
Imlek
dan Spirit Kebersamaan Melawan Politik Kebencian
Perayaan
Tahun Baru Imlek selalu menghadirkan nuansa yang khas: warna merah yang
menyala, lampion yang menggantung, aroma kue keranjang, serta doa-doa yang
dipanjatkan untuk harapan dan keberuntungan di tahun yang baru. Namun lebih
dari simbol budaya, Imlek menyimpan nilai-nilai universal tentang kebersamaan,
harmoni, dan harapan kolektif. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan
menguatnya politik kebencian dalam ruang publik, semangat Imlek menghadirkan
pesan penting: masyarakat hanya dapat bertahan dan maju melalui solidaritas dan
persatuan.
Indonesia
sejak awal berdiri di atas fondasi keberagaman. Perbedaan agama, etnis, dan
budaya bukanlah ancaman, melainkan realitas yang harus dirawat. Benedict
Anderson menyebut bangsa sebagai “komunitas terbayang” yang dipersatukan oleh
imajinasi kolektif tentang kebersamaan (Anderson, Imagined Communities, 2006, hlm. 6). Dalam konteks Indonesia,
imajinasi kebangsaan itu terwujud dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Perayaan
Imlek, sebagaimana hari besar keagamaan lainnya, menjadi bagian dari mozaik
kebangsaan yang memperkuat rasa kebersamaan tersebut.
Nilai
kebersamaan dalam tradisi Imlek tampak jelas dalam praktik reuni keluarga dan
tradisi berbagi rezeki melalui angpao. Praktik ini mengandung pesan moral
tentang solidaritas antargenerasi dan kepedulian sosial. Dalam perspektif
Konfusianisme, harmoni sosial merupakan nilai utama yang menjaga keseimbangan
masyarakat. Konfusius menekankan pentingnya relasi sosial yang harmonis sebagai
fondasi keteraturan sosial (Confucius, The
Analects, 2003, hlm. 72). Nilai ini sejalan dengan prinsip gotong royong
yang menjadi identitas sosial bangsa Indonesia.
Namun
realitas sosial kontemporer menunjukkan bahwa kebersamaan menghadapi tantangan
serius. Politik kebencian semakin mudah menyebar melalui media sosial,
memanfaatkan sentimen identitas untuk memecah belah masyarakat. Polarisasi
berbasis agama dan etnis sering digunakan sebagai alat mobilisasi politik. Cass
Sunstein menjelaskan bahwa polarisasi kelompok dapat terjadi ketika individu
hanya berinteraksi dengan kelompok yang memiliki pandangan serupa, sehingga
memperkuat ekstremisme sikap (Sunstein, Going
to Extremes, 2009, hlm. 67). Dalam situasi seperti ini, ruang publik tidak
lagi menjadi ruang dialog, tetapi arena konflik identitas.
Politik
kebencian bekerja dengan cara menyederhanakan realitas menjadi dikotomi “kita”
versus “mereka”. Strategi ini efektif secara elektoral, tetapi berbahaya bagi
kohesi sosial. Hannah Arendt mengingatkan bahwa politik yang didorong oleh
kebencian dan propaganda dapat mengikis nalar publik dan merusak fondasi
demokrasi (Arendt, The Origins of
Totalitarianism, 1973, hlm. 351). Ketika kebencian dinormalisasi,
masyarakat kehilangan empati dan solidaritas.
Dalam
konteks inilah perayaan Imlek memiliki makna sosial yang relevan. Ia
mengingatkan bahwa identitas budaya tidak harus menjadi sumber konflik,
melainkan jembatan untuk memperkuat kebersamaan. Pengakuan Imlek sebagai hari
libur nasional sejak 2003 menandai komitmen negara terhadap pluralisme dan
rekonsiliasi sejarah. Langkah ini bukan sekadar kebijakan administratif, tetapi
simbol pengakuan terhadap kesetaraan warga negara dalam kehidupan berbangsa.
Sosiolog
Robert Putnam menekankan bahwa kepercayaan sosial (social trust) merupakan modal penting bagi keberhasilan demokrasi
dan pembangunan (Putnam, Bowling Alone,
2000, hlm. 19). Kepercayaan sosial tumbuh dari interaksi yang inklusif dan pengalaman
kebersamaan. Perayaan lintas budaya seperti Imlek berkontribusi dalam membangun
jembatan sosial tersebut.
Di
berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Riau dan kota-kota pesisir Sumatra, khususnya
Kabupaten Kepulauan Meranti Imlek sering dirayakan secara terbuka dan inklusif.
Masyarakat lintas agama turut berpartisipasi dalam perayaan, menikmati
pertunjukan barongsai, dan berbagi kebahagiaan. Praktik ini menunjukkan bahwa
kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat solidaritas sosial.
Clifford Geertz menekankan bahwa simbol budaya memiliki fungsi integratif dalam
menjaga kohesi masyarakat (The
Interpretation of Cultures, 1973, hlm. 89).
Namun
kebersamaan tidak akan terwujud tanpa kesadaran kolektif untuk menolak politik
kebencian. Media digital telah mempercepat penyebaran ujaran kebencian dan
disinformasi. Algoritma media sosial cenderung memperkuat konten emosional yang
memicu kemarahan dan ketakutan. Manuel Castells menyebut fenomena ini sebagai
politik emosi dalam masyarakat jaringan modern (Castells, Networks of Outrage and Hope, 2012, hlm. 15). Dalam lanskap digital
seperti ini, masyarakat perlu mengembangkan literasi digital dan kemampuan
berpikir kritis.
Selain
itu, peran tokoh agama dan pemimpin masyarakat menjadi sangat penting. Mereka
memiliki otoritas moral untuk menenangkan ketegangan sosial dan menegaskan
nilai persaudaraan. Dalam perspektif etika agama, kebencian kolektif
bertentangan dengan prinsip kemanusiaan universal. Ajaran agama pada dasarnya
menekankan kasih sayang, keadilan, dan persaudaraan. Oleh karena itu, politik
kebencian bukan hanya ancaman sosial, tetapi juga penyimpangan moral.
Spirit
Imlek mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari harmoni dan keseimbangan.
Filosofi yin dan yang menggambarkan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan.
Nilai ini relevan dalam kehidupan berbangsa: keseimbangan antara identitas dan
persatuan, antara perbedaan dan kebersamaan. Tanpa keseimbangan, masyarakat
mudah terjebak dalam konflik.
Momentum
perayaan budaya seperti Imlek juga menjadi kesempatan untuk memperkuat dialog
lintas budaya. Dialog bukan sekadar toleransi pasif, tetapi keterbukaan aktif
untuk memahami dan menghargai perbedaan. Jurgen Habermas menekankan pentingnya
ruang publik deliberatif yang memungkinkan dialog rasional dan saling
pengertian (Habermas, Between Facts and
Norms, 1996, hlm. 306). Dialog lintas budaya dapat menjadi antidot terhadap polarisasi sosial.
Pada
akhirnya, perayaan Imlek mengingatkan kita bahwa kebersamaan bukanlah konsep
abstrak, melainkan praktik sehari-hari. Ia hidup dalam sikap saling
menghormati, berbagi kebahagiaan, dan menolak kebencian. Di tengah godaan
politik identitas dan polarisasi sosial, spirit kebersamaan yang dibawa Imlek
menjadi relevan bagi masa depan Indonesia.
Masyarakat
yang kuat bukanlah masyarakat yang bebas perbedaan, tetapi masyarakat yang
mampu mengelola perbedaan dengan bijaksana. Politik kebencian mungkin
menawarkan keuntungan jangka pendek, tetapi ia merusak fondasi kebangsaan dalam
jangka panjang. Sebaliknya, kebersamaan dan solidaritas sosial membangun
ketahanan bangsa.
Imlek
mengajarkan harapan baru setiap tahun. Harapan itu tidak hanya berupa
keberuntungan pribadi, tetapi juga masa depan bersama yang lebih damai. Dalam
semangat kebersamaan, kita diingatkan bahwa Indonesia hanya dapat maju jika
kebencian dikalahkan oleh solidaritas, dan perbedaan dirajut menjadi kekuatan.
Di
tengah dunia yang semakin terpolarisasi, pesan Imlek menjadi sederhana namun
mendalam: kebahagiaan tumbuh dari harmoni, dan harmoni hanya mungkin terwujud
jika kita memilih kebersamaan daripada kebencian.
Penulis : Muhtaruddin,M.Pd.I
Menebar Ilmu Melalui Cerita Anak Dwibahasa: Ikhtiar Literasi Islami di Selatpanjang
03 April 2026   Oleh : Khairan Efendi   90
Santunan Anak Yatim dan Peringatan Nuzulul Qur’an: Menghidupkan Nilai Al-Qur’an di Tengah Masyarakat
07 Maret 2026   Oleh : Khairan Efendi   194
Momen Nuzulul Qur’an & Santunan Anak Yatim : Menguatkan Kepedulaian Sisoal dan Spirit Ramadhan
07 Maret 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   98
Malam Santuanan di Mantiasa dan Cermin Kepedulian Kita
01 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   62
Desa Insit: Ikhtiar Membangun Antikorupsi dari Pinggiran
28 Januari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   77
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1559
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1255
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1126
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      967
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      953