
Sumbangsih Santri Untuk Negeri
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ،
وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا
الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ
سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و
سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ
وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا
الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ
مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا
اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Saudara-Saudara ku Jama’ah Sholat Jum’at yang
Dimulyakan oleh Allah SWT,
Pertama-tama, marilah kita senantiasa
mensyukuri atas segala kenikmatan yang telah dianugrahkan oleh Allah kepada
kita dengan cara meningkatkan takwa kita kepada-Nya.
Kedua, sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga besarnya, sahabat-sahabatnya, para
tabi’in, tabi’in tabi’in, para ulama hingga kepada umat-umatnya. Semoga kita
mendapatkan syafaatnya. Amin.
Para Jama’ah Jum’at Yang Dimulyakan oleh
Allah SWT,
Dalam lintasan sejarah, pesantren telah
menjadi garda terdepan dalam menyebarkan agama Islam ketika Nusantara masih
mayoritas beragama Hindu dan Budha. Para ulama mendirikan pesantren dan
berdakwah di tengah-tengah masyarakat penuh dengan kekeluargaan, toleransi, dan
saling menghormati dan saling memulyakan satu dengan lainnya. Sehingga hubungan
antara penganut beragama yang berbeda terjalin sangat baik, harmonis dan tercipta
kerukunan bergama sangat kuat di tengah-tengah masyarakat.
Ketika Indonesia dijajah oleh imperialisme Belanda
dan Jepang, pesantren juga menjadi garda terdepan mengobarkan jihad fi
sabilillah. Ribuan ulama dan ratusan ribu santri meninggal dunia mati sahid
karena memperjuangkan kemerdekaan dan sekaligus juga mempertahankan kemerdekaan
NKRI dalam peristiwa resolusi jihad yang dikobarkan oleh Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari
Pendiri Nahdlatul Ulama.
Dari secuil sejarah tersebut, ulama dan
santri mempunyai peran yang sangat besar sekali melahirkan adanya Negara
Kesatuan Republik Indonesia dan sekaligus menjaga eksistensinya hingga kini
negara Indonesia tetap berdiri tegar di tengah arus tantangan global yang
sangat luarbiasa.
Para Jamaah Sholat Jum’at Yang Dimulyakan
Oleh Allah SWT,
Ada beberapa sumbangsih santri dan
pesantren yang bisa dijelaskan dalam khutbah singkat ini dalam perjalanan
sejarah panjang bangsa Indonesia yaitu sebagai berikut:
Pertama, santri telah menanamkan kalimat
tauhid kepada masyarakat Indonesia. penanaman tauhid ini merupakan tugas utama
santri dalam berdakwah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syeikh Ibrahimibn
Muhammad Al-Baijuri dalam Kitab Tuhfatul
Murid ‘Ala Jawharati Tauhid berikut:
هُوَ عِلْمٌ يقتدر بهِ عَنْ إِثْبَابِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ
مُكْتَسَب مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَّةِ
Artinya:
“Ilmu Tauhid adalah ilmu yang dengannya mampu menetapkan aqidah-aqidah
keagamaan yang diperoleh dari dalil-dalil meyakinkan.”
Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Anbiya ([21]:25) sebagai berikut:
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ
اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ ٢٥
Artinya:
Kami tidak mengutus seorang rasul pun
sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak
ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.
Peran santri dalam memperkenalkan tauhid di
tengah-tengah masyarakat juga menggunakan pendekatan budaya seperti dalam
budaya tradisi sekaten di Yogyakarta dalam memperingati maulid Nabi
Muhammad SAW. Kata sekaten itu sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu syahadatain
yaitu sahadat umat Islam: syahadat tauhid dan syahadat rasul. Dalam budaya
wayang kulit, para santri memperkenalkan kalimat tauhid dengan memperkenalkan
senjata yang paling ampuh Raja Yudistira yaitu Senjata Kalimasada. Senjata ini
adalah senjata yang paling keramat. Ia mampu menjadi penyelamat dan perdamaian
dunia. Jika ingin selamat, maka setiap orang harus mempunyai Senjata Kalimasada
yang berasal dari kalimat syahadat, yaitu Laa Ilaha Illa Allah.
Kedua, santri memperkenalkan tentang pentingnya budi
pekerti luhur atau akhlakul karimah. Akhlak santri telah diajarkan dalam
berbagai kitab seperti kitab ta’lim muta’alim, adabul ‘alim wa muta’alim.
Beberapa kitab tersebut mengajarkan tentang etika seorang guru terhadap
murid-muridnya, murid terhadap gurunya, cara berteman yang baik, cara mencari
rezki yang benar, dan selalu menggunakan waktu untuk terus meningkatkan
kualitas ilmu, iman dan amal sholeh. Syeikh Az-Zarnuji telah mengatakan sebagai
berikut:
اعلم بأن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله،
وتعظيم الأستاذ وتوقيره
Artinya:
Penting diketahui bahwa seorang pelajar
tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat,
kecuali dengan mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati
gurunya.
Pola hubungan seperti ini menyebabkan para
santri senantiasa menjunjung tinggi kemuliaan guru dan selalu melakasnakan
perintah-perintah nya sepanjang perintah tersebut mempunyai tujuan baik bagi
masa depan santri.
Etika santri juga diterapkan dalam hubungan
sosial. Ada tiga hubungan sosial dikalangan pesantren yaitu: ukhuwah islamiyah,
ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah. Pertama, Ukhuwah Islamiyah yaitu
hubungan harmonis sesama penganut beragama Islam. Santri senantiasa menjaga
hubungan baik dan berprasangka baik
kepada sesama muslim. Karena hubungan sesama muslim seperti satu tubuh, jika
bagian tubuh sakit maka anggota tubuh lainnya pun ikut merasakan sakit. Begitu
juga sebaliknya. Kedua, hubungan wathaniyah yaitu hubungan santri dengan
komunitas masyarakat dalam satu negara dan bangsa. Sebagai satu bangsa dan
negara, santri senantiasa menghormati hak dan kewajiban. Ia menolak adanya
diskriminasi yang memecah belah umat, yang melecehkan agama atau suku lainnya
dengan dalih agama. Santri selalu berprinsip bahwa semua warga negara sama
kedudukan dalam hukum. Itu sebabnya, semua harus taat dan tunduk terhadap hukum.
Ketiga, ukhuwah basyariah yaitu hubungan baik sesama manusia. santri menyadari
bahwa manusia lahir dengan keberagaman agama, keyakinan, suku, etnis dan
budaya. Keberagaman ini merupakan kehendak Allah sebagai bentuk kekuasaan-Nya.
Maka menghargai perbedaan tersebut, bagian dari menghargai karya Tuhan yang
agung tersebut. Itu sebabnya, santri senantiasa bisa hidup bermasyarakat dalam
keberagaman suku, agama, dan budaya dengan damai.
Keberagaman santri menerapkan etika atau
moral yang agung dalam kontek muamalah-kehidupan sosial-tidak lepas dari firman
Allah dalam Q.S.Al-Qalam ([68]:4) sebagai berikut:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung
Ketiga, santri selalu menerapkan jihad dalam menegakan
kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Jihad dalam pengertian santri tidak
hanya berkaitan sebatas perang, tetapi dalam pengertian yang luas yaitu jihad
dalam hal kemaslahan bangsa dan negara. Hal ini mendasarkan dalam Kitab I’anatu
Thalibin memaknai tentang jihad yang selalu diajarkan kepada para santri
sebagai berikut:
“Jihad maksudnya
memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang harus ditanggung pemerintah baik untuk
kaum muslimin maupun non-muslim melalui penyediaan makanan saat dibutuhkan,
sandang yang cukup untuk menutupi aurat bagi setiap warga negaranya, tempat
tinggal yang layak, obat-obatan dan biaya perawatan yang terjangkau oleh
masyarakat.”
Dari makna jihad
ini, sumbangsih santri yaitu senantiasa terus melakukan berkarya berkaitan
dengan ekonomi, lapangan pekerjaan, kesehatan, dan mendukung program-program
yang berpihak kepada masyarakat lebih luas.
Para Jamaah Sholat Jum’at Yang Dimulyakan Oleh Allah SWT,
Dari paparan di atas, khutbah singkat ini khatib
bisa mengambil pelajaran bahwa santri dalam kontek dakwah Islamiyah,wathaniyah
dan basyariyah senantiasa memperjuangan kemerdekaan serta mengisi kemerdekaan
merupakan bukti bahwa kehadiran santri di Indonesia sebagai penebar rahmat
untuk seluruh etnis, suku, agama, dan budaya. Santri hadir untuk memastikan
bahwa negara dan bangsa Indonesia tetap ada, dan tetap memberi sumbangsih
kebaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia secara khusus dan masyarakat dunia
secara umum.
جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا
وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. باَرَكَ اللهُ
لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ
وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى
جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ
رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ
ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ
أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ
وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا
بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ
اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرْ
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Tradisi Membaca dalam Islam
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   2
Hidup Penuh dengan Kedamaian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   2
Etika Berbicara di Media Sosial
29 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   2
Kurban: Jalan Menuju Ketakwaan dan Kepedulian
26 Mei 2026   Oleh : Khairan Efendi   9
Idul Fitri: Momentum Penyucian Hati dan Penguatan Takwa
18 Maret 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   59
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1559
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1255
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1126
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      967
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      953