Avatar

Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA

Penulis Kolom

2 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" Anggota  "

Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai



Sabtu , 30 Mei 2026



Telah dibaca :  30

Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
Hari Tasyriq terakhir (13 Zulhijjah) bukan sekadar penutup rangkaian Idul Adha, melainkan momentum refleksi yang sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa dalam Islam, nilai sebuah ibadah tidak terletak pada kemeriahan pelaksanaannya, melainkan pada perubahan yang ditinggalkannya dalam diri manusia.
Hari ini jamaah haji menyelesaikan lemparan jumrah terakhir di Mina. Takbir yang beberapa hari menggema mulai mereda. Penyembelihan hewan kurban telah berakhir. Semua ritual besar itu seolah hendak menyampaikan satu pesan penting: setiap musim ibadah akan berakhir, tetapi nilai-nilai yang dilahirkannya harus tetap hidup.
Dalam perspektif Al-Qur'an, kurban bukanlah tentang darah dan daging. Allah menegaskan:
﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾
"Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)
Karena itu, pertanyaan terpenting di penghujung hari-hari Tasyriq bukanlah berapa banyak hewan yang telah disembelih, melainkan berapa banyak ego yang telah ditaklukkan, hawa nafsu yang telah dikendalikan, dan kepentingan pribadi yang telah dikorbankan demi kebenaran dan kemaslahatan.
Bagi kalangan intelektual, pesan Idul Adha sesungguhnya sangat relevan dengan tantangan zaman. Dunia modern sedang mengalami krisis pengorbanan. Banyak orang ingin hasil tanpa proses, hak tanpa kewajiban, kehormatan tanpa perjuangan, dan perubahan tanpa kesediaan membayar harga. Padahal seluruh peradaban besar dibangun di atas pengorbanan. Tidak ada ilmu tanpa pengorbanan waktu, tidak ada integritas tanpa pengorbanan kepentingan, dan tidak ada kebangkitan umat tanpa pengorbanan generasi terbaiknya.
Nabi Ibrahim tidak menjadi "Khalilullah" karena banyaknya pengetahuan yang beliau miliki, tetapi karena keberaniannya menyerahkan apa yang paling dicintainya kepada Allah. Dari sini kita belajar bahwa puncak keimanan bukanlah sekadar mengetahui kebenaran, melainkan kesediaan berkorban untuk kebenaran itu.
Hari Tasyriq terakhir mengingatkan kita bahwa takbir boleh berakhir di lisan, tetapi pengagungan kepada Allah tidak boleh berakhir dalam kehidupan. Ritual boleh selesai, tetapi misi harus terus berjalan. Kurban telah usai, namun perjuangan melawan keserakahan, kemalasan, ketidakjujuran, dan kecintaan berlebihan kepada dunia harus terus dilanjutkan.
Maka, jika setelah Idul Adha kita menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih peduli, lebih berani membela kebenaran, dan lebih siap berkorban untuk kemaslahatan umat, itulah tanda bahwa kita tidak sekadar merayakan Idul Adha, tetapi benar-benar memahami maknanya.
Sebab hakikat keberhasilan sebuah musim ibadah bukanlah ketika ia berlangsung dengan meriah, melainkan ketika ruhnya tetap hidup setelah ia berakhir. Dan hari Tasyriq terakhir adalah pengingat bahwa pengorbanan telah diajarkan, kini saatnya nilai-nilainya diwujudkan dalam kehidupan.



Penulis : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   23

Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   22

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389

Di Balik Ihram dan Haji
09 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   39

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1128


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      969


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954