Ngopi bersama pak H. syafii
Kamis , 24 September 2026
Telah dibaca :  189
Perjalanan dari Selatpanjang menuju Siak kali ini menjadi perjalanan yang penuh cerita. Saya bersama teman saya, Pak Haji Syafii, berangkat sebagai satu tim dari kontingen Kabupaten Kepulauan Meranti.
Perjalanan yang kami bayangkan akan berjalan biasa saja ternyata memberikan pengalaman tersendiri. Hujan deras mengguyur perjalanan, sampai kami basah kuyup. Dalam keadaan dingin dan lelah, kami tetap melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di Siak.
Sesampainya di sana, kami mendapatkan kamar penginapan. Setelah beristirahat, perjalanan kami di Kota Siak pun dimulai.
Selama di Siak, kami bersama-sama mengelilingi Kota Siak yang dikenal sebagai Kota Istana. Dari waktu subuh, siang, bahkan sampai malam, ada saja tempat yang kami datangi dan cerita yang kami bicarakan.
Namun, ada satu kebiasaan yang hampir tidak pernah kami lewatkan: ngopi.
Kedai kopi menjadi tempat kami beristirahat sekaligus tempat berbagi cerita. Salah satu yang sering kami kunjungi adalah kedai dan warung sop tunjang dekat pom bensin. Sop tunjang menjadi teman makan, sedangkan kopi menjadi teman berbincang.
Ada cerita serius, ada cerita lucu, dan ada pula cerita kehidupan. Semuanya mengalir begitu saja.
Pagi di Depan Masjid Al Fatah
Pagi itu, sekitar pukul 06.00, kami kembali menikmati kopi. Kali ini kami duduk di depan Masjid Al Fatah, Siak. Suasana pagi masih tenang. Udara terasa sejuk dan aktivitas masyarakat belum terlalu ramai.
Di tengah suasana pagi itulah Pak Haji Syafii bercerita tentang Majnun dan Laila.
Majnun sebenarnya bernama Qais. Ia mencintai Laila dengan cinta yang sangat dalam. Karena cintanya yang begitu kuat, Qais kemudian dikenal dengan sebutan Majnun, yang berarti orang yang tergila-gila karena cinta.
Pak Haji Syafii bercerita bahwa kisah Majnun bukan hanya menarik karena kisah cintanya, tetapi juga mengandung banyak pelajaran tentang kesetiaan, kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan.
Dari cerita itu, obrolan kami pun berkembang. Dalam kehidupan, tidak semua yang kita cintai dapat kita miliki. Tidak semua yang kita inginkan akan berjalan sesuai dengan harapan.
Ada saatnya manusia harus berjuang, ada saatnya harus menunggu, dan ada saatnya harus belajar menerima keadaan.
Saya pun berpikir, ternyata cerita Majnun yang disampaikan sambil menikmati kopi pagi bukan sekadar cerita masa lalu. Ada pelajaran yang bisa kita bawa dalam kehidupan hari ini.
Perjalanan yang Menjadi Kenangan
Begitulah perjalanan kami di Siak. Berangkat dari Selatpanjang, kehujanan sampai basah kuyup, mendapatkan penginapan, kemudian mengelilingi Kota Istana dari subuh hingga malam.
Dan yang tidak kalah penting, hampir setiap hari ada cerita baru di kedai kopi dan warung sop tunjang.
Mungkin bagi orang lain, semua itu hanyalah perjalanan biasa. Tetapi bagi kami, perjalanan ini adalah kenangan tentang persahabatan.
Sebab terkadang, yang membuat sebuah perjalanan berharga bukan hanya tempat yang kita datangi, tetapi siapa yang menemani kita sepanjang perjalanan.
Secangkir kopi mungkin habis dalam beberapa tegukan. Sop tunjang pun akhirnya tinggal kuahnya. Tetapi cerita, tawa, dan kebersamaan bersama sahabat akan tetap tersimpan dalam ingatan.
Penulis : Khairan Efendi