
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dalam
ayat tersebut Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk melaksanakan
sebuah “larangan” — larangan makan, minum, serta berkumpulnya suami istri di
siang hari. Sekilas, perintah yang berbentuk larangan itu menimbulkan tanda
tanya bagi sebagian orang awam: mengapa Allah memerintahkan sesuatu yang
menahan fitrah manusia? Ternyata di sanalah letak kasih sayang-Nya. Melalui
larangan itu, Allah sedang mendidik, menggiring, dan membimbing hamba-Nya agar
naik menjadi pribadi yang lebih bersih jiwa, lebih jernih hati, dan lebih dekat
kepada-Nya.
Bahkan
jauh sebelum umat Islam, seruan puasa telah Allah wajibkan kepada umat-umat
terdahulu, agar manusia belajar menundukkan hawa nafsunya dan meningkatkan
kualitas ketakwaannya. Maka puasa bukan sekadar ibadah ritual, tetapi madrasah
ruhani yang telah diwariskan lintas generasi kenabian.
Ketika
Allah membuka ayat dengan panggilan mesra, “Yā ayyuhalladzīna āmanū…” — Wahai
orang-orang yang beriman…
— itu adalah seruan cinta. Panggilan yang tidak ditujukan kepada semua manusia,
tetapi khusus kepada mereka yang memiliki iman di dadanya. Orang beriman akan
berhenti sejenak, menundukkan hati, lalu menjawab, “Labbaik Allāhumma labbaik…” — Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah.
Sebaliknya,
mereka yang imannya lemah atau lalai, akan terus berjalan mengejar dunia,
seakan tidak merasa dipanggil. Ibarat tiga pedagang lewat di depan rumah:
tukang bakso, tukang sayur, dan tukang cendol. Ketika kita memanggil, “Pak
cendol…!” maka yang berhenti hanyalah tukang cendol, karena ia merasa
dipanggil. Namun bila ia tak kunjung berhenti, mungkin ia tak mendengar, atau
pendengarannya terbatas. Begitulah hati manusia — ada yang peka terhadap seruan
langit, ada pula yang “tuli” karena tertutup oleh dosa dan kelalaian.
Puasa
berasal dari bahasa Arab Shiam, yang berarti menahan diri dari hal-hal
yang membatalkan: makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari. Ketika
seseorang telah mampu menahan itu semua, maka secara fikih ia telah berpuasa.
Namun hakikat puasa belumlah sempurna, Di sinilah kita naik ke tingkat yang
lebih tinggi, yaitu Shoum. Shoum bukan hanya menahan lapar dan
dahaga, tetapi menahan lisan dari dusta, menahan mata dari maksiat, menahan
telinga dari keburukan, serta menahan hati dari iri dan dengki. Pada level ini,
seluruh anggota tubuh ikut berpuasa, Mencapai derajat Shoum memang tidak mudah.
Ia menuntut kekuatan iman, keikhlasan niat, dan muraqabah merasa selalu diawasi
Allah. Tetapi di situlah kemuliaannya: ketika lapar kita menjadi dzikir, diam
kita menjadi pahala, dan lelah kita berubah menjadi cahaya di sisi-Nya.
Maka
puasa bukan sekadar menahan diri — melainkan perjalanan pulang menuju Allah.
Siapa yang mampu menjaga Shiam, ia telah taat. Namun siapa yang mampu
menjaga Shoum, dialah yang akan meraih hakikat takwa, Dan perjalanan
pulang itu tidak selalu terasa ringan. Ia sering justru terasa paling berat
ketika kita kembali berjumpa dengan realitas kehidupan sehari-hari, Di pasar,
di kantor, di ruang kelas, di jalanan yang macet, di rumah yang penuh persoalan
— di sanalah puasa diuji. Lapar mungkin bisa ditahan, dahaga bisa disabarkan,
tetapi menahan emosi ketika dihina, menahan amarah ketika diperlakukan tidak
adil, menahan keluh kesah saat rezeki terasa sempit — itulah puasa yang
sesungguhnya menyentuh kehidupan nyata.
Ada
seorang ayah yang tetap tersenyum di hadapan anak-anaknya, meski seharian ia
belum mendapat pekerjaan. Perutnya kosong, tetapi lisannya tetap basah dengan
doa agar keluarganya berkecukupan. Ia menahan bukan hanya lapar, tetapi juga
rasa putus asa. Itulah Shoum yang hidup — puasa yang berdenyut dalam
perjuangan.
Ada
pula seorang ibu yang memasak hidangan berbuka dengan penuh cinta, padahal
sejak siang ia menahan letih, menahan pusing, bahkan menahan air mata karena
banyaknya beban. Namun ketika adzan berkumandang, ia yang terakhir menyentuh
makanan, memastikan semua anggota keluarga telah kenyang lebih dulu. Puasanya
bukan sekadar tidak makan tetapi menahan ego, menahan ingin didahulukan.
Di
sekolah, seorang guru tetap sabar menghadapi murid yang sulit diatur. Ia
menahan nada tinggi, menahan kata kasar, memilih menasihati dengan lembut meski
hatinya lelah. Ia sadar, puasa bukan alasan untuk mudah marah, tetapi latihan
agar akhlak semakin indah.
Begitulah,
puasa turun dari langit bukan untuk mengasingkan manusia dari dunia, tetapi
untuk memperindah cara manusia menjalani dunia, Ketika puasa hanya berhenti
pada lapar, ia akan selesai saat adzan Maghrib. Namun ketika puasa telah
meresap ke dalam jiwa, ia tidak pernah benar-benar selesai ia hidup dalam tutur
kata, dalam cara memandang, dalam cara mencari rezeki, bahkan dalam cara
memperlakukan sesama.
Orang
yang lulus dari madrasah puasa akan membawa “bekasnya” sepanjang tahun:
lebih jujur dalam berdagang, lebih amanah dalam bekerja, lebih lembut dalam
berbicara, lebih lapang dalam memaafkan, Sebab ia telah merasakan bagaimana
rasanya diawasi Allah dalam sepi — saat tidak ada yang tahu ia lapar kecuali
dirinya dan Tuhannya, Dan di situlah narasi puasa menjadi sangat menyentuh
kehidupan nyata, ia mengubah orang biasa menjadi luar biasa, mengubah rutinitas
menjadi ibadah, mengubah penderitaan menjadi kedekatan dengan Allah. Maka
ketika Ramadhan berlalu, sejatinya yang pergi hanyalah waktunya bukan ruhnya.
Jika
setelah puasa kita masih mudah berdusta, masih ringan menyakiti, masih gemar
mengumbar amarah mungkin kita baru belajar Shiam, belum sampai Shoum, Namun
bila hati terasa lebih lembut, air mata lebih mudah jatuh saat berdoa, tangan
lebih ringan bersedekah, dan lidah lebih terjaga itulah tanda bahwa puasa telah
menyentuh relung terdalam kehidupan kita.
Akhirnya kita sadar…Puasa bukan sekadar menahan yang halal, tetapi melatih diri meninggalkan yang haram, Bukan sekadar menunggu berbuka, tetapi menunggu perjumpaan dengan Allah dalam ridha-Nya. Dan di setiap lapar yang kita tahan dengan sabar, di setiap emosi yang kita redam karena Allah, di sanalah jiwa kita sedang dipahat menjadi hamba yang lebih manusia, dan manusia yang lebih dekat kepada Tuhannya.
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   21
Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   27
Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7
Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   18
Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   383
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1559
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1255
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1126
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      967
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      953