Avatar

Admin MUI

Penulis Kolom

26 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Nisfu Sya’ban; Merintis Jalan Keagungan



Jumat , 14 Februari 2025



Telah dibaca :  527

Malam nisfu sya’ban terasa hidup. Setiap masjid dan mushola mengisi kegiatan dengan berdzikir kepada Allah SWT. Umat Islam mulai melatih mempersiapkan diri menyambut tamu agung yaitu bulan ramadhan. Jadi, nisfu sya’ban digunakan untuk bersih-bersih: pikiran yang kotor penuh dengan prasangka negatif, hati yang penuh kebencian dan nafsu amarah, dan perut yang selalu penuh makanan dan minuman tanpa memikirkan standarisasi keamanan dan kesehatan.

Seberapa penting menghidupkan nifsu sya’ban dengan berdzikir dan membaca Surat Yasin? Para ulama arif billah melihat surat yasin sebagai inti dari Al-Qur’an sebagaimana inti bulan-bulan ada pada bulan ramadhan sebagaimana inti hari-hari pada hari jum’at, sebagaimana hati menjadi inti tubuh manusia, sebagaimana mana umat Islam untuk tunduk menghadap kepada kiblat dan sebagaimana seluruh makhluk tunduk kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Semua kehidupan selalu mempunyai sumber kehidupan. Sebab ia menjadi barometer kebaikan nya sebagaimana hati menjadi barometer kebaikan manusia.

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Hadid ([57]:28) sebagai berikut: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Nabi Muhammad), niscaya Allah menganugerahkan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu berjalan serta Dia mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Hadist nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amalan kalian. Siapa saja yang memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian hanyalah anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa”

Kebaikan sejati bersumber dari hati. Begitu juga cahaya keimanan dan ketulusan bersumber dari hati. Ucapan dan perbuatan manusia merupakan layar kehidupan manusia. Ia terkadang terkoneksi dengan hati, maka ucapan, perbuatan dan pikiran mencerminkan keadaan hatinya. Terkadang juga ada sistem tidak berfungsi dan tidak terkoneksi sehingga mengalami “sistem error”. Ucapan dan perbuatan yang error tidak terkoneksi dengan hati seperti layar laptop yang kadang berjalan sendiri huruf-huruf karena terkena virus. Ketika kita melihat hal demikian, kesabaran kita diuji. Berbagai pekerjaan terkendala dan mau tidak mau Laptop pun harus diperbaiki kepada ahlinya.

Dunia ini seperti ini-ini saja. Sepi  dan ramai dunia ada pada pikiran dan hati kita. Bukan oleh suasana yang ada di sekitar kita. Makna “sepi ing pamrih” adalah orang-orang yang bekerja, berkarya dan berbicara di ruang-ruang terhormat dengan keadaan hiruk-pikuk manusia di ruangan tersebut. Ia tetap merasa damai dan tidak terpengaruh oleh situasi tersebut. Ia sudah “manunggaling gusti” dalam makna hati dan pikirannya telah hanyut berdzikir kepada Allah SWT. Sehingga ia tidak terpengaruh oleh keadaan apapun di luar dan tidak terpancing oleh suasana yang tidak menentu oleh dinamika sosial yang terkadang datang sangat merusak.

Nisfu sya’ban adalah jalan untuk bersih-bersih virus pikiran, ucapan, perbuatan dan hati. maka terapi nya melalui istighfar, dzikrullah dan membaca surat yasin agar senantiasa pada jalur ‘ala siratal mustaqim. Sebab hakikat manusia pada era modern selalu aksyarihim fahum la yu’minun. Mereka yakin akan pertolongan Allah, yakin akan kekuatan-nya, tapi  eksistensi-Nya sering dipinggirkan dalam realita kehidupan. Dinamika kehidupan penuh dengan persaingan dan permusuhan merupakan realita dari keimanan yang masih jauh antara das sollen dan das sein.

Bersih-bersih diri kita terhadap penyakit-penyakit dan kotoran-kotoran dhahir dan batin sebenarnya agar kita bisa “mengencangkan ikat pinggang” dan menyambut bulan Ramadhan dengan penuh kebahagiaan seperti menyambut seorang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Anda bisa membayangkan dan merasakan betapa asik nya ketika menyambut kekasih dengan perasaan rindu yang sangat mendalam.

Semoga nifsu sya’ban bisa merintis jalan keagungan di hadapan Allah swt. Amin. 



Penulis : Admin MUI


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Bersama Lebah dan Semut
15 Agustus 2026   Oleh : Khairan Efendi   190

Dari Sudut Makam, Saya Menemukan Wajah Kemerdekaan
12 Agustus 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   242

Menjemput Hidayah, Bukan Menantinya.
30 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   65

Jejak Lereng Muria, antara Meniti Tangga dan Menata Hati
19 Juli 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   48

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1587


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1169


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1005


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      963