Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

33 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mengetuk Damai Bukan mengutuk perbedaan



Minggu , 22 Februari 2026



Telah dibaca :  387

Bebrapa hari ini saya melihat banyak sekali Pelajaran penting yang bisa diambil hikmah dari setiap kejadian yang ada disekililing kita. Diselatpanjang yang lebih dikenal kota sagu ada tradisi yang mengusik perhatian diberbagai wilayah di Indonesia bahkan sampai ke mancanegara, sekala nya tidak tanggung-tanggung, pengunjung nya ada dari berbagai negara, seperti Singapura, Vietnam, Australiya, jepang, korea bahkan dari negeri Cina juga hadir disini, dan masih banyak negara-negara lain yang berkunjung ke selatpanjang untuk menyaksikan dan menikmati Festival perang air (Cian Cui).

Saya secara pribadi tidak mempermasalahkan Festival Perang Air yang ada diselatpanjang, justru itu Adalah icon untuk mengenalkan Daerah ke penjuru dunia, dengan adanya Festival Perang Air, perputaran Ekonomi Masyarakat dan daerah meningkat secara drastis, tentu ini akan membawa dampak positif dalam tatanan sosial, tidak terlepas dari itu juga pasti ada pendapat lain yang berargumen akan timbul sisi negative, tapi itu wajar penapat natizen ini bisa diilustrasikan seperti sebilah palu, satu sisi bisa berfungsi untuk Mengetuk, namun disisi lain bisa jadi Mengutuk, di sisi yang berbeda juga bisa menjadi Solusi dari bebapa permaslahan, bisa digunakan untuk mencabut paku sehingga memisahkan diantara jajaran papan, juga bisa mengetuk paku untuk mengeratkan jajaran papan yang terpisah, ada beberapa persoalan di Masyarakat yang timbul akibat Festival Perang Air di Selatpanjang, tapi saya fikir hanya minoritas saja.

Saya hanya melihat dari sisi positif nya saja, tidak berani menilai dari sisi negative, karena masing-masing persepektif pasti menimbulkan perbedaan dan itu wajar selaku manusia, bagi saya selama itu menimbulkan kemaslahatan untuk ummat beragama dalam keberagaman berbangsa dan bernegara tidak lah menjadi probelmatika urgen, selama kita masih menyimpan rasa saling pengertian dan memahami. Hari ini saya membuka album yang sudah tersimpan bebrapa bulan lalu dalam memori Ponsel, saya melihat beberapa anak sedang duduk bermain Bersama, bergembira, tanpa ada dinding pembatas perbedaan latar belakang, karena dalam dunia mereka isinya hanya keasyikan bermain dan bisa tertawa lepas tanpa beban.

Wajah-wajah kecil itu memancarkan senyum yang tulus, tanpa sekat, tanpa prasangka. Mereka berbeda dalam penampilan, berbeda dalam gaya, tetapi duduk berdampingan dalam kebersamaan yang indah. Pemandangan sederhana itu seakan menjadi gambaran nyata dari firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat: 13)

Dalam keyakinan umat muslim mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk menjauh, melainkan jembatan untuk saling memahami. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, tetapi menghormati dan hidup berdampingan dengan damai. Seperti ketiga anak itu, mereka duduk bersama tanpa mempertanyakan latar belakang satu sama lain. Yang ada hanyalah tawa, persahabatan, dan rasa aman, Rasulullah ﷺ telah memberi teladan tentang indahnya toleransi. Di Madinah, beliau hidup berdampingan dengan berbagai suku dan agama. Beliau menjaga hak-hak mereka, melindungi mereka, dan mencontohkan akhlak yang lembut. Karena toleransi dalam Islam lahir dari iman dan akhlak mulia.

Di kehidupan sehari-hari, toleransi bisa dimulai dari hal kecil: menghargai teman yang berbeda, tidak mengejek kebiasaan orang lain, serta menjaga lisan agar tidak melukai. Toleransi adalah wujud kasih sayang, dan kasih sayang adalah inti ajaran Islam, bahakan dalam setiap agama mengajarkan tentang kebaikan, dan kasih sayang, Anak-anak itu mungkin belum memahami makna besar dari kebersamaan mereka. Namun senyum mereka telah mengajarkan satu pelajaran penting,  bahwa dunia akan terasa lebih damai ketika hati dipenuhi sikap saling menghormati. Indahnya toleransi adalah ketika kita tetap teguh pada keyakinan, namun tetap lapang dalam pergaulan. Karena sejatinya, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, menghadirkan kedamaian, bukan permusuhan; menumbuhkan persaudaraan, bukan perpecahan.

Dan dari kebersamaan kecil itu, kita belajar satu hakikat besar bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan sikap hati yang harus dilatih sejak dini. Hati yang terbiasa menghargai akan tumbuh menjadi pribadi yang menenangkan. Sebaliknya, hati yang gemar merendahkan, menyalahkan akan mudah memecah persaudaraan. Sikaf saling memahami akan mengajarkan kita untuk kuat tanpa harus keras, tegas tanpa harus kasar, berbeda tanpa harus bermusuhan. Sebab kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari seberapa banyak ia menang dalam perdebatan, tetapi dari seberapa luas ia mampu memeluk perbedaan dengan akhlak yang mulia.

Di zaman ketika perbedaan sering dijadikan alasan untuk saling menyalahkan, kita justru dipanggil danbisa hadir untuk menjadi peneduh. Menjadi pribadi yang menghadirkan damai di tengah keluarga, di sekolah, maupun dimasyarakat. Karena setiap ucapan yang lembut adalah sedekah, setiap sikap menghargai adalah ibadah, dan setiap upaya menjaga persatuan adalah bagian dari jihad akhlak.

Ayo kita belajar dari dunia mereka untuk Kembali mendamaikan hari yang keruh, menjadi lebih menyenangkan, Di bumi yang sama kita berpijak, di langit yang sama kita menengadah. Matahari tidak pernah memilih kepada siapa ia memberi cahaya, dan hujan tidak pernah bertanya kepada siapa ia menurunkan rahmatnya. Begitulah seharusnya manusia belajar hidup berdampingan dengan hati yang lapang, meski berbeda keyakinan, Hidup berdampingan dengan beda keyakinan bukan berarti mengaburkan akidah, melainkan menguatkan akhlak. Kita tetap teguh dalam keyakinan, namun lembut dalam pergaulan. Kita tidak mencampuradukkan ibadah, tetapi tetap berbagi kebaikan. Kita tidak menyamakan prinsip, tetapi menghormati hak dan martabat sesama.



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   22

Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   27

Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   7

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   18

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   383

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1559


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1126


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      967


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      953