Avatar

Muhtaruddin,M.Pd.I

Penulis Kolom

63 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Belajar dari Isra' Mi'raj: Menguatkan Iman, Menjaga Sholat



Senin , 19 Januari 2026



Telah dibaca :  63

Belajar dari Isra’ Mi’raj: Menguatkan Iman, Menjaga Sholat

 

Oleh:

 Mukhtarodin

Guru SMAN 2 Tebing Tinggi

Kabupaten Kepulauan Meranti

 

 

            Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu tonggak penting dalam ajaran Islam yang sarat dengan makna spiritual dan moral. Ia bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW melintasi ruang dan waktu, tetapi juga peristiwa teologis yang menegaskan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti yang dikenal religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, Isra’ Mi’raj menghadirkan pesan mendasar tentang penguatan iman dan pentingnya menjaga sholat dalam kehidupan sehari-hari.

            Isra’ Mi’raj terjadi pada masa sulit dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, ketika beliau menghadapi tekanan berat secara psikologis dan sosial. Dalam situasi tersebut, Allah SWT menguatkan Rasul-Nya melalui perjalanan spiritual yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa iman justru sering dikuatkan melalui ujian dan kesabaran. Pesan ini relevan dengan realitas masyarakat kepulauan yang kerap menghadapi tantangan ekonomi, geografis, dan sosial, namun tetap dituntut menjaga keteguhan iman (Shihab, Membumikan Al-Qur’an).

            Dalam perspektif keimanan, Isra’ Mi’raj mengajarkan sikap taslim, yaitu kepasrahan total kepada kehendak Allah. Peristiwa ini melampaui batas rasionalitas manusia, sehingga hanya dapat diterima dengan iman yang tulus. Al-Qur’an menegaskan Isra’ Mi’raj sebagai tanda kebesaran Allah dan kemuliaan Rasul-Nya, sekaligus ujian bagi kualitas keimanan umat Islam (Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya)

            Inti terpenting dari Isra’ Mi’raj adalah perintah sholat lima waktu. Tidak seperti ibadah lain yang diwajibkan melalui wahyu di bumi, sholat diperintahkan secara langsung di langit. Hal ini menunjukkan kedudukan sholat sebagai tiang agama dan fondasi utama kehidupan spiritual seorang muslim (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin). Sholat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya.

            Dalam kehidupan masyarakat Kepulauan Meranti yang sebagian besar beraktivitas sebagai nelayan, petani, dan pekerja sektor informal, tantangan menjaga sholat sering kali datang dari kesibukan dan tuntutan ekonomi. Namun justru dalam kondisi seperti itulah sholat memiliki peran penting sebagai penyeimbang batin. Sholat mengajarkan kedisiplinan waktu, ketenangan jiwa, serta kejujuran dalam bekerja dan bermuamalah.

            Secara sosial, sholat juga berfungsi sebagai benteng moral. Al-Qur’an menegaskan bahwa sholat yang dilaksanakan dengan kesadaran dan kekhusyukan akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Artinya, sholat tidak boleh berhenti pada gerakan fisik, tetapi harus membentuk sikap dan perilaku sosial yang berakhlak (Nata, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an).

            Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa iman dan sholat tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Iman yang kuat seharusnya tercermin dalam kepedulian terhadap sesama, kejujuran dalam bekerja, dan sikap adil dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks lokal Kepulauan Meranti, nilai-nilai ini penting untuk menjaga harmoni sosial, memperkuat solidaritas, dan menghindari konflik yang merugikan persatuan masyarakat (Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban).

            Dari sudut pandang pendidikan dan dakwah, peringatan Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi momentum refleksi bersama, bukan sekadar kegiatan seremonial. Melalui peringatan ini, masyarakat diajak untuk menilai kembali kualitas iman dan sholat masing-masing. Apakah sholat sudah menjadi kebutuhan ruhani, atau sekadar rutinitas yang dilakukan tanpa kesadaran mendalam.

            Dalam konteks pembangunan manusia, Isra’ Mi’raj memberikan pesan bahwa kemajuan material harus diiringi dengan penguatan spiritual. Masyarakat yang religius dan berakhlak akan lebih siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Sholat yang terjaga akan melahirkan pribadi yang disiplin, sabar, dan bertanggung jawab, yang pada akhirnya berkontribusi positif bagi lingkungan sosialnya.

Belajar dari Isra’ Mi’raj, umat Islam diajak untuk memperkuat iman dan menjaga sholat sebagai fondasi kehidupan. Bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti, pesan ini relevan untuk menjaga keseimbangan antara ikhtiar duniawi dan ketaatan spiritual. Iman yang kokoh dan sholat yang terjaga bukan hanya membentuk kesalehan individu, tetapi juga menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat yang beradab, harmonis, dan bermartabat.

 

 



Penulis : Muhtaruddin,M.Pd.I


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   24

Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   32

Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   9

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   24

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1133


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954