Avatar

Khairan Efendi

Penulis Kolom

44 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sahur: Awal Hari yang Menentukan Kualitas Puasa



Minggu , 01 Maret 2026



Telah dibaca :  450

Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Ada ketenangan yang tidak biasa, ada harapan yang terasa lebih dekat, ada keinginan untuk menjadi lebih baik. Namun semua itu sering kali bermula dari satu momen yang sunyi sahur.

Di saat sebagian besar manusia masih terlelap, seorang hamba terbangun oleh bunyi alarm yang pelan. Mata terasa berat, tubuh masih ingin beristirahat. Tetapi ada dorongan lain yang lebih kuat: dorongan untuk memenuhi panggilan ibadah. Di titik itulah kualitas puasa mulai dibentuk.

Sahur bukan sekadar makan sebelum fajar. Ia adalah latihan kejujuran. Tidak ada yang memaksa kita bangun. Tidak ada yang mengawasi apakah kita benar-benar bersahur atau tidak. Semua kembali pada kesadaran pribadi. Ketika seseorang bangun untuk sahur, ia sedang berkata dalam diam, “Ya Allah, aku ingin menjalani puasa ini dengan sungguh-sungguh.” Rasulullah SAW bersabda: “Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan.”(HR. Muhammad)

Keberkahan itu sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Ia bukan selalu tentang kenyang yang bertahan lama. Ia bukan pula tentang menu yang lengkap di atas meja. Keberkahan adalah ketenangan hati saat menjalani hari. Adalah kesabaran yang tiba-tiba hadir ketika emosi mulai naik. Adalah kekuatan untuk tetap tersenyum meski lelah.

Banyak orang mengira beratnya puasa hanya terletak pada rasa lapar dan haus. Padahal yang lebih sulit adalah menjaga hati dan lisan. Menahan amarah ketika diuji. Menahan komentar ketika tergoda untuk membalas. Di sinilah sahur berperan besar. Jika hari dimulai dengan kesadaran, dengan doa, dengan istighfar, maka hati lebih siap menghadapi ujian.

Allah menggambarkan hamba-hamba-Nya yang saleh dengan kalimat yang begitu lembut: “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Al-Qur'an Adz-Dzariyat: 18)

Ayat ini seakan mengajarkan bahwa sahur adalah waktu pembersihan jiwa. Di antara suapan dan tegukan, ada ruang untuk menundukkan kepala. Ada kesempatan untuk berkata, “Ya Allah, aku banyak salah.” Mungkin selama ini kita terlalu sibuk di siang hari untuk benar-benar merenung. Sahur memberi kita waktu yang jujur untuk bercermin.

Cobalah sesekali setelah sahur tidak langsung beranjak tidur. Duduklah beberapa menit. Rasakan sunyi yang menenangkan itu. Dunia seperti berhenti sejenak. Tidak ada kebisingan kendaraan, tidak ada hiruk-pikuk pekerjaan. Hanya ada kita dan Allah. Di momen itulah, doa terasa lebih dalam. Hati terasa lebih lembut.

Sahur juga mengajarkan kesederhanaan. Tidak semua orang memiliki hidangan lengkap. Ada yang sahurnya hanya dengan nasi dan garam. Ada yang hanya minum air. Namun Islam tidak menilai dari mewahnya makanan. Bahkan dengan seteguk air pun, seseorang telah menghidupkan sunnah dan meraih keberkahan.

Justru dari kesederhanaan itu tumbuh rasa syukur. Kita belajar bahwa yang membuat kuat bukan banyaknya makanan, tetapi izin Allah. Yang membuat hati tenang bukan kenyang, tetapi kedekatan dengan-Nya.

Di zaman yang serba cepat ini, malam sering habis untuk hal-hal yang tidak penting. Layar ponsel menyala hingga larut. Waktu tidur berkurang. Tanpa terasa, kita bangun dalam keadaan lelah dan tergesa. Sahur mengajak kita mengubah pola itu. Tidur lebih awal agar bangun lebih segar. Mengurangi yang tidak perlu agar ada ruang untuk yang bermakna.

Kualitas puasa sangat ditentukan oleh bagaimana kita memulai hari. Jika sahur dilakukan dengan tergesa, tanpa niat yang jelas, tanpa doa, maka puasa terasa hanya sebagai rutinitas tahunan. Tetapi jika sahur diisi dengan kesadaran dan sentuhan batin, maka puasa menjadi perjalanan yang hidup.

Sahur juga menyimpan kehangatan keluarga. Ada suara ibu yang membangunkan dengan lembut. Ada ayah yang memastikan semua sudah makan. Ada anak-anak yang masih menguap sambil duduk di meja makan. Momen itu mungkin terasa biasa sekarang, tetapi suatu hari bisa menjadi kenangan yang sangat dirindukan.

Di balik semua kesederhanaannya, sahur adalah titik awal perubahan. Ia melatih kita bangun lebih awal, mengatur waktu, dan mendahulukan ibadah. Kebiasaan kecil ini, jika dilakukan terus-menerus, membentuk karakter yang kuat. Orang yang terbiasa bangun sebelum fajar akan lebih terlatih menundukkan hawa nafsunya.

Maka ketika alarm sahur berbunyi, jangan anggap itu gangguan. Anggaplah itu undangan. Undangan untuk membersihkan hati sebelum menjalani hari. Undangan untuk memulai puasa dengan niat yang lebih lurus. Undangan untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Karena bisa jadi, kualitas Ramadhan kita tahun ini tidak diukur dari seberapa banyak kita berbicara tentang kebaikan, tetapi dari seberapa sungguh kita memulai hari dalam keheningan sahur.

Dari meja yang sederhana.
Dari doa yang lirih.
Dari hati yang ingin berubah.
Di situlah puasa menemukan maknanya.

Semoga puasa di tahun ini benar-benar mendapatkan predikat TAKWA dari Allah SWT sebagaimana diakhir ayat pada QS Al Baqarah 183

Selamat menjalankan ibadah Puasa Romadhan 1447 H



Penulis : Khairan Efendi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   24

Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   32

Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   9

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   24

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1133


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954