
Rutinitas yang dilaksanakan para
sahabat-sahabat saya malam ini adalah Ngaji, (Ngatur Jiwa), pengertian Ngatur
Jiwa dalam istilah ini bukan berarti jiwa-jiwa meraka tidak teratur, melainkan
sebagai bentuk wujud kemanusiaan sering kali tidak pernah alpa dari sifat lupa
dan lalai, maka dari sifat keluputan itu kami membutuhkan setruman
iman melalui kegiatan Ngaji rutin setiap malam jum’at, jum’at pertama Ngajinya
kitab Qomi’ut Tughyan, kitab nya tipis saja, tidak terlalu tebal, kitab ini secara
umum membahas tentang akhlak, tasawuf, dan pendidikan hati sementara di Jum’at ke Tiga ngajinya kitab
Bidayatul Hidayah, yang berisi panduan dasar untuk menempuh jalan menuju kebaikan dan kedekatan diri kepada Allah. Kitab ini sangat populer di kalangan santri, karena membahas adab, ibadah, dan akhlak sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami.
Malam ini tepatnya pada malam jum’at pertama pada bulan Mei (perhitungan syamsiah), kami duduk Bersama sambil Ngaji tentang menjaga lisan dari
perkataaan yang tidak baik, memang lisan tidak bertulang namun saat Ketika kita
menggunakan lisan dan mengeluarkan kata yang tidak tepat pada tempatnya maka rasa
sikitnya bisa bisa tujuh keturunan tidak hilang. Berkaitan dengan pembahasan
menjaga lisan ini Allah Ta‘ala berfirman: ‘Tidak ada suatu kata pun yang
diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.’. Ayat
ini mengingatkan kepada kita bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut manusia
tidak pernah luput dari pengawasan Allah SWT. Segala perkataan, baik yang
lembut maupun yang menyakitkan, yang bermanfaat ataupun yang sia-sia, semuanya
akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah.
Sahabat
ku yang Budiman : Lisan adalah nikmat kecil yang sering dianggap sepele, namun
dampaknya sangat besar. Dengan lisan, seseorang dapat menenangkan hati orang
lain, mengajarkan ilmu, dan menyebarkan kebaikan. Namun dengan lisan pula,
persaudaraan dapat hancur, hati dapat terluka, bahkan dosa dapat terus mengalir
tanpa disadari. Hari ini kita hidup di zaman yang sangat mudah untuk berbicara.
Bukan hanya melalui mulut, tetapi juga melalui jari-jari di media sosial.
Banyak orang begitu mudah menulis komentar kasar, menyebarkan fitnah, menghina,
bahkan membuka aib sesama manusia. Padahal setiap tulisan juga termasuk ucapan
yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Karena
itu, Islam mengajarkan kepada kita untuk berpikir sebelum berbicara. Jangan
sampai perkataan yang hanya keluar beberapa detik justru meninggalkan
penyesalan sepanjang hidup. Orang bijak berkata: “Luka karena pedang mungkin
dapat sembuh, tetapi luka karena ucapan sering kali membekas di hati.” Ungkapan
ini sepertinya biasa-biasa saja, namun bagi mereka yang selalu mengambil hikmah
dan mendalami setiap kata, maka akan bertemu dengan butiran makna yang sangat
dalam. Maka menjaga lisan bukan berarti lemah, melainkan tanda kuatnya iman dan
tingginya akhlak seseorang. Diam dari perkataan yang tidak bermanfaat adalah
bentuk kemuliaan diri. Sebab tidak semua yang kita ketahui harus diucapkan, dan
tidak semua yang kita rasakan harus disampaikan.
Sahabat
ku yang budiman, : Mari kita jadikan lisan sebagai jalan menuju kebaikan.
Biasakan berkata jujur, lembut, dan penuh manfaat. Gunakan lisan untuk membaca
Al-Qur’an, menyampaikan ilmu, memberi semangat, dan menjaga persaudaraan. Semoga
Allah SWT menjaga lisan kita dari perkataan yang sia-sia, dusta, fitnah, dan
ucapan yang menyakiti hati orang lain. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang
mampu menjaga adab dalam berbicara sehingga hidup menjadi lebih damai, penuh
keberkahan, dan diridhai Allah SWT.
Karena
sesungguhnya lisan adalah cermin hati. Apa yang keluar dari mulut seseorang
adalah gambaran dari apa yang hidup di dalam jiwanya. Maka ketika hati dipenuhi
kebijaksanaan, lahirlah kata-kata yang menenangkan. Namun ketika hati dikuasai
amarah dan kesombongan, lidah pun menjadi tajam tanpa belas kasih. Manusia
sering merasa besar karena banyak berbicara, padahal kemuliaan tidak lahir dari
ramainya kata-kata, melainkan dari kemampuan menjaga makna di balik setiap
ucapan. Sebab tidak semua yang mampu diucapkan pantas untuk dikatakan, dan
tidak semua yang didengar harus diteruskan.
Orang
bijak memahami bahwa kata-kata ibarat benih. Jika ditanam dengan kelembutan, ia
akan tumbuh menjadi kebaikan yang meneduhkan. Namun jika ditebar dengan
kebencian, ia akan menjadi duri yang melukai banyak hati. Karena itu, menjaga
lisan sejatinya bukan hanya menjaga ucapan, tetapi juga menjaga kemanusiaan dan
kehormatan diri sendiri. Pada akhirnya, waktu akan membuat suara manusia
perlahan menghilang, tetapi makna dari perkataannya akan tetap tinggal dalam
ingatan orang lain. Maka berbicaralah seperlunya, bernilailah semampunya, dan
diamlah ketika diam lebih mampu menyelamatkan hati. Sebab kadang-kadang,
manusia tidak jatuh karena langkah kakinya, melainkan karena lidahnya sendiri.
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
15 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   151
Ketika Mata Dijaga, Hati Pun AkanTerjaga
10 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   30
Jalan Bertahap Menuju Hidayah
16 Januari 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   237
Kisah Seekor Nyamuk
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   58
Tangga Kebahagiaan
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   61
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1235
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950