Makan Tengah Malam atau SAHUR
Sabtu , 21 Februari 2026
Telah dibaca :  111
Makan Tengah Malam atau Sahur? Jangan Sampai Keliru Memaknainya
Setiap datang bulan Ramadhan, suasana rumah kaum Muslimin berubah. Alarm dipasang lebih awal, dapur kembali berasap di waktu malam, dan keluarga berkumpul sebelum Subuh. Namun, masih ada yang menganggap sahur tak lebih dari sekadar “makan tengah malam”. Benarkah demikian?
Sekilas memang tampak sama, sama-sama makan di malam hari. Tetapi dalam pandangan syariat, sahur memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengisi perut sebelum fajar.
Sahur Bukan Sekadar Makan
Sahur adalah makan dan minum di akhir malam dengan niat menyiapkan diri untuk berpuasa. Ia bernilai ibadah karena mengikuti tuntunan Rasulullah SAW bersabda:
Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan. (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Keberkahan inilah yang membedakan sahur dari makan biasa. Keberkahan bisa berupa kekuatan fisik untuk beribadah, kemudahan menjalani puasa, hingga pahala karena mengikuti sunnah.
Niat yang Membedakan
Bisa saja seseorang bangun pukul 01.00 lalu makan karena lapar. Itu adalah makan tengah malam. Namun ketika seseorang bangun menjelang Subuh, makan dengan kesadaran bahwa esok ia akan berpuasa karena Allah, maka itulah sahur.
Islam sangat menekankan niat. Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Makanan yang sama, waktu yang hampir sama, tetapi nilainya bisa berbeda di sisi Allah karena niatnya berbeda.
Waktu yang Dianjurkan
Sahur dianjurkan dilakukan mendekati waktu Subuh, selama belum terbit fajar. Allah SWT berfirman:
Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.(QS. Al-Qur'an Al-Baqarah: 187)
Ayat ini menjadi dasar bahwa sahur boleh dilakukan hingga menjelang terbit fajar. Bahkan Nabi SAW menganjurkan agar sahur tidak ditinggalkan, meskipun hanya dengan sedikit makanan atau seteguk air.
Sahur adalah Syiar
Dalam hadis riwayat Muslim ibn al-Hajjaj, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sahur menjadi pembeda antara puasa umat Islam dan puasa Ahli Kitab. Ini menunjukkan bahwa sahur bukan hanya urusan perut, tetapi juga bagian dari identitas dan syiar Islam.
Karena itu, meremehkan sahur berarti mengabaikan satu sunnah yang penuh hikmah
Lebih dari Sekadar Energi
Sahur bukan hanya tentang kuat menahan lapar. Ia adalah latihan disiplin, kebersamaan keluarga, dan ketaatan pada tuntunan Nabi SAW Di waktu sahur pula doa lebih mudah dipanjatkan, istighfar lebih khusyuk diucapkan, dan hati terasa lebih dekat dengan Allah.
Jika makan tengah malam hanya memenuhi kebutuhan jasmani, maka sahur menguatkan jasmani sekaligus ruhani.
Ramadhan mengajarkan bahwa ibadah sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana. Makan yang biasa bisa berubah menjadi ibadah yang penuh pahala. Segelas air di waktu sahur bisa bernilai keberkahan.
Karena itu, mari kita hidupkan sunnah sahur dengan niat yang tulus, waktu yang tepat, dan kesadaran bahwa setiap langkah kecil di bulan Ramadhan dapat menjadi besar di sisi Allah SWT
Penulis : Khairan Efendi