
Pagi itu suasana dijalanan sangat ramai perputaran ekonomi berjalan sesuai rotasinya, silih berganti, hulu dan hilir orang-orang menjalankan aktifitas sehari-hari, saya melihat pedagang ayam sibuk memasukan potongan tubuh ayam kedalam kantong plastik dan terlihat antrian yang pajang untuk menunggu giliran mendapatkan potongan tubuh ayam tersebut, selang beberapa meter dari penjual ayam itu, terlihat juga gerombolan ibu-ibuk sendang mengantri racikan bumbu rendang,, gulai, semur dan lain sebagainya dari pedagang bumbu, kesibukan ini dipersiapkan untuk menyambut datang nya bulan Ramadhan. seorang warga Tiong Howa, yang sudah berumur pun terlihat sedang mendorong sepeda nya sambil tersenyum menyapa para pedangang dan pembeli disana, sungguh suasana terasa damai dan bersahaja, rasa kebersamaan wujud seketika disetiap sisi kehidupan itulah Selatpanjang.

suara deringan nada dering
handphon ku berteriak untuk segera diangkat, ucapan salam lirih dan lembut
terdengar dibalik layar datar itu, sepontan saya menjawab salam dibalik layar
datar itu dengan penuh penghormatan, suara lembut itu mengingatkan ku kepada
seorang sahabat dulu waktu dibangku kuliah, ternyata benar mbak Lili, ya..kami
selalu memanggilnya Mbak Lili yang memiliki nama lengkap Lilik Mau’izhatul
Hasanah, seorang ibu rumah tangga yang sederhana dan bersahaja, suaminya berprofesi menjadi tukang
jahit sepatu keliling di desa yang teletak disudut kota dimaana kami menempa
ilmu 15 tahun yan lalu, beliau memiliki 2 orang anak laki-laki dan satu orang
perempuan, yang paling bungsu sudah berumur belasan tahun itu dulu waktu kami
masih kuliah, sekarang Mbak Lilis udah punya mantu dan cucu.
Mbak Lili menayakan bagaimana
kabar saya sekarang, sebagaimana mestinya saya menjawab dengan nada datar “
alhamduillah sehat-sehat e wong Nom yo ngene iki”..sehat-sehat nya orang muda ya..seperti ini. Saya menilai Mbak Lili tidak
jauh berubah sejauh ini sudah lebih dari lima belas tahun kami tidak bertemu,
sikaf bersahaja nya dan keibuanya senantiasa terpancar, sebagaimana biasa dari
dulu sampai sekarang petuah dan wajangan dari Mbak Lili selalu berkualitas dan
berkelas yang banyak mengajarkan arti sebuah perjuangan seorang ibu dan keikhlasan
sebagai seorang istri, walaupun Mbaak Lili sering bertanya kepada saya setiap
kali punya persolan dan pernik-pernik dalam kehidupan, beliau tidak pernah
sungkan dan menutup diri, selalu terbuka untuk mencari solusi dari setiap
persoalan.
Mbak Lili membesarkan
anak-anak nya dengan penuh kesabaran dengan serba keterbatasan yang dimiliki Mbak
Lili tidak pernah ngeluh apalagi sampai putus asa, suami nya yang sampai
sekarang sebagai penjahit sepatu keliling pun masih ulet dan telaten menikmati
hasil usaha yang halal untuk mencukupi kebutuhan keluarga nya, alhamdulillah
rezki berkahnya itu mampu menjadikan seorang dokter muda yang sholeha dan
cantik, dan seorang teknisi hebat,
kabarnya sudah bisa membuat sebuah Robot, dipenghujung bulan syakban ini beliau
menitipkan nasehat spritual kepada saya bahwa tidak semua harapan kita itu
dikabulkan oleh Allah, dulu Mbak Lilikepingin punya anak yang bisa menjadi
pendakwah (Ustaz/ustazah) kerna terinspirasi dengan saya ketika dulu sering
mengisi kajian dipojok kampus, dan terinspirasi dengan film yang dilakoni oleh
Oki Setiana Dewi dan Kholidi Asadil Alam dalam sintetron ”Ketika Cinta
Bertasbih”...e..sekarang malah dapat seorang dokter dan teknisi.
Walaupun jika kita lihat dari
salah satu sisi, anatara dokter dan pendakwah itu berbeda profesi, namun jika
kita mau menyalam lebih dalam saya berasumsi itu adalah profesi yang memiliki
kesamaan fungsi dan dan peran, jika seorang pendakwah itu mengobati jiwa-jiwa
yang sedang sakit karena wabah “Hubbud
Dunia” maka dokter juga sedang berusaha untuk mengobati manusia yang sedang
mengalami sakit luka robek pada kulit, atau tertusuk duri. Mbak Lilisekarang
sadar Pada hakikatnya harapan nya tidak jauh bergeser dari apa yang
dicita-citakan, Alhamdulullah dipenghujung sya’ban ini Mbak Lilimendapatkan
cahaya sebagai penerang yang akan berfungsi untuk penerangi jalan untuk
memudahkan dalam ibadahnya dibulan yang penuh dengan Maghfiroh ini, ya...diawal
malam pertama bulan Ramadhan 1446 H, Mbak Lili mendapatkan anugarah terindah
selain masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan beliau
kerawuhan bidadari cantik yang bisa kumpul pada tahun ini, sudah dua tahun ini Mbak
Lili tidak bisa kemasjid untuk sholat tarawih, karena masih diberikan ujian
berupa gangguan aliran darah ke otak yang mengakibatkan sebagian dari anggota
tubuh nya tidak bisa bergerak secara normal.
Sekarang Mbak Lili sudah bisa
kemasjid, ditemanai oleh putrinya yang baru pulang dari Pulau Jawa, sekaligus
mendapat gelar dokter, semoga malam pertema di awal Ramadhan tahun ini
memberikan sinar kebahagiaan dalam hdiup Mak Lili, hidup bersama keluarga dan
bahagia sepanjang masa, anak Ragil beliau yang menjadi seorang teknis sudah
membuatkan kursi roda yang bisa di kontrol menggunakan remot, dan Putri
Maslahatul Maghfiroh putri beliau yang sekarang menjadi “Dokter Putri” bisa
mendampingi Mbak Lili, pergi kemasjid dimalam hari dan menikmati puasa disiang
hari, sehat selalu Mbak Lili, semoga Lelah mu selama ini menjadi Lillah.
Dimalam pertama bulan suci ini
saya menatap langit yang cerah, dan kedipan bintang gemintang pun seakan
mengitip dibalik awan dengan lembut, seakan memanggil setiap mata memandang
untuk memuncakan semangat beribadah, ibadah yang tidak hanya dilakukan secara
menyembah kepada sang khalik saja, tetepi setiap perilaku yang kita lakukan
haruslah memberikan nilai ibadah, melihat sesuatu apapun dari sisi kebaikanya
pun sudah menjadi ibadah, lantas pantaskah kita belasan untuk tidak
melakukanya, ketika kita melayani dunia inipun bisa dijadikan sarana untuk
beribadah kepada allah, melihat penjual Es teh dipinggir jalan disiang hari
dibulan ramadhan ini juga meupakan bagian dari berntuk ibadah, ibadah itu
fleksibel dimanapun dan kapanpun bisa kita lakukan tidak memberatkan cukup
istiqomah dan belajar untuk bangkit dari kemalasan adalah solusi terbaik untuk
memulai ibadah-ibadah kita kepada Allah, saya menjadi teringat dari kisah Mbak
Lili diatas betapa bahagia nya Malam pertama di bulan sucinya bisa meraup
pahala sebanyak-banyak nya setelah dua Tahun tertahan dirumah, kita yang masih
punya kesempatan dan waktu yang lapang jangan lagi bermalasan untuk meraih dan
memuliakan ramadhan dengan persembahan amal terbaik kita, dari sisi manapun
kita memulainya, mudah-mudahan esensi dari puasa kita benar-benar melahirkan
pribadi yang takwa. Amin...
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
Belajar Bersama Lebah dan Semut
15 Agustus 2026   Oleh : Khairan Efendi   167
Dari Sudut Makam, Saya Menemukan Wajah Kemerdekaan
12 Agustus 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   242
Sekolah Aman: Membangun Ruang Belajar yang Menumbuhkan Karakter dan Masa Depan
30 Juli 2026   Oleh : Khairan Efendi   40
Menjemput Hidayah, Bukan Menantinya.
30 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   65
Jejak Lereng Muria, antara Meniti Tangga dan Menata Hati
19 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   48
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1587
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1314
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1169
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1005
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      963