
“Kurban: Jalan Menuju Ketakwaan dan Kepedulian”
Khairan Efendi,M.Pd.I
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ
اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ اللهُ أَكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمَ الْأَضْحَى عِيدًا لِلْمُؤْمِنِينَ، وَمَوْسِمًا لِلْبِرِّ وَالتَّرَاحُمِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الدِّينِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah
Puji syukur alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala nikmat dan karunia yang diberikan kepada kita semua, di mana Allah masih senantiasa memberikan kita kesehatan dan umur yang panjang hingga mampu melaksanakan ibadah shalat sunnah Idul Adha di Masjid Al Ihsan yang mulia ini
Kemudian mari kita bersholawat kepada baginda Rasulullah SAW
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّ
السَّلَامُ عَلَيْكَ
يَا حَبِيبَ اللَّهِ
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
Kemudian mari kita terus berusaha dan berupaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, dengan cara senantiasa menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Hari raya Idul Adha adalah hari raya pengorbanan, keikhlasan, dan ketakwaan. Pada hari yang mulia ini, umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui ibadah kurban, Islam mengajarkan bahwa harta bukan tujuan hidup, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah dan membantu sesama manusia. Adapun yang …
Pertama: Kurban Adalah Perintah Allah dan Syiar Islam
Allah SWT berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”(QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa kurban adalah ibadah yang sangat mulia hingga disandingkan dengan salat. Para ulama menjelaskan bahwa penyandingan ini menunjukkan pentingnya ibadah kurban dalam Islam. Kurban bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah SWT.
Allah SWT juga berfirman:
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ
“Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka..” (QS. Al-Hajj: 34)
Ayat ini menjelaskan bahwa ibadah kurban sudah disyariatkan sejak umat terdahulu. Tujuannya agar manusia selalu mengingat Allah dan bersyukur atas nikmat rezeki yang diberikan-Nya. Hewan kurban yang kita sembelih sesungguhnya adalah rezeki dari Allah SWT. Maka dengan berkurban, kita diajarkan untuk bersyukur dan tidak terlalu mencintai dunia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَاعَمِلَابْنُآدَمَيَوْمَالنَّحْرِعَمَلًاأَحَبَّإِلَىاللَّهِمِنْإِهْرَاقِالدَّمِ
“Tidak ada suatu amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban).” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan ibadah kurban. Bagi seorang muslim yang mampu, kurban adalah salah satu amal terbaik pada hari Idul Adha. Melalui kurban, seorang hamba menunjukkan rasa syukur, kepatuhan, dan kecintaannya kepada Allah SWT.
Kedua: Kurban Mengajarkan Ketakwaan dan Keikhlasan
Allah SWT berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan daging maupun darah hewan kurban. Yang Allah nilai adalah hati, ketakwaan, dan keikhlasan orang yang berkurban. Karena itu, jangan sampai kurban dilakukan hanya untuk dipuji manusia atau demi gengsi sosial.
Allah SWT juga berfirman:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas menaati-Nya.”(QS. Al-Bayyinah: 5)
Seluruh ibadah dalam Islam harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT. Amal yang besar bisa menjadi kecil jika tidak ikhlas, sementara amal yang sederhana bisa menjadi besar karena dilakukan dengan hati yang tulus.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar penting bahwa kualitas amal ditentukan oleh niatnya. Kurban sejatinya bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat sombong, pelit, cinta dunia, dan egoisme dalam diri kita.
Ketiga: Kurban Mengajarkan Kepedulian Sosial
Allah SWT berfirman:
فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ
“makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta.” (QS. Al-Hajj: 36)
Ayat ini mengajarkan bahwa dalam harta kita terdapat hak orang lain. Daging kurban tidak boleh dinikmati sendiri, tetapi harus dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan. Islam mengajarkan agar kebahagiaan Idul Adha dirasakan oleh semua orang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan pentingnya rasa kasih sayang dan kepedulian sosial. Melalui kurban, kita belajar berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semangat berbagi inilah yang harus terus hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat: Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Ayat ini menggambarkan ketakwaan dan kepatuhan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim rela mengorbankan putra yang sangat dicintainya demi menjalankan perintah Allah. Sementara Nabi Ismail dengan penuh kesabaran menerima keputusan tersebut. Inilah bukti keimanan sejati: mendahulukan perintah Allah di atas kepentingan pribadi. Rasulullah ﷺ bersabda:
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ
“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang muslim harus taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam keadaan mudah maupun sulit.
Hari ini mungkin Allah tidak meminta kita mengorbankan anak seperti Nabi Ibrahim, tetapi Allah meminta kita meninggalkan maksiat, menjaga salat, berkata jujur, dan menjalankan syariat-Nya.
Mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan, memperkuat keikhlasan, dan memperluas kepedulian sosial kepada sesama. Semoga Allah menerima amal ibadah kurban kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa.
جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
للَّهُ
أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ
اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ
اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا مُطْمَئِنَّةً، وَأُسَرَنَا أُسَرًا صَالِحَةً، وَارْزُقْنَا الذُّرِّيَّةَ الصَّالِحَةَ الَّتِي تَقُومُ بِطَاعَتِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا نَقْتَدِي بِنَبِيِّكَ إِبْرَاهِيمَ فِي إِيمَانِهِ وَصَبْرِهِ وَإِخْلَاصِهِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ قُرْبَانَنَا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْعِيدَ عِيدَ رَحْمَةٍ وَمَغْفِرَةٍ وَبَرَكَةٍ لَنَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Penulis : Khairan Efendi
Tradisi Membaca dalam Islam
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   4
Hidup Penuh dengan Kedamaian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   2
Etika Berbicara di Media Sosial
29 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   2
Idul Fitri: Momentum Penyucian Hati dan Penguatan Takwa
18 Maret 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   61
5 Esensi Bulan Suci Ramadhan
27 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   30
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1263
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1127
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      968
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954