Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

43 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Diantara Titipan Dan Warisan.



Sabtu , 12 September 2026



Telah dibaca :  181

Pagi itu seperti biasa rutinitas saya adalah mengabdikan diri di madrasah, sebelum jam enam pagi saya sudah berada dimadrasah beberapa menit lebih cepat dari teman-teman, tapi jauh lebih pagi pak sas yang selalu datang lebih cepat, beberapa menit setelah saya tiba disusul beberapa siswa yang sudah siap untuk mengikuti kompetisi dibidand Sains yang dilaksanakan di pusat ibu kota. Ada pertemuan disana yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada yang tampak dalam sebuah gambar. Disela-sela menunggu para peserta bertempur adu gagasan dan pengetahuan di ruang yang tak seorang pun boleh menyapa nya kecuali para panitia, Beberapa orang duduk bersama, berbincang santai, sesekali tersenyum dan tertawa. Di atas meja, ada secangkir minuman sederhana yang menjadi teman dalam percakapan. Namun sesungguhnya, yang sedang dipertukarkan bukan hanya kata-kata, melainkan pengalaman, gagasan, dan semangat untuk terus melangkah.

Saya duduk berhadapan langsung dengan pak Hasbullah, beliau adalah salah satu pejabat di lingkungan kementrian agama, saya mengenal beliau adalah sosok pemimpin yang selalu mengayomi, sederhana dalam bersikaf, tidak pernah merasa tinggi dalam jabatanya, mungkin baginya jabatan adalah benar-benar sebuah titipan dan Amanah dari yang maha kuasa, yang suatu saat cepat atau lambat pasti di ambil Kembali oleh yang menitipkan. Duduk Bersama beliau mengajarkan bahwa kebersamaan tidak selalu membutuhkan tempat yang mewah. Kadang, ruang sederhana dan secangkir kopi  sudah cukup untuk mempertemukan hati, membuka pikiran, dan menumbuhkan persaudaraan.

Ada orang-orang yang hadir bukan sekadar untuk berbicara, tetapi untuk saling menguatkan. Dari percakapan ringan, sering lahir gagasan besar. Dari pertemuan sederhana, terkadang muncul keputusan yang mengubah perjalanan hidup. Dan dari persahabatan yang tulus, seseorang dapat menemukan keberanian untuk terus berbuat baik. Yang menarik, dalam suasana itu  tidak tampak kaku. Ada keakraban, senyuman, dan canda. Inilah barangkali salah satu wajah terbaik dari sebuah kebersamaan, keseriusan dalam pengabdian tidak harus menghilangkan kehangatan dalam persaudaraan.

Terkadang Kita sering mengejar keberhasilan dengan bekerja sendiri, seolah-olah perjalanan hidup hanya ditentukan oleh kemampuan pribadi. Padahal, banyak keberhasilan lahir dari pertemuan dengan orang-orang baik—mereka yang memberikan nasihat ketika kita bimbang, menyemangati ketika kita lelah, dan mengingatkan ketika kita mulai kehilangan arah. Maka, jangan pernah meremehkan sebuah pertemuan. Saya selalu menjadikan setiap pertemuan dengan siapa saja, menjadi ladang untuk saya menggali ilmu pengetahuan dan mampu menjadikan inspirasi dalam setiap waktu yang saya jalani, tidak melihat pertemuan itu formal atau hanya duduk santai di perpatan jalan, yang jelas semua itu bisa menjadi inspirasi  karangan bebas untuk saya tulis menjadi artikel-artikal yang mungkin bisa dinikmati siapa saja yang mampir di halamat blogspot atau website pribadi saya.

Pertemuan dan percakapan itu sangat sederana, tapi satu hal yang harus kita tau, Bisa jadi, percakapan yang hari ini kita anggap biasa akan menjadi kenangan yang kelak sangat berharga. Bisa jadi, orang yang duduk di samping kita hari ini adalah salah satu manusia yang Allah hadirkan untuk memberikan warna dalam perjalanan hidup kita. Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mencapai tujuan, tetapi juga tentang siapa saja yang menemani kita dalam perjalanan.

“Pertemuan yang sederhana itu dapat menjadi kenangan yang istimewa, ketika di dalamnya ada ketulusan, persaudaraan, dan niat untuk menghadirkan kemanfaatan.” Dan pada akhirnya, yang akan tinggal bukanlah berapa lama kita duduk bersama, bukan pula apa yang tersaji di atas meja. Yang tinggal adalah kesan di hati, ilmu yang diperoleh, persaudaraan yang terjalin, dan kebaikan yang terus mengalir setelah pertemuan itu usai.

Dari pertemuan sederhana itu, saya kembali belajar tentang arti seorang pemimpin. Bagi saya, pemimpin bukanlah tentang seberapa tinggi kursi yang didudukinya, seberapa banyak orang yang berada di bawah perintahnya, atau seberapa panjang gelar yang melekat di belakang namanya. Pemimpin sejati itu justru terlihat dari caranya memperlakukan orang lain ketika tidak ada yang sedang melihat. Pak Hasbullah telah memberi saya pelajaran itu melalui sikap yang sederhana. Duduk bersama tanpa jarak, berbicara tanpa sekat, dan bercanda tanpa merasa dirinya lebih tinggi. Tidak ada kesan bahwa jabatan harus menjadi dinding yang memisahkan seorang pejabat dengan orang-orang di sekitarnya. Justru dari kesederhanaan itulah saya melihat sesuatu yang besar, mungkin orang lain tidak melihat itu semua, tapis ah-sah saja Ketika saya melihat dan mengekspresikan wujud cara pandang saja untuk beliau. semakin seseorang memahami makna amanah, semakin kecil kemungkinan ia membesarkan dirinya karena jabatan.

Jabatan pada hakikatnya hanyalah persinggahan. Hari ini seseorang dipercaya memegang amanah, esok bisa saja amanah itu berpindah kepada orang lain. Hari ini kita dipanggil dengan sebuah gelar, suatu saat nanti semua gelar itu akan ditinggalkan. Yang akan dibawa bukanlah jabatan, pangkat, ataupun kemewahan, melainkan amal dan jejak kebaikan yang pernah kita tinggalkan. Seorang pemimpin yang baik tidak selalu harus banyak berbicara. Terkadang keteladanannya jauh lebih kuat daripada ribuan kata. Cara ia menyapa orang kecil, cara ia mendengarkan keluhan bawahannya, cara ia menghargai orang yang berbeda pendapat, dan cara ia tetap rendah hati ketika memiliki kekuasaan semua itu adalah bahasa kepemimpinan yang tidak membutuhkan pengeras suara.

Saya semakin memahami bahwa kepemimpinan sesungguhnya bukan tentang memerintah, tetapi tentang melayani. Bukan tentang membuat orang lain takut, tetapi membuat orang lain merasa aman dan nyaman. Bukan tentang mencari penghormatan, tetapi memberikan penghargaan. Dan bukan tentang bagaimana nama kita dikenal banyak orang, tetapi tentang bagaimana kehadiran kita mampu memberikan manfaat bagi banyak orang. Mungkin itulah sebabnya ada orang yang tidak perlu berusaha terlihat besar, tetapi tetap dihormati. Ada orang yang tidak banyak menunjukkan kekuasaannya, tetapi perkataannya didengar. Ada pula orang yang tidak pernah meminta untuk dikenang, tetapi justru namanya menetap dalam ingatan banyak orang karena kebaikannya.

Pemimpin seperti inilah yang menurut saya layak diteladani. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai mahkota untuk meninggikan diri, melainkan menjadikannya sebagai amanah untuk merendahkan hati dan memperluas pengabdian. Pertemuan pagi itu akhirnya mengajarkan saya bahwa ilmu kepemimpinan tidak selalu ditemukan di ruang-ruang seminar, buku-buku akademik, atau forum-forum resmi. Kadang ilmu itu justru hadir di sebuah meja sederhana, di antara percakapan ringan, segelas kopi, dan senyuman seorang pemimpin yang tidak menjaga jarak dengan orang-orang di sekelilingnya. Saya pulang dari pertemuan itu bukan hanya membawa cerita, tetapi juga membawa sebuah renungan “ Jika suatu hari Allah memberikan kita kedudukan, jangan biarkan kedudukan itu mengubah cara kita memandang manusia. Karena jabatan boleh meninggikan posisi kita di hadapan manusia, tetapi kerendahan hati dan ketakwaanlah yang menentukan nilai kita di hadapan Allah”.

Maka, menjadi pemimpin bukanlah kesempatan untuk berada di atas orang lain. Menjadi pemimpin adalah kesempatan untuk berdiri paling depan ketika orang lain membutuhkan teladan, paling cepat ketika ada yang membutuhkan pertolongan, dan paling rendah hati ketika mendapatkan penghormatan.

 

 



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ngopi bersama pak H. syafii
24 September 2026   Oleh : Khairan Efendi   190

Belajar Bersama Lebah dan Semut
15 Agustus 2026   Oleh : Khairan Efendi   280

Dari Sudut Makam, Saya Menemukan Wajah Kemerdekaan
12 Agustus 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   294

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1622


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1209


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1035


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      981