
Suasana Ramadhan penuh dengan kemulyaan. Para
ilmuwan, ulama, para pecinta tulis-menulis mencoba membuka tabir rahasia
keagungan ibadah yang telah diperintahkan oleh-Nya sebagaimana firman Allah swt
dalam Q.S. Al-Baqarah [2];183 berbunyi; “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Hadist Nabi Muhammad saw berbunyi; “Islam ditegakkan di atas
lima perkara, yaitu dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat,
berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah bagi mereka yang mampu.”Maka tidak
heran apabila kita bisa menemukan dengan mudah tulisan tentang puasa dalam
berbagai perspektif, baik ditulis oleh pakar agama, pakar kesehatan,
lingkungan hidup, dan keilmuan lainya.
Puasa tidak hanya membawa berkah umat Islam,
tapi berkah untuk seluruh alam semesta. Masyarakat non-muslim ikut juga
bergembira. Mereka mendapat limpahan berkah luar biasa. Toko baju, sepatu dan
sandal dengan model yang terbaru. Mereka menyediakan barang-barang terbaik dan pelayan
tokoh sangat ramah dan murah senyum. Di pinggir-pinggir jalan, berderet para penjual
makanan dan ta’jil untuk berbuka puasa. Jika kita malas masak karena kondisi
sibuk, mereka telah menyiakannya dengan penuh rasa dan selera yang menggiurkan.
Jika kita menginginkan minuman es dengan rasa buah buahan atau apa saja, mereka
telah menyiapkan dengan segala rasa. Semua fasilitas tersebut tiada lain untuk
mengagungkan bulan puasa dan ahli puasa.
Kanjeng nabi Muhammad saw bersabda: ”Telah
datang bulan ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk
berpuasa ada bulan itu, saat itu pintu pintu surga dibuka, pintu pintu neraka
ditutup, para setan diikat dan ada bulan itu pula terdapat satu malam yang
nilainya lebih baik dari seribu bulan”.
Di bulan puasa, penulis melihat orang-orang
dermawan telah menyiapkan sebagian rezkinya untuk membeli makanan dan
membagikan di masjid-masjid dan di jalan-jalan saat menunggu berbuka puasa. Para
pejabat Pemerintah daerah, ormas Islam bahkan kadang orang-orang non-muslim
berdiri di pinggir jalan dan menyetop setiap kendaraan yang lewat atau
orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya. Dengan senyum, mereka memberikan
sebingkis ta’jil sebagai bentuk kepedulian sosial. Kanjeng Nabi Muhammad
saw bersabda: "Barangsiapa
memberi perbukaan (makanan atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka dia
akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi
sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut”.
Puasa bukan berhenti pada persoalan
fiqh semata yang berhenti pada bab tentang penentuan awal ramadhan dan awal
bulan syawal. Perdebatan dalam tataran ilmu fiqh memang sudah biasa dan
perbedaan pun hal yang sudah lazim. Puasa bukan sebatas persoalan hisab dan rukyatul
hilal. Sebab keduanya mempunyai landasan yang sama-sama kuat dan sama-sama
sesuai dengan syariat Islam. bagi kita yang hidup di daerah katulistiwa atau
daerah tropis, maka puasa akan terlihat normal. Kita masih ada waktu untuk
melaksanakan berbuka puasa, sholat taraweh, tidur dan sahur. Di daerah
sub-tropis kadang ada negara yang melihat matahari sebanyak 21 jam, dan hanya
menemukan malam hari hanya 3 jam. Jika hanya mengacu kepada peredaran matahari,
maka persoalan tidak hanya sebatas masalah puasa, tetapi juga masalah ibadah
sholat lima waktunya. Dari sini lahir beragam jawaban-jawaban para ulama untuk
menyelesaikan persoalan tersebut. dari sini juga, kita bisa belajar bahwa
persoalan hisab dan ru’yat sebagai bagian dari kajian ilmu yang
sudah berumur tua dan tidak perlu lagi mempersoalkan keduanya. Nabi Muhammad
telah bersabda,”Barangsiapa yang berijtihad benar dia mendapatkan dua
pahala, jika salah mendapatkan satu pahala”.
Puasa dikaji dari segala aspek
senantiasa bernilai positif. Orang yang menjalankan ibadah puasa pun dipandang
oleh Allah dengan pandangan kasih sayang yang agung; pahala sunnah bernilai
seperti ibadah wajib, ibadah wajib dilipatkgandakan pahalanya oleh-Nya. Bahkan
Allah dengan sangat tegas menjelaskan bahwa hak untuk menilai kualitas puasa
seseorang hanya Allah SWT, bukan wali, bukan ulama, dan bukan tetangga kita.
Otoritas penilaian tersebut
sebenarnya menjadi ujian berat bagi seseorang yang menjalankan ibadah puasa. Allah
memberikan kemerdekaan manusia untuk melakukan apa saja dengan kesadaran tinggi
atas segala apa yang ia lakukan. Sebab manusia sering melakukan sesuatu meskipun
mengatakan takut kepada Allah, tetapi kenyataannya lebih takut kepada manusia,
polisi, jaksa, mertua dan istri. Banyak manusia bersumpah atas nama Allah, tapi
sebanyak itu kadang manusia membelakangi-Nya dalam segala aktivitas dan
kegiatan yang manusia lakukan baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan,
baik secara individu maupun secara kolektif.
Ketika nabi mengatakan bahwa pintu surga
dibuka, pintu neraka ditutup memberi pesan bahwa dalam menjalan kehidupan di
bulan puasa manusia benar-benar menjalankan segala ibadah dan aktivitas yang
mendapatkan ridha-Nya. Manusia yang terdiri dari jasad dan ruh tidak bisa
menangkap hal-hal yang bersifat abstrak. Manusia hanya diberi kekuatan kepada
hal-hal yang bersifat dhohir. Itupun terbatas. Itu sebabnya, ketika setan di
kerangkeng atau dipenjara, maka sebenarnya yang memasukan penjara setan dan
iblis adalah manusia ahli puasa, yaitu ahli ibadah dan amal sholeh yang ikhlas
semata-mata karena Allah swt. Ketika manusia bisa melaksanakan semua itu,
secara otomatis iblis atau setan akan lemah dan tidak berdaya. Sebab orang yang
ikhlas hanya mengharap ridha-Nya, maka seluruh tubuhnya dibentengi oleh cayaha ilahiyah
dalam wujud ke-ikhlasan tersebut.
Penulis : Admin MUI
Belajar Bersama Lebah dan Semut
15 Agustus 2026   Oleh : Khairan Efendi   190
Dari Sudut Makam, Saya Menemukan Wajah Kemerdekaan
12 Agustus 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   242
Sekolah Aman: Membangun Ruang Belajar yang Menumbuhkan Karakter dan Masa Depan
30 Juli 2026   Oleh : Khairan Efendi   40
Menjemput Hidayah, Bukan Menantinya.
30 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   65
Jejak Lereng Muria, antara Meniti Tangga dan Menata Hati
19 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   48
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1587
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1315
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1169
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1005
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      963