Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

43 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

5 Unsur dalam diri Manusia



Minggu , 13 September 2026



Telah dibaca :  22

Dalam diri manusia itu terdapat lima unsur yang harus dikembangkan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun akhirat, kelima unsur itu diataranya adalah :

1.       Unsur Ruh

Unsur Ruh adalah unsur dimana seorang manusia harus menjalin kedekatakan dengn allah, sebagai mana janji manusia Ketika dahulu dialam Rahim, selama Empat bulan manusia dalam kekosongan, tidak ada apa-apaanya, maka setelah empat bulan berlalu manusia menjalin hubungan kedekatan dengan Allah, sehingga ditiupkan roh kedalam diri manusia yang Ketika itu masih berupa janin, kemudian terjadilah dialog antar keduanya, maka Ketika allah bertanya kepada manusia “ maukah kamu bersaksi bahwa aku adalah rabb (tuhan) mu, maka manusia pun menjawab dan bersaksi bahwa “Engkau (Allah) Tuhan ku”. Ada perjanjian sacral disana hasil dari perjanjian itu membuahkan ketentuan terhadap, Ajal, Rezki, Jodoh, dan Maut (kematian) kepada manusia.

Waktu terus berjalan selama kurang lebih 5 bulan Sembilan hari dari peristiwa itu, manusia kemudian dilahirkan kedunia.

Unsur ruh merupakan salah satu dimensi paling fundamental dalam memahami hakikat manusia. Dalam perspektif Islam, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk biologis yang tersusun dari unsur jasmani, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang memiliki ruh sebagai bagian dari ketetapan dan kehendak Allah Swt. Karena itu, pembicaraan tentang manusia tidak akan pernah sempurna apabila hanya berhenti pada aspek fisik, sebab di balik tubuh yang terlihat terdapat dimensi batin yang menjadi sumber kesadaran, kehidupan, dan orientasi spiritual manusia., hakikat manusia sangat erat kaitannya dengan kehidupan hati dan ruh. Didalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din juga  membicarakan amal lahiriah, tetapi juga mengarahkan manusia untuk memahami kehidupan batinnya melalui pembahasan tentang hati, jiwa, akal, tauhid, tawakal, keikhlasan, muraqabah, dan muhasabah. Dengan demikian, kehidupan manusia pada hakikatnya merupakan perjalanan dari mengenal dirinya menuju mengenal Tuhannya.

 Sebelum manusia mengenal dunia dengan pancaindra, ia terlebih dahulu berada dalam suatu fase kehidupan yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Allah. Di dalam rahim, manusia tidak memiliki kekuatan untuk menentukan bentuk tubuhnya, memilih keluarganya, menentukan tempat kelahirannya, ataupun mengatur perjalanan hidupnya. Ia berada dalam keadaan lemah dan sepenuhnya bergantung kepada kehendak Allah Swt. Setelah melewati tahapan penciptaan tertentu, maka datanglah fase peniupan ruh. Dalam hadis yang masyhur, fase tersebut dikaitkan dengan usia 120 hari, dan pada fase itu disebutkan adanya ketetapan mengenai rezeki, ajal, amal, serta keadaan manusia. Ruh datang dari Allah, hidup dalam ketetapan Allah, dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Maka perjalanan hidup manusia sesungguhnya adalah perjalanan pulang—dari Allah, dengan pertolongan Allah, dan menuju perjumpaan dengan Allah.

Sebagai tanda bahwa ruh itu ada dalam diri manusia, dibuktikan lah dengan prilaku kita setiap hari, seperti mata bisa berkedip, bisa bernafas, tangan bisa bergerak dan lain sebagainya, itulah tanda bahwa ruh itu ada dalam jasad.

2.       Unsur Hati

Hati merupakan tempat bermuaranya berbagai kebaikan dalam diri manusia. Dalam perspektif Islam, hati bukan sekadar bagian dari jasad, tetapi memiliki kedudukan yang sangat penting dalam membentuk arah kehidupan seseorang. Dari hati lahir niat, keikhlasan, ketulusan, kasih sayang, kesabaran, serta berbagai dorongan untuk melakukan kebajikan.

 Hati ibarat pusat kendali yang menentukan ke mana langkah seorang manusia diarahkan. Apabila hati dipenuhi keimanan dan selalu dekat dengan Allah, maka anggota tubuh akan lebih mudah diarahkan kepada kebaikan. Sebaliknya, apabila hati dikuasai oleh penyakit batin seperti iri, sombong, dengki, cinta dunia yang berlebihan, dan kebencian, maka perilaku manusia pun akan mudah menyimpang dari jalan yang diridhai Allah.

 Karena itu, menjaga hati menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual manusia. Hati tidak cukup hanya diisi dengan pengetahuan, tetapi juga perlu dibersihkan melalui dzikir, muhasabah, taubat, keikhlasan, dan ketundukan kepada Allah. Ilmu yang masuk ke dalam hati seharusnya melahirkan perubahan akhlak, bukan sekadar menambah wawasan. Hati yang bersih akan melahirkan niat yang baik, dan niat yang baik akan mengantarkan seseorang kepada amal yang baik. Di sinilah hubungan antara hati, ilmu, dan amal menjadi sangat erat. Ketika hati telah mengenal Allah, ilmu akan menjadi cahaya; ketika hati telah mencintai Allah, amal akan terasa sebagai kebutuhan; dan ketika hati telah berserah diri kepada Allah, kehidupan akan dijalani dengan penuh kesabaran dan ketenangan. Dengan demikian, hati merupakan ruang batin yang harus senantiasa dijaga. Sebab, baik buruknya kehidupan seseorang sering kali berawal dari apa yang tersimpan di dalam hatinya. Jika hati dijaga, niat akan terjaga; jika niat terjaga, amal akan terarah; dan jika amal terarah kepada Allah, maka kehidupan akan memiliki nilai dan makna.

Maka agar hati manusia selalu hidup dan sehat dalam kebaikan perlu diberikan nutrisi dan asupan gizi, yaitu zikrullah.

3.       Unsur Nafsu

Unsur yang ketiga adalah nafsu. Nafsu merupakan bagian dari diri manusia yang selalu menginginkan sesuatu. Nafsu mendorong manusia untuk makan ketika lapar, beristirahat ketika lelah, mencari kesenangan, memiliki harta, mendapatkan kedudukan, bahkan ingin dihargai dan disukai oleh orang lain. Karena itu, nafsu sebenarnya bukan sesuatu yang harus dibuang atau dimatikan, tetapi sesuatu yang harus dikenali, diarahkan, dan dikendalikan. Nafsu ibarat kendaraan yang memiliki tenaga besar. Jika dikendalikan dengan baik, ia dapat membawa manusia menuju tujuan yang benar. Tetapi jika dibiarkan tanpa kendali, ia dapat membawa seseorang ke jalan yang salah. Demikian pula dalam kehidupan. Keinginan untuk memiliki harta, misalnya, bukanlah sesuatu yang salah. Namun ketika keinginan itu membuat seseorang lupa kepada Allah, mengambil hak orang lain, atau menghalalkan segala cara, maka nafsu telah mengambil alih kendali dirinya.

Begitu juga dengan keinginan untuk dihormati. Setiap orang tentu ingin dihargai. Tetapi apabila keinginan tersebut berubah menjadi kesombongan, merasa lebih tinggi daripada orang lain, dan sulit menerima nasihat, maka keinginan yang semula biasa telah berubah menjadi sesuatu yang merusak hati. Oleh sebab itu, manusia tidak diperintahkan untuk menghilangkan nafsunya, tetapi belajar mengendalikannya. Ketika lapar, kita makan, tetapi tidak berlebihan. Ketika memiliki keinginan, kita berusaha mendapatkannya, tetapi tetap memperhatikan halal dan haram. Ketika marah, kita tidak langsung melampiaskannya. Ketika memiliki kemampuan, kita tidak menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain.

Di sinilah pentingnya hubungan antara nafsu, hati, dan akal. Nafsu menginginkan, akal mempertimbangkan, sedangkan hati yang terdidik oleh iman memberikan arah. Jika nafsu berada di bawah bimbingan akal dan iman, keinginan manusia dapat menjadi jalan menuju kebaikan. Tetapi jika nafsu dibiarkan memimpin tanpa kendali, manusia dapat diperbudak oleh keinginannya sendiri. Kadang-kadang seseorang bukan tidak tahu bahwa sesuatu itu salah, tetapi ia kalah oleh keinginannya. Ia tahu marah itu tidak baik, tetapi tetap marah. Ia tahu berlebihan itu tidak baik, tetapi tetap berlebihan. Ia tahu sesuatu itu tidak pantas, tetapi tetap mengejarnya. Inilah salah satu bentuk ketika nafsu lebih kuat daripada kesadaran.

Maka, mendidik nafsu merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Nafsu perlu dilatih dengan puasa, ibadah, kesabaran, rasa syukur, menjaga pandangan, menjaga lisan, dan membiasakan diri melakukan kebaikan. Semakin sering seseorang melatih dirinya, semakin mudah pula ia mengendalikan keinginannya. Pada akhirnya, manusia yang kuat bukanlah manusia yang mampu mendapatkan semua yang diinginkannya, tetapi manusia yang mampu mengatakan “tidak” kepada dirinya sendiri ketika keinginannya membawa kepada keburukan. Sebab kemenangan yang paling besar bukanlah ketika kita mampu mengalahkan orang lain, melainkan ketika kita mampu mengendalikan hawa nafsu yang ada di dalam diri sendiri.

 Nafsu bukan untuk dibunuh, tetapi untuk dididik. Bukan untuk diikuti setiap keinginannya, tetapi untuk diarahkan menuju jalan yang diridhai Allah.

 ***beersambung……



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Muharram. Anatara Keutamaan, Tradisi, dan Amalan
23 Juni 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   46

Persoalan Ideologi Sunni dan Syi'ah
01 Juni 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   27

Tamak dan Takut Mati
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   33

Dari Setetes Air Menuju Kehidupan
31 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   308

Yahudi dan Ketakutan akan Kematian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   35

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1623


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1211


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      1037


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      982