Kurban dari Baitul Māl
Jumat , 29 Mei 2026
Telah dibaca :  8
Kurban dari Baitul Māl
Ketika Negara Hadir dalam Tangisan dan Kebahagiaan Rakyat
Di tengah himpitan ekonomi, melonjaknya harga kebutuhan pokok, dan semakin beratnya kehidupan sebagian masyarakat, datanglah hari-hari mulia Dzulhijjah membawa satu pertanyaan yang menyentuh hati: masihkah kaum miskin dapat merasakan kebahagiaan Idul Adha?
Di banyak tempat, suara takbir menggema, tetapi tidak semua rumah mampu menghadirkan aroma daging kurban. Ada anak-anak yang hanya mendengar cerita tentang nikmatnya daging Idul Adha tanpa pernah benar-benar menikmatinya. Ada keluarga yang memandang hewan-hewan kurban lewat layar televisi, sementara dapur mereka tetap sunyi.
Di sinilah Islam menghadirkan wajah rahmatnya.
Islam tidak menjadikan ibadah sekadar hubungan pribadi antara manusia dengan Allah, tetapi juga sarana menghadirkan kasih sayang sosial di tengah umat. Kurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan, melainkan penyembelihan egoisme, kerakusan, dan ketidakpedulian sosial.
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa penguasa boleh bahkan terkadang dianjurkan mengambil dana dari Baitul Māl untuk menyediakan hewan kurban bagi rakyatnya. Sebab tugas pemimpin bukan hanya menjaga keamanan negeri, tetapi juga menjaga syiar agama dan menghidupkan rasa persaudaraan di tengah masyarakat.
Rasulullah ﷺ sendiri memberi teladan agung dalam hal ini. Beliau tidak hanya berkurban untuk dirinya dan keluarganya, tetapi juga untuk umatnya yang tidak mampu berkurban. Dalam doa beliau disebutkan:
“Ya Allah, ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umatku yang belum mampu berkurban.”
Betapa luas kasih sayang Nabi ﷺ. Bahkan orang-orang fakir yang tidak memiliki hewan kurban pun tidak beliau lupakan dalam doa dan pengorbanannya.
Maka ketika negara menghadirkan program kurban rakyat, kurban nasional, atau kurban dari Baitul Māl, hakikatnya negara sedang menghidupkan salah satu ruh terbesar Idul Adha: menghadirkan kebahagiaan bagi semua lapisan masyarakat.
Sungguh indah ketika seorang pemimpin memikirkan rakyat miskinnya hingga meja makan mereka pun ikut dipenuhi pada hari raya. Sebab kadang yang dibutuhkan rakyat bukan sekadar bantuan materi, tetapi perasaan bahwa mereka tidak dilupakan.
Islam sangat memahami makna ini.
Karena syariat kurban bukan hanya tentang darah yang mengalir, tetapi tentang kasih sayang yang mengalir. Allah berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. al-Hajj: 37)
Ketakwaan itu tampak ketika orang kaya peduli kepada yang miskin. Ketakwaan itu tampak ketika pemimpin memikirkan rakyatnya. Ketakwaan itu tampak ketika negara hadir di tengah kesedihan masyarakat.
Namun tentu saja, penggunaan harta Baitul Māl harus dilakukan dengan amanah dan penuh tanggung jawab. Tidak boleh berasal dari harta haram, tidak boleh menzalimi hak rakyat lain, dan tidak boleh menjadi alat pencitraan kosong tanpa kepedulian nyata.
Kurban dari Baitul Māl sejatinya bukan sekadar program sosial, tetapi simbol bahwa negara masih memiliki hati.
Sebab negeri tidak akan kokoh hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan tumbuhnya rasa kasih sayang di antara manusia. Dan salah satu hari terbaik untuk menumbuhkan kasih sayang itu adalah Idul Adha.
Bayangkan seorang anak miskin yang selama setahun tidak pernah menikmati daging, lalu pada hari raya ia tersenyum bahagia karena mendapatkan bagian kurban. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya beberapa kilogram daging, tetapi bagi keluarga miskin itu bisa menjadi kenangan yang tidak terlupakan.
Mungkin itulah sebabnya Allah menjadikan kurban sebagai syiar besar Islam.
Karena di dalamnya ada:
penghambaan kepada Allah,
keteladanan Nabi Ibrahim,
kepedulian sosial,dan pendidikan hati agar manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Hari ini umat Islam tidak hanya membutuhkan orang kaya yang dermawan, tetapi juga pemimpin yang memiliki empati. Tidak hanya membutuhkan pembangunan gedung, tetapi juga pembangunan jiwa kemanusiaan. Tidak hanya membutuhkan kekuatan ekonomi, tetapi juga kekuatan kasih sayang.
Dan salah satu bentuk kasih sayang itu adalah ketika negara ikut memastikan bahwa takbir Idul Adha juga terdengar indah di rumah-rumah kaum miskin.
Karena hakikat kurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih sifat egois dalam diri manusia.
Dan hakikat kepemimpinan bukan hanya memerintah rakyat, tetapi menghadirkan kebahagiaan di hati mereka.
Penulis : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA