Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

31 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menjajak Tradisi Menyulam Karya



Jumat , 03 April 2026



Telah dibaca :  265

Afrizal Cik, saya mengenal beliau memang tidak begitu akrab Namun, pada awalnya belakangan ini saya sering berkomunikasi dengan beliau, terutama terkait khazanah serta adat istiadat Melayu yang ada di Kepulauan Meranti. Karena saya tertarik unutk belajar dan mendalmi budaya melayu yang ada dikepulauan meranti, terutama pada adat istiadat Pernik-pernik pernikahan, mulai dari merisik, melamar, adat malam berinai sampailah ijab dan Kabul, dan tradisi yang ada didalam nya, Bagi saya, beliau adalah salah satu tokoh Melayu Meranti yang istiqamah dalam menjaga adat dan budaya kampung halamannya. Tidak heran jika beliau sangat dikenal di kalangan tokoh-tokoh Melayu Meranti. Saya pun merasa termotivasi oleh beliau, karena keteguhannya dalam melestarikan tradisi adat dan budaya Melayu di Kepulauan Meranti. Salah satu upaya yang beliau lakukan dalam menjaga warisan tersebut adalah melalui tulisan, seperti cerita-cerita rakyat, hikayat, dan karya sastra yang berkembang di Kepulauan Meranti. Saya sudah membaca beberpa karya beliau, seperti “ Tanah Jantan Yang Melawan, Tempias, Termasuk Lagenda Tasik Putri Puyu, Ada Juga Awang Mahmuda (tapi saya belum selesai membacanya)”

Hari ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan literasi Bimbingan Teknik Menulis Cerita Anak Dwibahasa yang ditaja oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, bekerja sama dengan Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Kepulauan Meranti. Kesempatan ini tentu bagi saya bukan sekadar menghadiri sebuah kegiatan, melainkan menjadi pintu awal untuk melangkah lebih jauh dalam dunia literasi dan pelestarian budaya. Di tengah suasana kegiatan yang penuh semangat, saya mulai menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga tentang merawat ingatan, menjaga jati diri, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya. Apa yang selama ini dilakukan oleh Afrizal Cik seakan menjadi cermin dan pengingat bahwa setiap orang memiliki peran dalam menjaga warisan budaya, sekecil apa pun langkah yang diambil, tentu akan memiliki manfaat yang besar dikemudian hari.

Saya pun mulai menumbuhkan keyakinan dalam diri, bahwa belajar menulis adalah bagian dari ikhtiar untuk ikut serta merawat khazanah Daerah. Dari kisah -kisah anak Lokal, kehidupan masyarkat tempo dulu dan kekinian, tentu ini perlu untuk diabadikan agar tidak hilang dimakan zaman, mungkin kita sering mendengar kisah dan cerita dari orang tua-tua kita, tentang asal usul kampung, kehidupan Masyarakat masa lalu, dan bahkan cerita tetangga kita yang terjadi kemaren sore, jika cerita itu tidak kita abadikan dalam bentuk tulisan, maka sepuluh atau duapuluh tahun kedepan cerita itu akan hilang, sirna, dan lupa dari ingatan kita, maka kesempatan ini hadir untuk kita mengabadikan kisah-kisah itu dalam sebuah cerita yang kita tulis.

Melalui kegiatan ini, saya ingin melangkah lebih berani menuangkan gagasan, merekam cerita, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam karya-karya sederhana. Sebab saya percaya, sebuah tulisan kecil hari ini bisa menjadi pelita bagi generasi di masa depan. Dan dari sini, saya belajar satu hal penting: berkarya tidak harus menunggu sempurna, cukup dimulai dengan niat yang tulus dan langkah yang konsisten. Karena pada akhirnya, karya bukan hanya tentang siapa yang membaca, tetapi tentang bagaimana kita menjaga warisan agar tetap hidup sepanjang zaman.

Di hadapan bangunan bercorak Melayu yang kokoh dan berwarna cerah itu, tampak sosok-sosok yang sederhana namun penuh makna. Di antara mereka, berdiri seorang laki-laki berbaju kuning dengan senyum yang hangat dan sikap yang tenang dialah sosok yang dalam benak saya mencerminkan keteguhan untuk menjaga warisan budaya dari leluhur. Namanya Afrizal Cik, dan saya akrab memanggilnya dengan panggilan “Datuk”.  Wajahnya memancarkan ketulusan, seakan menyimpan banyak cerita tentang perjuangan menjaga nilai dan tradisi yang kian tergerus zaman, saya sangat berterimakasih karena beliau telah memberikan kesempatan dan waktu kepada saya untuk menimba ilmu dalam tata penulisan cerita untuk anak-anak, tentu kesempatan ini tidak akan mudah terulang untuk kedua kali.

Di sekelilingnya, ada Wanita-wanita yang juga mengenakan nuansa yang sama dan busana sopan tampak berdiri dengan raut wajah bersahaja. Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari mata rantai yang sama, penjaga warisan, perawat budaya, dan pendukung lahirnya generasi yang mencintai adat istiadatnya. Senyum mereka bukan hanya ekspresi kebahagiaan, melainkan juga cerminan semangat kebersamaan dalam merawat identitas Melayu. Tangga tempat mereka berdiri seolah menjadi simbol perjalanan, bahwa menjaga budaya dan berkarya adalah sebuah proses yang bertahap. Tidak instan, tetapi penuh kesabaran dan konsisten. Dari langkah kecil seperti berdiskusi, belajar, hingga menulis, semua bermuara pada satu tujuan: agar khazanah Melayu tetap hidup dan dikenang. Melihat mereka, saya semakin yakin bahwa semangat berkarya itu tumbuh dari lingkungan yang saling menguatkan. Bahwa setiap pertemuan, setiap senyum, dan setiap cerita yang dibagikan adalah bahan bakar untuk terus melangkah. Dan dari kebersamaan sederhana inilah, lahir tekad yang kuat untuk menulis, berkarya, dan menjaga warisan budaya agar tetap bersinar di masa depan.

Saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang mengenal seseorang atau memahami sebuah tradisi, melainkan tentang menemukan makna dalam setiap langkah kecil yang kita tempuh. Di antara tawa yang sederhana dan kebersamaan yang hangat, dalm waktu singkat itu, tumbuh sebuah harapan bahwa karya yang lahir dari hati yang tulus akan selalu menemukan jalannya. Seperti cahaya yang tak pernah lelah menerangi, semangat untuk berkarya pun harus terus dijaga, dirawat, dan dihidupkan. Karena dari setiap tulisan yang kita rangkai, terselip cinta-cinta pada budaya, pada tanah kelahiran, dan pada masa depan yang ingin kita wariskan.

Maka biarlah langkah ini terus berlanjut, meski perlahan, meski sederhana. Sebab dalam kesederhanaan itulah, keindahan tercipta. Dan dalam setiap karya yang lahir, ada jejak hati yang akan selalu abadi, mengalir lembut seperti kisah yang tak pernah ingin usai.

Selamat berkarya para sahabat-sahabt ku, semoga kita dipertemukan Kembali dalam bingkai kata, diantara deretan nama yang tertulis dalam Buku Cerita Anak Dwibahasa disana terabadikan nama kita.

** Salam Literasi**



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Merawat Akar Budaya di Tengah Kemajuan Digital
07 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   91

Refleksi Perjalanan Ilmu dan Kebersamaan
09 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   59

Sepucuk kata Ma'af yang tak Terungkap
03 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   32

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950