
Malam
Santunan di Mantiasa dan Cermin Kepedulian Kita
Di
tengah arus kehidupan modern yang kian individualistik, kegiatan
sosial-keagamaan di tingkat desa sering kali menjadi ruang paling jujur untuk
mengukur denyut kepedulian masyarakat. Desa Mantiasa, salah satu desa di
Kabupaten Kepulauan Meranti, menghadirkan potret itu melalui kegiatan rutin
Malam Santunan, sebuah agenda yang tidak hanya bermakna seremonial, tetapi
sarat nilai sosial, religius, dan kemanusiaan. Kegiatan ini menjadi cermin
sejauh mana masyarakat masih memelihara empati, solidaritas, dan tanggung jawab
sosial di tengah perubahan zaman.
Malam
Santunan di Desa Mantiasa bukanlah kegiatan insidental. Ia telah menjadi agenda
rutin yang dinantikan masyarakat, terutama oleh anak-anak yatim dan kaum
dhuafa. Kehadiran sekitar 1.000 orang masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh
masyarakat, tokoh pendidikan, tokoh perempuan, hingga unsur pemerintahan dan
aparat negara, menunjukkan bahwa kegiatan ini telah bertransformasi menjadi
ruang perjumpaan sosial lintas kelompok. Inilah bentuk nyata dari apa yang
dalam kajian sosiologi disebut sebagai social
cohesion—perekat sosial yang menjaga harmoni dan kebersamaan dalam
masyarakat (Durkheim, The Division of
Labour in Society).
Spirit
Keagamaan dan Tanggung Jawab Sosial
Dalam
Islam, santunan terhadap anak yatim Piatu bukan sekadar anjuran moral,
melainkan perintah normatif yang memiliki dimensi teologis dan sosial.
Al-Qur’an secara tegas mengecam mereka yang mengabaikan anak yatim sebagai
pendusta agama (QS. al-Ma’un: 1–3). Ayat ini menegaskan bahwa kualitas
keberagamaan seseorang tidak hanya diukur dari ritual, tetapi dari kepedulian
sosialnya (Quraish Shihab, Membumikan
Al-Qur’an).
Malam
Santunan di Mantiasa menjadi implementasi konkret dari ajaran tersebut.
Kehadiran Ustaz Lasudin, S.Pd.I dari Kota Batam sebagai penceramah utama
memberikan warna intelektual dan spiritual pada kegiatan ini. Dalam tradisi
dakwah Islam, kehadiran dai dari luar daerah sering dimaknai sebagai upaya memperluas
wawasan keagamaan dan memperkuat jejaring ukhuwah Islamiyah lintas wilayah
(Azra, Islam Nusantara).
Kolaborasi
Sosial yang Inklusif
Salah
satu aspek penting dari Malam Santunan di Desa Mantiasa adalah kolaborasi
berbagai unsur masyarakat. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Panitia M. Husni,
M.Pd.I, yang merepresentasikan peran kaum terdidik dalam mengorganisasi
kegiatan sosial berbasis keagamaan. Dalam perspektif pembangunan masyarakat,
peran local leader yang memiliki
kapasitas akademik dan sosial sangat menentukan keberlanjutan program sosial di
tingkat akar rumput (Chambers, Rural
Development). Dalam sambutannya ketua panitia mengatakan bahwa acara ini
adalah tiga agenda acara besar, yakni memperingati Isra’ mi’raj, menyambut
bulan suci Ramadhan dan Santuanan anak yatim piatu se desa Mantiasa yang
bertemapt di Masjid Jami’ Al-Ikhlas desa Mantiasa.
Hadirnya
Kepala Desa Mantiasa, Bapak Muhajir, menunjukkan komitmen pemerintah desa dalam
mendukung kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat. Dalam kerangka tata kelola
pemerintahan desa, dukungan kepala desa terhadap kegiatan sosial-keagamaan
merupakan bagian dari penguatan modal sosial desa (Putnam, Bowling Alone). Pemerintah desa tidak hanya berfungsi sebagai
administrator pembangunan fisik, tetapi juga sebagai fasilitator pembangunan
sosial dan spiritual.
Dimensi
Kebijakan dan Dukungan Negara
Kehadiran
anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti bidang Pendidikan dan Kesejahteraan
Rakyat (Kesra), Bapak Dr. Taufikurrahman, M.Si, memberi pesan kuat bahwa kegiatan
sosial-keagamaan memiliki relevansi langsung dengan kebijakan publik.
Pendidikan dan kesejahteraan sosial merupakan dua sektor strategis yang saling
berkaitan. Santunan anak yatim Piatu, jika dikelola secara berkelanjutan, dapat
menjadi bagian dari ekosistem perlindungan sosial masyarakat (Midgley, Social Development).
Lebih
jauh, kehadiran Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Meranti,
Drs. H. Sulman, menegaskan peran negara dalam membina kehidupan keagamaan
masyarakat. Kementerian Agama, dalam berbagai kebijakannya, menempatkan
penguatan moderasi beragama dan kepedulian sosial sebagai pilar utama
pembangunan keagamaan (Kemenag RI,
Moderasi Beragama). Malam Santunan di Mantiasa sejalan dengan spirit
tersebut.
Tidak
kalah penting, kehadiran Kapolres Kepulauan Meranti menunjukkan dukungan aparat
keamanan terhadap kegiatan masyarakat. Dalam perspektif keamanan sosial,
keterlibatan aparat negara dalam kegiatan kemasyarakatan dapat memperkuat rasa
aman, kepercayaan publik, dan stabilitas sosial (UNDP, Human Development Report).
Malam
Santunan sebagai Pendidikan Sosial
Lebih
dari sekadar pemberian bantuan materi, Malam Santunan berfungsi sebagai media
pendidikan sosial bagi masyarakat. Anak-anak yang hadir menyaksikan langsung
bagaimana nilai berbagi dan kepedulian dipraktikkan secara nyata. Dalam teori
pendidikan sosial, pengalaman langsung (experiential
learning) memiliki dampak yang lebih kuat dibandingkan pembelajaran
normatif semata (Kolb, Experiential
Learning).
Bagi
generasi muda, kegiatan ini menjadi ruang internalisasi nilai-nilai empati,
solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi
penting bagi pembentukan karakter warga negara yang beradab dan peduli
(Lickona, Character Matters).
Modal
Sosial dan Ketahanan Masyarakat
Kegiatan
seperti Malam Santunan berkontribusi besar dalam membangun modal sosial
masyarakat desa. Modal sosial, yang mencakup kepercayaan, norma bersama, dan
jaringan sosial, terbukti memiliki korelasi positif dengan tingkat
kesejahteraan dan ketahanan sosial masyarakat (Fukuyama, Trust). Desa Mantiasa, melalui kegiatan rutin ini, sedang merawat
modal sosialnya agar tetap hidup dan berfungsi.
Dalam
konteks masyarakat kepulauan seperti Kepulauan Meranti, modal sosial memiliki
arti strategis. Tantangan geografis, keterbatasan akses, dan kerentanan ekonomi
menuntut adanya solidaritas sosial yang kuat. Malam Santunan menjadi salah satu
mekanisme kultural untuk memperkuat ketahanan sosial tersebut.
Refleksi
Kepedulian Kolektif
Judul
“Malam Santunan di Mantiasa dan Cermin
Kepedulian Kita” mengandung makna reflektif. Kegiatan ini bukan hanya milik
panitia atau pemerintah desa, tetapi milik seluruh masyarakat. Ia menjadi
cermin untuk bertanya: sejauh mana kita masih peduli pada sesama? Sejauh mana
agama kita hadir dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam wacana?
Dalam
filsafat sosial Islam, kepedulian terhadap yang lemah merupakan indikator
kesehatan moral sebuah masyarakat (al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din). Ketika kepedulian itu masih hidup, harapan akan
masyarakat yang berkeadilan tetap terbuka.
Penutup
Malam
Santunan di Desa Mantiasa adalah contoh bagaimana kegiatan lokal dapat memiliki
makna universal. Ia mengajarkan bahwa pembangunan tidak selalu harus diukur
dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan empati dan solidaritas. Kehadiran
berbagai unsur masyarakat—ulama, umara, akademisi, aparat negara, dan
masyarakat umum—menunjukkan bahwa kepedulian sosial adalah tanggung jawab
kolektif.
Di
tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, Desa Mantiasa memberi pelajaran
berharga: bahwa kepedulian yang dirawat secara rutin akan menjadi kekuatan
sosial yang luar biasa. Malam Santunan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi
investasi moral untuk masa depan masyarakat yang lebih beradab, inklusif, dan
berkeadilan. Aamiin
Penulis:
Mukhtarodin. Warga Kabupaten Kepulauan Meranti
Penulis : Muhtaruddin,M.Pd.I
Menebar Ilmu Melalui Cerita Anak Dwibahasa: Ikhtiar Literasi Islami di Selatpanjang
03 April 2026   Oleh : Khairan Efendi   93
Santunan Anak Yatim dan Peringatan Nuzulul Qur’an: Menghidupkan Nilai Al-Qur’an di Tengah Masyarakat
07 Maret 2026   Oleh : Khairan Efendi   194
Momen Nuzulul Qur’an & Santunan Anak Yatim : Menguatkan Kepedulaian Sisoal dan Spirit Ramadhan
07 Maret 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   98
Imlek dan Spirit Kebersamaan Melawan Politik Kebencian
17 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   39
Desa Insit: Ikhtiar Membangun Antikorupsi dari Pinggiran
28 Januari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   77
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1263
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1127
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      968
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954