
Mata adalah pintu awal untuk kita
megenal Sesuatu, akan tetapi tidaklah menjadi satu-satunya pintu awal untuk
kita menegenal sesuatu,terkadang kita bisa mengenal sesuatu melalui suara,
sentuhan aroma dan lain sebagainya, pagi ini seperti biasa rutinitas mengantar
anak sekolah adalah jatah saya, semenjak jam mengajar dimadrasah berubah
menjadi siang, sebelum pulang kerumah saya sempatkan waktu untuk mampir
dipasar, belanja kebutuhan primer istri dirumah, aya membeli kangkong tiga
ikat, tempe tiga keping, dan wortel tiga butir, sebagai pelengkap nya lauk nya
saya membeli ikan nila tiga ekor, dan ikan kelampai tiga potong, insya allah
cukup untuk kebutuhan tiga hari.
Disela-sela pasar saya melihat
ada pedagang sayur yang masih relatif muda berkisar usia 25 an tahun, itu
artinya 13 tahun lebih muda disbanding usia ku saat ini, dia berteriak
memanggil saya untuk mampir dan membeli sayuran yang dijual, saya tidak mau
mengecewakanya dan sayapun membeli nya, saya membeli beberapa ikat daun bawang
dan cabai merah yang masih segar. Tangannya cekatan membungkus belanjaan,
sementara suaranya terdengar lembut, tidak seperti teriakan pedagang lain yang
riuh bersahut-sahutan di pasar pagi itu.
“Terima kasih, Bang… semoga
berkah rezekinya,” ucapnya sambil tersenyum.
Saya mengangguk pelan. Entah
kenapa, dari sekian banyak wajah di pasar itu, justru suaranya yang lebih dulu
melekat di ingatan. Bukan hanya karena muda atau rupanya, tapi ada ketenangan
yang terasa seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan hidupnya. Dan
keyakinanya terpancar akan rezeki dari sang maha pencipta tidak akan pernah
tertukar, walapun hampir disepanjang jalan ada jualan sayuran ng sama tapi,
yakinlah rezeki itu bisa di copy tapi tidak bisa di paste.
Hari-hari berikutnya, tanpa
sengaja langkah saya selalu melewati lapaknya. Kadang saya hanya membeli
sedikit, sekadar alasan untuk mendengar sapanya.
“Masak apa hari ini, Bang?”
tanyanya suatu pagi.
“Sederhana saja… yang penting
anak-anak di rumah suka,” jawab saya.
Ia tersenyum lagi, namun ia
membalas jawaban saya dengan tenang. “Yang sederhana itu justru yang paling
lama dikenang, Bang.”
Kalimat itu ringan, tapi entah
kenapa terasa dalam. Sejak saat itu, saya mulai melihatnya bukan sekadar
pedagang sayur. Ia seperti membawa pesan-pesan kecil kehidupan yang sering
luput untuk saya sadari. Pagi itu, saat saya melangkah pulang membawa
belanjaan, hati saya terasa hangat. Saya sadar, pertemuan kami bukan tentang
rasa yang harus dimiliki, tapi tentang rasa yang harus dijaga yaitu rasa
syukur, rasa cukup, dan rasa menghargai yang sederhana.
Sesampainya di rumah, saya
melihat istri menyambut dengan senyum yang sama tulusnya. Anak-anak berlarian
kecil menyambut saya. Dan pagi itu, saya belajar—bahwa mengenal seseorang tidak
selalu harus melalui mata, tapi bisa juga melalui keikhlasan yang ia pancarkan…
dan ketulusan yang diam-diam menguatkan hati kita. Begitulah kadang mata ini
sering kali menjadi pintu dosa yang pertama kali menghampiri, ternnyata benar
menjaga mata berarti kita menjaga diri dari perbuatan-berbuatan yang akan
mendatangkan dosa, namun jika mata ini mampu kita jaga insyallah kita akan
terjaga dari perbuatan dosa dan maksiat terutama kepada lawan jenis yang bukan
mahram.
Didalam kitab bidayatul hidayah
bahwa menjaga mata merupakan salah satu bentuk adab penting dalam menempuh
jalan menuju kedekatan kepada Allah. Mata tidak hanya berfungsi sebagai alat
melihat, dan pintu dosa melainkan kita harus mampu membalikan pintu masuk yang
sangat berpengaruh terhadap kebersihan hati. Karena itu, Abu Hamid al-Ghazali
menekankan agar seseorang berhati-hati dalam memandang sesuatu, menjauhi
hal-hal yang diharamkan, serta menggunakan pandangan untuk perkara yang membawa
manfaat. Menjaga pandangan menjadi langkah awal dalam menjaga hati, karena apa
yang dilihat sering kali meninggalkan bekas dalam jiwa dan memengaruhi perilaku
seseorang. Ada ungkapan menarik didalam kitab tersebut
فإنما خلقت لك لتهتدي بها في الظلمات،
وتستعين بها في الحاجات، وتنظر بها إلى عجائب ملكوت الأرض والسموات
Kalimat tersebut menjelaskan
bahwa mata adalah nikmat besar dari Allah yang memiliki tujuan penting dalam
kehidupan manusia.
Pertama, mata diciptakan
agar manusia dapat mendapat petunjuk dalam kegelapan. Ini bukan hanya berarti
melihat saat gelap secara fisik, tetapi juga sebagai simbol bahwa dengan
penglihatan, manusia bisa menemukan arah hidup, membedakan yang benar dan yang
salah.
Kedua, mata berfungsi
untuk menolong dalam berbagai kebutuhan hidup. Dengan melihat, manusia dapat
bekerja, belajar, beraktivitas, dan memenuhi keperluan sehari-hari dengan lebih
mudah dan tepat.
Ketiga, mata memungkinkan
manusia untuk menyaksikan keajaiban ciptaan Allah di bumi dan langit. Dari
pemandangan alam, langit, tumbuhan, hingga kehidupan di sekitar, semua itu
menjadi tanda kebesaran-Nya yang bisa dilihat langsung oleh mata.
Dalam penjelasan selanjutnya, Abu Hamid al-Ghazali mengajarkan bahwa menjaga mata bukan hanya perkara meninggalkan pandangan yang haram, tetapi juga latihan adab bagi hati agar tidak mudah condong kepada perkara yang melalaikan. Sebab, dari pandangan itulah sering muncul lintasan dalam hati, kemudian tumbuh menjadi keinginan, lalu mendorong seseorang kepada perbuatan yang tidak diridhai Allah. Karena itu, kita selalu diajarkan untuk membiasakan pandangan yang terjaga, sederhana dalam melihat, serta tidak berlebihan memandang sesuatu yang tidak bermanfaat. Mata yang dijaga akan membantu hati tetap bersih, pikiran lebih tenang, dan ibadah lebih khusyuk. Dalam kehidupan sehari-hari, adab ini sangat penting, karena menjaga pandangan termasuk bagian dari mujahadah kecil yang terus dilatih dalam perjalanan untuk menata hati.
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
15 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   151
Ngatur Jiwa di Malam Jum’at
08 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   316
Jalan Bertahap Menuju Hidayah
16 Januari 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   237
Kisah Seekor Nyamuk
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   58
Tangga Kebahagiaan
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   61
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1235
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950