Muharram Hampir Berlalu, Sudahkah Kita Berhijrah?
Kamis , 02 Juli 2026
Telah dibaca :  206
Tanpa terasa, bulan Muharram telah memasuki pertengahan. Waktu terus berputar, sementara usia terus berkurang. Semangat menyambut Tahun Baru Hijriah yang beberapa hari lalu begitu terasa di berbagai masjid, majelis taklim, dan lembaga pendidikan, perlahan mulai memudar. Namun, pertanyaan yang patut kita renungkan bersama adalah, apakah semangat hijrah itu juga mulai memudar, atau justru semakin menguat dalam diri kita?
Muharram bukan sekadar pembuka kalender Hijriah. Lebih dari itu, ia adalah momentum untuk melakukan muhasabah menghitung kembali perjalanan hidup, memperbaiki kekurangan, dan memperbarui komitmen sebagai hamba Allah SWT. Pergantian tahun tidak akan bermakna apabila tidak diiringi dengan perubahan sikap, akhlak, dan kualitas ibadah.
Allah SWT telah menetapkan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan yang dimuliakan. Firman-Nya:
«إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ»
"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (yang dimuliakan). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan-bulan) itu
Ayat ini mengingatkan bahwa Muharram bukan bulan yang biasa. Para ulama menjelaskan bahwa larangan menzalimi diri sendiri mencakup semua bentuk kemaksiatan dan kelalaian dalam beribadah. Sebaliknya, bulan ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperbanyak amal saleh dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.
Hijrah yang diajarkan Rasulullah SAW bukan hanya perpindahan dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah dari kemalasan menuju kesungguhan, dari maksiat menuju taat, dari kebencian menuju kasih sayang, dan dari kelalaian menuju kesadaran akan tujuan hidup.
Allah SWT juga mengingatkan pentingnya evaluasi diri melalui firman-Nya:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ»
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini menjadi landasan kuat bagi setiap muslim untuk melakukan muhasabah. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang." Ungkapan ini mengajarkan bahwa evaluasi diri merupakan ciri orang beriman yang senantiasa ingin memperbaiki kehidupannya.
Kini Muharram telah berjalan lebih dari separuh perjalanan. Jangan sampai bulan yang mulia ini berlalu tanpa meninggalkan bekas dalam diri kita. Mungkin kita belum mampu melakukan perubahan besar, tetapi setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah akan bernilai besar di sisi Allah SWT.
Mulailah dengan memperbaiki salat lima waktu, memperbanyak membaca Al-Qur'an, membiasakan istighfar, menjaga lisan dari ghibah dan fitnah, mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian kepada fakir miskin dan anak yatim, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah. Inilah hijrah yang sesungguhnya, hijrah yang tidak hanya terlihat dalam ucapan, tetapi nyata dalam tindakan.
Semoga sisa hari di bulan Muharram menjadi kesempatan emas bagi kita untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan biarkan Muharram hanya menjadi pergantian kalender, tetapi jadikan ia sebagai awal perjalanan menuju pribadi yang lebih bertakwa dan lebih bermanfaat bagi umat.
Penulis : Khairan Efendi