
Di tengah-tengah aktivitas yang sangat
padat, penulis mengajak kepada anda untuk menyisihkan sedikit waktu untuk
merenungi firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 25 sebagai berikut:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً
فَمَا فَوْقَهَاۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ
مِنْ رَّبِّهِمْۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ
اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًاۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًاۗ
وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَۙ ٢٦
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau
yang lebih kecil daripada itu. Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwa
itu kebenaran dari Tuhannya. Akan tetapi, orang-orang kafir berkata, “Apa
maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang
yang disesatkan-Nya. Dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk.
Namun, tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu, selain orang-orang
fasik,
Dalam kehidupan sehari-hari, sering manusia suka berbicara yang
besar-besar, bermimpi menciptakan hal-hal yang besar. Semua besar-besar. Seolah-olah
dengan semua itu, persoalan manusia bisa diselesaikan dengan penuh kebahagiaan.
Mimpi-mimpi besar tersebut tentu saja boleh. Tapi ketika melupakan
hal-hal yang kecil, dikhawatirkan ada kebiasaan meremehkannya. Seolah-oleh itu
tidak berguna. Padahal sering terjadi persoalan besar berasal dari hal-hal yang
terlihat sepele dan kadang tidak masuk akal. Ketika semua itu terjadi, manusia
baru menyadarinya betapa penting nya memperhatikan hal-hal yang terlihat sepele
tadi. Sebab hakikat dalam kehidupan di dunia ini tidak ada yang sepele. Tuhan
telah menciptakan segala sesuatu setara yaitu “Ciptaan-Nya tidak ada yang
batil”.
Seorang pejabat pada alam bawah sadar selalu saja mempunyai rasa ada
kemampuan menguasai seseorang ataupun kelompok-kelompok masyarakat. Ia tahu
bahwa sebagian manusia akan selalu menghormatinya, mendengar ucapannya dan
melaksanakan segala ucapan-ucapannya. Ia menyadari ucapan dan tinta Pena nya
laksana hukum. Sabda pandita ratu tan kena wola wali. Siapa saja yang
tidak mentaati nya berarti telah melawannya. Melawannya berarti telah melanggar
konstitusi. Dan orang-orang yang melanggar konstitusi sudah pantas dihukum atas
kesalahan tersebut. Pola kehidupan yang demikian menyebabkan seorang pemimpin
yang tadinya lugu, lurus dan jujur bisa berubah menjadi otoriter dan arogan.
Raja Abrahah sebelum nya manusia biasa-biasa saja. Saat ia menjadi raja,
semua berubah. Arogansi luarbiasa. ia mempunyai ambisi untuk menundukan masyarakat
makah. Ka’bah ingin dihancurkan. Ia merasa tidak ada kekuatan yang bisa
menandinginya. Ia mengira dengan pasukan penunggang gajah sebagai simbol
kendaraan yang paling hebat saat itu sebagai kekuatan militer yang paling baik.
Kenyataanya semua berubah. Kehebatan super power pada masanya
dihancurkan oleh pasukan burung dan virus-virus kecil yang sebelumnya tidak diperhitungkan
sama sekali. abrahah dan pasukannya salah prediksi. Mereka melihat hanya satu
sisi kehidupan sebatas pada kehidupan manusia. mereka hanya mengukur makna
kekuatan sebatas pada akal dan tenaga serta keahlian. Saat sudah menguasai
ketiga hal tersebut, mereka seolah-olah merasa tidak terkalahkan. Benar. Mereka
tidak dikalahkan oleh manusia, tapi di kalahkan oleh makhluk yang statusnya di
bawah standar manusia, yaitu burung-burung Ababil dan virus-virus yang
menyebabkan mereka sakit dan meninggal dunia.
Sungguh sangat indah firman Allah saat orang kafir mempertanyakan
argumentasi penciptaan nyamuk dan makhluk yang lebih kecil dari nya. Orang
kafir tidak mengerti kecuali pengetahuan yang bersifat empiris. Ia bisa
memprediksi, tapi tidak bisa menentukan. Ia bisa menciptakan segala kekuatan
ilmu pengetahuan dan kehebatan teknologi. Tapi ia tidak bisa menentukan status
mempertahankan hidup nya. Ia akan terkubur dengan berhala-berhala yang dikagumi
berupa ilmu pengetahuan, teknologi dan alat-alat canggih yang telah diciptakan.
Padahal semua itu kualitasnya kalah dengan sistem anatomi seekor nyamuk yang
tidak membutuhkan kabel, bateri dan sistem internet. Ia bisa terbang, bisa
menjadi pengingat bagi orang sakit atau sehat, dan bisa mendatangkan rezeki
bagi para peneliti, perusahaan, pabrik dan masyarakat. Karena nyamuk,
masyarakat bisa diangkat derajatnya menjadi milyader dan membuka lapangan
pekerjaan bagi masyarakat luas.
Walhasil dari ayat tersebut di atas, Allah sedang mengajarkan kepada
kita untuk senantiasa hidup penuh dengan ketawahdu’an. Kehebatan manusia
sebenarnya sebatas fatamorgana semata. Apapun namanya. Seorang pemimpin dunia
atau apapun namanya hanya istilah-istilah yang sedang menunjukan kelemahan-kelemahan
disebaliknya. Semakin banyak yang dipimpin berarti semakin ketergantungan
kepada yang dipimpin. Saat semua telah pergi, maka semakin terasa kesepian dan
hidup mulai terasa hampa.
Dari sini kita semakin memahami bahwa Islam mengajarkan kepada manusia
untuk melihat sesuatu berorientasi pada kesadaran karya Sang Pencipta. Seperti
apapun bentuknya, manusia harus bisa melihat dari sisi positif. Cara seperti
ini, manusia semakin tumbuh kedewasaan berfikir, bersikap dan berbuat semakin
bijak dan jauh dari kesewang-wenangan.
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
15 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   151
Ngatur Jiwa di Malam Jum’at
08 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   316
Ketika Mata Dijaga, Hati Pun AkanTerjaga
10 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   31
Jalan Bertahap Menuju Hidayah
16 Januari 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   237
Tangga Kebahagiaan
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   61
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1235
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950