
Empat
Golongan Tidak Dapat Ampunan di Bulan Ramadhan
Bulan
Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Dalam bulan ini,
Allah SWT membuka pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang
bersungguh-sungguh dalam beribadah dan bertaubat. Berbagai amal kebaikan
dilipatgandakan pahalanya, doa-doa diijabah, dan pintu surga dibuka sementara
pintu neraka ditutup. Karena itu, Ramadhan sering disebut sebagai bulan
pengampunan (syahrul maghfirah) bagi
umat Islam.
Namun
demikian, meskipun Ramadhan dikenal sebagai bulan penuh ampunan, terdapat
beberapa golongan manusia yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW tidak
memperoleh ampunan Allah SWT apabila mereka tidak memperbaiki diri. Hal ini
menjadi peringatan penting bagi umat Islam agar tidak menyia-nyiakan kesempatan
emas yang hanya datang sekali dalam setahun tersebut.
Tulisan
ini akan membahas empat golongan yang tidak mendapatkan ampunan di bulan
Ramadhan berdasarkan hadis Nabi serta penjelasan para ulama, dengan pendekatan
ilmiah yang mudah dipahami oleh masyarakat.
Banyak
dalil yang menjelaskan betapa besarnya keutamaan Ramadhan sebagai bulan
pengampunan. Salah satunya adalah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh
Imam Bukhari dan Muslim: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan
mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis
ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah kesempatan besar bagi umat Islam untuk
membersihkan diri dari dosa-dosa. Puasa yang dilakukan dengan iman dan
keikhlasan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa masa lalu. Selain itu,
Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Ramadhan merupakan bulan yang penuh petunjuk
bagi manusia. Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan
Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu
serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah:
185).
Ayat
ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi juga
bulan pembinaan spiritual dan moral bagi umat Islam.
Meskipun
pintu ampunan dibuka luas, Rasulullah SAW menyebutkan ada beberapa golongan
yang tetap tidak memperoleh ampunan apabila mereka tidak memperbaiki diri. Hal
ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi: “Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan,
kemudian bulan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.” (HR.
Tirmidzi).
Dalam
berbagai penjelasan ulama, terdapat empat golongan manusia yang sangat berisiko
tidak mendapatkan ampunan di bulan Ramadhan.
1. Orang yang Tidak Memanfaatkan
Ramadhan untuk Beribadah
Golongan
pertama adalah orang yang tidak memanfaatkan bulan Ramadhan untuk memperbanyak
ibadah. Mereka menjalani Ramadhan seperti bulan-bulan biasa tanpa meningkatkan
kualitas spiritualnya. Padahal, Ramadhan adalah kesempatan langka yang
seharusnya dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai
ibadah seperti puasa, shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan
memperbanyak doa.
Menurut
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin,
seseorang yang tidak memanfaatkan waktu-waktu mulia untuk beribadah termasuk
orang yang merugi secara spiritual. Hal ini karena kesempatan yang sangat besar
untuk memperoleh pahala justru disia-siakan.
Dengan
kata lain, orang yang tetap lalai dan tidak meningkatkan ibadahnya di bulan
Ramadhan berarti tidak memanfaatkan momentum pengampunan yang telah Allah
sediakan.
2. Orang yang Durhaka kepada Kedua
Orang Tua
Golongan
kedua yang tidak mendapatkan ampunan adalah orang yang durhaka kepada kedua
orang tuanya. Dalam Islam, berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban yang
sangat ditekankan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”
(QS. Al-Isra’: 23).
Ayat
ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua ditempatkan setelah kewajiban
menyembah Allah. Hal ini menandakan betapa pentingnya kedudukan orang tua dalam
Islam.
Dalam
konteks Ramadhan, seseorang yang masih menyakiti, mengabaikan, atau tidak
menghormati orang tuanya dikhawatirkan tidak mendapatkan ampunan Allah, karena
dosa terhadap manusia harus diselesaikan terlebih dahulu dengan meminta maaf
kepada yang bersangkutan.
3. Orang yang Memutuskan
Silaturahmi
Golongan
ketiga adalah orang yang memutuskan hubungan silaturahmi. Dalam ajaran Islam,
menjaga hubungan kekeluargaan merupakan salah satu bentuk ibadah sosial yang
sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang
memutuskan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Silaturahmi
memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun sosial. Selain mempererat
hubungan antar manusia, silaturahmi juga menjadi sebab bertambahnya rezeki dan
panjang umur.
Sebaliknya,
memutuskan hubungan dengan keluarga atau kerabat karena permusuhan, iri hati,
atau masalah duniawi merupakan perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam.
Oleh
karena itu, bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki
hubungan yang rusak dan saling memaafkan.
4. Orang yang Menyimpan Kebencian
dan Tidak Mau Memaafkan
Golongan
terakhir adalah orang yang masih menyimpan kebencian, dendam, dan permusuhan
terhadap sesama manusia. Sikap ini dapat menghalangi seseorang dari mendapatkan
ampunan Allah SWT.
Dalam
sebuah hadis disebutkan bahwa amalan manusia diperlihatkan kepada Allah setiap
hari Senin dan Kamis. Rasulullah SAW bersabda: “Semua dosa seorang mukmin akan diampuni
kecuali dua orang yang saling bermusuhan. Dikatakan: tangguhkan keduanya sampai
mereka berdamai.” ( HR. Muslim).
Hadis
ini menunjukkan bahwa permusuhan yang berkepanjangan dapat menjadi penghalang
turunnya ampunan Allah.
Oleh
karena itu, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk memiliki sifat pemaaf.
Bahkan Al-Qur’an memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan
kesalahan orang lain. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan
kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali Imran: 134).
Dengan
demikian, memaafkan sesama merupakan langkah penting untuk meraih ampunan
Allah, terutama di bulan Ramadhan.
Dari
penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan
lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperbaiki hubungan dengan Allah dan
sesama manusia.
Puasa
yang sejati seharusnya mampu membentuk pribadi yang lebih sabar, lebih peduli,
dan lebih pemaaf. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk melakukan
introspeksi diri selama Ramadhan.
Momentum
Ramadhan seharusnya dimanfaatkan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, mempererat
hubungan keluarga, serta meningkatkan kualitas ibadah. Jika seseorang mampu
menjalani Ramadhan dengan penuh kesungguhan, maka bulan ini dapat menjadi titik
balik dalam kehidupan spiritualnya.
Ramadhan
merupakan bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Namun, tidak
semua orang secara otomatis mendapatkan ampunan tersebut. Ada beberapa golongan
manusia yang berisiko tidak memperoleh ampunan apabila mereka tidak memperbaiki
sikap dan perilakunya.
Penulis : Muhtaruddin,M.Pd.I
Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   14
Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   349
Di Balik Ihram dan Haji
09 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   32
Hardiknas 2026
02 Mei 2026   Oleh : Khairan Efendi   162
Di Antara Air Mata dan Do’a: Mengantar Jamaah Menuju Tanah Suci
28 April 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   63
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1235
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950