
Malam nisfu sya’ban terasa hidup. Setiap
masjid dan mushola mengisi kegiatan dengan berdzikir kepada Allah SWT. Umat Islam mulai melatih
mempersiapkan diri menyambut tamu agung yaitu bulan ramadhan. Jadi, nisfu
sya’ban digunakan untuk bersih-bersih: pikiran yang kotor penuh dengan
prasangka negatif, hati yang penuh kebencian dan nafsu amarah, dan perut yang
selalu penuh makanan dan minuman tanpa memikirkan standarisasi keamanan dan kesehatan.
Seberapa penting menghidupkan nifsu sya’ban
dengan berdzikir dan membaca Surat Yasin? Para ulama arif billah melihat
surat yasin sebagai inti dari Al-Qur’an sebagaimana inti bulan-bulan ada pada
bulan ramadhan sebagaimana inti hari-hari pada hari jum’at, sebagaimana hati
menjadi inti tubuh manusia, sebagaimana mana umat Islam untuk tunduk menghadap
kepada kiblat dan sebagaimana seluruh makhluk tunduk kepada Sang Pencipta yaitu
Allah SWT. Semua kehidupan selalu mempunyai sumber kehidupan. Sebab ia menjadi barometer
kebaikan nya sebagaimana hati menjadi barometer kebaikan manusia.
Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Hadid
([57]:28) sebagai berikut: “Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada
Rasul-Nya (Nabi Muhammad), niscaya Allah menganugerahkan kepadamu dua bagian
dari rahmat-Nya dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu
berjalan serta Dia mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Hadist nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa
dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amalan kalian. Siapa saja yang
memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian hanyalah
anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah
adalah yang paling takwa”
Kebaikan sejati bersumber dari hati. Begitu juga cahaya keimanan
dan ketulusan bersumber dari hati. Ucapan dan perbuatan manusia merupakan layar
kehidupan manusia. Ia terkadang terkoneksi dengan hati, maka ucapan, perbuatan dan pikiran mencerminkan keadaan hatinya. Terkadang juga ada sistem tidak berfungsi dan tidak terkoneksi sehingga mengalami “sistem error”.
Ucapan dan perbuatan yang error tidak terkoneksi dengan hati seperti layar
laptop yang kadang berjalan sendiri huruf-huruf karena terkena virus. Ketika kita
melihat hal demikian, kesabaran kita diuji. Berbagai pekerjaan terkendala dan
mau tidak mau Laptop pun harus diperbaiki kepada ahlinya.
Dunia ini seperti ini-ini saja. Sepi dan ramai dunia ada pada pikiran dan hati
kita. Bukan oleh suasana yang ada di sekitar kita. Makna “sepi ing pamrih”
adalah orang-orang yang bekerja, berkarya dan berbicara di ruang-ruang
terhormat dengan keadaan hiruk-pikuk manusia di ruangan tersebut. Ia tetap
merasa damai dan tidak terpengaruh oleh situasi tersebut. Ia sudah “manunggaling
gusti” dalam makna hati dan pikirannya telah hanyut berdzikir kepada Allah SWT.
Sehingga ia tidak terpengaruh oleh keadaan apapun di luar dan tidak terpancing
oleh suasana yang tidak menentu oleh dinamika sosial yang terkadang datang
sangat merusak.
Nisfu sya’ban adalah jalan
untuk bersih-bersih virus pikiran, ucapan, perbuatan dan hati. maka terapi nya
melalui istighfar, dzikrullah dan membaca surat yasin agar senantiasa pada jalur
‘ala siratal mustaqim. Sebab hakikat manusia pada era modern selalu aksyarihim
fahum la yu’minun. Mereka yakin akan pertolongan Allah, yakin akan kekuatan-nya,
tapi eksistensi-Nya sering dipinggirkan dalam realita kehidupan. Dinamika
kehidupan penuh dengan persaingan dan permusuhan merupakan realita dari keimanan
yang masih jauh antara das sollen dan das sein.
Bersih-bersih diri kita terhadap penyakit-penyakit dan kotoran-kotoran
dhahir dan batin sebenarnya agar kita bisa “mengencangkan ikat pinggang” dan
menyambut bulan Ramadhan dengan penuh kebahagiaan seperti menyambut seorang
kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Anda bisa membayangkan dan merasakan
betapa asik nya ketika menyambut kekasih dengan perasaan rindu yang sangat
mendalam.
Semoga nifsu sya’ban bisa merintis jalan keagungan di
hadapan Allah swt. Amin.
Penulis : Admin MUI
Belajar Bersama Lebah dan Semut
15 Agustus 2026   Oleh : Khairan Efendi   190
Dari Sudut Makam, Saya Menemukan Wajah Kemerdekaan
12 Agustus 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   242
Sekolah Aman: Membangun Ruang Belajar yang Menumbuhkan Karakter dan Masa Depan
30 Juli 2026   Oleh : Khairan Efendi   40
Menjemput Hidayah, Bukan Menantinya.
30 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   65
Jejak Lereng Muria, antara Meniti Tangga dan Menata Hati
19 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   48
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1587
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1315
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1169
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1005
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      963