Akhlak Murid kepada Guru: Keberkahan Ilmu dalam Islam (Renungan Kitab Ta’lim al-Muta’allim)
Selasa , 20 Januari 2026
Telah dibaca :  342
Islam memandang ilmu sebagai jalan kemuliaan manusia. Namun dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan bersama adab dan akhlak. Kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuji menegaskan bahwa keberhasilan seorang penuntut ilmu sangat ditentukan oleh sikapnya, terutama dalam memperlakukan guru. Tanpa akhlak yang baik, ilmu berpotensi kehilangan nilai dan manfaatnya.
Kedudukan Guru dalam Tradisi Keilmuan Islam
Dalam pandangan ulama klasik, guru bukan sekadar penyampai informasi, melainkan pembimbing ruhani dan intelektual. Guru menjadi perantara sampainya ilmu yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Oleh sebab itu, menghormati guru berarti menghormati ilmu yang dipelajari. Syekh Az-Zarnuji menekankan bahwa hubungan murid dan guru harus dibangun di atas sikap tawadhu’, kesungguhan, dan penghargaan. Sikap ini bukan bentuk pengkultusan, melainkan kesadaran akan peran penting guru dalam proses pendidikan.
Akhlak Murid kepada Guru
Akhlak murid kepada guru tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik di dalam maupun di luar majelis ilmu. Di antaranya adalah menjaga tutur kata, bersikap sopan, mendengarkan dengan penuh perhatian, serta tidak meremehkan nasihat dan arahan guru. Murid juga dituntut untuk menjaga perasaan guru dan tidak menyebarkan keburukan atau kekurangannya. Dalam Ta’lim al-Muta’allim, adab-adab ini ditekankan sebagai bentuk kesiapan batin murid dalam menerima ilmu. Sebab ilmu yang bermanfaat hanya akan menetap di hati yang bersih dan rendah hati.
Sebab Pentingnya Akhlak Murid kepada Guru
Pertama, akhlak menjadi sebab hadirnya keberkahan ilmu. Ilmu yang dipelajari dengan adab akan lebih mudah dipahami, diingat, dan diamalkan dalam kehidupan. Kedua, akhlak menjaga kemurnian tujuan menuntut ilmu. Sikap hormat kepada guru membantu murid meluruskan niat agar belajar bukan untuk kesombongan, melainkan untuk mencari rida Allah SWT. Ketiga, akhlak membentuk karakter murid. Pendidikan yang berlandaskan adab akan melahirkan pribadi yang santun, bijak, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial dan keagamaan.
Akibat Menjaga dan Mengabaikan Akhlak
Murid yang menjaga akhlak kepada gurunya akan merasakan dampak positif, baik secara spiritual maupun sosial. Ilmu yang dipelajari menjadi lebih bermakna, hubungan dengan guru terjalin harmonis, dan proses pembelajaran berlangsung secara efektif. Sebaliknya, mengabaikan akhlak kepada guru dapat berdampak pada hilangnya keberkahan ilmu. Ilmu mungkin bertambah secara kuantitas, tetapi tidak memberi pengaruh positif terhadap sikap dan perilaku. Bahkan, sikap tidak beradab dapat menumbuhkan sifat sombong dan sulit menerima kebenaran.
Renungan
Pesan utama Ta’lim al-Muta’allim sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini, ilmu harus dibangun di atas fondasi akhlak. Akhlak murid kepada guru bukan sekadar etika formal, tetapi merupakan kunci agar ilmu yang dipelajari benar-benar membawa kebaikan. Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai adab dalam menuntut ilmu, diharapkan lahir generasi Muslim yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual, sehingga mampu memberikan kontribusi positif bagi umat dan bangsa.
Penulis : Khairan Efendi