
Dalam diri manusia itu terdapat lima
unsur yang harus dikembangkan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun
akhirat, kelima unsur itu diataranya adalah :
1. Unsur
Ruh
Unsur Ruh adalah
unsur dimana seorang manusia harus menjalin kedekatakan dengn allah, sebagai mana
janji manusia Ketika dahulu dialam Rahim, selama Empat bulan manusia dalam kekosongan,
tidak ada apa-apaanya, maka setelah empat bulan berlalu manusia menjalin
hubungan kedekatan dengan Allah, sehingga ditiupkan roh kedalam diri manusia
yang Ketika itu masih berupa janin, kemudian terjadilah dialog antar keduanya,
maka Ketika allah bertanya kepada manusia “ maukah kamu bersaksi bahwa aku
adalah rabb (tuhan) mu, maka manusia pun menjawab dan bersaksi bahwa “Engkau (Allah)
Tuhan ku”. Ada perjanjian sacral disana hasil dari perjanjian itu membuahkan ketentuan
terhadap, Ajal, Rezki, Jodoh, dan Maut (kematian) kepada manusia.
Waktu terus
berjalan selama kurang lebih 5 bulan Sembilan hari dari peristiwa itu, manusia
kemudian dilahirkan kedunia.
Unsur ruh
merupakan salah satu dimensi paling fundamental dalam memahami hakikat manusia.
Dalam perspektif Islam, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk biologis
yang tersusun dari unsur jasmani, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang
memiliki ruh sebagai bagian dari ketetapan dan kehendak Allah Swt. Karena itu,
pembicaraan tentang manusia tidak akan pernah sempurna apabila hanya berhenti
pada aspek fisik, sebab di balik tubuh yang terlihat terdapat dimensi batin
yang menjadi sumber kesadaran, kehidupan, dan orientasi spiritual manusia.,
hakikat manusia sangat erat kaitannya dengan kehidupan hati dan ruh. Didalam
kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din juga membicarakan amal lahiriah, tetapi juga
mengarahkan manusia untuk memahami kehidupan batinnya melalui pembahasan
tentang hati, jiwa, akal, tauhid, tawakal, keikhlasan, muraqabah, dan
muhasabah. Dengan demikian, kehidupan manusia pada hakikatnya merupakan
perjalanan dari mengenal dirinya menuju mengenal Tuhannya.
Sebagai tanda
bahwa ruh itu ada dalam diri manusia, dibuktikan lah dengan prilaku kita setiap
hari, seperti mata bisa berkedip, bisa bernafas, tangan bisa bergerak dan lain
sebagainya, itulah tanda bahwa ruh itu ada dalam jasad.
2. Unsur
Hati
Hati merupakan
tempat bermuaranya berbagai kebaikan dalam diri manusia. Dalam perspektif
Islam, hati bukan sekadar bagian dari jasad, tetapi memiliki kedudukan yang
sangat penting dalam membentuk arah kehidupan seseorang. Dari hati lahir niat,
keikhlasan, ketulusan, kasih sayang, kesabaran, serta berbagai dorongan untuk
melakukan kebajikan.
Maka agar hati
manusia selalu hidup dan sehat dalam kebaikan perlu diberikan nutrisi dan asupan
gizi, yaitu zikrullah.
3. Unsur
Nafsu
Unsur yang
ketiga adalah nafsu. Nafsu merupakan bagian dari diri manusia yang selalu
menginginkan sesuatu. Nafsu mendorong manusia untuk makan ketika lapar,
beristirahat ketika lelah, mencari kesenangan, memiliki harta, mendapatkan
kedudukan, bahkan ingin dihargai dan disukai oleh orang lain. Karena itu, nafsu
sebenarnya bukan sesuatu yang harus dibuang atau dimatikan, tetapi sesuatu yang
harus dikenali, diarahkan, dan dikendalikan. Nafsu ibarat kendaraan yang
memiliki tenaga besar. Jika dikendalikan dengan baik, ia dapat membawa manusia
menuju tujuan yang benar. Tetapi jika dibiarkan tanpa kendali, ia dapat membawa
seseorang ke jalan yang salah. Demikian pula dalam kehidupan. Keinginan untuk
memiliki harta, misalnya, bukanlah sesuatu yang salah. Namun ketika keinginan
itu membuat seseorang lupa kepada Allah, mengambil hak orang lain, atau
menghalalkan segala cara, maka nafsu telah mengambil alih kendali dirinya.
Begitu juga dengan keinginan untuk dihormati. Setiap orang tentu ingin dihargai. Tetapi apabila keinginan tersebut berubah menjadi kesombongan, merasa lebih tinggi daripada orang lain, dan sulit menerima nasihat, maka keinginan yang semula biasa telah berubah menjadi sesuatu yang merusak hati. Oleh sebab itu, manusia tidak diperintahkan untuk menghilangkan nafsunya, tetapi belajar mengendalikannya. Ketika lapar, kita makan, tetapi tidak berlebihan. Ketika memiliki keinginan, kita berusaha mendapatkannya, tetapi tetap memperhatikan halal dan haram. Ketika marah, kita tidak langsung melampiaskannya. Ketika memiliki kemampuan, kita tidak menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain.
Di sinilah pentingnya hubungan antara nafsu, hati, dan akal. Nafsu menginginkan, akal mempertimbangkan, sedangkan hati yang terdidik oleh iman memberikan arah. Jika nafsu berada di bawah bimbingan akal dan iman, keinginan manusia dapat menjadi jalan menuju kebaikan. Tetapi jika nafsu dibiarkan memimpin tanpa kendali, manusia dapat diperbudak oleh keinginannya sendiri. Kadang-kadang seseorang bukan tidak tahu bahwa sesuatu itu salah, tetapi ia kalah oleh keinginannya. Ia tahu marah itu tidak baik, tetapi tetap marah. Ia tahu berlebihan itu tidak baik, tetapi tetap berlebihan. Ia tahu sesuatu itu tidak pantas, tetapi tetap mengejarnya. Inilah salah satu bentuk ketika nafsu lebih kuat daripada kesadaran.
Maka, mendidik nafsu merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Nafsu perlu dilatih dengan puasa, ibadah, kesabaran, rasa syukur, menjaga pandangan, menjaga lisan, dan membiasakan diri melakukan kebaikan. Semakin sering seseorang melatih dirinya, semakin mudah pula ia mengendalikan keinginannya. Pada akhirnya, manusia yang kuat bukanlah manusia yang mampu mendapatkan semua yang diinginkannya, tetapi manusia yang mampu mengatakan “tidak” kepada dirinya sendiri ketika keinginannya membawa kepada keburukan. Sebab kemenangan yang paling besar bukanlah ketika kita mampu mengalahkan orang lain, melainkan ketika kita mampu mengendalikan hawa nafsu yang ada di dalam diri sendiri.
Penulis : M.Taufik, S.Pd.i
Muharram. Anatara Keutamaan, Tradisi, dan Amalan
23 Juni 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   46
Persoalan Ideologi Sunni dan Syi'ah
01 Juni 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   27
Tamak dan Takut Mati
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   33
Dari Setetes Air Menuju Kehidupan
31 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   308
Yahudi dan Ketakutan akan Kematian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   35
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1623
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1346
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1211
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1037
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      982