Avatar

Muhtaruddin,M.Pd.I

Penulis Kolom

63 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Malam Santuanan di Mantiasa dan Cermin Kepedulian Kita



Minggu , 01 Februari 2026



Telah dibaca :  62

Malam Santunan di Mantiasa dan Cermin Kepedulian Kita

Di tengah arus kehidupan modern yang kian individualistik, kegiatan sosial-keagamaan di tingkat desa sering kali menjadi ruang paling jujur untuk mengukur denyut kepedulian masyarakat. Desa Mantiasa, salah satu desa di Kabupaten Kepulauan Meranti, menghadirkan potret itu melalui kegiatan rutin Malam Santunan, sebuah agenda yang tidak hanya bermakna seremonial, tetapi sarat nilai sosial, religius, dan kemanusiaan. Kegiatan ini menjadi cermin sejauh mana masyarakat masih memelihara empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial di tengah perubahan zaman.

Malam Santunan di Desa Mantiasa bukanlah kegiatan insidental. Ia telah menjadi agenda rutin yang dinantikan masyarakat, terutama oleh anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Kehadiran sekitar 1.000 orang masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, tokoh perempuan, hingga unsur pemerintahan dan aparat negara, menunjukkan bahwa kegiatan ini telah bertransformasi menjadi ruang perjumpaan sosial lintas kelompok. Inilah bentuk nyata dari apa yang dalam kajian sosiologi disebut sebagai social cohesion—perekat sosial yang menjaga harmoni dan kebersamaan dalam masyarakat (Durkheim, The Division of Labour in Society).

Spirit Keagamaan dan Tanggung Jawab Sosial

Dalam Islam, santunan terhadap anak yatim Piatu bukan sekadar anjuran moral, melainkan perintah normatif yang memiliki dimensi teologis dan sosial. Al-Qur’an secara tegas mengecam mereka yang mengabaikan anak yatim sebagai pendusta agama (QS. al-Ma’un: 1–3). Ayat ini menegaskan bahwa kualitas keberagamaan seseorang tidak hanya diukur dari ritual, tetapi dari kepedulian sosialnya (Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an).

 

Malam Santunan di Mantiasa menjadi implementasi konkret dari ajaran tersebut. Kehadiran Ustaz Lasudin, S.Pd.I dari Kota Batam sebagai penceramah utama memberikan warna intelektual dan spiritual pada kegiatan ini. Dalam tradisi dakwah Islam, kehadiran dai dari luar daerah sering dimaknai sebagai upaya memperluas wawasan keagamaan dan memperkuat jejaring ukhuwah Islamiyah lintas wilayah (Azra, Islam Nusantara).

Kolaborasi Sosial yang Inklusif

Salah satu aspek penting dari Malam Santunan di Desa Mantiasa adalah kolaborasi berbagai unsur masyarakat. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Panitia M. Husni, M.Pd.I, yang merepresentasikan peran kaum terdidik dalam mengorganisasi kegiatan sosial berbasis keagamaan. Dalam perspektif pembangunan masyarakat, peran local leader yang memiliki kapasitas akademik dan sosial sangat menentukan keberlanjutan program sosial di tingkat akar rumput (Chambers, Rural Development). Dalam sambutannya ketua panitia mengatakan bahwa acara ini adalah tiga agenda acara besar, yakni memperingati Isra’ mi’raj, menyambut bulan suci Ramadhan dan Santuanan anak yatim piatu se desa Mantiasa yang bertemapt di Masjid Jami’ Al-Ikhlas desa Mantiasa.

Hadirnya Kepala Desa Mantiasa, Bapak Muhajir, menunjukkan komitmen pemerintah desa dalam mendukung kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat. Dalam kerangka tata kelola pemerintahan desa, dukungan kepala desa terhadap kegiatan sosial-keagamaan merupakan bagian dari penguatan modal sosial desa (Putnam, Bowling Alone). Pemerintah desa tidak hanya berfungsi sebagai administrator pembangunan fisik, tetapi juga sebagai fasilitator pembangunan sosial dan spiritual.

Dimensi Kebijakan dan Dukungan Negara

Kehadiran anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti bidang Pendidikan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Bapak Dr. Taufikurrahman, M.Si, memberi pesan kuat bahwa kegiatan sosial-keagamaan memiliki relevansi langsung dengan kebijakan publik. Pendidikan dan kesejahteraan sosial merupakan dua sektor strategis yang saling berkaitan. Santunan anak yatim Piatu, jika dikelola secara berkelanjutan, dapat menjadi bagian dari ekosistem perlindungan sosial masyarakat (Midgley, Social Development).

Lebih jauh, kehadiran Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Meranti, Drs. H. Sulman, menegaskan peran negara dalam membina kehidupan keagamaan masyarakat. Kementerian Agama, dalam berbagai kebijakannya, menempatkan penguatan moderasi beragama dan kepedulian sosial sebagai pilar utama pembangunan keagamaan (Kemenag RI, Moderasi Beragama). Malam Santunan di Mantiasa sejalan dengan spirit tersebut.

Tidak kalah penting, kehadiran Kapolres Kepulauan Meranti menunjukkan dukungan aparat keamanan terhadap kegiatan masyarakat. Dalam perspektif keamanan sosial, keterlibatan aparat negara dalam kegiatan kemasyarakatan dapat memperkuat rasa aman, kepercayaan publik, dan stabilitas sosial (UNDP, Human Development Report).

Malam Santunan sebagai Pendidikan Sosial

Lebih dari sekadar pemberian bantuan materi, Malam Santunan berfungsi sebagai media pendidikan sosial bagi masyarakat. Anak-anak yang hadir menyaksikan langsung bagaimana nilai berbagi dan kepedulian dipraktikkan secara nyata. Dalam teori pendidikan sosial, pengalaman langsung (experiential learning) memiliki dampak yang lebih kuat dibandingkan pembelajaran normatif semata (Kolb, Experiential Learning).

Bagi generasi muda, kegiatan ini menjadi ruang internalisasi nilai-nilai empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting bagi pembentukan karakter warga negara yang beradab dan peduli (Lickona, Character Matters).

Modal Sosial dan Ketahanan Masyarakat

Kegiatan seperti Malam Santunan berkontribusi besar dalam membangun modal sosial masyarakat desa. Modal sosial, yang mencakup kepercayaan, norma bersama, dan jaringan sosial, terbukti memiliki korelasi positif dengan tingkat kesejahteraan dan ketahanan sosial masyarakat (Fukuyama, Trust). Desa Mantiasa, melalui kegiatan rutin ini, sedang merawat modal sosialnya agar tetap hidup dan berfungsi.

Dalam konteks masyarakat kepulauan seperti Kepulauan Meranti, modal sosial memiliki arti strategis. Tantangan geografis, keterbatasan akses, dan kerentanan ekonomi menuntut adanya solidaritas sosial yang kuat. Malam Santunan menjadi salah satu mekanisme kultural untuk memperkuat ketahanan sosial tersebut.

Refleksi Kepedulian Kolektif

Judul “Malam Santunan di Mantiasa dan Cermin Kepedulian Kita” mengandung makna reflektif. Kegiatan ini bukan hanya milik panitia atau pemerintah desa, tetapi milik seluruh masyarakat. Ia menjadi cermin untuk bertanya: sejauh mana kita masih peduli pada sesama? Sejauh mana agama kita hadir dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam wacana?

Dalam filsafat sosial Islam, kepedulian terhadap yang lemah merupakan indikator kesehatan moral sebuah masyarakat (al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din). Ketika kepedulian itu masih hidup, harapan akan masyarakat yang berkeadilan tetap terbuka.

Penutup

Malam Santunan di Desa Mantiasa adalah contoh bagaimana kegiatan lokal dapat memiliki makna universal. Ia mengajarkan bahwa pembangunan tidak selalu harus diukur dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan empati dan solidaritas. Kehadiran berbagai unsur masyarakat—ulama, umara, akademisi, aparat negara, dan masyarakat umum—menunjukkan bahwa kepedulian sosial adalah tanggung jawab kolektif.

Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, Desa Mantiasa memberi pelajaran berharga: bahwa kepedulian yang dirawat secara rutin akan menjadi kekuatan sosial yang luar biasa. Malam Santunan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi investasi moral untuk masa depan masyarakat yang lebih beradab, inklusif, dan berkeadilan. Aamiin

Penulis: Mukhtarodin. Warga Kabupaten Kepulauan Meranti

 



Penulis : Muhtaruddin,M.Pd.I


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Imlek dan Spirit Kebersamaan Melawan Politik Kebencian
17 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   39

Desa Insit: Ikhtiar Membangun Antikorupsi dari Pinggiran
28 Januari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   77

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1127


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      968


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954