Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

31 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Mata Dijaga, Hati Pun AkanTerjaga



Jumat , 10 April 2026



Telah dibaca :  30

Mata adalah pintu awal untuk kita megenal Sesuatu, akan tetapi tidaklah menjadi satu-satunya pintu awal untuk kita menegenal sesuatu,terkadang kita bisa mengenal sesuatu melalui suara, sentuhan aroma dan lain sebagainya, pagi ini seperti biasa rutinitas mengantar anak sekolah adalah jatah saya, semenjak jam mengajar dimadrasah berubah menjadi siang, sebelum pulang kerumah saya sempatkan waktu untuk mampir dipasar, belanja kebutuhan primer istri dirumah, aya membeli kangkong tiga ikat, tempe tiga keping, dan wortel tiga butir, sebagai pelengkap nya lauk nya saya membeli ikan nila tiga ekor, dan ikan kelampai tiga potong, insya allah cukup untuk kebutuhan tiga hari.

Disela-sela pasar saya melihat ada pedagang sayur yang masih relatif muda berkisar usia 25 an tahun, itu artinya 13 tahun lebih muda disbanding usia ku saat ini, dia berteriak memanggil saya untuk mampir dan membeli sayuran yang dijual, saya tidak mau mengecewakanya dan sayapun membeli nya, saya membeli beberapa ikat daun bawang dan cabai merah yang masih segar. Tangannya cekatan membungkus belanjaan, sementara suaranya terdengar lembut, tidak seperti teriakan pedagang lain yang riuh bersahut-sahutan di pasar pagi itu.

“Terima kasih, Bang… semoga berkah rezekinya,” ucapnya sambil tersenyum.

Saya mengangguk pelan. Entah kenapa, dari sekian banyak wajah di pasar itu, justru suaranya yang lebih dulu melekat di ingatan. Bukan hanya karena muda atau rupanya, tapi ada ketenangan yang terasa seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan hidupnya. Dan keyakinanya terpancar akan rezeki dari sang maha pencipta tidak akan pernah tertukar, walapun hampir disepanjang jalan ada jualan sayuran ng sama tapi, yakinlah rezeki itu bisa di copy tapi tidak bisa di paste.

Hari-hari berikutnya, tanpa sengaja langkah saya selalu melewati lapaknya. Kadang saya hanya membeli sedikit, sekadar alasan untuk mendengar sapanya.

“Masak apa hari ini, Bang?” tanyanya suatu pagi.

“Sederhana saja… yang penting anak-anak di rumah suka,” jawab saya.

Ia tersenyum lagi, namun ia membalas jawaban saya dengan tenang. “Yang sederhana itu justru yang paling lama dikenang, Bang.”

Kalimat itu ringan, tapi entah kenapa terasa dalam. Sejak saat itu, saya mulai melihatnya bukan sekadar pedagang sayur. Ia seperti membawa pesan-pesan kecil kehidupan yang sering luput untuk saya sadari. Pagi itu, saat saya melangkah pulang membawa belanjaan, hati saya terasa hangat. Saya sadar, pertemuan kami bukan tentang rasa yang harus dimiliki, tapi tentang rasa yang harus dijaga yaitu rasa syukur, rasa cukup, dan rasa menghargai yang sederhana.

Sesampainya di rumah, saya melihat istri menyambut dengan senyum yang sama tulusnya. Anak-anak berlarian kecil menyambut saya. Dan pagi itu, saya belajar—bahwa mengenal seseorang tidak selalu harus melalui mata, tapi bisa juga melalui keikhlasan yang ia pancarkan… dan ketulusan yang diam-diam menguatkan hati kita. Begitulah kadang mata ini sering kali menjadi pintu dosa yang pertama kali menghampiri, ternnyata benar menjaga mata berarti kita menjaga diri dari perbuatan-berbuatan yang akan mendatangkan dosa, namun jika mata ini mampu kita jaga insyallah kita akan terjaga dari perbuatan dosa dan maksiat terutama kepada lawan jenis yang bukan mahram.

Didalam kitab bidayatul hidayah bahwa menjaga mata merupakan salah satu bentuk adab penting dalam menempuh jalan menuju kedekatan kepada Allah. Mata tidak hanya berfungsi sebagai alat melihat, dan pintu dosa melainkan kita harus mampu membalikan pintu masuk yang sangat berpengaruh terhadap kebersihan hati. Karena itu, Abu Hamid al-Ghazali menekankan agar seseorang berhati-hati dalam memandang sesuatu, menjauhi hal-hal yang diharamkan, serta menggunakan pandangan untuk perkara yang membawa manfaat. Menjaga pandangan menjadi langkah awal dalam menjaga hati, karena apa yang dilihat sering kali meninggalkan bekas dalam jiwa dan memengaruhi perilaku seseorang. Ada ungkapan menarik didalam kitab tersebut

فإنما خلقت لك لتهتدي بها في الظلمات، وتستعين بها في الحاجات، وتنظر بها إلى عجائب ملكوت الأرض والسموات

Kalimat tersebut menjelaskan bahwa mata adalah nikmat besar dari Allah yang memiliki tujuan penting dalam kehidupan manusia.

Pertama, mata diciptakan agar manusia dapat mendapat petunjuk dalam kegelapan. Ini bukan hanya berarti melihat saat gelap secara fisik, tetapi juga sebagai simbol bahwa dengan penglihatan, manusia bisa menemukan arah hidup, membedakan yang benar dan yang salah.

Kedua, mata berfungsi untuk menolong dalam berbagai kebutuhan hidup. Dengan melihat, manusia dapat bekerja, belajar, beraktivitas, dan memenuhi keperluan sehari-hari dengan lebih mudah dan tepat.

Ketiga, mata memungkinkan manusia untuk menyaksikan keajaiban ciptaan Allah di bumi dan langit. Dari pemandangan alam, langit, tumbuhan, hingga kehidupan di sekitar, semua itu menjadi tanda kebesaran-Nya yang bisa dilihat langsung oleh mata.

Dalam penjelasan selanjutnya, Abu Hamid al-Ghazali mengajarkan bahwa menjaga mata bukan hanya perkara meninggalkan pandangan yang haram, tetapi juga latihan adab bagi hati agar tidak mudah condong kepada perkara yang melalaikan. Sebab, dari pandangan itulah sering muncul lintasan dalam hati, kemudian tumbuh menjadi keinginan, lalu mendorong seseorang kepada perbuatan yang tidak diridhai Allah. Karena itu, kita selalu diajarkan untuk membiasakan pandangan yang terjaga, sederhana dalam melihat, serta tidak berlebihan memandang sesuatu yang tidak bermanfaat. Mata yang dijaga akan membantu hati tetap bersih, pikiran lebih tenang, dan ibadah lebih khusyuk. Dalam kehidupan sehari-hari, adab ini sangat penting, karena menjaga pandangan termasuk bagian dari mujahadah kecil yang terus dilatih dalam perjalanan untuk menata hati.



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
15 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   151

Ngatur Jiwa di Malam Jum’at
08 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   316

Jalan Bertahap Menuju Hidayah
16 Januari 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   237

Kisah Seekor Nyamuk
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   58

Tangga Kebahagiaan
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   61

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950