Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

40 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Malam Pertama di Bulan Suci.



Sabtu , 01 Maret 2025



Telah dibaca :  962

Pagi itu suasana dijalanan sangat ramai perputaran ekonomi berjalan sesuai rotasinya, silih berganti, hulu dan hilir orang-orang menjalankan aktifitas sehari-hari, saya melihat pedagang ayam sibuk memasukan potongan tubuh ayam kedalam kantong plastik dan terlihat antrian yang pajang untuk menunggu giliran mendapatkan potongan tubuh ayam tersebut, selang beberapa meter dari penjual ayam itu, terlihat juga gerombolan ibu-ibuk sendang mengantri racikan bumbu rendang,, gulai, semur dan lain sebagainya dari pedagang bumbu, kesibukan ini dipersiapkan untuk menyambut datang nya bulan Ramadhan. seorang warga Tiong Howa, yang sudah berumur pun terlihat sedang mendorong sepeda nya sambil tersenyum menyapa para pedangang dan pembeli disana, sungguh suasana terasa damai dan bersahaja, rasa kebersamaan wujud seketika disetiap sisi kehidupan itulah Selatpanjang. 


suara deringan nada dering handphon ku berteriak untuk segera diangkat, ucapan salam lirih dan lembut terdengar dibalik layar datar itu, sepontan saya menjawab salam dibalik layar datar itu dengan penuh penghormatan, suara lembut itu mengingatkan ku kepada seorang sahabat dulu waktu dibangku kuliah, ternyata benar mbak Lili, ya..kami selalu memanggilnya Mbak Lili yang memiliki nama lengkap Lilik Mau’izhatul Hasanah, seorang ibu rumah tangga yang sederhana dan  bersahaja, suaminya berprofesi menjadi tukang jahit sepatu keliling di desa yang teletak disudut kota dimaana kami menempa ilmu 15 tahun yan lalu, beliau memiliki 2 orang anak laki-laki dan satu orang perempuan, yang paling bungsu sudah berumur belasan tahun itu dulu waktu kami masih kuliah, sekarang Mbak Lilis udah punya mantu dan cucu.

Mbak Lili menayakan bagaimana kabar saya sekarang, sebagaimana mestinya saya menjawab dengan nada datar “ alhamduillah sehat-sehat e wong Nom yo ngene iki”..sehat-sehat nya orang muda ya..seperti ini. Saya menilai Mbak Lili tidak jauh berubah sejauh ini sudah lebih dari lima belas tahun kami tidak bertemu, sikaf bersahaja nya dan keibuanya senantiasa terpancar, sebagaimana biasa dari dulu sampai sekarang petuah dan wajangan dari Mbak Lili selalu berkualitas dan berkelas yang banyak mengajarkan arti sebuah perjuangan seorang ibu dan keikhlasan sebagai seorang istri, walaupun Mbaak Lili sering bertanya kepada saya setiap kali punya persolan dan pernik-pernik dalam kehidupan, beliau tidak pernah sungkan dan menutup diri, selalu terbuka untuk mencari solusi dari setiap persoalan.

Mbak Lili membesarkan anak-anak nya dengan penuh kesabaran dengan serba keterbatasan yang dimiliki Mbak Lili tidak pernah ngeluh apalagi sampai putus asa, suami nya yang sampai sekarang sebagai penjahit sepatu keliling pun masih ulet dan telaten menikmati hasil usaha yang halal untuk mencukupi kebutuhan keluarga nya, alhamdulillah rezki berkahnya itu mampu menjadikan seorang dokter muda yang sholeha dan cantik,  dan seorang teknisi hebat, kabarnya sudah bisa membuat sebuah Robot, dipenghujung bulan syakban ini beliau menitipkan nasehat spritual kepada saya bahwa tidak semua harapan kita itu dikabulkan oleh Allah, dulu Mbak Lilikepingin punya anak yang bisa menjadi pendakwah (Ustaz/ustazah) kerna terinspirasi dengan saya ketika dulu sering mengisi kajian dipojok kampus, dan terinspirasi dengan film yang dilakoni oleh Oki Setiana Dewi dan Kholidi Asadil Alam dalam sintetron ”Ketika Cinta Bertasbih”...e..sekarang malah dapat seorang dokter dan teknisi.

Walaupun jika kita lihat dari salah satu sisi, anatara dokter dan pendakwah itu berbeda profesi, namun jika kita mau menyalam lebih dalam saya berasumsi itu adalah profesi yang memiliki kesamaan fungsi dan dan peran, jika seorang pendakwah itu mengobati jiwa-jiwa yang sedang sakit karena wabah “Hubbud Dunia” maka dokter juga sedang berusaha untuk mengobati manusia yang sedang mengalami sakit luka robek pada kulit, atau tertusuk duri. Mbak Lilisekarang sadar Pada hakikatnya harapan nya tidak jauh bergeser dari apa yang dicita-citakan, Alhamdulullah dipenghujung sya’ban ini Mbak Lilimendapatkan cahaya sebagai penerang yang akan berfungsi untuk penerangi jalan untuk memudahkan dalam ibadahnya dibulan yang penuh dengan Maghfiroh ini, ya...diawal malam pertama bulan Ramadhan 1446 H, Mbak Lili mendapatkan anugarah terindah selain masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan beliau kerawuhan bidadari cantik yang bisa kumpul pada tahun ini, sudah dua tahun ini Mbak Lili tidak bisa kemasjid untuk sholat tarawih, karena masih diberikan ujian berupa gangguan aliran darah ke otak yang mengakibatkan sebagian dari anggota tubuh nya tidak bisa bergerak secara normal.

Sekarang Mbak Lili sudah bisa kemasjid, ditemanai oleh putrinya yang baru pulang dari Pulau Jawa, sekaligus mendapat gelar dokter, semoga malam pertema di awal Ramadhan tahun ini memberikan sinar kebahagiaan dalam hdiup Mak Lili, hidup bersama keluarga dan bahagia sepanjang masa, anak Ragil beliau yang menjadi seorang teknis sudah membuatkan kursi roda yang bisa di kontrol menggunakan remot, dan Putri Maslahatul Maghfiroh putri beliau yang sekarang menjadi “Dokter Putri” bisa mendampingi Mbak Lili, pergi kemasjid dimalam hari dan menikmati puasa disiang hari, sehat selalu Mbak Lili, semoga Lelah mu selama ini menjadi Lillah.

Dimalam pertama bulan suci ini saya menatap langit yang cerah, dan kedipan bintang gemintang pun seakan mengitip dibalik awan dengan lembut, seakan memanggil setiap mata memandang untuk memuncakan semangat beribadah, ibadah yang tidak hanya dilakukan secara menyembah kepada sang khalik saja, tetepi setiap perilaku yang kita lakukan haruslah memberikan nilai ibadah, melihat sesuatu apapun dari sisi kebaikanya pun sudah menjadi ibadah, lantas pantaskah kita belasan untuk tidak melakukanya, ketika kita melayani dunia inipun bisa dijadikan sarana untuk beribadah kepada allah, melihat penjual Es teh dipinggir jalan disiang hari dibulan ramadhan ini juga meupakan bagian dari berntuk ibadah, ibadah itu fleksibel dimanapun dan kapanpun bisa kita lakukan tidak memberatkan cukup istiqomah dan belajar untuk bangkit dari kemalasan adalah solusi terbaik untuk memulai ibadah-ibadah kita kepada Allah, saya menjadi teringat dari kisah Mbak Lili diatas betapa bahagia nya Malam pertama di bulan sucinya bisa meraup pahala sebanyak-banyak nya setelah dua Tahun tertahan dirumah, kita yang masih punya kesempatan dan waktu yang lapang jangan lagi bermalasan untuk meraih dan memuliakan ramadhan dengan persembahan amal terbaik kita, dari sisi manapun kita memulainya, mudah-mudahan esensi dari puasa kita benar-benar melahirkan pribadi yang takwa. Amin...



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Bersama Lebah dan Semut
15 Agustus 2026   Oleh : Khairan Efendi   167

Dari Sudut Makam, Saya Menemukan Wajah Kemerdekaan
12 Agustus 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   242

Menjemput Hidayah, Bukan Menantinya.
30 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   65

Jejak Lereng Muria, antara Meniti Tangga dan Menata Hati
19 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   48

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1587


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1169


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1005


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      963