
Pada ayat sebelumnya Allah telah
menjelaskan tentang ketakutan kaum yahudi terhadap kematian. Ayat 95 sebenarnya
jawaban dari ayat 94 tentang bukti bahwa mereka benar-benar takut akan kematian
sebagai berikut:
وَلَنْ
يَّتَمَنَّوْهُ اَبَدًا ۢ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ
بِالظّٰلِمِيْنَ ٩٥
Artinya:
Akan tetapi,
mereka tidak akan menginginkan kematian itu sama sekali karena (dosa-dosa) yang
telah dilakukan oleh tangan-tangan mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang
zalim.
Allah
memberikan alasan sebab mereka takut terhadap kematian karena mereka tamak atau
rakus terhadap kenikmatan dunia. mereka memimpikan kehidupan di dunia ini
merupakan kehidupan kekal abadi. Itu sebabnya mereka berusaha merebut seluruh
kenikmatan-kenikmatan manusia berada di tangan mereka. Sifat tamak yang akut
ini menyebabkan kerusakan-kerusakan di dunia yang bis akita lihat saat sekarang
ini.
وَلَتَجِدَنَّهُمْ
اَحْرَصَ النَّاسِ عَلٰى حَيٰوةٍۛ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْاۛ يَوَدُّ
اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍۚ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهٖ مِنَ
الْعَذَابِ اَنْ يُّعَمَّرَۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَࣖ ٩٦
Artinya:
Engkau (Nabi
Muhammad) sungguh-sungguh akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi) sebagai
manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) daripada
orang-orang musyrik. Tiap-tiap orang (dari) mereka ingin diberi umur seribu
tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Allah
Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.
Allah telah
menggambarkan ketamakan kaum yahudi justru melebihi dari orang musrik dalam hal
“hayalan” ingin hidup selama-lamanya di dunia. Meskipun orang musrik tidak
menyembah tuhan. Tapi mereka menyakini bahwa ada kekuatan yang memberikan
kebahagiaan dan penderitaan, balasan kebaikan dan keburukan setelah kehidupan
di dunia melalui dari tuhan-tuhan yang mereka sembah.
Para penyembah
berhala di dunia ini berkembang dengan beragam variasi. Di Indonesia ada
istilah dinamisme dan animisme. Keduanya menyakini ada balasan kebaikan dan
keburukan yang dilakukan oleh manusia. Keduanya juga menyakini bahwa tuhan yang
mereka sembah akan memberikan balasan-balasan amal kebaikan dan keburukan saat
di alam yang kekal abadi.
Maka kita
menemukan perdebatan nabi ibrahim dan perdebatan nabi Muhammad serta perdebatan
para nabi Adalah perdebatan tentang siapa tuhan sejati yang memberikan suatu
balasan kebaikan atas perubuatan baik dan balasan siksa atas perbuatan
kejahatan yang dilakukan manusia. Jika para nabi menganut monoteisme sedangkan
kaum musrikin menggunakan konsep politeisme.
Kaum yahudi
berangkat dari keyakinan tauhid yang dibawa oleh nabi musa membawa pemahaman
bahwa tuhan itu esa. Pada awalnya mereka menyakini hal tersebut. Keyakinan
tauhid ini dikalahkan oleh egoisme nafsu yang luarbiasa terhadap ketamakan
kenikmatan dunia. Mereka terus melawan kebenaran tauhid yang tertanam dalam
hati mereka dan menutup hati mereka terhadap keindahan dunia. Tauhid mereka
benar-benar tertutup dan tidak berkutik sama sekali. Lalu muncul rekayasa
keyakinan dalam beragama yang mengarah kepada sifat ketamakan geneologis
yaitu mengaku diri mereka sebagai anak Tuhan. Penempatan status ini selain
menyalahi konsep tauhid juga sebagai suatu upaya membangun previlige di
tengah-tengah kehidupan masyarakat global bahwa mereka berbeda dari masyaarakat
lainnya yang dianggap sebagai masyarakat dunia. Sedangkan kaum yahudi mengklaim
dirinya sebagai masyarakat langit yang statusnya sebagai keturunan Sang
Pencipta. Dari sini mereka membangun paradigma berfikir bahwa tidak mungkin
status penduduk langit bisa bersatu dengan penduduk bumi.
Paradigma
berfikir tersebut di atas merasa bahwa kaum yahudi mempunyai kekuasaan sangat
besar untuk mengatur penduduk bumi dengan sekehendak nya sebagaimana seperti
status Tuhan mempunyai kehendak yang tidak terbatas. Itu sebabnya mereka
menggunakan status tersebut untuk membuat aturan-aturan kehidupan masyarakat
internasional saat sekarang atas kehendak mereka. Semua harus tunduk dan patuh
terhadap aturan yang dibuat mereka. Sedangkan mereka sendiri sekehendaknya
melanggar aturan-aturan yang telah disepakati bersama.
Dari sini
penulis bisa memahami bahwa kaum yahudi telah melakukan berbagai rekayasa agama
sedemikian rupa sebagai wujud dari sifat sekarang akut yang tertanam dalam
hatinya. Tidak semua kaum yahudi seperti itu. Tapi sebagian besar mempunyai
sifat tamak akut. Dari sifat tamak ini lah yang kemudian hari melahirkan
kerusakan di muka bumi.
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Persoalan Ideologi Sunni dan Syi'ah
01 Juni 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   3
Dari Setetes Air Menuju Kehidupan
31 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   116
Yahudi dan Ketakutan akan Kematian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   4
Ketika Iman Melahirkan Kepedulian
29 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   62
Wajah Asli Kaum Yahudi
29 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   2
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1559
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1255
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1126
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      967
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      953