Avatar

Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I

Penulis Kolom

53 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tangga Kebahagiaan



Minggu , 30 November 2025



Telah dibaca :  61

Kebahagiaan manusia itu berjenjang. Itu keyakinan ku sebagai seorang muslim. semakin tinggi jenjang kebahagiaan, semakin berat ujiannya. Itu sudah hukum kehidupan. Ketika kita menginginkan suatu kebahagiaan yang lebih besar, maka ada ujian-ujian yang lebih besar lagi. Ada orang bahagia bisa karena menikmati minum kopi berbeda rasa bahagia mendapatkan istri. Orang yang Bahagia mendapatkan gelar S1 akan berbeda rasanya setelah mendapatkan gelar S3. Dan orang yang mendapatkan jabatan sebagai ketua RT akan berbeda rasanya dengan orang yang mendapatkan jabatan sebagai seorang anggota DPRD, Bupati atau Wakil Bupati. Semakin tinggi perjuangan, semakin berkualitas nilai kebahagiaan. Meskipun rasa gembira sama, tapi kualitas nya berbeda-beda.

Laporan World Happiness Report telah merangkum ada 10 negara yang masyarakat nya mempunyai rasa hidup bahagia yaitu: Finlandia, Denmark, Islandia, Swedia, Belanda, Kosta Rika, Norwegia, Israel, Luksemburg, dan Meksiko. Indikatornya mengacu kepada: PDB Perkapita, Dukungan Sosial, Harapan Hidup Sehat, Kebebasan Dalam Mengambil Keputusan Hidup, Kedermawanan dan Tingkat Rendahnya Korupsi.

Kita boleh tidak mempercayai data-data tersebut di atas. Kita boleh saja membela diri bahwa diri kita, masyarakat kita, bahkan bangsa kita jauh lebih bahagia dari mereka. Boleh-boleh saja. Tentu saja, kita juga harus bertanya kepada diri sendiri, apakah indikator-indikator di atas mempunyai kualitas sangat baik pada diri kita?

Tentang kebahagiaan penulis menampilkan Q.S. Al-Baqarah ayat 25 sebagai berikut:

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًاۙ قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًاۗ وَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ۝٢٥

Artinya:

Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberi rezeki buah-buahan darinya, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami sebelumnya.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang disucikan. Mereka kekal di dalamnya.

Dalam Islam puncak kebahagiaan secara garis besarnya ada dua yaitu “الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا  “ dan “ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ “. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Orang beriman berarti orang yang hidup memasrahkan diri kepada Allah SWT. Sedangkan orang beramal sholeh merupakan wujud dari orang-orang yang beriman yang mempunyai karya terbaik dalam menciptakan tatanan kehidupan yang bersumber dari firman-firman Tuhan. Aplikasinya yaitu bisa memberi kebahagiaan dalam kehidupan di dunia. Jauh lagi kebahagiaan di akherat.

Kaum muslimin yang mempunyai tingkat amalun sholihun (hasil karya yang sholih) mempunyai dimensi wilayah kerja yang sangat luas. Ia tidak ada batasnya. Sebab semakin maju kehidupan semakin luas jangkauan nya dan semakin kreatis dan inovatif manusia dalam menciptakan karya untuk bisa bertahan hidup dan mewujudkan kebahagiaan. Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah. Semakin kreatif semakin memberi hasil yang mampu memberi rasa bahagia kepada masyarakatnya. Ini yang sekarang ini diharapkan oleh masyarakat terhadap pemerintah baru pasangan Prabowo-Gibran.

Ayat tersebut sangat menarik sekali untuk menjadi renungan. Dua kelompok yang akan mendapatkan kebahagiaan (orang beriman dan amal sholeh) akan mendapatkan suatu kenikmatan berupa air, buah-buahan dan pasangan hidup. Ketiga simbol tersebut ada di surga. Tapi ketiga tersebut juga merupakan simbol kebahagiaan di dunia. Air dan buah-buahan merupakan simbol kebutuhan pokok. Sehebat apapun, semakmur apapun suatu negara dalam bidang ilmu dan teknologi sebenarnya mempunyai orientasi yaitu bisa memberi kebutuhan dasar berupa air dan makanan pokok. Sebab keberlangsungan suatu peradaban sangat tergantung kepada kebutuhan pokok tersebut. ketika hilang keduanya, akan terjadi bencana kelaparan di dunia.

Selain kebutuhan pokok tersebut di atas, sumber kebahagiaan yang kekal abadi yaitu pernikahan. Bagi negara-negara yang saat ini telah berhasil mewujudkan kebahagiaan hidup dengan 6 indikator-indikator di atas belum sempurna ketika mereka belum bisa hidup dengan pasangan nya. Pasangan hidup bukan pacar, istri simpanan,  bukan pasangan sesama jenis, dan bukan juga pasangan dengan selain manusia. Pasangan hidup adalah pasangan suami-istri yang sah secara syariat Islam. melalui proses perkawinan yang benar akan mendapatkan tiga kebahagiaan: Sakinah mawadah, dan rahmah.

Pada sisi kebahagiaan pada terpenuhi kebutuhan hidup dan beberapa nilai etika sosial dan hukum, negara-negara disebut di atas mempunyai keunggulan yang kita harus mengakui nya. Kita perlu belajar kepada mereka nilai-nilai positif untuk meningkatkan kualitas hidup seperti kerja keras, tidak gampang menyerah ketika ada masalah, mempunyai semangat tinggi, disiplin, patuh terhadap aturan dan bekerja dengan administrasi baik. Pola hidup yang sangat baik untuk dicontoh.

Keterbukaan belajar menerima hal-hal positif darimana pun sebenarnya ciri khas dari orang yang sudah mempunyai maqam ‘amalun sholihun. Ia selalu melakukan perbaikan-perbaikan, evaluasi dan tindak lanjut untuk meningkatkan kualitas diri. Jadi, tidak ada alasan tidak menerima nya meskipun ia datang dari musuh kita sekalipun.

Meskipun demikian, kita juga harus tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai syariat yang agung dalam kehidupan sosial seperti: pola minum dan makan yang halal dan toyibah. Kita tidak perlu mengikuti budaya yang suka minum-minum dan makan-makan yang merusak diri dan syariat Islam. Kedua, kita juga harus tetap menjaga kelangsungan peradaban dengan tetap patuh terhadap pasangan hidup dan menjauhi dari pola hubungan yang dilarang dalam syariat Islam.

Saya pikir, jika pola hidup tersebut tetap dibangun dengan baik. Meskipun mungkin belum bisa mendapatkan indek kebahagiaan seperti negara-negara tersebut di atas, paling tidak kita sudah mulai pola hidup yang sesuai dengan naluri manusia dan syariat Islam yaitu pola makan minum, kerja dan perpasangan dengan standar Islam. pola hidup yang demikian, yang akan mendapatkan kebahagiaan pada jenjang berikutnya yaitu mendapatkan surga besok di hari kiamat.



Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
15 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   151

Ngatur Jiwa di Malam Jum’at
08 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   316

Ketika Mata Dijaga, Hati Pun AkanTerjaga
10 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   31

Jalan Bertahap Menuju Hidayah
16 Januari 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   238

Kisah Seekor Nyamuk
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   59

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950