Avatar

Muhtaruddin,M.Pd.I

Penulis Kolom

63 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menjemput Ramadhan dengan Hati yang Retak



Rabu , 18 Februari 2026



Telah dibaca :  52

Menjemput Ramadhan dengan Hati yang Retak

Oleh: Mukhtarodin

Ramadhan selalu datang dengan janji pemulihan. Ia bukan sekadar bulan dalam kalender hijriah, melainkan ruang spiritual tempat manusia menata ulang orientasi hidupnya. Namun, realitas batin tidak selalu berada dalam kondisi utuh ketika bulan suci itu tiba. Banyak di antara kita menyambutnya dengan hati yang retak—retak oleh kehilangan, kegagalan, tekanan ekonomi, konflik keluarga, bahkan kelelahan eksistensial yang tak terdefinisikan. Dalam situasi demikian, pertanyaannya bukan lagi bagaimana menyambut Ramadhan dengan sukacita, melainkan bagaimana menjemputnya dengan kesadaran yang jujur atas kerapuhan diri.

Dalam perspektif teologis, Islam tidak pernah menuntut manusia berada dalam kondisi sempurna untuk beribadah. Justru sebaliknya, ibadah hadir sebagai mekanisme penyembuhan bagi jiwa yang terluka. Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati (qalb) adalah pusat kesadaran spiritual manusia; ia dapat sakit, keras, bahkan mati, tetapi juga dapat dihidupkan kembali melalui dzikir dan muhasabah (Ihya’ Ulum al-Din, 2005, hlm. 23). Dengan demikian, hati yang retak bukanlah penghalang menuju Ramadhan, melainkan titik berangkat menuju transformasi.

Secara psikologis, kerapuhan batin adalah bagian inheren dari pengalaman manusia. Viktor Frankl menyebut penderitaan sebagai dimensi yang tak terelakkan dalam kehidupan, tetapi penderitaan itu dapat diberi makna sehingga menjadi sumber pertumbuhan (Man’s Search for Meaning, 2006, hlm. 113). Dalam konteks Ramadhan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan memberi makna pada keterbatasan. Ketika tubuh menahan asupan, jiwa dilatih untuk mengenali kembali hakikat kebutuhan dan kebergantungan kepada Tuhan.

Hati yang retak sering kali lahir dari disonansi antara harapan dan kenyataan. Di tengah masyarakat yang semakin materialistik, keberhasilan kerap diukur dari capaian ekonomi dan status sosial. Padahal, sebagaimana dikemukakan oleh Erich Fromm, orientasi “to have” sering kali menyingkirkan orientasi “to be”, sehingga manusia kehilangan kedalaman eksistensialnya (To Have or To Be?, 1976, hlm. 42). Ramadhan menghadirkan kritik halus terhadap orientasi tersebut. Ia menggeser fokus dari kepemilikan menuju keberadaan; dari konsumsi menuju kontemplasi.

Dalam tradisi tasawuf, retaknya hati justru dapat menjadi jalan menuju kedekatan ilahi. Jalaluddin Rumi mengungkapkan bahwa “luka adalah tempat di mana cahaya masuk ke dalam dirimu” (The Essential Rumi, 1995, hlm. 56). Ungkapan ini bukan sekadar metafora puitis, melainkan refleksi atas pengalaman spiritual bahwa kehancuran ego sering kali menjadi pintu kelahiran kesadaran baru. Ramadhan, dengan ritme sahur dan berbuka, dengan sunyi tarawih dan lirih doa, menyediakan ruang bagi cahaya itu untuk bekerja dalam senyap.

Dari sudut pandang sosiologis, bulan Ramadhan juga memiliki dimensi kolektif yang kuat. Ia membangun solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Emile Durkheim menyatakan bahwa praktik keagamaan memiliki fungsi memperkuat kohesi sosial dan solidaritas mekanik dalam masyarakat (The Elementary Forms of Religious Life, 1912/1995, hlm. 217). Dalam masyarakat yang terfragmentasi oleh polarisasi politik dan kesenjangan ekonomi, Ramadhan berpotensi menjadi ruang rekonsiliasi. Hati yang retak tidak hanya milik individu, tetapi juga milik komunitas. Maka penyembuhannya pun bersifat komunal.

Namun, menyambut Ramadhan dengan hati yang retak menuntut keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Banyak orang terjebak dalam ritualisme—menjalankan ibadah secara formal tanpa refleksi mendalam. Fazlur Rahman mengingatkan bahwa esensi ajaran Islam terletak pada transformasi moral, bukan sekadar kepatuhan legalistik (Islam and Modernity, 1982, hlm. 15). Puasa yang tidak melahirkan empati dan integritas hanyalah rutinitas biologis. Hati yang retak membutuhkan lebih dari sekadar aktivitas; ia membutuhkan kesadaran.

Di sinilah relevansi konsep tazkiyatun nafs—penyucian jiwa—menjadi penting. Ibn Qayyim al-Jauziyyah menekankan bahwa jiwa manusia berada dalam dinamika antara kecenderungan menuju kebaikan dan tarikan menuju keburukan; proses penyucian adalah perjuangan kontinu untuk meneguhkan orientasi ilahi (Madarij al-Salikin, 2003, hlm. 67). Ramadhan menyediakan momentum intensif untuk proses tersebut. Ia adalah madrasah ruhani yang kurikulumnya meliputi kesabaran, pengendalian diri, dan solidaritas sosial.

Dalam konteks Indonesia kontemporer, tantangan menyambut Ramadhan semakin kompleks. Tekanan ekonomi, dinamika politik yang mengeras, serta derasnya arus digitalisasi menciptakan ruang-ruang alienasi baru. Media sosial, misalnya, sering kali menjadi panggung performativitas religius, di mana kesalehan dipamerkan dalam bentuk visual yang estetis. Jean Baudrillard menyebut fenomena ini sebagai simulacra—realitas yang digantikan oleh representasi (Simulacra and Simulation, 1981, hlm. 1). Ramadhan berisiko tereduksi menjadi konten, bukan kontemplasi.

Oleh karena itu, menjemput Ramadhan dengan hati yang retak menuntut resistensi terhadap superficialitas. Ia mengajak kita kembali pada kesunyian. Dalam kesunyian itulah doa menemukan maknanya. Doa bukan sekadar permohonan, melainkan dialog eksistensial antara manusia dan Tuhannya. Martin Buber menyebut relasi ini sebagai hubungan “I-Thou”, relasi personal yang melampaui objektifikasi (I and Thou, 1923/1970, hlm. 62). Ramadhan membuka kemungkinan relasi tersebut melalui intensifikasi ibadah malam dan perenungan diri.

Lebih jauh, hati yang retak sering kali membawa kesadaran akan keterbatasan diri. Dalam tradisi Islam, kesadaran ini dikenal sebagai fakr—pengakuan atas kefakiran ontologis manusia di hadapan Allah. Seyyed Hossein Nasr menegaskan bahwa spiritualitas Islam bertumpu pada kesadaran akan ketergantungan total manusia kepada Yang Transenden (Islamic Spirituality, 1987, hlm. 7). Puasa memperdalam kesadaran ini dengan menghadirkan pengalaman langsung atas rasa lapar dan haus, simbol keterbatasan manusia.

Namun demikian, penyembuhan tidak terjadi secara instan. Ramadhan bukanlah terapi magis yang menghapus luka dalam semalam. Ia adalah proses. Proses itu menuntut konsistensi, kejujuran, dan kesediaan untuk berubah. Dalam bahasa psikologi modern, transformasi memerlukan integrasi antara kesadaran kognitif dan komitmen perilaku. Tanpa keduanya, refleksi hanya menjadi wacana.

Pada akhirnya, menjemput Ramadhan dengan hati yang retak adalah bentuk keberanian spiritual. Ia berarti mengakui bahwa kita tidak selalu kuat, tidak selalu tegar, dan tidak selalu benar. Tetapi justru dalam pengakuan itulah letak awal pemulihan. Ramadhan tidak meminta hati yang utuh; ia mengundang hati yang bersedia diperbaiki.

Sebagaimana tanah yang retak oleh kemarau akan menyerap hujan pertama dengan lebih dalam, demikian pula hati yang retak memiliki kapasitas lebih besar untuk menerima rahmat. Ramadhan adalah hujan itu—datang membawa kesejukan, menumbuhkan harapan, dan menghidupkan kembali benih-benih iman yang nyaris kering.

Maka, jika tahun ini kita menyambutnya dengan luka yang belum sembuh, dengan beban yang belum terurai, atau dengan kegelisahan yang belum terjawab, janganlah surut. Datanglah apa adanya. Sebab Ramadhan bukanlah perayaan bagi mereka yang sempurna, melainkan perjalanan bagi mereka yang ingin bertumbuh. Dan dalam perjalanan itu, hati yang retak bukanlah aib, melainkan awal dari cahaya yang masuk perlahan, menata ulang serpihan-serpihan jiwa menjadi mosaik makna yang baru.



Penulis : Muhtaruddin,M.Pd.I


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   14

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   349

Di Balik Ihram dan Haji
09 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   32

Hardiknas 2026
02 Mei 2026   Oleh : Khairan Efendi   162

Di Antara Air Mata dan Do’a: Mengantar Jamaah Menuju Tanah Suci
28 April 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   63

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950