
Perdebatan Nabi Muhammad dan Kaum Yahudi
berkisar persoalan-persoalan agama. Kedua-duanya sama-sama menyampaikan
argumentasi. Hujah kaum yahudi selalu kalah. Tapi tidak merasa kalah. Kalah dan
salah tapi “ngeyel” merasa benar dan menang. Bahkan Ketika Nabi Muhammad
menggunakan data-data kebenaran Kitab Taurat, mereka tidak menerima kebenaran
tersebut. Mereka yakin dan bersumpah apa yang mereka lakukan benar dan akan
mendapatkan tempat yang mulia di sisi Tuhan, yaitu surga. Realitanya, Ketika Nabi
Muhammad menantang kebenaran tersebut mereka tidak berani dengan memberi
berbagai alasan. Ini yang dijelaskan oleh Allah pada ayat 94 sebagai berikut:
قُلْ اِنْ
كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ عِنْدَ اللّٰهِ خَالِصَةً مِّنْ دُوْنِ
النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٩٤
Artinya:
Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Jika negeri akhirat di sisi Allah khusus untukmu, bukan untuk
orang lain, mintalah kematian jika kamu orang-orang benar.”
Ayat tersebut
mengingatkan pada peperangan-peperangan terjadi pada masa nabi Muhammad saw
dengan orang kafir. Kaum yahudi selalu mencari posisi aman. Mereka bermain dua
kaki. Ketika terlihat posisi nabi dalam keadaan lemah dan diperkirakan kalah
dalam peperangan, mereka akan menampakan wajah aslinya yaitu menyerang dan
berkomplotan dengan musuh Islam.
Pada Tafsir
Al-Baghawi menjelaskan tentang sifat dari kaum yahudi, yaitu kesukaan meminta
genjatan senjata saat mereka terdesak dalam peperangan. Nabi memahaminya bahwa
mereka mempunyai tipu muslihat sangat luarbiasa. Perang adalah politik. Politik
adalah tipuan-tipuan yang tidak mengenal kebenaran. Sebab orientasi akhir dari
politik Adalah kemenangan bukan kebenaran. Itu sebabnya, Allah telah
memperingatkan kepada Nabi Muhammad tentang tipu daya mereka yang terlihat
indah dan rasional paparan alasannya tapi sebenarnya mempunyai tujuan untuk
kepentingan mereka dan berusaha sekuat tenaga agar Nabi Muhammad dan umat Islam
mengikuti keinginan mereka.
Saat ini penulis
seolah-olah merasakan tontonan permainan politik internasional. Dunia ini tidak
kurang alat kelengkapan untuk menciptakan perdamaian. Ada LBB, PBB dan
lain-lain. Lembaga-lembaga internasionanl dibuat oleh bangsa-bangsa di dunia
tujuannya menciptakan perdamaian. Ironis memang, semakin banyak lembaga
perdamaian justru semakin hari selalu saja terjadi peperangan, pembantaian dan
kejahatan kemanusiaan.
Penulis saat sekarang ini seolah-olah melihat betapa
rumitnya politik AS dan Israel-secara kuantitas masyarakat terbanyak kaum
yahudi di dunia -untuk melakukan tipu daya politik. Sikap politik mereka persis
seperti pada masa nabi, Ketika terdesak mereka melakukan negosiasi. Tapi saat
merasa kuat, mereka tidak segan-segan melakukan peperangan. Ini yang terjadi
pada masa lalu saat as menghancurkan irak dan Libya. Dua negara Islam yang
masyarakatnya sangat makmur berubah menderita dan terlantar hingga saat sekarang
ini. Pola nya sama yaitu mencari titik kelemahan kedua negara tersebut. Salah
satunya yaitu dengan menggunakan pendekatan intelejen internasional -seperti
Mossad dan CIA-untuk mengacak-ngacak dalam negeri.
Kini AS dan Israel
menekan Iran dari segala penjur mata angin. Kerusuhan dari dalam negeri telah
dilakukan. Tapi gagal. Kini kedua negara tersebut terus melakukan berbagai
strategi politik untuk menghancurkan negara para mullah tersebut.
Kelihatannya, negara Iran sudah paham pola politik negara tersebut. Selain
karena SDM dan teknologi tempur Iran sudah cukup mapan untuk mengimbangi
senjata kedua senjata tersebut. Sang pemimpin tertinggi Iran telah menutup
pintu kerjasama yang merugikannya. Lebih mati dalam peperangan daripada negara
diserahkan kepada AS dan Israel.
Ini merupakan
prinsip spiritual yang sangat kuat atas keyakinan kebenaran yang diperjuangkan
oleh Pemerintah Iran. Bagi mereka mati balasannya surga. Kelebihan ini yang
menyebabkan bangsa Iran tangguh. Kelebihan ini pula yang tidak dipunyai oleh
pasukan AS dan Israel. Meskipun keduanya kuat secara teknologi, tapi mereka
kelompok manusia yang sangat takut terhadap kematian. Itu sebabnya kedua
pemerintah tersebut selalu mencari jalan untuk menghancurkan negara iran dengan
meminjam kekuatan negara lain. Istilah orang tua dulu-nabok nyilih tangan”.
Meskipun
demikian, penulis melihat ada sisi positif yang bisa diambil dari negara-negara
tersebut baik AS, Israel maupun Iran. Kita bisa belajar dari AS dan Israel yang
sangat serius menggarap peradaban dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
sangat baik. Kita juga belajar dari Iran tentang pentingnya kekuatan tauhid
sebagai sandaran hidup. Jika dua kekuatan ini ada pada umat Islam, saya kira
peradaban Islam akan kembali bangkit seperti pada masa dulu.
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Persoalan Ideologi Sunni dan Syi'ah
01 Juni 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   3
Tamak dan Takut Mati
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   10
Dari Setetes Air Menuju Kehidupan
31 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   117
Ketika Iman Melahirkan Kepedulian
29 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   63
Wajah Asli Kaum Yahudi
29 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   2
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1559
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1255
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1126
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      967
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      953