirinya ia telah dihinakan oleh allah dan di keluarkan dari syurga.



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   23

Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   30

Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   22

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1127


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      969


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954