
اَلْحَمْدُ للّهِ الَّذئ خَلَقَ السَّمَوَاتِ
وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرِ وَفَقَهَ مَنْ اَرَادَ بِهِ
خَيْرًا فِي دِيْنِ اللّهِ فَاَصْبَحَ مِنَ الْعَالَمِيْنَ اَلْمُهْتَدِيْنَ.
اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَه اِلّا اللّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ يَمُنُّ
بِالْفَضْلِ وَيَمْنَعُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ اَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِيْنَ.صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ
وَعَلَي اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانِ اِلي يَوْمِ
الدِّيْنِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا. اَمَّا بَعْدُ. اَيُهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ
وَتَفَقَهُوْا فِي دِيْنِكُمْ. قَالَ اللهُ تعالي ٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Para Jamaah Sholat Jum’at yang dimulyakan
oleh Allah SWT
Pertama-tama khatib berwasiat kepada diri
sendiri dan kepada saudara-saudara ku untuk senantiasa menyukuri segala
kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Salah satu caranya yaitu
meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada-Nya.
Kedua, mari kita senantiasa bersholawat
kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga kita senantiasa mendapatkan syafa’at
nya di Hari Kiamat. Amin ya rabbal ‘alamien.
Saudara-saudara ku yang mulia,
Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-baqarah ([ 2
] : 183) sebagai berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَۙ
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi
kamu untuk melaksanakan ibadah puasa sebagaimana diwajibkan oleh kaum sebelum
kamu agar kamu senantiasa menjadi orang muttaqin.
Saudara-saudara ku yang mulia,
Ayat tentang puasa tersebut untuk menjadi pedoman
kehidupan sehari-hari tentang makna mutaqim dalam dimensi ibadah puasa. Memahami
makna nya dimulai dari perintah Tuhan kepada “ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
“ yang mempunyai arti manusia banyak. Jika menggunakan terminologi yang
digunakan oleh Ibnu Khaldun, makna tersebut wujud dari al-ijtima’ yaitu
manusia kolektif atau masyarakat. Allah memerintah puasa untuk seluruh
masyarakat tanpa kasta, tanpa kelas. Semua sama yaitu mendapatkan perintah
berpuasa sebagaimana yang telah diperintahkan kepada para nabi dan masyarakat
pada masa lalu. Mulai dari Nabi Adam sampai kepada umat Nabi Muhammad. Tujuanya
sama yaitu agar terbentuk masyarakat yang mutaqin.
Ketika Allah menginginkan kehidupan
masyarakat mutaqin maka kita melihat secara kehidupan sosial sejarah peradaban
manusia. Sejak dulu mulai zaman Nabi Adam, manusia itu beragam, baik dari
status sosial, profesi atau kondisi ekonominya. Nabi Adam dan pengikutnya
adalah orang mutaqin. Seperti apa Nabi Adam? Seperti manusia biasa. Ia setiap
hari bekerja dengan istrinya, membuat rumah untuk berteduh dan membuat baju
untuk menutupi aurat. Pada masa Nabi Nuh, kita mulai semakin melihat aktivitas
manusia. Ada pertukangan, ada tukang batu, ada jual beli ikan dan sebagainya.
Pada masa nabi yusuf ada pejabat, ada juga
masyarakat biasa yang menjadi petani. Kadang berhasil. Kadang juga gagal akibat
musim kemarau sangat panjang. Bahkan mengalami paceklik sangat panjang hingga 7
tahun. Kita bisa membaca betapa susah hidup keluarga Nabi Yusuf. Keluarga
besar. anak banyak. Sedangkan pertanian gagal. Mereka mau tidak mau meminta
bantuan kepada Kerajaan. Walhasil, mereka akhirnya bertemu dengan yusuf
saudaranya. Mereka tidak mengenal nya, tapi yusuf mengenal mereka. Itulah
realita, orang yang tersakiti, daya ingatnya sangat tajam dan sulit dilupakan.
Ada nabi ayub yang dulunya seorang
konglomerat tiba-tiba bangkrut. Ironisnya, ia diperparah terkena penyakit yang
tidak sembuh-sembuh. Semua kekayaannya habis untuk makan dan biaya berobat.
Tidak sembuh-sembuh. Ejekan masyarakat tidak bisa dihindari. Sama seperti saat
sekarang ini, saat kita pada posisi serba ada, banyak orang berdatangan. Saat pada
masa tiba-tiba tidak ada sama sekali, maka orang-orang menjauh, akan
membicarakan dengan nada-nada sinis bahkan sampai menyakitkan ditelinga. Pada masa
Nabi Dawud ada juga orang yang pergi melaut menjadi nelayan, ada juga yang
mempunyai pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dan mencuci baju untuk
menghidupi keluarga nya.
Walhasil orang-orang muttaqin pada masa
dulu adalah orang-orang yang menjalankan hidup secara normal. Bekerja apapun
dan beribadah kepada-Nya dengan batas-batas yang dibenarkan oleh-Nya. Orang-orang
mutaqin pada masa dulu sebenarnya gambaran aktivitas manusia yang tidak
terlepas adanya senang dan benci sebagaimana yang kita lihat saat sekarang ini.
Hanya saja orang-orang mutaqin memilih pada sisi positifnya. Sedangkan orang-orang
yang ingkar memelihara sifat-sifat negatif baik kepada Allah maupun kepada sesama
manusia.
Sahabat-sahabat ku yang mulia,
Fenomena di bulan ramadhan, seluruh dunia
maya dan dunia nyata terlihat lapak-lapak makanan siap saji untuk berbuka
puasa. Dunia maya baik FB, WA, IG dan lain-lainnya menawarkan barang dagangan mulai
dari sayur-mayur beragam jenis, lauk-pauk beragam ikan, buah-buahan, kueh dan
beragam jenis es campur yang sangat menggoda.
Para penjual tersebut tentu mengetahui
makna bulan Ramadhan. Ia juga mengetahui tentang kewajiban mencari rezeki di
bulan yang penuh berkah ini. Mencari rezeki yang halal salah satunya melalui
berdagang. Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الرزقة
Artinya:
Hendaklah kalian berdagang. Sebab ia bagian dari sepuluh pintu rezeki.
Syeikh Zainuddin Al-Malibari dalam Kitab Fathul Mu’in sebagai berikut:
(فائدة) أفضل المكاسب الزراعة، ثم الصناعة،
ثم التجارة قال جمع: هي أفضلها
Artinya:
Paling utama usaha adalah pertanian, industri dan berdagang. Sebagian orang
berpendapat bahwa berdagang adalah pekerjaan yang terbaik.
Dari sini dasar ini sebenarnya khatib bisa mengambil pelajaran bahwa di
bulan ramadhan bisa melakukan bisnis apapun sepanjang bisnis tersebut tidak
bertentangan dengan syariat Islam seperti jual beli morfin atau sindikat
narkoba, penjualan manusia dan sejenisnya.
Saudara-saudaraku yang mulia,
Ada hadist yang menjelaskan bahwa bulan ramadhan
adalah bulan mulia, maka umat islam harus memulyakan bulan tersebut. khatib
sepakat hal tersebut. khatib juga sepakat jika kemulyaan tidak dibatasi oleh
beberapa aktivitas saja.
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ
صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ
الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ
شَهْرٍ
Artinya:
Telah datang bulan ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan
kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga di buka,
pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat
malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR.Ahmad).
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
Barangsiapa berpuasa di bulan ramadhan karena iman dan mengharap pahala
dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari Dan
Muslim).
Ada pelajaran dari dua hadist tersebut yaitu: pertama, bahwa kita
menjalakan ibadah bulan ramadhan hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Kedua, pintu
keikhlasan melahirkan bulan ramadhan menjadi berkah dengan dilipatgandakan pahalanya
dari ibadah wajib dan sunnah serta aktivitas ibadah lainnya. Ketiga, terbuka
nya surga dan tertutup nya neraka hanya bisa diraih dengan ibadah ikhlas hanya
mencari ridha Allah SWT. Sehingga hati tertutup secara otomatis dari sifat
riya, pamer dan ujub serta penyakit-penyakit hati lainnya. keempat, orang-orang
yang mengharap ridha Allah tidak akan terganggu keimanannya oleh kenikmatan
yang dunia. Ia akan tetap bisa menyelesaikan puasa hingga datang waktu maghrib.
Kelima, segala jenis aktivitas sosial sebagai jalan untuk mengharapkan
keberkahan bulan ramadhan dibenarkan dalam Islam. Keenam, segala
aktivitas kegiatan juga harus tetap mempertimbangan etika sosial sehingga tidak
menimbulkan fitnah yang berpotensi menyalahkangunakan syariat Islam.
Walhasil, dari paparan tersebut di atas khatib bisa memahami bahwa para
penjual ta’jil di bulan ramadhan termasuk juga orang-orang yang
memulyakan bulan suci ini. Ia mencari harta yang halal, membantu orang-orang
yang tidak sempat masak dan mempermudah urusan sesama manusia. Namun para
penjual dan pembeli harus sama-sama menjaga etika sosial dengan tidak makan,
minum dan melakukan hal-hal yang maksiat di bulan yang penuh rahmat dan ampunan
dari Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْانِ
الْكَرِيمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ.
وَتَقَبَلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهَ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
اَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَاسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِالْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمينَ والْمؤْمِنَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah ke-II
اَلْحَمْدُ للهِ مُؤَيِّدِ الصَّابِرِيْنَ
بِعَزِيْزِ نَصْرِهِ. اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. صَلي اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَي اَلِهِ
مُنْتَهَي الدُّهُوْرِ. صَلَاةً دَائِمَةً بِلَافَنَاءِ وَلَا فُتُورٍ. وَسَلَّمَ
تَّسْلِماً كَثِيْرًا.
اَمَا بَعْدُ. فَيَا اَيُهَا النَّاسُ
اتَّقُوااللهَ انَّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَاءَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ وَاَيَهَ بالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ. فَقَالَ اللهُ
تَعَالَي فِي الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ: اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ
عَلَي النَّبِي يَااَيُهَا الَّذِيْنَ امَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيْمًا. اَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ
وَاَنْبِيَائِكَ وَرُسُوْلِكَ وَاَهْلِ طَعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ.
اَلَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
والْمُؤْمِنَاتِ والْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلِاِخْوَانِنَا الّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِى
قُلُوْبِنَا غِلًا لِلّذِيْنَ امَنُوْا رَبَنَّا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Tradisi Membaca dalam Islam
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   4
Hidup Penuh dengan Kedamaian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   3
Etika Berbicara di Media Sosial
29 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   2
Kurban: Jalan Menuju Ketakwaan dan Kepedulian
26 Mei 2026   Oleh : Khairan Efendi   10
Idul Fitri: Momentum Penyucian Hati dan Penguatan Takwa
18 Maret 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   61
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1264
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1128
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954