Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

33 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Antara Shiam Dan Shoum



Sabtu , 21 Februari 2026



Telah dibaca :  419

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dalam ayat tersebut Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk melaksanakan sebuah “larangan” — larangan makan, minum, serta berkumpulnya suami istri di siang hari. Sekilas, perintah yang berbentuk larangan itu menimbulkan tanda tanya bagi sebagian orang awam: mengapa Allah memerintahkan sesuatu yang menahan fitrah manusia? Ternyata di sanalah letak kasih sayang-Nya. Melalui larangan itu, Allah sedang mendidik, menggiring, dan membimbing hamba-Nya agar naik menjadi pribadi yang lebih bersih jiwa, lebih jernih hati, dan lebih dekat kepada-Nya.

Bahkan jauh sebelum umat Islam, seruan puasa telah Allah wajibkan kepada umat-umat terdahulu, agar manusia belajar menundukkan hawa nafsunya dan meningkatkan kualitas ketakwaannya. Maka puasa bukan sekadar ibadah ritual, tetapi madrasah ruhani yang telah diwariskan lintas generasi kenabian.

Ketika Allah membuka ayat dengan panggilan mesra, “Yā ayyuhalladzīna āmanū…”Wahai orang-orang yang beriman… — itu adalah seruan cinta. Panggilan yang tidak ditujukan kepada semua manusia, tetapi khusus kepada mereka yang memiliki iman di dadanya. Orang beriman akan berhenti sejenak, menundukkan hati, lalu menjawab, “Labbaik Allāhumma labbaik…” — Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah.

Sebaliknya, mereka yang imannya lemah atau lalai, akan terus berjalan mengejar dunia, seakan tidak merasa dipanggil. Ibarat tiga pedagang lewat di depan rumah: tukang bakso, tukang sayur, dan tukang cendol. Ketika kita memanggil, “Pak cendol…!” maka yang berhenti hanyalah tukang cendol, karena ia merasa dipanggil. Namun bila ia tak kunjung berhenti, mungkin ia tak mendengar, atau pendengarannya terbatas. Begitulah hati manusia — ada yang peka terhadap seruan langit, ada pula yang “tuli” karena tertutup oleh dosa dan kelalaian.

Puasa berasal dari bahasa Arab Shiam, yang berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan: makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari. Ketika seseorang telah mampu menahan itu semua, maka secara fikih ia telah berpuasa. Namun hakikat puasa belumlah sempurna, Di sinilah kita naik ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu Shoum. Shoum bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan lisan dari dusta, menahan mata dari maksiat, menahan telinga dari keburukan, serta menahan hati dari iri dan dengki. Pada level ini, seluruh anggota tubuh ikut berpuasa, Mencapai derajat Shoum memang tidak mudah. Ia menuntut kekuatan iman, keikhlasan niat, dan muraqabah merasa selalu diawasi Allah. Tetapi di situlah kemuliaannya: ketika lapar kita menjadi dzikir, diam kita menjadi pahala, dan lelah kita berubah menjadi cahaya di sisi-Nya.

Maka puasa bukan sekadar menahan diri — melainkan perjalanan pulang menuju Allah. Siapa yang mampu menjaga Shiam, ia telah taat. Namun siapa yang mampu menjaga Shoum, dialah yang akan meraih hakikat takwa, Dan perjalanan pulang itu tidak selalu terasa ringan. Ia sering justru terasa paling berat ketika kita kembali berjumpa dengan realitas kehidupan sehari-hari, Di pasar, di kantor, di ruang kelas, di jalanan yang macet, di rumah yang penuh persoalan — di sanalah puasa diuji. Lapar mungkin bisa ditahan, dahaga bisa disabarkan, tetapi menahan emosi ketika dihina, menahan amarah ketika diperlakukan tidak adil, menahan keluh kesah saat rezeki terasa sempit — itulah puasa yang sesungguhnya menyentuh kehidupan nyata.

Ada seorang ayah yang tetap tersenyum di hadapan anak-anaknya, meski seharian ia belum mendapat pekerjaan. Perutnya kosong, tetapi lisannya tetap basah dengan doa agar keluarganya berkecukupan. Ia menahan bukan hanya lapar, tetapi juga rasa putus asa. Itulah Shoum yang hidup — puasa yang berdenyut dalam perjuangan.

Ada pula seorang ibu yang memasak hidangan berbuka dengan penuh cinta, padahal sejak siang ia menahan letih, menahan pusing, bahkan menahan air mata karena banyaknya beban. Namun ketika adzan berkumandang, ia yang terakhir menyentuh makanan, memastikan semua anggota keluarga telah kenyang lebih dulu. Puasanya bukan sekadar tidak makan tetapi menahan ego, menahan ingin didahulukan.

Di sekolah, seorang guru tetap sabar menghadapi murid yang sulit diatur. Ia menahan nada tinggi, menahan kata kasar, memilih menasihati dengan lembut meski hatinya lelah. Ia sadar, puasa bukan alasan untuk mudah marah, tetapi latihan agar akhlak semakin indah.

Begitulah, puasa turun dari langit bukan untuk mengasingkan manusia dari dunia, tetapi untuk memperindah cara manusia menjalani dunia, Ketika puasa hanya berhenti pada lapar, ia akan selesai saat adzan Maghrib. Namun ketika puasa telah meresap ke dalam jiwa, ia tidak pernah benar-benar selesai ia hidup dalam tutur kata, dalam cara memandang, dalam cara mencari rezeki, bahkan dalam cara memperlakukan sesama.

Orang yang lulus dari madrasah puasa akan membawa “bekasnya” sepanjang tahun:
lebih jujur dalam berdagang, lebih amanah dalam bekerja, lebih lembut dalam berbicara, lebih lapang dalam memaafkan, Sebab ia telah merasakan bagaimana rasanya diawasi Allah dalam sepi — saat tidak ada yang tahu ia lapar kecuali dirinya dan Tuhannya, Dan di situlah narasi puasa menjadi sangat menyentuh kehidupan nyata, ia mengubah orang biasa menjadi luar biasa, mengubah rutinitas menjadi ibadah, mengubah penderitaan menjadi kedekatan dengan Allah. Maka ketika Ramadhan berlalu, sejatinya yang pergi hanyalah waktunya  bukan ruhnya.

Jika setelah puasa kita masih mudah berdusta, masih ringan menyakiti, masih gemar mengumbar amarah mungkin kita baru belajar Shiam, belum sampai Shoum, Namun bila hati terasa lebih lembut, air mata lebih mudah jatuh saat berdoa, tangan lebih ringan bersedekah, dan lidah lebih terjaga itulah tanda bahwa puasa telah menyentuh relung terdalam kehidupan kita.

Akhirnya kita sadar…Puasa bukan sekadar menahan yang halal, tetapi melatih diri meninggalkan yang haram, Bukan sekadar menunggu berbuka, tetapi menunggu perjumpaan dengan Allah dalam ridha-Nya. Dan di setiap lapar yang kita tahan dengan sabar, di setiap emosi yang kita redam karena Allah, di sanalah jiwa kita sedang dipahat menjadi hamba yang lebih manusia, dan manusia yang lebih dekat kepada Tuhannya.



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   21

Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   27

Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   18

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   383

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1559


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1126


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      967


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      953