
Dulu di Madinah ada seorang Hamba Allah bernama
Abdullah Al-‘Imary. Dia seorang lelaki tua yang sangat sholeh. Ilmuwan.
kata-katanya sangat santun. Tidak pernah menghujat orang. Apalagi sampai
menebar hoax yang belum jelas sumber nya. Pendek kata, ia seorang ulama
yang sholeh, hidup penuh kesederhanaan. Bahkan ia bagian min jumlatin
orang-orang miskin -dan tidak mendapatkan BLT -di Madinah kala itu.
Khalifah Harun Al-Rasyid sangat mengenal
beliau. Abdullah tipe seorang ulama, ilmuwan yang sedikit bicaranya, yang
miskin hartanya, yang setiap ucapannya menjadi rujukan khalifah dan rakyat
jelata.
Suatu hari di musim haji, Mas’a dikosongkan
dari Jemaah haji. Para petugas tidak membeolehkan orang-orang mengerjakan
ibadah sa’i karena Khalifah Harun Al-Rasyid akan melakukan tawaf dan sa’i.
Abdullah Al-Imary mendengar hal tersebut.
saat harun berada di Bukit Sofa,Abdullah Al-Imary bertanya kepada nya: “Wahai Harun
coba lihat kepada Ka’bah, apakah tahu berapa banyak orang yang sedang thawaf?”.
Harun Al-Rasyid menjawab: “Banyak sekali,
hanya Allah yang tahu jumlahnya”.
Abdullah Al-Imary berkata: “Ketahuilah
Wahai Harun, mereka itu nanti di hari pembalasan hanya akan
mempertanggungjawabkan dirinya sendiri saja, sedangkan engkau wahai harun, akan
ditanya tentang pribadimu dan juga akan ditanya tentang mereka, karena engkau
sekarang bertanggungjawab tentang mereka, karena engkau sekarang bertanggung
jawab sebagai seorang khalifah. Apakah engkau tidak siap untuk menghadapi hari
itu. Kenapa engkau melarang orang melakukan sa’i karena sekedar memberikan
jalan agar engkau dengan leluasa melakukannya. Ketahuilah Wahai Harun!, setelah
engkau masuk Masjidil Haram, engkau dan orang banyak sama di hadapan Tuhan.
Tidak ada perbedaan khalifah dan rakyat jelata di hadapan Allah. Kenapa engkau
mengangkat diri dan menjatuhkan orang lain. Kenapa engkau senantiasa melihat kekuasaanmu
kepada orang tanpa mengingat kekuasaan Allah kepada semua makhluk termasuk
kepada dirimu sendiri?”.
Harun Al-Rasyid kaget mendengar nasehatnya.
Ia pun tersadar akan kesalahannya. Ia menangis, hingga kumis dan jenggotnya
basah oleh tangisan penyesalannya.
Penulis mencoba melihat setting politik
kala itu yang masih kental menganut sistem Kerajaan. Untuk mendapatkan
kekuasaan, tidak ada usaha sekuat tenaga untuk mencapai kekuasaan seperti
demokrasi. Ia mempunyai kekuasaan warisan. Setiap pewaris mempunyai karakter
berbeda-beda dan mempunyai kemungkinan ada kesadaran-kesadaran sebagaimana yang
terjadi pada Khalifah Harun Al-Rasyid. Kesadarannya atas tanggung jawab sangat
berat di hadapan Allah merupakan pemahaman diri atas syariat Islam.
Pada sistem kerajaan yang terkenal
otoritariannya terkadang hidup ruh-ruh demokrasi dengan kemampuan para penguasa
mendengar kritik-kritik rakyat nya sebagai jalan kesadaran atas segala
kesalahan diri. Tidak jarang para penulis Kerajaan mengabadikan para raja
keliling di kampung-kampung memikirkan Nasib rakyat-rakyatnya. terkadang para
raja harus menyamar dirinya sebagai rakyat kecil untuk merasakan denyut nadi
penderitaan kehidupan mereka. Dari sini kemudian lahir para raja yang arif dan
bijaksana dan selalu diikuti dan ditaati oleh rakyat nya.
Pada era demokrasi, sistem politik telah
menerapkan demokrasi formal “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”.
Namun perkembangannya, sistem ini semakin bias. Makna rakyat dalam satu kalimat
tersebut bisa mempunyai makna yang berbeda-beda. Demokrasi yang tadinya
menjawab atas problematika kemacetan sistem kerajaan yang terkesan otoritarian
dan berusa mendekatkan kekuasaan sedekat-dekatnya dengan rakyat sering kali
gagal. Demokrasi gagal menyatukan seluruh kepentingan. Demokrasi tidak mampu
mengakomodir seluruh keinginan masyarakat yang beragam dan terkadang saling
tabrakan. Dari sini kemudian, demokrasi tidak bisa dimaknai sebagai cermin dari
suara rakyat yang sesungguhnya. Ia hadir sebagai wujud suara rakyat terbatas.
Sebab kenyataannya demokrasi bukan untuk semua rakyat, tapi sebagai upaya untuk
mengakomodir sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Bisa dipastikan setiap
kebijakan atau keputusan pemerintah akan menimbulkan pro dan kontra di
tengah-tengah masyarakat.
tentu saja sistem demokrasi lebih besar
kontrol masyarakat daripada sistem Kerajaan. Demokrasi selalu saja mengalami
perubahan secara terus-menerus semakin baik. Terutama pada kekuasaan yang lebih
kecil seperti pada level gubernur, bupati/walikota hingga kepala desa.
Kini media sosial ikut mempromosikan
beberapa kepala daerah dan kepala desa yang telah menempatkan diri sebagai
penyambung lidah masyarakat nya. Mereka bukan kepala daerah atau kepala desa
sebatas formalitas, tapi mereka benar-benar menempatkan diri sebagai orang tua
rakyat nya dan berusaha kekuasaannya sebagai jalan untuk kebahagiaan rakyatnya.
Mereka berhasil. Rakyat nya bahagia. Mereka
telah mampu menjadi penyambung lidah kepentingan rakyat yang sesungguhnya.
Suara rakyat sebagai suara Tuhan benar-benar didengarkan. Bukan pada persoalan
sholat, puasa atau haji, tapi pada persoalan tentang kebutuhan primer mereka.
Dan dalam Islam kita mengetahui bahwa
membahagiakan orang lain atas kebutuhan hidup merupakan kebahagiaan yang sangat
agung dan cermin dari tingkat ajaran Islam yang sangat tinggi. Bahkan seseorang
-para pemimpin -yang melupakan kebutuhan orang lain dianggap sebagai pendusta
agama. Pada tataran ini tentu saja ada tafsir-tafsir yang beragam. Tapi pesan
nya sangat jelas, bahwa memperhatikan kepentingan rakyat merupakan persoalan
muamalah yang sangat urgen dalam pandangan Islam.
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   14
Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   349
Di Balik Ihram dan Haji
09 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   32
Hardiknas 2026
02 Mei 2026   Oleh : Khairan Efendi   162
Di Antara Air Mata dan Do’a: Mengantar Jamaah Menuju Tanah Suci
28 April 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   63
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1235
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950