Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

31 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ngatur Jiwa di Malam Jum’at



Jumat , 08 Mei 2026



Telah dibaca :  315

Rutinitas yang dilaksanakan para sahabat-sahabat saya malam ini adalah Ngaji, (Ngatur Jiwa), pengertian Ngatur Jiwa dalam istilah ini bukan berarti jiwa-jiwa meraka tidak teratur, melainkan sebagai bentuk wujud kemanusiaan sering kali tidak pernah alpa dari sifat lupa dan lalai, maka dari sifat keluputan itu  kami membutuhkan setruman iman melalui kegiatan Ngaji rutin setiap malam jum’at, jum’at pertama Ngajinya kitab Qomi’ut Tughyan, kitab nya tipis saja, tidak terlalu tebal, kitab ini secara umum membahas tentang akhlak, tasawuf, dan pendidikan hati  sementara di Jum’at ke Tiga ngajinya kitab Bidayatul Hidayah, yang berisi panduan dasar untuk menempuh jalan menuju kebaikan dan kedekatan diri kepada Allah. Kitab ini sangat populer di kalangan santri, karena membahas adab, ibadah, dan akhlak sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami. 

Malam ini tepatnya pada malam jum’at pertama pada bulan Mei (perhitungan syamsiah), kami duduk Bersama sambil Ngaji tentang menjaga lisan dari perkataaan yang tidak baik, memang lisan tidak bertulang namun saat Ketika kita menggunakan lisan dan mengeluarkan kata yang tidak tepat pada tempatnya maka rasa sikitnya bisa bisa tujuh keturunan tidak hilang. Berkaitan dengan pembahasan menjaga lisan ini Allah Ta‘ala berfirman: ‘Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.’. Ayat ini mengingatkan kepada kita bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut manusia tidak pernah luput dari pengawasan Allah SWT. Segala perkataan, baik yang lembut maupun yang menyakitkan, yang bermanfaat ataupun yang sia-sia, semuanya akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah.

Sahabat ku yang Budiman : Lisan adalah nikmat kecil yang sering dianggap sepele, namun dampaknya sangat besar. Dengan lisan, seseorang dapat menenangkan hati orang lain, mengajarkan ilmu, dan menyebarkan kebaikan. Namun dengan lisan pula, persaudaraan dapat hancur, hati dapat terluka, bahkan dosa dapat terus mengalir tanpa disadari. Hari ini kita hidup di zaman yang sangat mudah untuk berbicara. Bukan hanya melalui mulut, tetapi juga melalui jari-jari di media sosial. Banyak orang begitu mudah menulis komentar kasar, menyebarkan fitnah, menghina, bahkan membuka aib sesama manusia. Padahal setiap tulisan juga termasuk ucapan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Karena itu, Islam mengajarkan kepada kita untuk berpikir sebelum berbicara. Jangan sampai perkataan yang hanya keluar beberapa detik justru meninggalkan penyesalan sepanjang hidup. Orang bijak berkata: “Luka karena pedang mungkin dapat sembuh, tetapi luka karena ucapan sering kali membekas di hati.” Ungkapan ini sepertinya biasa-biasa saja, namun bagi mereka yang selalu mengambil hikmah dan mendalami setiap kata, maka akan bertemu dengan butiran makna yang sangat dalam. Maka menjaga lisan bukan berarti lemah, melainkan tanda kuatnya iman dan tingginya akhlak seseorang. Diam dari perkataan yang tidak bermanfaat adalah bentuk kemuliaan diri. Sebab tidak semua yang kita ketahui harus diucapkan, dan tidak semua yang kita rasakan harus disampaikan.

Sahabat ku yang budiman, : Mari kita jadikan lisan sebagai jalan menuju kebaikan. Biasakan berkata jujur, lembut, dan penuh manfaat. Gunakan lisan untuk membaca Al-Qur’an, menyampaikan ilmu, memberi semangat, dan menjaga persaudaraan. Semoga Allah SWT menjaga lisan kita dari perkataan yang sia-sia, dusta, fitnah, dan ucapan yang menyakiti hati orang lain. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu menjaga adab dalam berbicara sehingga hidup menjadi lebih damai, penuh keberkahan, dan diridhai Allah SWT.

Karena sesungguhnya lisan adalah cermin hati. Apa yang keluar dari mulut seseorang adalah gambaran dari apa yang hidup di dalam jiwanya. Maka ketika hati dipenuhi kebijaksanaan, lahirlah kata-kata yang menenangkan. Namun ketika hati dikuasai amarah dan kesombongan, lidah pun menjadi tajam tanpa belas kasih. Manusia sering merasa besar karena banyak berbicara, padahal kemuliaan tidak lahir dari ramainya kata-kata, melainkan dari kemampuan menjaga makna di balik setiap ucapan. Sebab tidak semua yang mampu diucapkan pantas untuk dikatakan, dan tidak semua yang didengar harus diteruskan.

Orang bijak memahami bahwa kata-kata ibarat benih. Jika ditanam dengan kelembutan, ia akan tumbuh menjadi kebaikan yang meneduhkan. Namun jika ditebar dengan kebencian, ia akan menjadi duri yang melukai banyak hati. Karena itu, menjaga lisan sejatinya bukan hanya menjaga ucapan, tetapi juga menjaga kemanusiaan dan kehormatan diri sendiri. Pada akhirnya, waktu akan membuat suara manusia perlahan menghilang, tetapi makna dari perkataannya akan tetap tinggal dalam ingatan orang lain. Maka berbicaralah seperlunya, bernilailah semampunya, dan diamlah ketika diam lebih mampu menyelamatkan hati. Sebab kadang-kadang, manusia tidak jatuh karena langkah kakinya, melainkan karena lidahnya sendiri.

 

 



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
15 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   151

Ketika Mata Dijaga, Hati Pun AkanTerjaga
10 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   30

Jalan Bertahap Menuju Hidayah
16 Januari 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   237

Kisah Seekor Nyamuk
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   58

Tangga Kebahagiaan
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   61

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950