Avatar

Muhtaruddin,M.Pd.I

Penulis Kolom

63 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menjemput Cahaya di Sepuluh Malam Terakhir



Senin , 09 Maret 2026



Telah dibaca :  37

Menjemput Cahaya di Sepuluh Malam Terakhir

 

Ramadhan adalah bulan yang sarat dengan limpahan rahmat dan keberkahan. Namun, dalam tradisi spiritual Islam, terdapat satu fase yang dipandang paling sakral dan penuh makna, yaitu sepuluh malam terakhir Ramadhan. Pada fase inilah umat Islam diajak untuk meningkatkan intensitas ibadah, memperdalam refleksi diri, serta menjemput cahaya Ilahi yang dijanjikan melalui kehadiran malam agung bernama Lailatul Qadar.

Bagi banyak orang, Ramadhan sering kali dimulai dengan semangat tinggi, tetapi perlahan menurun menjelang akhir. Ironisnya, justru pada penghujung bulan inilah momentum spiritual mencapai puncaknya. Rasulullah ﷺ mencontohkan bahwa sepuluh malam terakhir merupakan waktu untuk memperkuat hubungan dengan Allah, bukan waktu untuk mengendurkan ibadah.

Dalam berbagai riwayat hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ meningkatkan kualitas ibadah pada sepuluh malam terakhir. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, Nabi menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggang sebagai simbol kesungguhan spiritual (Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu wal Marjan, 2013, hlm. 343).

Tradisi ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya memandang ibadah sebagai rutinitas, melainkan sebagai perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Tuhan. Dalam perspektif tasawuf, sepuluh malam terakhir adalah masa kontemplasi yang memungkinkan manusia melakukan evaluasi diri setelah menjalani hampir satu bulan penuh latihan spiritual.

Menurut Imam Al-Ghazali, Ramadhan ibarat madrasah ruhani yang bertujuan membersihkan hati dari berbagai penyakit batin seperti kesombongan, iri hati, dan cinta dunia yang berlebihan (Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, 2011, hlm. 245). Sepuluh malam terakhir menjadi puncak dari proses penyucian tersebut.

Keistimewaan terbesar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah adanya Lailatul Qadar. Al-Qur’an menjelaskan bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, nilai ibadah pada malam tersebut melampaui ibadah selama lebih dari delapan puluh tahun. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qur'an Surah Al-Qadr bahwa pada malam itu para malaikat turun ke bumi membawa berbagai ketentuan dan rahmat hingga terbit fajar.

Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan malam ini berkaitan dengan peristiwa turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Menurut M. Quraish Shihab, Lailatul Qadar bukan sekadar malam penuh pahala, tetapi juga momentum spiritual yang memungkinkan manusia memperoleh pencerahan dan perubahan hidup (Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, 2013, hlm. 512).

Dalam perspektif teologis, malam tersebut menjadi simbol bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Cahaya Lailatul Qadar bukan hanya cahaya spiritual, tetapi juga cahaya kesadaran yang mampu mengubah arah kehidupan seseorang.

Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir adalah i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Praktik ini bukan sekadar tradisi ritual, tetapi memiliki dimensi psikologis dan spiritual yang mendalam.

Dalam dunia yang penuh dengan distraksi digital dan kesibukan sosial, i’tikaf memberikan ruang bagi manusia untuk kembali kepada dirinya sendiri. Ia menjadi momen untuk menenangkan pikiran, memperdalam doa, serta merenungkan makna hidup.

Menurut Yusuf al-Qaradawi, i’tikaf merupakan latihan spiritual untuk memutus sementara keterikatan duniawi agar hati lebih fokus kepada Allah (Yusuf al-Qaradawi, Fiqh al-Shiyam, 2010, hlm. 178).

Dalam konteks modern, praktik i’tikaf juga memiliki nilai terapeutik. Aktivitas ibadah seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa terbukti mampu menenangkan sistem saraf dan mengurangi stres. Oleh karena itu, sepuluh malam terakhir tidak hanya memberikan manfaat spiritual, tetapi juga manfaat psikologis bagi manusia.

Sepuluh malam terakhir Ramadhan bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Ibadah yang dilakukan pada malam-malam tersebut seharusnya melahirkan kesadaran sosial yang lebih tinggi.

Islam mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan sepuluh malam terakhir untuk memperbanyak sedekah dan membantu kaum yang membutuhkan.

Menurut Didin Hafidhuddin, Ramadhan merupakan momentum yang sangat efektif untuk membangun solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah (Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, 2012, hlm. 87).

Spirit ini menunjukkan bahwa cahaya Ramadhan tidak berhenti pada ruang ibadah, tetapi juga menyinari kehidupan sosial masyarakat. Ketika kesalehan spiritual bertemu dengan kepedulian sosial, maka lahirlah masyarakat yang lebih adil dan penuh empati.

Salah satu tantangan terbesar dalam menjalani sepuluh malam terakhir adalah menjaga konsistensi ibadah. Banyak orang yang merasa lelah setelah menjalani puasa hampir sebulan penuh. Namun justru pada saat inilah diperlukan kesungguhan.

Dalam perspektif psikologi religius, konsistensi ibadah merupakan bentuk disiplin spiritual yang dapat membentuk karakter manusia. Kebiasaan bangun malam untuk shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa akan membentuk kesadaran batin yang lebih kuat.

Menurut Abuddin Nata, praktik ibadah yang dilakukan secara konsisten mampu membentuk kepribadian religius yang stabil dan berakhlak mulia (Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, 2014, hlm. 132).

Dengan demikian, sepuluh malam terakhir Ramadhan dapat dipandang sebagai fase pembentukan karakter spiritual. Ia mengajarkan manusia tentang kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati di hadapan Tuhan.

Pada akhirnya, menjemput cahaya di sepuluh malam terakhir Ramadhan bukan sekadar tentang mencari pahala sebanyak-banyaknya. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan batin untuk menemukan makna hidup yang lebih dalam.

Cahaya yang dimaksud bukanlah cahaya fisik, melainkan cahaya kesadaran yang menerangi hati manusia. Cahaya itu muncul ketika seseorang mampu menghubungkan ibadah dengan perubahan perilaku, ketika doa melahirkan kepedulian sosial, dan ketika Ramadhan meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sepuluh malam terakhir adalah kesempatan yang sangat berharga. Ia datang hanya sekali dalam setahun, namun dampaknya bisa bertahan sepanjang kehidupan. Karena itu, setiap muslim seharusnya menyambutnya dengan kesungguhan dan harapan.

Sebagaimana dikatakan oleh Hamka, Ramadhan adalah bulan pendidikan jiwa yang melatih manusia untuk menjadi pribadi yang lebih bersih dan lebih dekat kepada Allah (Hamka, Tasawuf Modern, 2015, hlm. 221).

Jika cahaya itu benar-benar berhasil kita jemput, maka Ramadhan tidak akan berakhir sebagai ritual tahunan semata. Ia akan menjadi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna, lebih spiritual, dan lebih manusiawi. 



Penulis : Muhtaruddin,M.Pd.I


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   14

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   349

Di Balik Ihram dan Haji
09 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   32

Hardiknas 2026
02 Mei 2026   Oleh : Khairan Efendi   162

Di Antara Air Mata dan Do’a: Mengantar Jamaah Menuju Tanah Suci
28 April 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   63

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950