
Di sudut ruangan yang sederhana,
seorang santri duduk bersila di atas sajadah hijau. Sarungnya terlipat rapi,
pecinya tegak, dan di hadapannya terbuka sebuah kitab yang halaman-halamannya
mulai menguning oleh waktu. Tangannya menulis pelan, seakan setiap kata yang
ditorehkan bukan sekadar tinta, tetapi doa yang dipanjatkan dalam diam, Malam
itu sunyi, hanya ditemani cahaya lampu dan detak hati yang bersungguh-sungguh
mencari makna. Ia tidak tergesa. Ia paham, ilmu tidak suka dikejar dengan
nafsu, tetapi didekati dengan adab dan kesabaran. Setiap baris yang ia salin
adalah latihan menundukkan ego, bahwa belajar bukan untuk terlihat pandai,
melainkan agar kelak bermanfaat, setiap tinta yang ia torehkan akan menjadi saksi
kelak saat semua disekelilingnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Kini dirinya sedang mengukir
diatara keraguan masa, ia juga tau menjadi santri berarti siap lelah sebelum
orang lain, siap diam saat ingin bicara, dan siap rendah hati ketika mulai
mengerti. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan. Ia tidak akan berhenti
sebelum Lelah, Hanya Allah yang menjadi saksi atas ikhtiar kecil yang dilakukan
terus-menerus, Dan dari lantai dingin itulah lahir kehangatan iman. Dari
kesunyian itulah tumbuh kekuatan. Sebab santri percaya, siapa yang
bersungguh-sungguh menjaga ilmu di waktu sempitnya, kelak akan dijaga oleh ilmu
itu di waktu lapangnya.
Malam kian larut. Jam dinding
telah melewati waktu istirahat, namun santri itu masih bertahan di tempatnya.
Bukan karena ia paling rajin, melainkan karena hatinya belum selesai berdialog
dengan ilmu. Sesekali ia berhenti menulis, menatap halaman kitab, lalu menghela
napas pelan-pelan, seolah sedang mengakui keterbatasannya di hadapan kalam para
ulama, Pikirannya melayang pada pesan sang kiai siang tadi, “Ilmu itu cahaya. Dan cahaya tidak akan singgah di hati yang
sombong.” Kalimat itu terus bergaung, membuatnya menunduk lebih dalam. Ia
sadar, masih banyak sifat dalam dirinya yang perlu diluruskan: ingin dipuji,
ingin cepat bisa, ingin dianggap lebih. Malam ini, semua keinginan itu ia
letakkan pelan-pelan, diganti dengan satu tekad sederhana, yaitu belajar karena
Allah.
Di luar ruangan, angin menyusup
lewat celah jendela, membawa udara dingin yang menusuk. Namun di dadanya justru
tumbuh kehangatan. Ia teringat orang tuanya di kampung, ayah yang bekerja tanpa
mengeluh, ibu yang selalu menyelipkan doa di setiap sujud. Kitab di hadapannya
bukan lagi sekadar lembaran ilmu, melainkan jembatan harapan, penghubung
doa-doa yang tak pernah putus, Beberapa kali tulisannya keliru, penjelasannya
tak langsung ia pahami, penjelasan dari sang kyai sesekali tertinggal dari
goresan tintanya, Tapi ia tidak marah pada dirinya sendiri. Ia belajar menerima
bahwa kebodohan hari ini adalah pintu menuju pemahaman esok hari. Bukankah para
ulama besar pun pernah duduk seperti ini, diam, bersila, dan sabar.
Menjelang akhir malam, ia
menutup kitabnya perlahan. Bukan karena telah menguasai semuanya, melainkan
karena ia tahu kapan harus berhenti dan menyerahkan sisanya kepada Allah. Ia
berdiri, merapikan sarung, lalu melangkah menuju sajadah. Dalam sujud panjangnya,
tak ada permintaan muluk. Hanya satu doa yang lirih, “Ya Allah, jadikan ilmu ini jalan untuk memperbaiki diriku, bukan
untuk meninggikan namaku.” Dan di situlah hikmah itu tumbuh, bahwa menjadi
santri bukan tentang seberapa banyak yang dihafal, tetapi seberapa dalam ilmu
itu membentuk akhlak. Bukan tentang seberapa tinggi gelar yang kelak disandang,
melainkan seberapa rendah hati seseorang saat diberi amanah.
Pagi kelak akan datang,
kitab-kitab lain akan terbuka, dan pelajaran baru akan dimulai. Namun malam itu
akan selalu tinggal dalam ingatannya, sebagai saksi bahwa cahaya besar sering
lahir dari kesungguhan yang sunyi, Pagi pun akhirnya menyingsing, membawa
cahaya lembut yang menyapu lantai pesantren. Santri itu terbangun dengan tubuh
yang masih lelah, namun hatinya terasa ringan. Ia melangkah ke masjid bersama
santri lain, berbaris tanpa nama, tanpa perbedaan. Di sana ia belajar satu
pelajaran lagi di hadapan Allah, semua sama yang
membedakan hanyalah ketulusan.
Hari-hari
di pesantren berjalan sederhana. Bangun sebelum fajar, mengaji selepas subuh,
menyapu halaman, mencuci pakaian sendiri, lalu kembali duduk bersila di hadapan
kitab. Tak ada yang istimewa jika dilihat mata, tetapi di situlah keistimewaan
sebenarnya sedang dibentuk. Setiap lelah adalah latihan sabar, setiap antre
adalah pelajaran adil, dan setiap teguran adalah cermin untuk memperbaiki diri.
Suatu
hari, ia diminta membantu temannya yang kesulitan memahami pelajaran. Ia bukan
yang paling pandai, namun ia ingat pesan kiai, “Ilmu
akan menetap pada hati yang mau berbagi.” Dengan suara pelan dan
hati-hati, ia menjelaskan sebisanya. Saat temannya mengangguk paham, ia justru
merasa belajar lebih banyak. Ia mengerti kini, bahwa ilmu tidak berkurang
ketika dibagi, malah bertambah keberkahannya.
Waktu
terus berjalan. Rambutnya mulai sering diselimuti keringat dan debu, kitabnya
semakin penuh catatan kecil di pinggir halaman. Tapi satu hal yang selalu ia
jaga: adab. Ia tidak melangkahi kitab, tidak memotong pembicaraan guru, tidak
merasa lebih tinggi dari siapa pun. Ia paham, runtuhnya ilmu bukan karena lupa,
melainkan karena hilangnya adab, Dalam kesunyian malam yang lain, ia kembali
duduk bersila seperti hari-hari sebelumnya. Namun kali ini hatinya lebih
tenang. Ia tidak lagi mengejar pujian atau takut tertinggal. Ia telah berdamai
dengan proses. Ia percaya, Allah tidak pernah menyia-nyiakan langkah orang yang
berjalan perlahan tapi lurus.
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   23
Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   30
Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7
Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   22
Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1263
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1128
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      969
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954