Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

33 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cahaya dari Lantai Pesantren



Minggu , 14 Desember 2025



Telah dibaca :  1127

Di sudut ruangan yang sederhana, seorang santri duduk bersila di atas sajadah hijau. Sarungnya terlipat rapi, pecinya tegak, dan di hadapannya terbuka sebuah kitab yang halaman-halamannya mulai menguning oleh waktu. Tangannya menulis pelan, seakan setiap kata yang ditorehkan bukan sekadar tinta, tetapi doa yang dipanjatkan dalam diam, Malam itu sunyi, hanya ditemani cahaya lampu dan detak hati yang bersungguh-sungguh mencari makna. Ia tidak tergesa. Ia paham, ilmu tidak suka dikejar dengan nafsu, tetapi didekati dengan adab dan kesabaran. Setiap baris yang ia salin adalah latihan menundukkan ego, bahwa belajar bukan untuk terlihat pandai, melainkan agar kelak bermanfaat, setiap tinta yang ia torehkan akan menjadi saksi kelak saat semua disekelilingnya tidak bisa berbuat apa-apa.

Kini dirinya sedang mengukir diatara keraguan masa, ia juga tau menjadi santri berarti siap lelah sebelum orang lain, siap diam saat ingin bicara, dan siap rendah hati ketika mulai mengerti. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan. Ia tidak akan berhenti sebelum Lelah, Hanya Allah yang menjadi saksi atas ikhtiar kecil yang dilakukan terus-menerus, Dan dari lantai dingin itulah lahir kehangatan iman. Dari kesunyian itulah tumbuh kekuatan. Sebab santri percaya, siapa yang bersungguh-sungguh menjaga ilmu di waktu sempitnya, kelak akan dijaga oleh ilmu itu di waktu lapangnya.

Malam kian larut. Jam dinding telah melewati waktu istirahat, namun santri itu masih bertahan di tempatnya. Bukan karena ia paling rajin, melainkan karena hatinya belum selesai berdialog dengan ilmu. Sesekali ia berhenti menulis, menatap halaman kitab, lalu menghela napas pelan-pelan, seolah sedang mengakui keterbatasannya di hadapan kalam para ulama, Pikirannya melayang pada pesan sang kiai siang tadi, “Ilmu itu cahaya. Dan cahaya tidak akan singgah di hati yang sombong.” Kalimat itu terus bergaung, membuatnya menunduk lebih dalam. Ia sadar, masih banyak sifat dalam dirinya yang perlu diluruskan: ingin dipuji, ingin cepat bisa, ingin dianggap lebih. Malam ini, semua keinginan itu ia letakkan pelan-pelan, diganti dengan satu tekad sederhana, yaitu belajar karena Allah.

Di luar ruangan, angin menyusup lewat celah jendela, membawa udara dingin yang menusuk. Namun di dadanya justru tumbuh kehangatan. Ia teringat orang tuanya di kampung, ayah yang bekerja tanpa mengeluh, ibu yang selalu menyelipkan doa di setiap sujud. Kitab di hadapannya bukan lagi sekadar lembaran ilmu, melainkan jembatan harapan, penghubung doa-doa yang tak pernah putus, Beberapa kali tulisannya keliru, penjelasannya tak langsung ia pahami, penjelasan dari sang kyai sesekali tertinggal dari goresan tintanya, Tapi ia tidak marah pada dirinya sendiri. Ia belajar menerima bahwa kebodohan hari ini adalah pintu menuju pemahaman esok hari. Bukankah para ulama besar pun pernah duduk seperti ini, diam, bersila, dan sabar.

Menjelang akhir malam, ia menutup kitabnya perlahan. Bukan karena telah menguasai semuanya, melainkan karena ia tahu kapan harus berhenti dan menyerahkan sisanya kepada Allah. Ia berdiri, merapikan sarung, lalu melangkah menuju sajadah. Dalam sujud panjangnya, tak ada permintaan muluk. Hanya satu doa yang lirih, “Ya Allah, jadikan ilmu ini jalan untuk memperbaiki diriku, bukan untuk meninggikan namaku.” Dan di situlah hikmah itu tumbuh, bahwa menjadi santri bukan tentang seberapa banyak yang dihafal, tetapi seberapa dalam ilmu itu membentuk akhlak. Bukan tentang seberapa tinggi gelar yang kelak disandang, melainkan seberapa rendah hati seseorang saat diberi amanah.

Pagi kelak akan datang, kitab-kitab lain akan terbuka, dan pelajaran baru akan dimulai. Namun malam itu akan selalu tinggal dalam ingatannya, sebagai saksi bahwa cahaya besar sering lahir dari kesungguhan yang sunyi, Pagi pun akhirnya menyingsing, membawa cahaya lembut yang menyapu lantai pesantren. Santri itu terbangun dengan tubuh yang masih lelah, namun hatinya terasa ringan. Ia melangkah ke masjid bersama santri lain, berbaris tanpa nama, tanpa perbedaan. Di sana ia belajar satu pelajaran lagi di hadapan Allah, semua sama yang membedakan hanyalah ketulusan.

Hari-hari di pesantren berjalan sederhana. Bangun sebelum fajar, mengaji selepas subuh, menyapu halaman, mencuci pakaian sendiri, lalu kembali duduk bersila di hadapan kitab. Tak ada yang istimewa jika dilihat mata, tetapi di situlah keistimewaan sebenarnya sedang dibentuk. Setiap lelah adalah latihan sabar, setiap antre adalah pelajaran adil, dan setiap teguran adalah cermin untuk memperbaiki diri.

Suatu hari, ia diminta membantu temannya yang kesulitan memahami pelajaran. Ia bukan yang paling pandai, namun ia ingat pesan kiai, “Ilmu akan menetap pada hati yang mau berbagi.” Dengan suara pelan dan hati-hati, ia menjelaskan sebisanya. Saat temannya mengangguk paham, ia justru merasa belajar lebih banyak. Ia mengerti kini, bahwa ilmu tidak berkurang ketika dibagi, malah bertambah keberkahannya.

Waktu terus berjalan. Rambutnya mulai sering diselimuti keringat dan debu, kitabnya semakin penuh catatan kecil di pinggir halaman. Tapi satu hal yang selalu ia jaga: adab. Ia tidak melangkahi kitab, tidak memotong pembicaraan guru, tidak merasa lebih tinggi dari siapa pun. Ia paham, runtuhnya ilmu bukan karena lupa, melainkan karena hilangnya adab, Dalam kesunyian malam yang lain, ia kembali duduk bersila seperti hari-hari sebelumnya. Namun kali ini hatinya lebih tenang. Ia tidak lagi mengejar pujian atau takut tertinggal. Ia telah berdamai dengan proses. Ia percaya, Allah tidak pernah menyia-nyiakan langkah orang yang berjalan perlahan tapi lurus.



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   23

Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   30

Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   22

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1128


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      969


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954