Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

33 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sepucuk kata Ma'af yang tak Terungkap



Jumat , 03 April 2026



Telah dibaca :  34

Langit sore itu tampak murung, seperti ikut menyesali sesuatu yang telah lama terjadi. Awan bergelayut rendah, mengaburkan sinar matahari yang biasanya menghangatkan taman kota. Di antara bangku-bangku kayu yang mulai lapuk, duduklah seorang perempuan paruh baya bernama Rina. Tangannya gemetar saat membuka sebuah amplop yang warnanya sudah memudar, seolah surat itu menunggu lama untuk dibaca.

Surat itu datang pagi tadi—tanpa nama pengirim, hanya tertulis alamat rumah lamanya yang sudah ditinggalkannya dua dekade lalu. Ia hampir saja membuangnya, mengira itu sekadar kenangan yang tersesat. Tapi begitu melihat tulisan tangan di amplop itu, jantungnya berdegup lebih cepat. Tulisan itu begitu familiar. Ya …Terlalu familiar. Milik Lina, sahabat masa kecil yang dulu... hilang begitu saja.

Seketika, kenangan menyerbu seperti hujan yang tak bisa ditahan.

Dulu, Rina dan Lina adalah sahabat tak terpisahkan. Mereka tumbuh bersama di gang kecil yang penuh anak-anak bermain petak umpet dan layang-layang. Mereka tertawa bersama, menangis bersama, berbagi mimpi, dan saling menjaga. Tak ada yang menyangka bahwa persahabatan itu akan hancur oleh satu hal sederhana: cinta pertama.

Semuanya berubah ketika seorang anak baru, Bayu, pindah ke sekolah mereka. Bayu cerdas, ramah, dan menyukai seni persis seperti Rina dan Lina. Tanpa disadari, mereka berdua jatuh hati pada orang yang sama. Tapi tak seperti Rina yang menyimpannya dalam diam, Lina memberanikan diri mendekat. Dan Bayu membalas.

Rina patah hati, tapi bukan itu yang membuatnya tenggelam dalam kesalahan,  Yang menghancurkannya adalah rasa cemburu yang perlahan berubah jadi racun. Dalam amarah yang tak terkontrol, Rina menyebar gosip ke teman-teman sekolah bahwa Lina berbuat tak senonoh dengan Bayu. Sekolah heboh. Lina dipanggil Guru BK, dihina teman-teman, dan bahkan diusir dari kegiatan ekstrakurikuler.

Seminggu kemudian, Lina menghilang. Keluarganya pindah tanpa jejak. Rina hanya bisa menatap kamar kosong dari luar pagar rumah yang kini dikunci rapat,  Sejak saat itu, ia tak pernah lagi mendengar kabar Lina, Dan penyesalan menjadi tamu yang tak pernah pergi dari hidupnya.

Kini, dua puluh lima tahun kemudian, surat dari masa lalu tiba begitu saja, Di dalamnya, tertulis dengan tinta biru yang mulai pudar:

Rina,….Aku tahu, mungkin kamu tak pernah mengira akan mendapat surat dariku,  Aku juga tidak tahu kenapa butuh waktu selama ini untuk menulis ini. Tapi hari ini, saat melihat seorang gadis kecil menangis karena sahabatnya memarahinya, aku teringat kamu.

Dulu aku marah, Sakit hati, Tapi seiring waktu berjalan, aku sadar bahwa kita semua pernah melakukan kesalahan, terutama saat usia kita masih mencari-cari arah, Dan sekarang, aku ingin kau tahu satu hal penting: aku memaafkanmu.

Bukan karena aku lupa, tapi karena aku ingin kita sama-sama bebas dari masa lalu,  Hidup terlalu singkat untuk membawa dendam, Maaf karena aku juga pergi tanpa pamit, Aku terlalu takut untuk menghadapi semuanya saat itu. Tapi aku tak pernah melupakanmu, sahabatku.

= Lina=



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Merawat Akar Budaya di Tengah Kemajuan Digital
07 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   93

Refleksi Perjalanan Ilmu dan Kebersamaan
09 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   62

Menjajak Tradisi Menyulam Karya
03 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   271

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1127


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      968


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954