Avatar

Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I

Penulis Kolom

53 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kompetisi dalam Islam



Jumat , 28 November 2025



Telah dibaca :  53

Apakah Tuhan menghadirkan Al-Qur’an hanya sebatas untuk menunjukan kebenaran semata bahwa firman tersebut berasal dari-Nya. Apakah Tuhan juga mengajarkan bahwa kebenaran tersebut harus ditunjukan kepada seluruh umat manusia tentang keagungan-Nya. Apakah kebenaran Al-Qur’an yang agung juga mampu menghadirkan keagungan nya dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan-pertanyaan yang menarik menjadi bahan renungan bersama. Dari pertanyaan tersebut ada suatu pesan bahwa pada realita hidup, umat Islam hanya sebatas melihat kebenaran ajaran Tuhan tanpa mempertimbangkan baik dan buruk ajaran itu sendiri. Ada sebagian penganut Islam yang melihat kebenaran ajaran tuhan dengan realisasi keagungan ajaran tersebut sebagai sebuah solving problem dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang sangat komplek. Jadi, agama bukan sebatas keyakinan saja. Ia harus menjadi cahaya yang menerangi kegelapan peradaban manusia.

Jika melihat dari redaksi ayat di bawah ini, penulis bisa memahami betapa keras hati kaum kafirin menolak suatu kebenaran. mereka sudah tidak mampu melakukan tandingan-tandingan karya mereka yang serupa dengan Al-Qur’an. Tapi mereka tetap ngeyel bahwa apa yang ia lakukan sebagai suatu kebenaran dan terus-menerus mempropaganda kepada manusia bahwa Islam sebagai agama yang kolot dan tidak selaras dengan perkembangan zaman. Renungkan ayat berikut ini:

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ ۝٢٤

Artinya:

Jika kamu tidak (mampu) membuat(-nya) dan (pasti) kamu tidak akan (mampu) membuat(-nya), takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.

Para mufasirin memaknai ayat tersebut sebagai ajakan atau tantangan kepada siapapun untuk menandingi Al-Qur’an. Sekaligus juga memberikan suatu penekanan apa yang mereka lakukan pasti gagal. Al-Qur’an benar-benar firman Allah, sehingga tidak ada kekuatan apapun yang bisa menandingi kehebatan Al-Qur’an (Qurthubi, 2015). Resiko dari ketidakmampuan dan ketidakpercayaan tersebut, Allah mengancam dengan adzab dari siksa Api Neraka.

Kenapa Allah memberi ancaman kepada orang-orang yang tidak beriman kepada firman-firman-Nya. Sebab ini menjadi suatu bukti apakah mereka mempunyai kejernihan hati untuk menerima kebenaran atau tidak. Jika mereka masih bisa menerima kebenaran, maka mereka akan takut terhadap ancaman tersebut. Tapi jika hati tertutup, maka mereka akan mengabaikan ancaman-ancaman tersebut. Api neraka benar-benar ada bukan sebatas dongeng belaka (Az-Zuhaili, 2013).

Jika kebenaran dan kehebatan Al-Qur’an tidak tertandingi, maka ada pekerjaan rumah bagi para pengikutnya yaitu menjelaskannya dalam kehidupan sosial yang penuh dinamika. Saat sekarang ini, kehidupan manusia berangkat dari suatu keyakinan-keyakinan yang menjadi keputusan hidup untuk memilih ini atau itu.

Sebagian kelompok manusia memilih menjadi ateisme karena ia mempunyai argumentasi yang menyakinkan bahwa paham tersebut merupakan suatu kebenaran. melalui keyakinan tersebut, mereka mewujudkan impian-impian hidup untuk menjadi manusia sukses dan unggul dari manusia lain. Keyakinan terhadap paham tersebut dan dibarengi kerja keras yang luarbiasa, mereka bisa mewujudkan impian-impian nya. Kini kita bisa melihat betapa maju sistem kehidupan mereka baik dari segi kualitasnya, teknologi, ekonomi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Melalui kekuatan-kekuatan hebat tersebut, mereka menyebarkan virus-virus paham nya melalui berbagai aspek kehidupan, bantuan-bantuan ekonomi, pendidikan dan proyek-proyek penelitian lainnya. Dari sini, mereka bisa tertawa lebar dan mengatakan dengan bangga: “Kami telah membuka mata kepada dunia, bahwa golongan kami yang benar-benar eksis, sedangkan kelompok pengikut Tuhan telah mati!!”.

Al-Qur’an yang menempatkan kaum muslimin sebagai “ya’ulu wala yu’la ‘alaihi” tentu juga berangkat dari suatu keyakinan dari kebenaran yang tidak diragukan lagi. Jika kaum eteisme mampu menciptakan suatu kebenaran atas dasar praduga-praduga semata telah mampu mewujudkan suatu kejayaan hidup di dunia. Seharusnya umat Islam harus melebihi kehebatan mereka dalam aspek kehidupan.

Al-Qur’an sebagai firman Tuhan, tidak hanya dibela dengan sikap apatis dengan mengatakan bahwa “Tuhan tidak membutuhkan bantuan”. Itu benar pada tataran kebenaran ajaran dari Tuhan yang absolut. Namun disisi lain, Islam merupakan agama dakwah. Ada tugas yang sangat besar mendakwahkan ajaran Islam bukan sebatas keyakinan dan ibadah. Jauh dari itu keyakinan dan ibadah tersebut mampu menjadi spirit dakwah sosial dan menjadi penggerak dalam menempatkan visi “ya’ulu wala yu’la ‘alaihi”, Islam paling tinggi dan tidak ada yang bisa menandingi.

Tentu sangat ironis, ajaran Islam dalam realisasi kehidupan bisa dikalahkan oleh paham-paham buatan manusia yang tidak sempurna, tetapi dalam sistem kehidupan mereka mampu mewujudkan sistem kehidupan yang sempurna. Dari sini sebenarnya, tantangan sangat besar para pembela peradaban Islam untuk mewujudkan pesan-pesan Al-Qur’an yang sangat kumplit dan sempurna. Semua sudah ada. Tapi semua serba tidak ada dalam realita kehidupan. Al-Qur’an yang agung seolah-olah hanya ditempatkan pada kotak kaca hampa udara yang akan selalu kekal selama dan bisa dibaca oleh siapa saja. Ia dilihat, ditonton, dikagumi, tapi tidak direalisasikan secara kaffah.

Jika Tuhan telah melakukan pembelaan terhadap firman-firman-Nya, sudah saatnya umat Islam juga melakukan pembelaan dengan memperbaiki berbagai sistem kehidupan sosial agar ada keseimbangan antara ajaran Islam dan realita kehidupan masyarakat muslim.

Pekerjaan rumah umat Rasulullah memang cukup komplek yang terjadi saat ini seperti kemiskinan, keterbelakangan budaya, ekonomi, dan pendidikan. Melakukan perubahan secara terus-menerus merupakan solusi terbaik untuk menjaga keluhuran konstitusi Islam dalam kehidupan sosial.

Saya menilai, kesadaran sebagian masyarakat muslim sudah mulai mengarah ke arah yang lebih baik. Salah satu gejala yang bisa dilihat yaitu gejala keterbukaan masyarakat muslim belajar pada bagian-bagian yang tertinggal ke negara-negara yang sudah lebih dulu maju. Itu yang sering disebut hikmah. Ilmu Islam yang dipinjam oleh bangsa lain.



Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
15 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   151

Ngatur Jiwa di Malam Jum’at
08 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   316

Ketika Mata Dijaga, Hati Pun AkanTerjaga
10 April 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   31

Jalan Bertahap Menuju Hidayah
16 Januari 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   238

Kisah Seekor Nyamuk
30 November 2025   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   59

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950