
Sore itu saya kemabali menyusuri derasnya arus sungai siak, dari pelabuhan tanjung datuk saya tiba lebih awal, lebih tepatnya dua jam sebelum keberangkatan, kapal jelatik terlalu banyak kenangan yang belum bisa diceritakan dalam waktu yang singkat, bayangkan saja sebelum saya dilahirkan didunia ini kapal jelatik tetap setia melayani masyarakat dalam bertransportasi dari ibu kota provinsi menuju daerah kepulauan Meranti lebih tepatnya diselatpanjang, keadaan pelabuhan masih terlihat sepi terkadang ada pedagang asongan yang menghampiri sambil menawarkan buah salak dan rambutan, saya membelinya satu bungkus buah salak seharga 15 ribu, namun saya membayarakan dengan jumlah uang 20 ribu, begitu sang pedagang mau memberikan sisa pengembalian uang nya, saya menolak dengan senyuman beriringan dengan kalimat “ sudah..untuk bapak saja”.
Sebelum berangkat masih ada banyak waktu untuk saya menikmati pelabuhan dan
pinggiran sungai yang sesekali ada rerumputan yang ikut hanyut terbawa arus
hilir mudik ntah kapan akan berakhir, saya masih ditemani sama bang “Herman” si tukang ojek online, sambil duduk
dipinggir salah satu sudut pelabuhan. bang
herman sedari pagi baru dapat satu penumpang yaitu saya, bang herman punya
dua orang anak yang berusia 8 tahun dan 2 tahun, istrinya seorang guru ngaji di
salah satu Madrasah yang ada di kota itu, saya menyadari begitu sulit dan rumit
nya menata hidup ditengah-kota persaingan hidup yang keras, juga harus memaksa
setiap pejuang nafkah terus mencari celah untuk menutupi kebutuhan tanpa
mempedulikan kata lelah dan setatus.
Sejak dari kampus saya memperhatikan bang herman menyandarkan punggung nya
diatas sepeda motor sambil menunggu orderan penumpang yang belum kunjung tiba, dari
awal saya melihat bang herman menggengam sesuatu yang didekap dengan kedua
tanganya ternyata bang herman sedang membaca qur’an, masih ada satu jam lagi
keberangkatan kapal, kami pun saling bercerita ternyata banga herman sudah dua
tahun menjadi ojek online ia tekuni selama dua tahun dan rata- rata setiap hari
bisa membawa pulang uang seratus ribu, terkadang juga tidak dapat sama sekali
tapi keadaan itu tidak menyurutkan bang herman untuk terus berusaha dan selalu
berdoa kepada Allah sebagai bentuk wujud rasa sukur dan penghambaan nya kepada
sang maha pencipta.
Saya jadi teringat sebuah hadis nabi tentang empat golongan orang yang
dirindui syurga, yang pertama adalah mereka orang-orang yang terpaut hatinya dengan Al Qur’an, terpaut hatinya
dengan Qur’an termasuk didalamnya mereka orang – orang yang gemar membaca Al
Qur’an, Senang mendengar ayat-ayat Al Qur’an, bagaimana tidak dirindui syurga,
bagi mereka yang gemar membaca dan mendengarkan
ayat-ayat Al Qur’an pahala nya terus mengalir setiap huruf demi huruf
yang ia baca, coba anda bisa bayangkan dan hitung sendiri kalau satu hari bisa
menghabiskan 1 juz membaca Al Qur’an, sudah berapa ratus ribu huruf yang sudah
anda baca untuk merauf pahala dari Allah atas bacaan Al Qur’an anda, seumpamapun
anda tidak bisa membaca nya satu juz satu hari, stidak nya bisa satu lembar,
satu ayat bahkan satu huruf sekalipun yang dibaca akan tetap mengalir pahala
dan ganjaran masuk ketabungan akhirat kita, betapa mudah dan indahnya untuk
merauf pahala dan ketenangan hidup dengan selalu dekat dengan Al Qur’an.
Saya rasa bang herman adalah sosok ayah yang menginspirasi, dikala
kebanyakan orang saat ini sedang duduk sendirian lebih asyik dan terlena
bermain Android, sibuk melihat tiktok, dan yooutube, tidak ketinggalan juga
facebook Pro yang sedang Trend, tidak hanya melanda anak-anak muda saja tapi
sudah merambah ke dalam kehidupan nenek-nenek dan kekek-kakek, mereka tidak mau
ketinggalan ikutan buat konten, yang terkadang bertolak belakang jauh dari
realita kehidupan sesungguhnya, kita bisa lihat saat membuka media sosial, ibuk
rumah tangga kehilangan jati dirinya, karena sibuk buat konten joged-joget
didapur sambil mengupas bawang, kepala keluarga kehilangan kesadaran bahwa ia
adalah laki-laki yang berwibawa dalam rumah tangga nya, kini berubah derastis
membuat konten yang tidak masuk diakal, hmmmm, belum lagi yang muda-muda, gadis
maupun janda, perjaka maupun duda, gak perduli laki-laki ataupun perempuan
semuanya melebur menjadi satu dalam ruang media sosial.
Kini bang herman masih mampu bertahan dalam badai kehidupan dan moral dikala
kebanyakan orang sibuk asyik dengan android nya, tapi bang herman sibuk dengan
memperbanyak mengumpulkan pundi-pundi pahala untuk memenuhi tabungan akhirat
nya dengan membaca Al Qur’an dalam setiap waktu kosong nya diselal-sela
menunggu orderan dari pelanggan. Obrolan kamipun berkahir ketika 15 menit
sebelum keberangkatan kapal jelatik tiba, saya mendengar teriakan penjaga
gerbang kepada para penumpang, karena tiket akan segaera diperiksa, saya pun
bergegas dan menuju gerbang untuk segera naik kekapal, insyaallah kita akan
berjumpa kembali bang herman, semoga allah selalu memberikan kemudahan dan keberkahan
setiap usaha hambnya, terutama bang herman sang ojek onlen yang selalu dekat
dengan Al Qur’an.
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   23
Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   31
Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7
Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   22
Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1264
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1128
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954