
Ada masanya manusia merasa begitu jauh, bukan
dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. Hati terasa asing, doa terdengar
hampa, dan hidup berjalan tanpa arah yang jelas. Di titik itulah hati
sebenarnya sedang lelah mengembara, rindu pulang, namun belum tahu jalan Untuk Kembali,
Pulang bukan soal kembali ke tempat lama, melainkan kembali kepada kesadaran
awal, bahwa kita hanyalah hamba. Bahwa di balik segala ambisi, kecewa, dan luka
yang disimpan rapat, ada Tuhan yang tak pernah berpaling. Kita yang sering kali
tersesat oleh gemerlap dunia, lalu lupa membaca peta keheningan, kita yang
selalu berjanji dan selalu pula menginkari.
Ketika hati belajar pulang, ia mulai jujur pada
dirinya sendiri. Ia mengakui rapuh, menerima kalah, dan berhenti berpura-pura
kuat. Air mata yang dulu dianggap lemah, berubah menjadi bahasa paling tulus
untuk memanggil langit. Dalam sujud yang panjang, hati menemukan sesuatu yang
tak didapatkan di mana pun, ketenanganpun mulai dirasa, bebrapa waktu yang lalu
saya punya rencana yang sudah tersusun rapi, namun setiap rencana yang telah
disusun ada campur tangan Allah yang tidak bisa di ingkari, takdir telah punya ketentuan
yang tak mungkin dielakan.
Sore itu saat Ketika saya berada Di tepi sungai
yang mengalir tenang, kami berdiri berdampingan. Tidak ada mimbar, tidak ada
pengeras suara, tidak pula sorotan siapa pun. Hanya air yang terus bergerak,
langit yang merunduk kelabu, dan hati-hati yang sejenak berhenti dari hiruk
pikuk dunia, Mereka datang dari kesibukan masing-masing. Ada yang lelah oleh
tanggung jawab, ada yang diam-diam menyimpan beban hidup, ada pula yang sedang
belajar berdamai dengan takdir, Namun sore itu, semua perbedaan lebur. Yang
tersisa hanyalah kebersamaan dan kesadaran bahwa manusia, sejauh apa pun
melangkah, tetap membutuhkan tempat untuk pulang.
Ada pak kamarudin, sahabat saya yang tidak pernah
tua oleh usia, meski sudah tidak sebentar ia menjalani kehidupan didunia ini, tapi
semangat perjalanan hidupnya tidak pernah renta, selalu sederhana dalam
berprilaku, muda dalam bersikap membuat siapa saja merasa nyaman dan tenang Ketika
Bersama beliau, saya yakin dibalik itu semua ada masalah yang ia sembunyikan,
sebagai seorang manusia tentu tak luput dari persoalan, namun rasa Syukur telah
meleburkan semua itu
ada yang terlihat enjoy dalam keseharianya, tertawa
lepas sepanjang hari, Ia selalu tersenyum, seakan hidup tak pernah memberinya
luka. Namun di balik kegembiraannya, ada hati yang tak pernah lalai mengingat
Tuhan. Tawanya bukan pelarian, melainkan syukur yang menemukan bentuk. Di saat
bahagia, ia tidak lupa bersujud; di saat lapang, ia tetap rendah hati. Ia
mengajarkan satu pelajaran diam-diam, bahwa iman tidak selalu berwajah sendu kadang
ia hadir sebagai kegembiraan yang tahu ke mana harus kembali.namun siapa sangka
dibalik itu juga ada rasa penantian yang mengkhawatirkan, mungkin ia sedang
menanti jodoh yang tak kunjung tiba.
Kyai Ahmad, kami sering menyapanya, jika dilihat
dari wajah lebih kurang seumuran dengan pak kamarudin, saya banyak belajar dari
beliau, Ia tak pernah meninggikan suara, sebab ia tahu luka sering lahir dari
kata yang tergesa. Tutur katanya lembut, bukan karena lemah, tetapi karena
hatinya terlatih untuk memahami. Dalam setiap kalimatnya ada jeda, dalam setiap
jedanya ada kebijaksanaan. Ia memilih merangkul lewat bahasa, menenangkan lewat
kata, dan mengingatkan tanpa melukai. Dari dirinya saya belajar satu hal
penting, bahwa kelembutan adalah kekuatan yang paling sunyi, namun paling dalam
maknanya. Terimakasih telah membeikan Pelajaran penting dalam kehidupan.
Sungai yang berada dibelakang kami itu seperti
cermin waktu. Airnya mengingatkan bahwa hidup tak pernah benar-benar diam. Ia
mengalir, membawa cerita masa lalu, menyapa hari ini, lalu pergi menuju masa
depan. Begitu pula manusia, Kita sering terbawa arus, ambisi, kecewa, harap,
dan luka. Tanpa sadar, hati telah jauh melangkah dan terus menjauh dari sumber
ketenangan, Dalam kebersamaan sederhana itu, ada pelajaran yang tak terucap.
Bahwa iman tidak selalu lahir dari kesendirian yang sunyi, tetapi juga dari
tawa yang tulus bersama. Bahwa persaudaraan adalah salah satu cara Allah
menjaga hati kita agar tidak terlalu jauh tersesat.
Kami bersandar di pagar tua, seperti manusia yang
bersandar pada iman. Tidak sempurna, kadang rapuh, namun tetap menjadi penopang
agar kita tidak jatuh sepenuhnya ke dalam keputusasaan, Di sanalah hati mulai
belajar pulang pelan-pelan, tanpa paksaan, Belajar pulang bukan berarti hidup
tanpa masalah. Justru di tengah masalah itulah kita diingatkan kita tidak
sendiri. Ada saudara yang menguatkan, ada doa yang saling diselipkan, dan ada
Allah yang Maha Menyaksikan setiap langkah, bahkan yang paling sederhana.
Belajar pulang berarti berdamai dengan masa lalu.
Bukan menghapus luka, tapi memahami dan belajar dari setiapa kejadian, bahwa
setiap luka pernah menjadi jalan. Kesalahan tak lagi dipeluk dengan penyesalan
yang menyiksa, melainkan dengan taubat yang menenangkan. Di sanalah hati
belajar, bahwa Allah tidak menunggu kita dengan sempurna Dia hanya menunggu
kita kembali.
Dan saat hati
benar-benar pulang, dunia tetap sama: masalah belum tentu selesai, ujian masih
datang silih berganti. Namun ada yang berbeda cara kita memandang hidup. Beban
terasa lebih ringan, karena kini kita tidak lagi berjalan sendirian.
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
Abdul Karim
motivasi untuk sedang rapuh tuk bangkit menemukan kekuatan baru, menapak dengan lebih kuat. sangat war biasa lurr..
APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   23
Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   31
Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7
Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   22
Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1264
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1128
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954