Avatar

Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I

Penulis Kolom

62 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Takwa nya Penjual Ta'jil di Bulan Ramadhan



Minggu , 09 Maret 2025



Telah dibaca :  422

 

اَلْحَمْدُ للّهِ الَّذئ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرِ وَفَقَهَ مَنْ اَرَادَ بِهِ خَيْرًا فِي دِيْنِ اللّهِ فَاَصْبَحَ مِنَ الْعَالَمِيْنَ اَلْمُهْتَدِيْنَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَه اِلّا اللّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ يَمُنُّ بِالْفَضْلِ وَيَمْنَعُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ اَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِيْنَ.صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَي اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانِ اِلي يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا. اَمَّا بَعْدُ.  اَيُهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ وَتَفَقَهُوْا فِي دِيْنِكُمْ. قَالَ اللهُ تعالي ٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

 

Para Jamaah Sholat Jum’at yang dimulyakan oleh Allah SWT

Pertama-tama khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada saudara-saudara ku untuk senantiasa menyukuri segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Salah satu caranya yaitu meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada-Nya.

Kedua, mari kita senantiasa bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga kita senantiasa mendapatkan syafa’at nya di Hari Kiamat. Amin ya rabbal ‘alamien.

Saudara-saudara ku yang mulia,

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-baqarah ([ 2 ] : 183) sebagai berikut:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kamu untuk melaksanakan ibadah puasa sebagaimana diwajibkan oleh kaum sebelum kamu agar kamu senantiasa menjadi orang muttaqin.

Saudara-saudara ku yang mulia,

Ayat tentang puasa tersebut untuk menjadi pedoman kehidupan sehari-hari tentang makna mutaqim dalam dimensi ibadah puasa. Memahami makna nya dimulai dari perintah Tuhan kepada “ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا “ yang mempunyai arti manusia banyak. Jika menggunakan terminologi yang digunakan oleh Ibnu Khaldun, makna tersebut wujud dari al-ijtima’ yaitu manusia kolektif atau masyarakat. Allah memerintah puasa untuk seluruh masyarakat tanpa kasta, tanpa kelas. Semua sama yaitu mendapatkan perintah berpuasa sebagaimana yang telah diperintahkan kepada para nabi dan masyarakat pada masa lalu. Mulai dari Nabi Adam sampai kepada umat Nabi Muhammad. Tujuanya sama yaitu agar terbentuk masyarakat yang mutaqin.

Ketika Allah menginginkan kehidupan masyarakat mutaqin maka kita melihat secara kehidupan sosial sejarah peradaban manusia. Sejak dulu mulai zaman Nabi Adam, manusia itu beragam, baik dari status sosial, profesi atau kondisi ekonominya. Nabi Adam dan pengikutnya adalah orang mutaqin. Seperti apa Nabi Adam? Seperti manusia biasa. Ia setiap hari bekerja dengan istrinya, membuat rumah untuk berteduh dan membuat baju untuk menutupi aurat. Pada masa Nabi Nuh, kita mulai semakin melihat aktivitas manusia. Ada pertukangan, ada tukang batu, ada jual beli ikan dan sebagainya.

Pada masa nabi yusuf ada pejabat, ada juga masyarakat biasa yang menjadi petani. Kadang berhasil. Kadang juga gagal akibat musim kemarau sangat panjang. Bahkan mengalami paceklik sangat panjang hingga 7 tahun. Kita bisa membaca betapa susah hidup keluarga Nabi Yusuf. Keluarga besar. anak banyak. Sedangkan pertanian gagal. Mereka mau tidak mau meminta bantuan kepada Kerajaan. Walhasil, mereka akhirnya bertemu dengan yusuf saudaranya. Mereka tidak mengenal nya, tapi yusuf mengenal mereka. Itulah realita, orang yang tersakiti, daya ingatnya sangat tajam dan sulit dilupakan.

Ada nabi ayub yang dulunya seorang konglomerat tiba-tiba bangkrut. Ironisnya, ia diperparah terkena penyakit yang tidak sembuh-sembuh. Semua kekayaannya habis untuk makan dan biaya berobat. Tidak sembuh-sembuh. Ejekan masyarakat tidak bisa dihindari. Sama seperti saat sekarang ini, saat kita pada posisi serba ada, banyak orang berdatangan. Saat pada masa tiba-tiba tidak ada sama sekali, maka orang-orang menjauh, akan membicarakan dengan nada-nada sinis bahkan sampai menyakitkan ditelinga. Pada masa Nabi Dawud ada juga orang yang pergi melaut menjadi nelayan, ada juga yang mempunyai pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dan mencuci baju untuk menghidupi keluarga nya.

Walhasil orang-orang muttaqin pada masa dulu adalah orang-orang yang menjalankan hidup secara normal. Bekerja apapun dan beribadah kepada-Nya dengan batas-batas yang dibenarkan oleh-Nya. Orang-orang mutaqin pada masa dulu sebenarnya gambaran aktivitas manusia yang tidak terlepas adanya senang dan benci sebagaimana yang kita lihat saat sekarang ini. Hanya saja orang-orang mutaqin memilih pada sisi positifnya. Sedangkan orang-orang yang ingkar memelihara sifat-sifat negatif baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.

Sahabat-sahabat ku yang mulia,

Fenomena di bulan ramadhan, seluruh dunia maya dan dunia nyata terlihat lapak-lapak makanan siap saji untuk berbuka puasa. Dunia maya baik FB, WA, IG dan lain-lainnya menawarkan barang dagangan mulai dari sayur-mayur beragam jenis, lauk-pauk beragam ikan, buah-buahan, kueh dan beragam jenis es campur yang sangat menggoda.

Para penjual tersebut tentu mengetahui makna bulan Ramadhan. Ia juga mengetahui tentang kewajiban mencari rezeki di bulan yang penuh berkah ini. Mencari rezeki yang halal salah satunya melalui berdagang. Nabi Muhammad SAW telah bersabda:

عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الرزقة

Artinya:

Hendaklah kalian berdagang. Sebab ia bagian dari sepuluh pintu rezeki.

Syeikh Zainuddin Al-Malibari dalam Kitab Fathul Mu’in sebagai berikut:

(فائدة) أفضل المكاسب الزراعة، ثم الصناعة، ثم التجارة قال جمع: هي أفضلها

Artinya:

Paling utama usaha adalah pertanian, industri dan berdagang. Sebagian orang berpendapat bahwa berdagang adalah pekerjaan yang terbaik.

Dari sini dasar ini sebenarnya khatib bisa mengambil pelajaran bahwa di bulan ramadhan bisa melakukan bisnis apapun sepanjang bisnis tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam seperti jual beli morfin atau sindikat narkoba, penjualan manusia dan sejenisnya.

 

 

Saudara-saudaraku yang mulia,

Ada hadist yang menjelaskan bahwa bulan ramadhan adalah bulan mulia, maka umat islam harus memulyakan bulan tersebut. khatib sepakat hal tersebut. khatib juga sepakat jika kemulyaan tidak dibatasi oleh beberapa aktivitas saja.

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ

Artinya:

Telah datang bulan ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR.Ahmad).

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:

Barangsiapa berpuasa di bulan ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari Dan Muslim).

Ada pelajaran dari dua hadist tersebut yaitu: pertama, bahwa kita menjalakan ibadah bulan ramadhan hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Kedua, pintu keikhlasan melahirkan bulan ramadhan menjadi berkah dengan dilipatgandakan pahalanya dari ibadah wajib dan sunnah serta aktivitas ibadah lainnya. Ketiga, terbuka nya surga dan tertutup nya neraka hanya bisa diraih dengan ibadah ikhlas hanya mencari ridha Allah SWT. Sehingga hati tertutup secara otomatis dari sifat riya, pamer dan ujub serta penyakit-penyakit hati lainnya. keempat, orang-orang yang mengharap ridha Allah tidak akan terganggu keimanannya oleh kenikmatan yang dunia. Ia akan tetap bisa menyelesaikan puasa hingga datang waktu maghrib. Kelima, segala jenis aktivitas sosial sebagai jalan untuk mengharapkan keberkahan bulan ramadhan dibenarkan dalam Islam. Keenam, segala aktivitas kegiatan juga harus tetap mempertimbangan etika sosial sehingga tidak menimbulkan fitnah yang berpotensi menyalahkangunakan syariat Islam.

Walhasil, dari paparan tersebut di atas khatib bisa memahami bahwa para penjual ta’jil di bulan ramadhan termasuk juga orang-orang yang memulyakan bulan suci ini. Ia mencari harta yang halal, membantu orang-orang yang tidak sempat masak dan mempermudah urusan sesama manusia. Namun para penjual dan pembeli harus sama-sama menjaga etika sosial dengan tidak makan, minum dan melakukan hal-hal yang maksiat di bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْانِ الْكَرِيمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. وَتَقَبَلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهَ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. اَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَاسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِالْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمينَ والْمؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah ke-II

اَلْحَمْدُ للهِ مُؤَيِّدِ الصَّابِرِيْنَ بِعَزِيْزِ نَصْرِهِ. اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. صَلي اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَي اَلِهِ مُنْتَهَي الدُّهُوْرِ. صَلَاةً دَائِمَةً بِلَافَنَاءِ وَلَا فُتُورٍ. وَسَلَّمَ تَّسْلِماً كَثِيْرًا.

اَمَا بَعْدُ. فَيَا اَيُهَا النَّاسُ اتَّقُوااللهَ انَّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَاءَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ وَاَيَهَ بالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَي فِي الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ: اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلَي النَّبِي يَااَيُهَا الَّذِيْنَ امَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَاَنْبِيَائِكَ وَرُسُوْلِكَ وَاَهْلِ طَعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ.

اَلَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ والْمُؤْمِنَاتِ والْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًا لِلّذِيْنَ امَنُوْا رَبَنَّا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.

عِبَادَاللهِ. اِنَّ اللهَ يَامُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَي وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْ بَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَرُوْنَ. فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُكُ اللهِ اَكْبَرُ.



Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Tradisi Membaca dalam Islam
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   4

Hidup Penuh dengan Kedamaian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   3

Etika Berbicara di Media Sosial
29 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   2

Kurban: Jalan Menuju Ketakwaan dan Kepedulian
26 Mei 2026   Oleh : Khairan Efendi   10

Idul Fitri: Momentum Penyucian Hati dan Penguatan Takwa
18 Maret 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   61

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1128


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954