
خَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَفْضَلُ مِنْهُمَا: الْإِيمَانُ بِاللَّهِ،
وَالنَّفْعُ لِلْمُسْلِمِينَ
Ada dua perkara yang tidak ada sesuatu pun melebihi
keunggulannya, yaitu iman kepada Allah dan memberi manfaat kepada kaum
Muslimin,
Potongan hadis diatas saya ambil dari kitab Nashoihul
ibad, sebuah kitab yang kecil dan tipis, namun memuat banyak hal, dan
nasihat-nasihat dalam kehidupan, Dalam kehidupan sehari-hari, hadis ini
mengajarkan bahwa keimanan kepada Allah tidak cukup hanya tersimpan di dalam
hati atau terlihat dalam ibadah semata, tetapi juga harus menghadirkan manfaat
bagi sesama manusia. Seseorang yang benar-benar beriman akan berusaha menjadi
pribadi yang membawa kebaikan di mana pun ia berada. Ketika melihat tetangga
kesusahan, ia ringan membantu. Ketika mendengar orang lain membutuhkan
pertolongan, ia hadir tanpa menunggu diminta. Bahkan melalui perkataan yang
lembut, sikap ramah, dan menjaga hati orang lain, semua itu menjadi bentuk
manfaat yang lahir dari keimanan.
Nilai hadis ini sangat terasa dalam pelaksanaan ibadah
qurban. Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang
membuktikan iman dan menghadirkan manfaat bagi banyak orang. Saat seseorang
berqurban, ia sedang menunjukkan ketaatan kepada Allah dengan mengorbankan
sebagian harta yang dicintainya. Namun di balik itu, daging qurban dibagikan
kepada masyarakat, fakir miskin, tetangga, dan orang-orang yang membutuhkan. Di
situlah ibadah qurban menjadi pertemuan indah antara hubungan kepada Allah dan
kepedulian kepada sesame, beberapa hari yang lalu kita umat muslim baru saja
merayakan Hari raya qurban, tentu perayaan itu tidak hanya setakat perayaan
saja, tentu juga mengajarkan kebersamaan dan kasih sayang dalam kehidupan
sosial. Ada kebahagiaan yang tumbuh ketika orang-orang yang jarang menikmati
daging dapat merasakannya bersama keluarga mereka. Senyum anak-anak, rasa
syukur kaum dhuafa, dan kebersamaan masyarakat dalam proses qurban menjadi
bukti bahwa ibadah dalam Islam selalu membawa manfaat luas bagi kehidupan
manusia.
Karena itu, makna qurban sesungguhnya bukan hanya darah dan daging hewan yang dipersembahkan, melainkan keikhlasan hati, ketakwaan kepada Allah, serta kepedulian sosial kepada sesama. Semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula keinginannya untuk memberi manfaat bagi orang lain. Itulah pesan mulia yang terkandung dalam hadis tersebut: iman yang sejati akan melahirkan kebermanfaatan dalam kehidupan. Potongan hadis diatas jika kita renungkan lebih dalam maka ada Hikmah besar yang bisa kita petik dari hadis ini, diantara hikmah nya adalah bahwa ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan hanya dilihat dari banyaknya ibadah yang ia lakukan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang ia hadirkan bagi orang lain. Iman sejati bukan sekadar keyakinan yang terucap di lisan, melainkan cahaya yang mampu menerangi kehidupan sekitar. Orang yang beriman akan selalu merasa bahwa hidupnya harus bernilai bagi sesama, sebab ia menyadari bahwa setiap kebaikan sekecil apa pun akan kembali menjadi amal di hadapan Allah.
Dalam kehidupan ini, sering kali manusia berlomba mencari
kedudukan, pujian, dan penghargaan dari manusia, padahal kemuliaan yang
sebenarnya adalah ketika kehadiran seseorang dirasakan membawa ketenangan,
pertolongan, dan kebahagiaan bagi orang lain. Ada orang yang mungkin tidak
memiliki harta berlimpah, tetapi tutur katanya menenangkan hati. Ada yang tidak
memiliki jabatan tinggi, namun tenaganya selalu hadir membantu masyarakat. Ada
pula yang sederhana kehidupannya, tetapi doanya, senyumnya, dan kepeduliannya
menjadi sebab hadirnya kebahagiaan bagi banyak orang. Semua itu adalah bentuk
manfaat yang sangat dicintai Allah, saya menuliskan artikel ini sempena akhir
tahun hijriyah, pasca hari raya idul adha, saya melihat hikmah dari peristiwa
idul adha dan ibadah qurban yang dilaksanakan oleh saudara-saudara saya
memberikan makna yang sangat penting untuk direnungi.
Ibadah qurban juga mengajarkan bahwa sesuatu yang
dicintai harus rela dilepas demi mendapatkan ridha Allah dan kebahagiaan
sesama. Dari qurban, manusia belajar tentang keikhlasan, pengorbanan, dan
kepedulian sosial. Ketika daging qurban dibagikan, sesungguhnya yang tersebar
bukan hanya makanan, tetapi juga rasa persaudaraan, kasih sayang, dan perhatian
terhadap orang-orang yang membutuhkan. Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan
tidak hanya dinikmati sendiri, melainkan dibagi agar dirasakan bersama. Karena
itu, hidup yang paling indah bukanlah hidup yang hanya memikirkan diri sendiri,
tetapi hidup yang kehadirannya dirindukan karena membawa manfaat. Sebab kelak,
yang paling dikenang manusia bukan seberapa banyak harta yang dimiliki,
melainkan seberapa banyak kebaikan yang pernah diberikan. Dan orang yang paling
mulia adalah mereka yang menjaga imannya kepada Allah sekaligus menghadirkan
manfaat bagi kehidupan sesama manusia.
Pada akhirnya, kehidupan ini hanyalah perjalanan singkat
yang akan meninggalkan jejak-jejak amal bagi setiap manusia. Harta, jabatan,
dan segala kemewahan dunia perlahan akan hilang bersama waktu, tetapi iman dan
manfaat yang diberikan kepada sesama akan tetap hidup dalam doa-doa dan
kenangan manusia. Betapa indahnya jika kehadiran kita menjadi sebab lahirnya
senyum, harapan, dan kebahagiaan bagi orang lain. Sebab sebaik-baik manusia
bukanlah mereka yang hidup untuk dirinya sendiri, melainkan mereka yang mampu
menghadirkan kebaikan bagi kehidupan di sekitarnya.
Maka, marilah menjadikan iman kepada Allah sebagai
pondasi kehidupan, lalu menghiasinya dengan kepedulian, kasih sayang, dan
semangat memberi manfaat kepada sesama. Karena dari hati yang beriman akan
lahir tangan yang ringan membantu, lisan yang menenangkan, serta jiwa yang
tulus berbagi. Dan sebagaimana ibadah qurban mengajarkan arti pengorbanan dan
kepedulian, semoga hidup kita pun menjadi qurban kebaikan yang terus memberi
manfaat bagi banyak orang, hingga kelak kembali kepada Allah dengan hati yang penuh
keikhlasan dan amal yang diridhai-Nya. خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
Persoalan Ideologi Sunni dan Syi'ah
01 Juni 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   3
Tamak dan Takut Mati
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   10
Dari Setetes Air Menuju Kehidupan
31 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   117
Yahudi dan Ketakutan akan Kematian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   4
Wajah Asli Kaum Yahudi
29 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   2
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1559
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1255
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1126
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      967
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      953