
Pagi itu seperti biasa rutinitas saya adalah mengabdikan diri di madrasah, sebelum jam enam pagi saya sudah berada dimadrasah beberapa menit lebih cepat dari teman-teman, tapi jauh lebih pagi pak sas yang selalu datang lebih cepat, beberapa menit setelah saya tiba disusul beberapa siswa yang sudah siap untuk mengikuti kompetisi dibidand Sains yang dilaksanakan di pusat ibu kota. Ada pertemuan disana yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada yang tampak dalam sebuah gambar. Disela-sela menunggu para peserta bertempur adu gagasan dan pengetahuan di ruang yang tak seorang pun boleh menyapa nya kecuali para panitia, Beberapa orang duduk bersama, berbincang santai, sesekali tersenyum dan tertawa. Di atas meja, ada secangkir minuman sederhana yang menjadi teman dalam percakapan. Namun sesungguhnya, yang sedang dipertukarkan bukan hanya kata-kata, melainkan pengalaman, gagasan, dan semangat untuk terus melangkah.
Saya duduk berhadapan langsung
dengan pak Hasbullah, beliau adalah salah satu pejabat di lingkungan kementrian
agama, saya mengenal beliau adalah sosok pemimpin yang selalu mengayomi,
sederhana dalam bersikaf, tidak pernah merasa tinggi dalam jabatanya, mungkin
baginya jabatan adalah benar-benar sebuah titipan dan Amanah dari yang maha
kuasa, yang suatu saat cepat atau lambat pasti di ambil Kembali oleh yang
menitipkan. Duduk Bersama beliau mengajarkan bahwa kebersamaan tidak selalu
membutuhkan tempat yang mewah. Kadang, ruang sederhana dan secangkir kopi sudah cukup untuk mempertemukan hati, membuka
pikiran, dan menumbuhkan persaudaraan.
Ada orang-orang yang hadir bukan
sekadar untuk berbicara, tetapi untuk saling menguatkan. Dari percakapan
ringan, sering lahir gagasan besar. Dari pertemuan sederhana, terkadang muncul
keputusan yang mengubah perjalanan hidup. Dan dari persahabatan yang tulus,
seseorang dapat menemukan keberanian untuk terus berbuat baik. Yang menarik, dalam
suasana itu tidak tampak kaku. Ada
keakraban, senyuman, dan canda. Inilah barangkali salah satu wajah terbaik dari
sebuah kebersamaan, keseriusan dalam pengabdian tidak harus menghilangkan
kehangatan dalam persaudaraan.
Terkadang Kita sering mengejar
keberhasilan dengan bekerja sendiri, seolah-olah perjalanan hidup hanya ditentukan
oleh kemampuan pribadi. Padahal, banyak keberhasilan lahir dari pertemuan
dengan orang-orang baik—mereka yang memberikan nasihat ketika kita bimbang,
menyemangati ketika kita lelah, dan mengingatkan ketika kita mulai kehilangan
arah. Maka, jangan pernah meremehkan sebuah pertemuan. Saya selalu menjadikan
setiap pertemuan dengan siapa saja, menjadi ladang untuk saya menggali ilmu
pengetahuan dan mampu menjadikan inspirasi dalam setiap waktu yang saya jalani,
tidak melihat pertemuan itu formal atau hanya duduk santai di perpatan jalan,
yang jelas semua itu bisa menjadi inspirasi karangan bebas untuk saya tulis menjadi
artikel-artikal yang mungkin bisa dinikmati siapa saja yang mampir di halamat
blogspot atau website pribadi saya.
Pertemuan dan percakapan itu
sangat sederana, tapi satu hal yang harus kita tau, Bisa jadi, percakapan yang
hari ini kita anggap biasa akan menjadi kenangan yang kelak sangat berharga.
Bisa jadi, orang yang duduk di samping kita hari ini adalah salah satu manusia
yang Allah hadirkan untuk memberikan warna dalam perjalanan hidup kita. Sebab
hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mencapai tujuan, tetapi juga
tentang siapa saja yang menemani kita dalam perjalanan.
“Pertemuan yang sederhana itu dapat
menjadi kenangan yang istimewa, ketika di dalamnya ada ketulusan, persaudaraan,
dan niat untuk menghadirkan kemanfaatan.” Dan pada akhirnya, yang akan tinggal
bukanlah berapa lama kita duduk bersama, bukan pula apa yang tersaji di atas
meja. Yang tinggal adalah kesan di hati, ilmu yang diperoleh, persaudaraan yang
terjalin, dan kebaikan yang terus mengalir setelah pertemuan itu usai.
Dari pertemuan sederhana itu,
saya kembali belajar tentang arti seorang pemimpin. Bagi saya, pemimpin
bukanlah tentang seberapa tinggi kursi yang didudukinya, seberapa banyak orang
yang berada di bawah perintahnya, atau seberapa panjang gelar yang melekat di
belakang namanya. Pemimpin sejati itu justru terlihat dari caranya
memperlakukan orang lain ketika tidak ada yang sedang melihat. Pak Hasbullah telah
memberi saya pelajaran itu melalui sikap yang sederhana. Duduk bersama tanpa
jarak, berbicara tanpa sekat, dan bercanda tanpa merasa dirinya lebih tinggi.
Tidak ada kesan bahwa jabatan harus menjadi dinding yang memisahkan seorang
pejabat dengan orang-orang di sekitarnya. Justru dari kesederhanaan itulah saya
melihat sesuatu yang besar, mungkin orang lain tidak melihat itu semua, tapis
ah-sah saja Ketika saya melihat dan mengekspresikan wujud cara pandang saja
untuk beliau. semakin seseorang memahami makna amanah, semakin kecil
kemungkinan ia membesarkan dirinya karena jabatan.
Jabatan pada hakikatnya hanyalah
persinggahan. Hari ini seseorang dipercaya memegang amanah, esok bisa saja
amanah itu berpindah kepada orang lain. Hari ini kita dipanggil dengan sebuah
gelar, suatu saat nanti semua gelar itu akan ditinggalkan. Yang akan dibawa
bukanlah jabatan, pangkat, ataupun kemewahan, melainkan amal dan jejak kebaikan
yang pernah kita tinggalkan. Seorang pemimpin yang baik tidak selalu harus
banyak berbicara. Terkadang keteladanannya jauh lebih kuat daripada ribuan
kata. Cara ia menyapa orang kecil, cara ia mendengarkan keluhan bawahannya,
cara ia menghargai orang yang berbeda pendapat, dan cara ia tetap rendah hati
ketika memiliki kekuasaan semua itu adalah bahasa kepemimpinan yang tidak
membutuhkan pengeras suara.
Saya semakin memahami bahwa
kepemimpinan sesungguhnya bukan tentang memerintah, tetapi tentang melayani.
Bukan tentang membuat orang lain takut, tetapi membuat orang lain merasa aman
dan nyaman. Bukan tentang mencari penghormatan, tetapi memberikan penghargaan.
Dan bukan tentang bagaimana nama kita dikenal banyak orang, tetapi tentang bagaimana
kehadiran kita mampu memberikan manfaat bagi banyak orang. Mungkin itulah
sebabnya ada orang yang tidak perlu berusaha terlihat besar, tetapi tetap
dihormati. Ada orang yang tidak banyak menunjukkan kekuasaannya, tetapi
perkataannya didengar. Ada pula orang yang tidak pernah meminta untuk dikenang,
tetapi justru namanya menetap dalam ingatan banyak orang karena kebaikannya.
Pemimpin seperti inilah yang
menurut saya layak diteladani. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai mahkota
untuk meninggikan diri, melainkan menjadikannya sebagai amanah untuk
merendahkan hati dan memperluas pengabdian. Pertemuan pagi itu akhirnya
mengajarkan saya bahwa ilmu kepemimpinan tidak selalu ditemukan di ruang-ruang
seminar, buku-buku akademik, atau forum-forum resmi. Kadang ilmu itu justru
hadir di sebuah meja sederhana, di antara percakapan ringan, segelas kopi, dan
senyuman seorang pemimpin yang tidak menjaga jarak dengan orang-orang di
sekelilingnya. Saya pulang dari pertemuan itu bukan hanya membawa cerita,
tetapi juga membawa sebuah renungan “ Jika suatu hari Allah memberikan kita
kedudukan, jangan biarkan kedudukan itu mengubah cara kita memandang manusia.
Karena jabatan boleh meninggikan posisi kita di hadapan manusia, tetapi
kerendahan hati dan ketakwaanlah yang menentukan nilai kita di hadapan Allah”.
Maka, menjadi pemimpin bukanlah
kesempatan untuk berada di atas orang lain. Menjadi pemimpin adalah kesempatan
untuk berdiri paling depan ketika orang lain membutuhkan teladan, paling cepat
ketika ada yang membutuhkan pertolongan, dan paling rendah hati ketika
mendapatkan penghormatan.
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
Ngopi bersama pak H. syafii
24 September 2026   Oleh : Khairan Efendi   190
PGRI BERSYIAR DENGAN AL-QUR’AN Dari Guru, Menanamkan Cinta Al-Qur’an untuk Generasi Riau
23 September 2026   Oleh : Khairan Efendi   220
Belajar Bersama Lebah dan Semut
15 Agustus 2026   Oleh : Khairan Efendi   280
Dari Sudut Makam, Saya Menemukan Wajah Kemerdekaan
12 Agustus 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   294
Sekolah Aman: Membangun Ruang Belajar yang Menumbuhkan Karakter dan Masa Depan
30 Juli 2026   Oleh : Khairan Efendi   80
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1622
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1346
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1209
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1035
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      981