
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan
sawah dan pepohonan hijau, hiduplah seorang pemuda bernama Hasan. Ia dikenal
cerdas, cepat memahami pelajaran, dan memiliki suara merdu saat membaca
Al-Qur’an. Namun satu kekurangan yang dimilikinya ialah hatinya mudah merasa lebih tinggi
dari orang lain, Setiap kali ia diminta mengajar anak-anak di
masjid, ia melakukannya setengah hati. Baginya, kemampuan itu sudah cukup
menjadi bukti bahwa ia berada “di atas” penduduk desa yang menurutnya
sederhana. Bahkan kepada ayahnya sendiri, ia sering berkata, “Ayah belum tentu
bisa memahami kitab seperti aku.”
Sikap itu membuat ayahnya sedih. Akhirnya, ia
mengajak Hasan menemui seorang ulama sepuh yang tinggal di ujung desa,
seseorang yang dikenal sebagai Kyai
Muthahhar. Meski rumahnya sederhana dan pintunya sudah tua dimakan usia,
banyak orang datang untuk meminta nasihat darinya.
Hasan, karena
merasa dirinya sudah cukup berilmu, datang dengan tatapan meremehkan.
Saat sampai, sang
ulama keluar sambil memegang tongkat. Ia tersenyum dan berkata pelan,
“Assalamualaikum,
alhamdulillah ada tamu
Istimewa rupanya.”
Hasanpun menjawab salamnya, namun dengan sikap yang kaku.
“kyai…,”, “anak saya merasa ilmunya cukup. Mohon
beri ia sedikit nasihat.” Tutur sang ayah
Kyai Muthahhar
memandang Hasan lama, lalu berkata, “Hasan, masuklah ke dalam rumahku. Tapi…
masuklah melalui pintu belakang.”
Hasan bingung.
“Mengapa harus pintu belakang? Bukankah pintu depan lebih besar dan lebih
layak?”
Sang Kyai tersenyum
dan menjawab, “Karena pintu depan
tidak bisa dilalui oleh seseorang yang datang dengan dada penuh kebanggaan.”
Hasan terdiam.
Namun ia tetap mengikuti perintah itu. Saat menuju pintu belakang, ia menemukan
kenyataan bahwa pintu itu sangat kecil dan rendah, hanya cukup dilewati jika
seseorang menundukkan
badan, bahkan hampir merangkak. Hasan merasa tersinggung. “Ini
merendahkanku,” gumamnya. Namun ia tetap masuk. Ketika ia berhasil melewati
pintu sempit itu, sesak nafasnya terasa. Dan di sudut hatinya, muncul sesuatu
yang baru: rasa
kecil, rasa hampa, rasa bahwa dirinya hanyalah manusia biasa.
Di dalam rumah, sang ulama sudah menunggu sambil
tersenyum.
“Hasan,” katanya,
“pintu tadi adalah gambaran ilmu dan hikmah.
Tidak akan masuk cahaya hikmah kepada seseorang yang merasa dirinya tinggi.
Tidak akan turun keberkahan ilmu kepada seseorang yang menuntut ilmu untuk
meninggikan kedudukan. Dan tidak akan masuk ketakwaan ke hati yang keras oleh
rasa lebih dari yang lain.”
Sang ulama
melanjutkan perkataannya dengan lembut:
“Ilmu itu
seperti air. Ia akan turun ke tempat yang rendah. Jika hatimu tinggi, ilmu
tidak akan menetap di sana meski engkau hafal banyak kitab.” Hasan
pun menunduk. Dadanya terasa hangat dan sakit pada saat yang sama, Ayahnya
memperhatikannya sambil tersenyum haru.
Kemudian Kyai Muthahhar mengambil segelas air. Ia
menuangkannya pelan-pelan ke mangkuk besar. Lalu ia berkata: “Lihat, air ini jatuh ke mangkuk yang berada di
bawah. Ia tidak pernah naik ke atas. Bila engkau ingin menjadi wadah ilmu,
rendahkan hatimu. Rendahkan egomu. Rendahkan pandanganmu terhadap sesama.”
“Karena semakin rendah dirimu di
hadapan manusia, semakin tinggi dirimu di hadapan Allah.”
Hasan tak mampu menahan air matanya. Ia sadar
betapa selama ini ia belajar bukan untuk Allah, melainkan untuk dipuji. Ia
membaca bukan untuk mencari ridha, melainkan untuk merasa hebat, Air mata
mengalir jatuh ke lantai rumah tua itu., Kyai Muthahhar pun mendekat dan
mengusap pundaknya.
“Anakku,” katanya lembut, “Aku tahu Allah mencintaimu. Karena itu Dia
mengizinkanmu merasakan luka di hatimu sendiri sebagai tanda agar kau kembali
kepada-Nya.” Hasan menangis lebih keras. Ia merasa pintu kecil
tadi seakan menjadi jalan masuk cahaya ke dalam jiwanya, Sejak hari itu, Hasan
berubah.
Ia kembali mengajar anak-anak di masjid, tapi
dengan wajah yang lebih ramah. Ia mengucapkan salam terlebih dulu kepada
orang-orang desa yang dulu ia anggap rendah. Ia meminta maaf kepada ayahnya. Ia
memuliakan siapa saja yang ditemuinya, Dan malam itu, ia berdiri dalam shalat
dengan hati yang lembut, air mata jatuh tanpa ia tahan.
Dalam sujud panjangnya, ia berbisik:m“Ya Allah, Engkaulah Pemilik Ilmu, aku hanyalah hamba yang jahil. Ampuni kesombonganku.” Sementara itu, di rumah kecil di ujung desa, Kyai Muthahhar tersenyum, memandang langit yang penuh bintang….Ia berkata, seolah berbicara kepada malam: “Hikmah tidak diberikan kepada orang yang merasa pintar, tetapi kepada orang yang merasa membutuhkan Allah.”
Pembaca yang Budiman, siapapun dan dimanapun kita, berprofesi sebagai apapun, merasa rendah diri itu sangat penting untuk semakin mempertanjam ilmu pengetahuan dan makrifat kepada Allah, terkadang kita sering merasa diri kita itu tinggi dan lebih dari orang lain, padahaal disanalah mulai bibit-bibit ke fujuran itu disemaikan oleh syetan, bukan kah iblis jauh lebih faham tentang ilmu pengetahuan, tapi karena ada titik kesombongan dalam dirinya ia telah dihinakan oleh allah dan di keluarkan dari syurga.
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   23
Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   30
Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7
Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   22
Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1263
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1127
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      969
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954