
Bebrapa hari ini saya melihat banyak sekali Pelajaran
penting yang bisa diambil hikmah dari setiap kejadian yang ada disekililing
kita. Diselatpanjang yang lebih dikenal kota sagu ada tradisi yang mengusik
perhatian diberbagai wilayah di Indonesia bahkan sampai ke mancanegara, sekala
nya tidak tanggung-tanggung, pengunjung nya ada dari berbagai negara, seperti Singapura,
Vietnam, Australiya, jepang, korea bahkan dari negeri Cina juga hadir disini,
dan masih banyak negara-negara lain yang berkunjung ke selatpanjang untuk
menyaksikan dan menikmati Festival perang air (Cian
Cui).
Saya secara pribadi tidak mempermasalahkan Festival
Perang Air yang ada diselatpanjang, justru itu Adalah icon untuk mengenalkan
Daerah ke penjuru dunia, dengan adanya Festival Perang Air, perputaran Ekonomi
Masyarakat dan daerah meningkat secara drastis, tentu ini akan membawa dampak positif
dalam tatanan sosial, tidak terlepas dari itu juga pasti ada pendapat lain yang
berargumen akan timbul sisi negative, tapi itu wajar penapat natizen ini bisa diilustrasikan
seperti sebilah palu, satu sisi bisa berfungsi untuk Mengetuk, namun disisi
lain bisa jadi Mengutuk, di sisi yang berbeda juga bisa menjadi Solusi dari bebapa
permaslahan, bisa digunakan untuk mencabut paku sehingga memisahkan diantara jajaran
papan, juga bisa mengetuk paku untuk mengeratkan jajaran papan yang terpisah, ada
beberapa persoalan di Masyarakat yang timbul akibat Festival Perang Air di
Selatpanjang, tapi saya fikir hanya minoritas saja.
Saya hanya melihat dari sisi positif nya saja, tidak
berani menilai dari sisi negative, karena masing-masing persepektif pasti
menimbulkan perbedaan dan itu wajar selaku manusia, bagi saya selama itu menimbulkan
kemaslahatan untuk ummat beragama dalam keberagaman berbangsa dan bernegara
tidak lah menjadi probelmatika urgen, selama kita masih menyimpan rasa saling
pengertian dan memahami. Hari ini saya membuka album yang sudah tersimpan
bebrapa bulan lalu dalam memori Ponsel, saya melihat beberapa anak sedang duduk
bermain Bersama, bergembira, tanpa ada dinding pembatas perbedaan latar
belakang, karena dalam dunia mereka isinya hanya keasyikan bermain dan bisa
tertawa lepas tanpa beban.
Wajah-wajah kecil itu memancarkan senyum yang
tulus, tanpa sekat, tanpa prasangka. Mereka berbeda dalam penampilan, berbeda
dalam gaya, tetapi duduk berdampingan dalam kebersamaan yang indah. Pemandangan
sederhana itu seakan menjadi gambaran nyata dari firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ
ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku agar kamu saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat: 13)
Dalam keyakinan umat
muslim mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk menjauh, melainkan
jembatan untuk saling memahami. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan
keyakinan, tetapi menghormati dan hidup berdampingan dengan damai. Seperti
ketiga anak itu, mereka duduk bersama tanpa mempertanyakan latar belakang satu
sama lain. Yang ada hanyalah tawa, persahabatan, dan rasa aman, Rasulullah ﷺ
telah memberi teladan tentang indahnya toleransi. Di Madinah, beliau hidup
berdampingan dengan berbagai suku dan agama. Beliau menjaga hak-hak mereka,
melindungi mereka, dan mencontohkan akhlak yang lembut. Karena toleransi dalam
Islam lahir dari iman dan akhlak mulia.
Di kehidupan sehari-hari, toleransi bisa dimulai
dari hal kecil: menghargai teman yang berbeda, tidak mengejek kebiasaan orang
lain, serta menjaga lisan agar tidak melukai. Toleransi adalah wujud kasih
sayang, dan kasih sayang adalah inti ajaran Islam, bahakan dalam setiap agama
mengajarkan tentang kebaikan, dan kasih sayang, Anak-anak itu mungkin belum
memahami makna besar dari kebersamaan mereka. Namun senyum mereka telah
mengajarkan satu pelajaran penting, bahwa dunia akan terasa lebih damai ketika
hati dipenuhi sikap saling menghormati. Indahnya toleransi adalah ketika kita
tetap teguh pada keyakinan, namun tetap lapang dalam pergaulan. Karena
sejatinya, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, menghadirkan kedamaian, bukan
permusuhan; menumbuhkan persaudaraan, bukan perpecahan.
Dan dari kebersamaan kecil itu, kita belajar satu
hakikat besar bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan sikap hati yang
harus dilatih sejak dini. Hati yang terbiasa menghargai akan tumbuh menjadi
pribadi yang menenangkan. Sebaliknya, hati yang gemar merendahkan, menyalahkan
akan mudah memecah persaudaraan. Sikaf saling memahami akan mengajarkan kita
untuk kuat tanpa harus keras, tegas tanpa harus kasar, berbeda tanpa harus
bermusuhan. Sebab kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari seberapa banyak ia
menang dalam perdebatan, tetapi dari seberapa luas ia mampu memeluk perbedaan
dengan akhlak yang mulia.
Di zaman ketika perbedaan sering dijadikan alasan
untuk saling menyalahkan, kita justru dipanggil danbisa hadir untuk menjadi
peneduh. Menjadi pribadi yang menghadirkan damai di tengah keluarga, di
sekolah, maupun dimasyarakat. Karena setiap ucapan yang lembut adalah sedekah,
setiap sikap menghargai adalah ibadah, dan setiap upaya menjaga persatuan
adalah bagian dari jihad akhlak.
Ayo kita belajar dari dunia mereka untuk Kembali mendamaikan
hari yang keruh, menjadi lebih menyenangkan, Di bumi yang sama kita berpijak,
di langit yang sama kita menengadah. Matahari tidak pernah memilih kepada siapa
ia memberi cahaya, dan hujan tidak pernah bertanya kepada siapa ia menurunkan
rahmatnya. Begitulah seharusnya manusia belajar hidup berdampingan dengan hati
yang lapang, meski berbeda keyakinan, Hidup berdampingan dengan beda keyakinan bukan
berarti mengaburkan akidah, melainkan menguatkan akhlak. Kita tetap teguh dalam
keyakinan, namun lembut dalam pergaulan. Kita tidak mencampuradukkan ibadah,
tetapi tetap berbagi kebaikan. Kita tidak menyamakan prinsip, tetapi
menghormati hak dan martabat sesama.
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   22
Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   27
Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7
Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   18
Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   383
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1559
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1255
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1126
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      967
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      953