
Mari kita mengaji dan mengkaji beberapa
ayat Q.S. Al-Baqarah ayat 13 sebagai berikut:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا كَمَآ اٰمَنَ النَّاسُ قَالُوْٓا
اَنُؤْمِنُ كَمَآ اٰمَنَ السُّفَهَاۤءُۗ اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاۤءُ
وَلٰكِنْ لَّا يَعْلَمُوْنَ ١٣
Artinya:
Apabila dikatakan kepada mereka,
“Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman,” mereka menjawab,
“Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang picik akalnya itu beriman?”
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang picik akalnya, tetapi
mereka tidak tahu.
Prof. Hamka menjelaskan maksud ayat
tersebut terhadap perilaku orang-orang munafik yang sok paling pintar. Ketika
mereka mengakui kehebatan nabi, maka merasa derajat mereka menjadi rendah.
Salah satu tokoh penggerak kebencian pada nabi dan agama islam yaitu pemuka
yahudi yang bernama Abdullah bin Ubay
Perilaku tersebut di atas sudah sering
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian orang-orang yang tidak beriman
kepada Allah sering mentertawakan kebenaran-kebenaran firman-firman-Nya.
Beberapa waktu lalu, saya mempunyai teman
sekolah. Mereka membuat grup WA alumni. Walhasil,sebagian dari teman-temanya
sudah tidak mempercayai Allah dan rasul-Nya. Pendek kata, ia telah keluar dari Islam.
Ia juga tidak mempercayai seluruh agama. Ia telah menjadi Ateis atau orang yang
tidak beragama. Hanya saja, mereka hidup di Indonesia, KTP tetap masih ada
status agama yang dulu mereka anut. Itu sebenarnya sudah ada pada dirinya sifat
munafik. KTP Islam, perilaku menentang ajaran Islam. ia tidak berani
terang-terangan sebagai aties di depan publik, tapi saat berdebat dengan
teman-temannya, ia menunjukan karakter aslinya.
Para penganut Ateis mualaf tersebut sangat
keras mengkritik ritual Islam seperti sholat, sedekah, puasa, dan haji. Menurut
mereka, semua ritual tersebut telah menyengsarakan umat Islam itu sendiri.
Mereka yang sejak kecil pernah menjadi seorang muslim dan selalu berdoa kepada
Allah ternyata tetap juga miskin, bodoh dan terbelakang. Mereka merasa bahwa
sholat dan doa yang setiap waktu dipanjatkan untuk memperbaiki kehidupannya
ternyata tidak membawa hasil. Akhirnya mereka mengambil jalan pintas. Ritual
ibadah ditinggalkan. Dan secara tegas mereka menolak kebenaran-kebenaran yang
dianggap hanya sebatas dogmatis belaka. Kini melalui paham ateisnya mereka
merasa lebih merasa hebat dan mengenal tujuan hidup yang sebenarnya.
Gejala di atas hanya sampel kecil.
Pemikiran di atas merupakan fenomena kelompok-kelompok yang frustasi terhadap
kehadiran agama, penguasa yang korup dan tokoh-tokoh agama yang terlihat
hedonisme yang dianggap perilaku materialisme. Dengan mendompleng modernitas
dan pandangan rasionalitas, maka mereka mengambil kesimpulan tentang kekuatan
diri bisa melakukan segala keinginan dengan membebaskan diri dari ajaran agama
Munculnya gelombang ateisme dibarat akibat
adanya kebingungan penganut agama Kristen tentang konsep ketuhanan. Karena
Amstrong mengatakan tuhan adalah abstrak dan penjelasan-penjelasan yang ada
membosankan. Ini beradampak pada sikap skeptisisme yaitu suatu paham memandang
sesuatu dengan ketidakpastian atau keraguan seseorang terhadap sesuatu yang
belum jelas kebenarannya
Secara pribadi, sikap tersebut sangat
disayangkan. Namun persoalan keyakinan beragama merupakan hak masing-masing
individu. Tidak ada paksaan dalam beragama. Fenomena tersebut juga merupakan
bahan interopeksi diri bahwa sebagian manusia memahami agama masih sebatas pada
kebetuhan-kebutuhan yang bersifat rasional. Orang-orang yang berpandangan
seperti ini akan mudah menjadikan agama sebatas sebagai topeng untuk
kepentingan yang lebih bersifat pragmatis.
Di era paham rasionalisme tumbuh di
tengah-tengah masyarakat, agama sangat diperlukan untuk membantu menyelesaikan
berbagai persoalan yang bersifat empiris. Ajaran Islam sebagai ajaran yang
sangat agung dan mengajarkan tentang kehidupan sosial harus berperan
menterjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sarana untuk menciptakan keadilan, good
and clien government, dan mampu mengentaskan kemiskinan serta
melindungi hak-hak minoritas sebagaimana yang pernah dilakukan pada masa Nabi
Muhammad SAW.
Sedih jika masyarakat kehilangan suri
tauladan tentang pola hidup bermasyarakat dan bernegara model nabi yang sangat
egaliter. Pasca meninggalnya, kesukuan pelan-pelan tapi pasti tumbuh kembali.
Puncaknya pasca khulafaurrasidin garis keturunan menjadi prioritas menguasai
negara.
Kini saat negara sudah menganut demokrasi
yang mempunyai arti kontrol masyarakat terbuka dengan lebar ternyata hanya
masih sebatas slogan. Persoalan ketimpangan persoalan fasilitas hidup,
kesejahteraan, akses pendidikan, dan kesetaraan hak dan kewajiban mendapatkan
kehormatan, kedudukan, pangkat,jabatan dan sejenisnya masih belum lepas dari
unsur-unsur feodalisme. Keadilan belum benar-benar hadir di tengah-tengah
masyarakat. Itu juga bisa menjadi alasan, sebagian penganut agama [apapun jenis
agamanya] mulai merasa agama bukan sebagai solving problem. Malah terkadang
menimbulkan problem.
Walhasil terlepas kita tidak menyukai sifat
munafik dari kaum ateis di atas, kita juga harus mengurangi sifat-sifat
kemunafikan kita sendiri yang sering memberikan ceramah-ceramah di
mimbar-mimbar tentang keadilan, kesejahteraan, ketulusan, keikhlasan dan berani
berkorban untuk kepentingan umat Islam, bangsa dan negara. Tapi masih sebatas
bicara semata. Kiranya sudah saatnya, realisasi ajaran-ajaran Islam yang
bersifat sosial sedikit demi sedikit dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab
ajaran Islam sangat sulit diterapkan justru ketika sudah berskaitan dengan
keselarasan hidup di masyarakat. Sangat berat. Buktinya, untuk mempraktekan
sabda nabi”tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah” saja masih babak
belur.
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
15 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   151
Ngatur Jiwa di Malam Jum’at
08 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   316
Ketika Mata Dijaga, Hati Pun AkanTerjaga
10 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   31
Jalan Bertahap Menuju Hidayah
16 Januari 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   238
Kisah Seekor Nyamuk
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   59
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1235
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950