
Belajar
dari Isra’ Mi’raj: Menguatkan Iman, Menjaga Sholat
Oleh:
Mukhtarodin
Guru SMAN 2 Tebing Tinggi
Kabupaten Kepulauan Meranti
Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan
salah satu tonggak penting dalam ajaran Islam yang sarat dengan makna spiritual
dan moral. Ia bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW melintasi ruang
dan waktu, tetapi juga peristiwa teologis yang menegaskan hubungan vertikal
antara manusia dan Tuhan. Bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti yang
dikenal religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, Isra’ Mi’raj
menghadirkan pesan mendasar tentang penguatan iman dan pentingnya menjaga
sholat dalam kehidupan sehari-hari.
Isra’ Mi’raj terjadi pada masa sulit
dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, ketika beliau menghadapi tekanan berat
secara psikologis dan sosial. Dalam situasi tersebut, Allah SWT menguatkan
Rasul-Nya melalui perjalanan spiritual yang luar biasa. Hal ini menunjukkan
bahwa iman justru sering dikuatkan melalui ujian dan kesabaran. Pesan ini
relevan dengan realitas masyarakat kepulauan yang kerap menghadapi tantangan
ekonomi, geografis, dan sosial, namun tetap dituntut menjaga keteguhan iman
(Shihab, Membumikan Al-Qur’an).
Dalam perspektif keimanan, Isra’
Mi’raj mengajarkan sikap taslim, yaitu kepasrahan total kepada kehendak Allah.
Peristiwa ini melampaui batas rasionalitas manusia, sehingga hanya dapat
diterima dengan iman yang tulus. Al-Qur’an menegaskan Isra’ Mi’raj sebagai
tanda kebesaran Allah dan kemuliaan Rasul-Nya, sekaligus ujian bagi kualitas
keimanan umat Islam (Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya)
Inti terpenting dari Isra’ Mi’raj
adalah perintah sholat lima waktu. Tidak seperti ibadah lain yang diwajibkan
melalui wahyu di bumi, sholat diperintahkan secara langsung di langit. Hal ini
menunjukkan kedudukan sholat sebagai tiang agama dan fondasi utama kehidupan
spiritual seorang muslim (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin). Sholat bukan sekadar
kewajiban ritual, melainkan sarana komunikasi langsung antara hamba dan
Tuhannya.
Dalam kehidupan masyarakat Kepulauan
Meranti yang sebagian besar beraktivitas sebagai nelayan, petani, dan pekerja
sektor informal, tantangan menjaga sholat sering kali datang dari kesibukan dan
tuntutan ekonomi. Namun justru dalam kondisi seperti itulah sholat memiliki
peran penting sebagai penyeimbang batin. Sholat mengajarkan kedisiplinan waktu,
ketenangan jiwa, serta kejujuran dalam bekerja dan bermuamalah.
Secara sosial, sholat juga berfungsi
sebagai benteng moral. Al-Qur’an menegaskan bahwa sholat yang dilaksanakan
dengan kesadaran dan kekhusyukan akan mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Artinya, sholat tidak boleh berhenti pada gerakan fisik, tetapi harus membentuk
sikap dan perilaku sosial yang berakhlak (Nata, Pendidikan dalam Perspektif
Al-Qur’an).
Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa
iman dan sholat tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Iman yang
kuat seharusnya tercermin dalam kepedulian terhadap sesama, kejujuran dalam
bekerja, dan sikap adil dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks lokal
Kepulauan Meranti, nilai-nilai ini penting untuk menjaga harmoni sosial,
memperkuat solidaritas, dan menghindari konflik yang merugikan persatuan
masyarakat (Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban).
Dari sudut pandang pendidikan dan
dakwah, peringatan Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi momentum refleksi bersama,
bukan sekadar kegiatan seremonial. Melalui peringatan ini, masyarakat diajak
untuk menilai kembali kualitas iman dan sholat masing-masing. Apakah sholat
sudah menjadi kebutuhan ruhani, atau sekadar rutinitas yang dilakukan tanpa
kesadaran mendalam.
Dalam konteks pembangunan manusia,
Isra’ Mi’raj memberikan pesan bahwa kemajuan material harus diiringi dengan
penguatan spiritual. Masyarakat yang religius dan berakhlak akan lebih siap
menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Sholat yang terjaga akan
melahirkan pribadi yang disiplin, sabar, dan bertanggung jawab, yang pada
akhirnya berkontribusi positif bagi lingkungan sosialnya.
Belajar
dari Isra’ Mi’raj, umat Islam diajak untuk memperkuat iman dan menjaga sholat
sebagai fondasi kehidupan. Bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti, pesan
ini relevan untuk menjaga keseimbangan antara ikhtiar duniawi dan ketaatan
spiritual. Iman yang kokoh dan sholat yang terjaga bukan hanya membentuk
kesalehan individu, tetapi juga menjadi pilar penting dalam membangun
masyarakat yang beradab, harmonis, dan bermartabat.
Penulis : Muhtaruddin,M.Pd.I
APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   24
Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   32
Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   9
Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   24
Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1267
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1133
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954