
Mari kita mengaji dan mengkaji Q.S. Al-Baqarah ayat 13 sebagai berikut:
وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّاۚ وَاِذَا خَلَوْا
اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْۙ اِنَّمَا نَحْنُ
مُسْتَهْزِءُوْنَ ١٤
Artinya:
Apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami
telah beriman.” Akan tetapi apabila mereka menyendiri dengan setan-setan (para
pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya
pengolok-olok.”
Ayat tersebut menceritakan watak asli dari
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Agama dijadikan alat
untuk kepentingan ekonomi dan politik. Sebagian mereka berpura-pura masuk Islam.
lalu mereka menyalahgunakan ketulusan umat islam, dengan melakukan berbagai
tipu daya untuk mencari keuntungan dunia dan mendapatkan posisi strategis di
pemerintahan, bisnis atau Lembaga-lembaga yang membawa keuntungan yang bersifat
duniawi.
Beberapa tahun lalu, penulis sering
membimbing orang-orang yang ingin masuk islam. hati ku terasa senang. Dalam Islam,
mereka dapat hidayah. Namun sebagian dari para mualaf yang katanya terpanggil
ingin masuk Islam sering menggunakan kesempatan menyalahgunakan kalimat
syahadat yang sakral.
Ada kejadian beberapa waktu lalu, saat pagi
hari ada seorang pemuda ingin bersyahadat. Alasan klasik, hatinya tergerak
masuk Islam. saat datang sholat jum’at, teman ku menyuruh untuk sholat jum’at.
Ia tidak mau dan malu karena belum bisa sholat. Akhirnya teman ku pun menyuruh
untuk tinggal di kamar kos-kosannya. Saat selesai sholat, teman ku harus
kehilangan HP,Dompet dan beberapa benda-benda berharga. Sang mualaf pun kabur
entah kemana.
Dalam Islam memang kita tidak boleh
berprasangka negatif kepada orang-orang yang ingin masuk Islam. Persoalan
apakah ia akan menipu merupakan urusan pribadinya. Sebab kalimat syahadat
merupakan kalimat sakral yang terbebas dari intrik tipu daya manusia. sebab
memang hidayah, petunjuk merupakan hak preogratif Allah SWT. Ajaran Islam
mengajarkan tentang pentingnya berprasangka baik kepada orang-orang yang sudah
bersyahadat.
Contoh pada masa Nabi Muhammad. Ketika usai
perang tiba-tiba seorang musuh menyelinap masuk ke wilayah kekuasaan prajurit
muslim. Usamah Ibn Zaid ibn Haritsah sebagai panglima perang umat Islam
melihatnya. ia mengejarnya. musuh terjebak dan tidak bisa keluar. Lalu musuh
tersebut mengucapkan kalimat tauhid. Usamah menilai itu hanya tipu muslihat
saja agar tetap selamat. Lalu Usamah menghunuskan pedang kepada musuh yang
sudah mengucapkan kalimat syahadat. Akhirnya meninggal dunia.
Nabi memanggilnya dan marah kepada Usamah,
lalu ia bersabda:”nahnu nahkum bi al-dhawahir, wa allah yatawallah al-sarair
(kita hanya menghukum apa yang tanpak dan Allah yang menghukum yang tersimpan
dalam hati)
Orang-orang munafiq pada masa nabi
mendirikan Masjid Al-Dhirar untuk memecah umat Islam. Umar bin Khatab meminta
izin kepada Nabi untuk membunuh Abdullah bin Ubay. Nabi berkata: “Da’hu, la
yatahanddats al-nas bi anna muhammadan yaqtulu ashabah”( biarkan dia,
karena akut tidak ingin orang nanti mengatakan bahwa Muhammad membunuh
sahabat-sahabatnya)
Penulis dan mungkin juga anda saat
mengalami hal serupa sebagaimana posisi Umar bin Khatab dan Usamah Ibn Zaid Ibn
Haritsah juga akan melakukan hal serupa yaitu membunuhnya. Peperangan adalah
tipu muslihat. Pertempuran adalah pertaruhan nyawa, membunuh atau dibunuh.
Kemenangan perang juga hitungannya terkadang bukan jam atau menit, tapi detik.
Keputusan yang tepat dan cepat hanya hitungan detik bisa menghancurkan suatu
negara sebagaimana AS menghancurkan Jepang pada perang dunia kedua.
Memang kemenangan nabi dalam peristiwa
Fathul Makah membuat kaum kafir qurayis berbondong-bondong masuk Islam dan
menjadi sahabat nabi. Pertam-tama sebagian mereka tidak murni masuk islam
secara tulus. Fu’ad Jabali dalam Disertasinya juga telah merangkum beberapa
motif sahabat nabi ketika melakukan hijrah ke berbagai daerah, yaitu pertama,
panggilan hijrah; kedua, jihad; ketiga, alasan sosial ekonomi; keempat, status
sosial; kelima, penunjukan jabatan; keenam, meninggalkan figure penting;
ketujuh, keluarga; kedelapan,politik; kesembilan, pengusiran
Namun Islam menempatkan kalimat tauhid
sangat sakral. Nabi Muhammad tidak menerima alasan apapun saat seseorang
mengucapkan kalimat “laa ilaha illa allah”. Sebab kalimat itu merupakan
kalimat yang kualitas keagungannya melebihi dunia se-isinya. Bahkan adanya
jagat raya, langit, bumi bahkan adanya surga dan neraka karena kalimat tauhid.
Dari sini, persoalan perang menjadi terlihat sangat kecil ketika disandingkan
pada kalimat tauhid.
Alasan rasional nabi selain pada kesakralan
kalimat tauhid, bisa jadi karena agama islam adalah agama dakwah. Kebencian
kaum kafir kepada islam dengan segala tipu daya nya karena memang belum
mengenal ajaran Islam. sebesar apapun kesalahan, harus selalu ada maqam doa.
Hal ini juga dilakukan oleh nabi saat berada di daerah Taif. Saat ia berdakwah,
ia dianiaya, dilempar pakai batu hingga tubuhnya berdarah. Saat malaikat
menawarkan jasa kebaikan kepada nya, dengan senyum dan penuh keagungan ia
menjawab: “Tak apa-apa, mereka marah kepada ku karena mereka belum mengerti
tentang Islam. mudah-mudahan di antara anak dan keturunan mereka ada yang masuk
Islam”.
Ironisnya, ditubuh umat Islam sendiri
justru ada yang suka mengkafirkan sesama islam. hanya gara-gara perbedaan furu’
dalam hal ibadah dan pandangan politik. Ditubuh islam ternyata ada sekekompok
yang merasa lebih berkuasa dalam menentukan surga dan neraka. Sehingga lidah
nya dengan enteng mengatakan kafir kepada saudara sesama muslim. Padahal nabi
telah mengatakan bahwa “Orang yang
mengkafirkan saudara muslim, maka ia sebenarnya telah kafir”. Lagi-lagi
kelompok model ini seolah-olah tidak mengerti hadist tersebut.
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
15 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   151
Ngatur Jiwa di Malam Jum’at
08 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   316
Ketika Mata Dijaga, Hati Pun AkanTerjaga
10 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   31
Jalan Bertahap Menuju Hidayah
16 Januari 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   238
Kisah Seekor Nyamuk
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   59
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1235
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950