Avatar

Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I

Penulis Kolom

53 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Suara Tuhan



Rabu , 27 Agustus 2025



Telah dibaca :  76

Dulu di Madinah ada seorang Hamba Allah bernama Abdullah Al-‘Imary. Dia seorang lelaki tua yang sangat sholeh. Ilmuwan. kata-katanya sangat santun. Tidak pernah menghujat orang. Apalagi sampai menebar hoax yang belum jelas sumber nya. Pendek kata, ia seorang ulama yang sholeh, hidup penuh kesederhanaan. Bahkan ia bagian min jumlatin orang-orang miskin -dan tidak mendapatkan BLT -di Madinah kala itu.

Khalifah Harun Al-Rasyid sangat mengenal beliau. Abdullah tipe seorang ulama, ilmuwan yang sedikit bicaranya, yang miskin hartanya, yang setiap ucapannya menjadi rujukan khalifah dan rakyat jelata.

Suatu hari di musim haji, Mas’a dikosongkan dari Jemaah haji. Para petugas tidak membeolehkan orang-orang mengerjakan ibadah sa’i karena Khalifah Harun Al-Rasyid akan melakukan tawaf dan sa’i.

Abdullah Al-Imary mendengar hal tersebut. saat harun berada di Bukit Sofa,Abdullah Al-Imary bertanya kepada nya: “Wahai Harun coba lihat kepada Ka’bah, apakah tahu berapa banyak orang yang sedang thawaf?”.

Harun Al-Rasyid menjawab: “Banyak sekali, hanya Allah yang tahu jumlahnya”.

Abdullah Al-Imary berkata: “Ketahuilah Wahai Harun, mereka itu nanti di hari pembalasan hanya akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri saja, sedangkan engkau wahai harun, akan ditanya tentang pribadimu dan juga akan ditanya tentang mereka, karena engkau sekarang bertanggungjawab tentang mereka, karena engkau sekarang bertanggung jawab sebagai seorang khalifah. Apakah engkau tidak siap untuk menghadapi hari itu. Kenapa engkau melarang orang melakukan sa’i karena sekedar memberikan jalan agar engkau dengan leluasa melakukannya. Ketahuilah Wahai Harun!, setelah engkau masuk Masjidil Haram, engkau dan orang banyak sama di hadapan Tuhan. Tidak ada perbedaan khalifah dan rakyat jelata di hadapan Allah. Kenapa engkau mengangkat diri dan menjatuhkan orang lain. Kenapa engkau senantiasa melihat kekuasaanmu kepada orang tanpa mengingat kekuasaan Allah kepada semua makhluk termasuk kepada dirimu sendiri?”.

Harun Al-Rasyid kaget mendengar nasehatnya. Ia pun tersadar akan kesalahannya. Ia menangis, hingga kumis dan jenggotnya basah oleh tangisan penyesalannya.

Penulis mencoba melihat setting politik kala itu yang masih kental menganut sistem Kerajaan. Untuk mendapatkan kekuasaan, tidak ada usaha sekuat tenaga untuk mencapai kekuasaan seperti demokrasi. Ia mempunyai kekuasaan warisan. Setiap pewaris mempunyai karakter berbeda-beda dan mempunyai kemungkinan ada kesadaran-kesadaran sebagaimana yang terjadi pada Khalifah Harun Al-Rasyid. Kesadarannya atas tanggung jawab sangat berat di hadapan Allah merupakan pemahaman diri atas syariat Islam.

Pada sistem kerajaan yang terkenal otoritariannya terkadang hidup ruh-ruh demokrasi dengan kemampuan para penguasa mendengar kritik-kritik rakyat nya sebagai jalan kesadaran atas segala kesalahan diri. Tidak jarang para penulis Kerajaan mengabadikan para raja keliling di kampung-kampung memikirkan Nasib rakyat-rakyatnya. terkadang para raja harus menyamar dirinya sebagai rakyat kecil untuk merasakan denyut nadi penderitaan kehidupan mereka. Dari sini kemudian lahir para raja yang arif dan bijaksana dan selalu diikuti dan ditaati oleh rakyat nya.

Pada era demokrasi, sistem politik telah menerapkan demokrasi formal “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Namun perkembangannya, sistem ini semakin bias. Makna rakyat dalam satu kalimat tersebut bisa mempunyai makna yang berbeda-beda. Demokrasi yang tadinya menjawab atas problematika kemacetan sistem kerajaan yang terkesan otoritarian dan berusa mendekatkan kekuasaan sedekat-dekatnya dengan rakyat sering kali gagal. Demokrasi gagal menyatukan seluruh kepentingan. Demokrasi tidak mampu mengakomodir seluruh keinginan masyarakat yang beragam dan terkadang saling tabrakan. Dari sini kemudian, demokrasi tidak bisa dimaknai sebagai cermin dari suara rakyat yang sesungguhnya. Ia hadir sebagai wujud suara rakyat terbatas. Sebab kenyataannya demokrasi bukan untuk semua rakyat, tapi sebagai upaya untuk mengakomodir sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Bisa dipastikan setiap kebijakan atau keputusan pemerintah akan menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat.

tentu saja sistem demokrasi lebih besar kontrol masyarakat daripada sistem Kerajaan. Demokrasi selalu saja mengalami perubahan secara terus-menerus semakin baik. Terutama pada kekuasaan yang lebih kecil seperti pada level gubernur, bupati/walikota hingga kepala desa.

Kini media sosial ikut mempromosikan beberapa kepala daerah dan kepala desa yang telah menempatkan diri sebagai penyambung lidah masyarakat nya. Mereka bukan kepala daerah atau kepala desa sebatas formalitas, tapi mereka benar-benar menempatkan diri sebagai orang tua rakyat nya dan berusaha kekuasaannya sebagai jalan untuk kebahagiaan rakyatnya.

Mereka berhasil. Rakyat nya bahagia. Mereka telah mampu menjadi penyambung lidah kepentingan rakyat yang sesungguhnya. Suara rakyat sebagai suara Tuhan benar-benar didengarkan. Bukan pada persoalan sholat, puasa atau haji, tapi pada persoalan tentang kebutuhan primer mereka.

Dan dalam Islam kita mengetahui bahwa membahagiakan orang lain atas kebutuhan hidup merupakan kebahagiaan yang sangat agung dan cermin dari tingkat ajaran Islam yang sangat tinggi. Bahkan seseorang -para pemimpin -yang melupakan kebutuhan orang lain dianggap sebagai pendusta agama. Pada tataran ini tentu saja ada tafsir-tafsir yang beragam. Tapi pesan nya sangat jelas, bahwa memperhatikan kepentingan rakyat merupakan persoalan muamalah yang sangat urgen dalam pandangan Islam.



Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   14

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   349

Di Balik Ihram dan Haji
09 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   32

Hardiknas 2026
02 Mei 2026   Oleh : Khairan Efendi   162

Di Antara Air Mata dan Do’a: Mengantar Jamaah Menuju Tanah Suci
28 April 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   63

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950