Avatar

M.Taufik, S.Pd.i

Penulis Kolom

31 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Golongan Orang-orang yang Mendustakan Agama



Kamis , 05 Februari 2026



Telah dibaca :  38

الحمد لله الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.

أما بعد،
فيا أيها المسلمون، اتقوا الله حق تقاته، ولا تموتن إلا وأنتم مسلمو

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita bersyukur kepada allah, dan bersholawat kepada Rasulullah, (                                                             ) selanjutkan mari kita Bersama-sama untuk meningkatkan iman dan takwa kepada allah, swt, sebagai bentuk perwujudan kehambaan kita kepada allah, kita laksanakan perintah dan menginggalkan larangan allah. Salah satu bentuk wujud keimanan tersebut,

marilah kita merenungi firman Allah dalam Surah Al-Mā‘ūn, surah pendek namun sangat dalam maknanya. Surat ini menjadi peringatan keras bagi orang yang mengaku beriman.

Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?”

Mendustakan agama bukan hanya berarti menolak Islam dan ajarannya,  secara sembunyi maupun terang-terangan, tetapi juga menjalani hidup seolah-olah tidak ada hari pembalasan. Ia hanya sekedar hidup, tanpa mempersiapkan diri untuk  hari masa depan di akhirat, Orang seperti ini mungkin ia shalat, ia berhodaqoh, dan beribadah lainya, namun amalan tersebut tidak membentuk akhlak dalam kehiduan dan kepeduliannya, sosial.

Kaum muslimin rahimakumullah, kemudian allah lanjutkan ayat tersebut untuk kita renungi siapa sesungguhnya orang-orang yang mendustakan agama tersebut, Allah melanjutkan:

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Dialah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Jamaah jumat rahimakumullah,

Ayat ini menegaskan bahwa keimanan selalu berkaitan dengan kepedulian sosial. Orang yang keras kepada anak yatim, acuh terhadap fakir miskin, hakikatnya telah merusak nilai agamanya. Bahkan Allah mencela bukan hanya yang tidak memberi, tetapi juga yang tidak mengajak orang lain untuk berprilaku peduli kepada sesame, oleh karena itu apabila disekeliling kita terdapat anak-anak yatim, fakir miskin dan kaum dhuafa, maka santuni mereka, kasihi mereka, jangan melukai hati dan perasaanya, maka gembirakanlah mereka dengan hidup kita saling berbagi kepada yang membutuhkan, Agama bukan hanya soal hubungan dengan Allah, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama manusia, dengan baik.

Allah kemudian berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari shalatnya.”

Ini adalah peringatan yang sangat keras. Ancaman bukan ditujukan kepada orang yang meninggalkan shalat, tetapi kepada orang yang shalat namun lalai. Lalai dari makna shalat, lalai dari pengaruh shalat terhadap akhlak dan perbuatanya.

Shalat yang benar seharusnya mencegah diri kita dari perbuatan keji dan munkar, kebakhilan, kezaliman, dan kesombongan. Jika shalat tidak mengubah perilaku tersbut, maka yang perlu diperbaiki bukan syariatnya, tetapi keikhlasan dan kesadarannya, Ketika kita melaksanakan dan mendirikanya perintah tersebut.

Kemudian selanjutnya.

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Yaitu orang-orang yang berbuat riya.”

Riya adalah melakukan ibadah untuk dilihat manusia. Dalam tafsir para ulama, riya disebut sebagai syirik kecil, karena memindahkan tujuan ibadah dari Allah kepada makhluk.

Surah ini menyingkap bahaya besar: ibadah yang tampak indah di luar, tetapi kosong di dalam. Agama berubah menjadi panggung, bukan penghambaan. Kemudian golongan terakhir dalam ayat ini adalah

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
“Dan mereka enggan menolong dengan barang-barang yang berguna.”

Kata Al-Mā‘ūn dalam tafsir Ibnu Abbas dan ulama lainnya mencakup tentang bantuan kecil, barang pinjaman yang sederhana, atau juga pertolongan ringan yang seharusnya mudah kita berikan.

Namun yang terjadi dalam kehidupan, kita sering merasa berat saat Ketika memberikan bantuan kecil dan ringan kepada sesame yang membutuhkan,  ayat Ini menegaskan kepaada kita bahwa keimanan sejati terlihat dari hal-hal kecil, bukan hanya dari ibadah besar. Orang yang kikir dalam perkara sepele menunjukkan hati yang jauh dari nilai Rahmat allah.

معاشر المسلمين رحمكم الله،

Surah Al-Mā‘ūn mengajarkan kepada kita semua bahwa:

1.      Agama tanpa kepedulian sosial adalah kebohongan.

2.      Ibadah tanpa keikhlasan adalah kehampaan.

3.      Shalat yang benar melahirkan kasih sayang dan keadilan.

4.      Keimanan sejati tampak dalam akhlak dan empati sehari-hari.

Surah ini adalah kritik tajam terhadap keberagamaan formalistik, kehidupan, sekaligus ajakan untuk menghidupkan agama sebagai jalan cinta, kepedulian, dan tanggung jawab. Mudah2han kita mampu mengaplikasikan dalam ranah kehidupan untuk terhindar dari golongan orang-orang yang mendustakan agama.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.



Penulis : M.Taufik, S.Pd.i


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Idul Fitri: Momentum Penyucian Hati dan Penguatan Takwa
18 Maret 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   51

5 Esensi Bulan Suci Ramadhan
27 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   26

Ramadhan Baru Dua Hari: Jangan Hanya Semangat di Awal
20 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   39

Bekal Menyambut Ramadhan
13 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   44

Menangislah Saat Membaca Al-Qur'an
06 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   43

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950