Avatar

Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I

Penulis Kolom

62 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa Oplosan



Kamis , 06 Maret 2025



Telah dibaca :  294

Standar puasa yang diperintahkan Allah kepada seluruh umat Islam yaitu Q.S. Al-Baqarah ([2]: 183) sebagai berikut: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Puasa menjadi ibadah lintas generasi. Mulai Nabi Adam sampai Nabi Muhammad puasa merupakan ibadah dhohir dan batin sebagai jalan untuk merambah maqam muttaqin. Ia menjadi teknik efektif untuk menundukan nafsu manusia yang selalu mengajak kepada kedurhakaan. Melalui puasa, nafsu manusia bisa dikontrol atau paling tidak diperminim. Sebab ibadah tersebut memperlemah sahwat duniawi baik berupa kebutuhan biologis, maupun kesenangan-kesenangan bersifat duniawinya.

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ([2]:187) sebagai berikut: “Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi dia menerima tobatmu dan memaafkanmu”

Ayat tersebut menggambarkan watak manusia mempunyai aktivitas yang sangat dinamis dan selalu ingin menuruti kebutuhan diri sendiri tanpa mempertimbangkan baik dan buruk, halal dan haram, benar dan salah. Watak dinamis atas keinginan menuruti keinginan tersebut yang kemudian menjadi pembuka jalan bagi manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang baik secara jasmaniah maupun secara ruhaniah.

Allah menjadikan puasa yang mempunyai tujuan menicptakan manusia mutaqin merupakan tatanan kehidupan sosial yang mempunyai penerapan sistem kehidupan yang bersumber dari garis-garis besar ilahiyah. Meskipun pada dasarnya pada level operasional tidak diatur, tetapi ketika nilai-nilai tersebut mengandung kebaikan maka sebenarnya itu juga bagian dari pancaran syariat Islam. Sebab Syariah Islam sebenarnya seluruh regulasi akbar kehidupan manusia dan jagat raya. Syariat islam tidak hanya mengatur tentang kehidupan manusia, tetapi tentang kapan tumbuh biji-bijian, perkembangan ikan di laut dan peredaran bintang dan planet pada manzilah-manzilahnya.

Manusia berbeda dengan makhluk lain. Ia mempunyai dua keistimewaan yaitu akal dan nafsu. Ia mampu melakukan beragam inovasi atas keinginan dan kecerdasannya. Sehingga bumi semakin terlihat maju dan modern. Semua itu berkat dari kedua komponen tersebut.

Namun pada produksi kemajuan yang dibungkus dengan baju modern, tersembul perilaku jahiliyah yang menjadi dasar nafsu manusia yang selalu mengajak kepada keburukan. Watak-watak tersebut juga perpaduan antara akal dan nafsu. Bisikan-bisikan kuat dalam hati menjadi pendorong kuat untuk melakukan rekayasa-rekayas yang mampu menjebolkan pertahanan dari makna puasa, seperti munculnya penyakit-penyakit hati, merasa diri lebih baik, merasa lebih sholeh dan merasa lebih dekat dengan Allah SWT.

Akibatnya produk puasa berupa mutaqin terkontaminasi oleh perilaku-perilaku yang menuruti hawa nafsu amarah atau nafsu syayiah. Amalan, perbuatan, ucapan dan cara berfikir sudah dicampur dan dioplos antara ibadah dan maksiat. Sehingga kualitas muttaqin mengalami persoalan serius. Akibatnya, manusia tidak bisa menjalankan aktivitasnya dengan kualitas terbaiknya.

Allah telah memberi penjelasan tentang metode menjadi mutaqin dalam puasa dan memberikan regulasi yang jelas sebagaimana dalam Q.S. Al-Baqarah ([2]:185) sebagai berikut:

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (ditempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur”.

Esensi dari peraturan sebenarnya bukan seberapa banyak penjelasan-penjelasan untuk menerangkan tentang persoalan nya tersebut. Tetapi komitmen untuk selalu taat terhadap aturan dengan kesadaran total pada diri sendiri menjadi jalan kualitas puasa bisa terjamin dengan baik dan terbebas dari produk puasa oplosan yang merusak sistem kehidupan. Nabi Muhammad telah bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Standarisasi puasa sudah jelas. Ada dua melahirkan puasa sesuai dengan fitrah manusia”iman” dan mengharapkan ridha-Nya”. Jika dua ini masih ada pada diri orang puasa, maka masih mempunyai peluang tatanan kehidupan atau paling tidak diri orang berpuasa terjaga dari kerusakan diri dan sosial. Namun jika sudah tidak ada keduanya, maka lahir puasa hasil oplosan yaitu jasmaninya puasa, tapi hati nya tidak berpuasa. Tubuh mampu menahan lapar, tapi pikiran tidak mampu mengendalikan rencana jahat untuk merusak tatanan kehidupan dan perbuatan telah melampaui batas-batas yang dibenarkan dalam kehidupan bermasyarakat.



Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   24

Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   33

Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   9

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   24

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1562


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1133


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      972


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954