Avatar

Khairan Efendi

Penulis Kolom

44 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tarawih, Rindu Setahun Sekali



Selasa , 03 Maret 2026



Telah dibaca :  199

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberi kesempatan kepada kita semua berada pada hari ke 13 Romadhan 1447 H semoga segala amal ibadah di terima oleh Allah SWT.

Ada rindu yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bersembunyi, lalu muncul kembali setiap Ramadhan tiba. Rindu itu bernama tarawih.

Begitu adzan Isya berkumandang di malam pertama Ramadhan, suasana terasa berbeda. Masjid yang biasanya lengang mendadak penuh. Wajah-wajah yang mungkin jarang terlihat kini kembali hadir, Anak-anak mengenakan pakaian terbaiknya, berjalan beriringan dengan orang tua mereka. Ada senyum, ada semangat, ada harapan. Seolah seluruh jiwa sepakat bahwa malam ini bukan malam biasa.

Tarawih bukan sekadar sholat sunnah. Ia adalah perayaan iman. Ia adalah ruang pulang bagi hati yang sepanjang tahun mungkin sibuk oleh urusan dunia.

Malam yang Dihidupkan dengan Sujud

Allah menggambarkan keindahan orang-orang yang menghidupkan malam dalam firman-Nya:

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63–64)

Ayat ini seperti lukisan tentang tarawih. Malam yang sunyi, suara imam yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, dan saf-saf yang berdiri rapi. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua sama hamba yang berharap ridha-Nya.

Ramadhan sendiri adalah bulan istimewa. Allah menegaskannya dalam Al-Qur’an:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah: 185)

Karena itulah tarawih terasa begitu hidup. Di dalamnya, Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dihayati. Kita berdiri mendengarkan ayat-ayat yang turun sebagai petunjuk hidup. Kadang ada ayat tentang surga yang membuat hati berbunga. Kadang ada ayat tentang peringatan yang membuat dada terasa sesak dan mata berkaca-kaca.

Janji Ampunan yang Menenangkan
Rasulullah SAW memberikan kabar yang begitu menyejukkan tentang qiyam Ramadhan. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, beliau bersabda:

“Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa lembutnya janji ini. Kita datang dengan segala kekurangan, dengan catatan dosa yang mungkin panjang, dengan hati yang kadang lalai. Namun Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya melalui malam-malam Ramadhan.

Setiap rakaat tarawih adalah langkah menuju pengampunan. Setiap sujud adalah tempat terbaik untuk mengakui kelemahan diri. Di antara lantunan doa setelah witir, sering kali ada air mata yang jatuh tanpa suara. Bukan karena sedih, tetapi karena merasa begitu dekat dengan Allah.

Jejak Sejarah yang Menghangatkan

Pada masa Rasulullah SAW tarawih pernah dilakukan secara berjamaah beberapa malam di masjid. Namun beliau tidak melanjutkannya secara rutin karena khawatir dianggap wajib oleh umatnya. Setelah beliau wafat, pada masa khalifah Umar bin Khattab, kaum muslimin kembali melaksanakan tarawih secara berjamaah dengan satu imam. Sejak saat itu, tradisi ini terus hidup hingga hari ini di berbagai penjuru dunia.

Bayangkan, dari masa sahabat hingga sekarang, jutaan umat Islam berdiri di malam Ramadhan melakukan ibadah yang sama. Ada rasa kebersamaan lintas zaman. Kita seperti menjadi bagian dari rangkaian panjang orang-orang beriman yang menghidupkan malam dengan sujud.

Antara Lelah dan Bahagia

Jujur saja, tidak semua malam terasa mudah. Ada hari ketika tubuh benar-benar lelah. Pekerjaan menumpuk, aktivitas padat, energi terkuras. Saat itu, tarawih bisa terasa berat.

Namun anehnya, setelah dijalani, justru muncul rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Kaki mungkin pegal, tetapi hati terasa ringan. Kantuk mungkin datang, tetapi jiwa terasa segar.
Tarawih mengajarkan kita tentang perjuangan kecil yang penuh makna. Bahwa kebaikan tidak selalu mudah, tetapi selalu indah pada akhirnya.

Bukan Soal 8 atau 20

Perbedaan jumlah rakaat sering kali menjadi bahan perbincangan. Ada yang memilih 8 rakaat, ada yang 20 rakaat. Namun sejatinya, tarawih bukan soal angka. Ia soal kedekatan. Soal seberapa hadir hati kita dalam setiap bacaan dan gerakan.

Lebih baik sedikit tetapi khusyuk, daripada banyak tetapi tergesa-gesa. Tarawih adalah ruang untuk memperlambat diri, merenung, dan memperbaiki niat.

Rindu yang Akan Datang Lagi

Ketika Ramadhan berakhir, suasana itu perlahan menghilang. Masjid kembali seperti biasa. Malam-malam terasa lebih sepi. Di situlah kita sadar, tarawih memang rindu setahun sekali. Rindu pada suara imam yang membaca ayat panjang. Rindu pada doa qunut witir yang membuat hati bergetar. Rindu pada kebersamaan yang sederhana namun hangat. Dan mungkin, yang paling dalam adalah rindu pada versi diri kita yang lebih lembut, lebih sabar, dan lebih dekat dengan Allah.

Kita tidak pernah tahu apakah tahun depan masih diberi kesempatan untuk berdiri lagi dalam saf tarawih. Karena itu, selagi Ramadhan masih ada, jangan sia-siakan malam-malamnya.

Datanglah dengan hati yang penuh harap. Berdirilah dengan iman. Sujudlah dengan kerendahan diri. Karena bisa jadi, di antara rakaat-rakaat itu Allah menuliskan ampunan, keberkahan, dan perubahan besar dalam hidup kita.

Tarawih memang hanya hadir setahun sekali.

Tetapi maknanya bisa tinggal selamanya di hati.



Penulis : Khairan Efendi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

APBN, APBD DAN KURBAN
30 Mei 2026   Oleh : Prof. Dr. H. Ilyas Husti. MA   24

Hari Tasyriq Terakhir: Saat Ritual Berakhir, Misi Dimulai
30 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   32

Kurban dari Baitul Māl
29 Mei 2026   Oleh : Dr.H.Mawardi M.Saleh,Lc.,MA   9

Panen Raya Pahala: Di Bulan Dzulhijjah
19 Mei 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   24

Guru PAUD, Pelukis Masa Depan dengan Cinta dan Ketulusan
09 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   389

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1133


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954