Avatar

Khairan Efendi

Penulis Kolom

44 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menebar Ilmu Melalui Cerita Anak Dwibahasa: Ikhtiar Literasi Islami di Selatpanjang



Jumat , 03 April 2026



Telah dibaca :  94

Menebar Ilmu Melalui Cerita Anak Dwibahasa: Ikhtiar Literasi Islami di Selatpanjang

Selama dua hari kami menimba ilmu dalam pelatihan menulis cerita anak dwibahasa di Selatpanjang, ada suasana yang tidak sekadar menghadirkan pembelajaran, tetapi juga menghadirkan kesadaran. Kami tidak hanya duduk sebagai peserta yang belajar tentang teknik menulis, melainkan sebagai insan yang diingatkan kembali tentang makna ilmu itu sendiri. Setiap materi yang disampaikan, setiap diskusi yang mengalir, terasa seperti kepingan-kepingan cahaya yang menyusun pemahaman baru tentang pentingnya literasi bagi generasi masa depan.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau bekerja sama dengan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Kepulauan Meranti ini menjadi ruang yang mempertemukan bahasa, budaya, dan nilai keislaman dalam satu harmoni. Di sana kami menyadari bahwa menulis cerita anak bukanlah pekerjaan sederhana. Ia adalah amanah. Ia adalah titipan nilai yang kelak akan dibaca, didengar, dan mungkin diingat sepanjang hayat oleh anak-anak.

Dalam Islam, ilmu bukan sekadar alat untuk mengetahui, melainkan cahaya yang menerangi perjalanan hidup. Sejak awal turunnya wahyu, Allah SWT telah menegaskan pentingnya literasi sebagai fondasi peradaban. Allah SWT berfirman:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Perintah membaca dalam ayat tersebut mengandung makna yang begitu luas. Ia bukan hanya ajakan melafalkan huruf, tetapi panggilan untuk memahami kehidupan dengan kesadaran ilahiah. Dari membaca lahir pemikiran. Dari pemikiran tumbuh kebijaksanaan. Dan dari kebijaksanaan terbangun akhlak.

Di dalam pelatihan tersebut, kami belajar bahwa sebuah cerita anak dapat menjadi jembatan nilai. Tokoh-tokoh sederhana dalam cerita mampu menyampaikan pesan kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan adab kepada orang tua dengan cara yang lembut dan menyentuh. Anak-anak mungkin belum memahami teori moral yang rumit, tetapi mereka dapat memahami keteladanan melalui kisah.

Penggunaan dwibahasa dalam cerita menjadi langkah yang visioner di tengah arus globalisasi. Anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang terbuka, di mana bahasa menjadi kunci untuk menjelajah wawasan. Namun di tengah keluasan itu, mereka tetap memerlukan akar yang kokoh. Kemampuan berbahasa harus seiring dengan kekuatan iman. Bahasa memperluas cakrawala, sementara nilai agama menjaga arah langkah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”  (HR. Muslim)

Hadis ini terasa begitu dekat maknanya selama pelatihan berlangsung.  Dua hari yang singkat itu sejatinya adalah bagian dari perjalanan panjang menapaki jalan ilmu. Kami menyadari bahwa setiap kata yang ditulis dengan niat baik dapat bernilai ibadah. Setiap cerita yang lahir dari hati yang tulus berpotensi menjadi amal jariyah mengalirkan manfaat tanpa kita ketahui sejauh mana jangkauannya.
Kehadiran LAMR Kabupaten Kepulauan Meranti juga memperkuat keyakinan bahwa literasi tidak terpisah dari jati diri budaya. Prinsip adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah bukan sekadar semboyan, melainkan napas kehidupan masyarakat Melayu. Dalam semangat itulah cerita-cerita anak ditulis tidak hanya indah secara bahasa, tetapi juga kokoh secara nilai.

Pada akhirnya, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan peningkatan keterampilan. Ia adalah gerakan kecil yang membawa harapan besar. Dari ruang pelatihan yang sederhana, tumbuh cita-cita untuk menghadirkan bacaan anak yang bukan hanya cerdas secara bahasa, tetapi juga hangat secara moral dan kuat secara spiritual.

Semoga setiap huruf yang kami tulis menjadi saksi kebaikan. Semoga setiap cerita yang lahir menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur. Dan semoga ikhtiar dua hari menimba ilmu di Selatpanjang ini menjadi bagian dari langkah panjang membangun generasi yang beriman, berilmu, serta berakhlak mulia.

Karena sejatinya, peradaban besar tidak selalu dimulai dari hal yang megah. Ia bisa dimulai dari sebuah cerita kecil yang ditulis dengan niat tulus, dibaca dengan hati yang bersih, dan diwariskan kepada generasi yang akan melanjutkan estafet kebaikan.

Semoge bemanfaat buat kite semue, cakap Melayu tak lenyap ditelan bumi .



Penulis : Khairan Efendi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Imlek dan Spirit Kebersamaan Melawan Politik Kebencian
17 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   39

Malam Santuanan di Mantiasa dan Cermin Kepedulian Kita
01 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   64

Desa Insit: Ikhtiar Membangun Antikorupsi dari Pinggiran
28 Januari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   78

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1133


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954