Avatar

Admin MUI

Penulis Kolom

26 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Keindahan Romadhan tidak pada Hisab dan Rukyatul Hilal



Senin , 11 Maret 2024



Telah dibaca :  118

Suasana Ramadhan penuh dengan kemulyaan. Para ilmuwan, ulama, para pecinta tulis-menulis mencoba membuka tabir rahasia keagungan ibadah yang telah diperintahkan oleh-Nya sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. Al-Baqarah [2];183 berbunyi; “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Hadist Nabi Muhammad saw berbunyi; “Islam ditegakkan di atas lima perkara, yaitu dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah bagi mereka yang mampu.”Maka tidak heran apabila kita bisa menemukan dengan mudah tulisan tentang puasa dalam berbagai perspektif, baik ditulis oleh pakar agama, pakar kesehatan, lingkungan hidup, dan keilmuan lainya.

Puasa tidak hanya membawa berkah umat Islam, tapi berkah untuk seluruh alam semesta. Masyarakat non-muslim ikut juga bergembira. Mereka mendapat limpahan berkah luar biasa. Toko baju, sepatu dan sandal dengan model yang terbaru. Mereka menyediakan barang-barang terbaik dan pelayan tokoh sangat ramah dan murah senyum. Di pinggir-pinggir jalan, berderet para penjual makanan dan ta’jil untuk berbuka puasa. Jika kita malas masak karena kondisi sibuk, mereka telah menyiakannya dengan penuh rasa dan selera yang menggiurkan. Jika kita menginginkan minuman es dengan rasa buah buahan atau apa saja, mereka telah menyiapkan dengan segala rasa. Semua fasilitas tersebut tiada lain untuk mengagungkan bulan puasa dan ahli puasa.

Kanjeng nabi Muhammad saw bersabda: ”Telah datang bulan ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa ada bulan itu, saat itu pintu pintu surga dibuka, pintu pintu neraka ditutup, para setan diikat dan ada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan”.

Di bulan puasa, penulis melihat orang-orang dermawan telah menyiapkan sebagian rezkinya untuk membeli makanan dan membagikan di masjid-masjid dan di jalan-jalan saat menunggu berbuka puasa. Para pejabat Pemerintah daerah, ormas Islam bahkan kadang orang-orang non-muslim berdiri di pinggir jalan dan menyetop setiap kendaraan yang lewat atau orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya. Dengan senyum, mereka memberikan sebingkis ta’jil sebagai bentuk kepedulian sosial. Kanjeng Nabi Muhammad saw bersabda: "Barangsiapa memberi perbukaan (makanan atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut”.

Puasa bukan berhenti pada persoalan fiqh semata yang berhenti pada bab tentang penentuan awal ramadhan dan awal bulan syawal. Perdebatan dalam tataran ilmu fiqh memang sudah biasa dan perbedaan pun hal yang sudah lazim. Puasa bukan sebatas persoalan hisab dan rukyatul hilal. Sebab keduanya mempunyai landasan yang sama-sama kuat dan sama-sama sesuai dengan syariat Islam. bagi kita yang hidup di daerah katulistiwa atau daerah tropis, maka puasa akan terlihat normal. Kita masih ada waktu untuk melaksanakan berbuka puasa, sholat taraweh, tidur dan sahur. Di daerah sub-tropis kadang ada negara yang melihat matahari sebanyak 21 jam, dan hanya menemukan malam hari hanya 3 jam. Jika hanya mengacu kepada peredaran matahari, maka persoalan tidak hanya sebatas masalah puasa, tetapi juga masalah ibadah sholat lima waktunya. Dari sini lahir beragam jawaban-jawaban para ulama untuk menyelesaikan persoalan tersebut. dari sini juga, kita bisa belajar bahwa persoalan hisab dan ru’yat sebagai bagian dari kajian ilmu yang sudah berumur tua dan tidak perlu lagi mempersoalkan keduanya. Nabi Muhammad telah bersabda,”Barangsiapa yang berijtihad benar dia mendapatkan dua pahala, jika salah mendapatkan satu pahala”.

Puasa dikaji dari segala aspek senantiasa bernilai positif. Orang yang menjalankan ibadah puasa pun dipandang oleh Allah dengan pandangan kasih sayang yang agung; pahala sunnah bernilai seperti ibadah wajib, ibadah wajib dilipatkgandakan pahalanya oleh-Nya. Bahkan Allah dengan sangat tegas menjelaskan bahwa hak untuk menilai kualitas puasa seseorang hanya Allah SWT, bukan wali, bukan ulama, dan bukan tetangga kita.

Otoritas penilaian tersebut sebenarnya menjadi ujian berat bagi seseorang yang menjalankan ibadah puasa. Allah memberikan kemerdekaan manusia untuk melakukan apa saja dengan kesadaran tinggi atas segala apa yang ia lakukan. Sebab manusia sering melakukan sesuatu meskipun mengatakan takut kepada Allah, tetapi kenyataannya lebih takut kepada manusia, polisi, jaksa, mertua dan istri. Banyak manusia bersumpah atas nama Allah, tapi sebanyak itu kadang manusia membelakangi-Nya dalam segala aktivitas dan kegiatan yang manusia lakukan baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan, baik secara individu maupun secara kolektif.  

Ketika nabi mengatakan bahwa pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup memberi pesan bahwa dalam menjalan kehidupan di bulan puasa manusia benar-benar menjalankan segala ibadah dan aktivitas yang mendapatkan ridha-Nya. Manusia yang terdiri dari jasad dan ruh tidak bisa menangkap hal-hal yang bersifat abstrak. Manusia hanya diberi kekuatan kepada hal-hal yang bersifat dhohir. Itupun terbatas. Itu sebabnya, ketika setan di kerangkeng atau dipenjara, maka sebenarnya yang memasukan penjara setan dan iblis adalah manusia ahli puasa, yaitu ahli ibadah dan amal sholeh yang ikhlas semata-mata karena Allah swt. Ketika manusia bisa melaksanakan semua itu, secara otomatis iblis atau setan akan lemah dan tidak berdaya. Sebab orang yang ikhlas hanya mengharap ridha-Nya, maka seluruh tubuhnya dibentengi oleh cayaha ilahiyah dalam wujud ke-ikhlasan tersebut.



Penulis : Admin MUI


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Bersama Lebah dan Semut
15 Agustus 2026   Oleh : Khairan Efendi   190

Dari Sudut Makam, Saya Menemukan Wajah Kemerdekaan
12 Agustus 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   242

Menjemput Hidayah, Bukan Menantinya.
30 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   65

Jejak Lereng Muria, antara Meniti Tangga dan Menata Hati
19 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   48

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1587


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1169


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1005


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      963