
Standar puasa yang diperintahkan Allah
kepada seluruh umat Islam yaitu Q.S. Al-Baqarah ([2]: 183) sebagai berikut: “Wahai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa menjadi ibadah lintas
generasi. Mulai Nabi Adam sampai Nabi Muhammad puasa merupakan ibadah dhohir
dan batin sebagai jalan untuk merambah maqam muttaqin. Ia menjadi teknik
efektif untuk menundukan nafsu manusia yang selalu mengajak kepada kedurhakaan.
Melalui puasa, nafsu manusia bisa dikontrol atau paling tidak diperminim. Sebab
ibadah tersebut memperlemah sahwat duniawi baik berupa kebutuhan biologis,
maupun kesenangan-kesenangan bersifat duniawinya.
Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ([2]:187)
sebagai berikut: “Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu.
Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah
mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi dia menerima
tobatmu dan memaafkanmu”
Ayat tersebut menggambarkan watak manusia mempunyai
aktivitas yang sangat dinamis dan selalu ingin menuruti kebutuhan diri sendiri
tanpa mempertimbangkan baik dan buruk, halal dan haram, benar dan salah. Watak dinamis
atas keinginan menuruti keinginan tersebut yang kemudian menjadi pembuka jalan
bagi manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang baik secara
jasmaniah maupun secara ruhaniah.
Allah menjadikan puasa yang mempunyai
tujuan menicptakan manusia mutaqin merupakan tatanan kehidupan sosial yang
mempunyai penerapan sistem kehidupan yang bersumber dari garis-garis besar
ilahiyah. Meskipun pada dasarnya pada level operasional tidak diatur, tetapi
ketika nilai-nilai tersebut mengandung kebaikan maka sebenarnya itu juga bagian
dari pancaran syariat Islam. Sebab Syariah Islam sebenarnya seluruh regulasi
akbar kehidupan manusia dan jagat raya. Syariat islam tidak hanya mengatur
tentang kehidupan manusia, tetapi tentang kapan tumbuh biji-bijian, perkembangan
ikan di laut dan peredaran bintang dan planet pada manzilah-manzilahnya.
Manusia berbeda dengan makhluk lain. Ia
mempunyai dua keistimewaan yaitu akal dan nafsu. Ia mampu melakukan beragam
inovasi atas keinginan dan kecerdasannya. Sehingga bumi semakin terlihat maju
dan modern. Semua itu berkat dari kedua komponen tersebut.
Namun pada produksi kemajuan yang dibungkus
dengan baju modern, tersembul perilaku jahiliyah yang menjadi dasar
nafsu manusia yang selalu mengajak kepada keburukan. Watak-watak tersebut juga
perpaduan antara akal dan nafsu. Bisikan-bisikan kuat dalam hati menjadi
pendorong kuat untuk melakukan rekayasa-rekayas yang mampu menjebolkan
pertahanan dari makna puasa, seperti munculnya penyakit-penyakit hati, merasa
diri lebih baik, merasa lebih sholeh dan merasa lebih dekat dengan Allah SWT.
Akibatnya produk puasa berupa mutaqin terkontaminasi
oleh perilaku-perilaku yang menuruti hawa nafsu amarah atau nafsu syayiah. Amalan,
perbuatan, ucapan dan cara berfikir sudah dicampur dan dioplos antara ibadah
dan maksiat. Sehingga kualitas muttaqin mengalami persoalan serius. Akibatnya, manusia
tidak bisa menjalankan aktivitasnya dengan kualitas terbaiknya.
Allah telah memberi penjelasan tentang
metode menjadi mutaqin dalam puasa dan memberikan regulasi yang jelas sebagaimana
dalam Q.S. Al-Baqarah ([2]:185) sebagai berikut:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di
dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan
yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (ditempat tinggalnya
atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam
perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang
ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu
dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu
bersyukur”.
Esensi dari peraturan sebenarnya bukan
seberapa banyak penjelasan-penjelasan untuk menerangkan tentang persoalan nya
tersebut. Tetapi komitmen untuk selalu taat terhadap aturan dengan kesadaran
total pada diri sendiri menjadi jalan kualitas puasa bisa terjamin dengan baik
dan terbebas dari produk puasa oplosan yang merusak sistem kehidupan. Nabi Muhammad
telah bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan ramadhan karena iman dan
mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah
lalu”.
Standarisasi puasa sudah jelas. Ada dua
melahirkan puasa sesuai dengan fitrah manusia”iman” dan mengharapkan ridha-Nya”.
Jika dua ini masih ada pada diri orang puasa, maka masih mempunyai peluang
tatanan kehidupan atau paling tidak diri orang berpuasa terjaga dari kerusakan diri
dan sosial. Namun jika sudah tidak ada keduanya, maka lahir puasa hasil oplosan
yaitu jasmaninya puasa, tapi hati nya tidak berpuasa. Tubuh mampu menahan
lapar, tapi pikiran tidak mampu mengendalikan rencana jahat untuk merusak tatanan
kehidupan dan perbuatan telah melampaui batas-batas yang dibenarkan dalam
kehidupan bermasyarakat.
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   24
Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   33
Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   9
Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   24
Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1562
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1269
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1133
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      972
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954