
Keberkahan Hidup
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ،
وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا
الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ
سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و
سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ
وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا
الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ
مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا
اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Saudara-Saudara ku Jama’ah Sholat Jum’at yang
Dimulyakan oleh Allah SWT,
Pertama-tama, marilah kita senantiasa
mensyukuri atas segala kenikmatan yang telah dianugrahkan oleh Allah kepada
kita dengan cara meningkatkan takwa kita kepada-Nya.
Kedua, sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga besarnya, sahabat-sahabatnya, para
tabi’in, tabi’in tabi’in, para ulama hingga kepada umat-umatnya. Semoga kita
mendapatkan syafaatnya. Amin.
Para Jama’ah Jum’at Yang Dimulyakan oleh
Allah SWT,
Saat sekarang ini, khatib melihat di media
sosial dan realita kehidupan yang ada di sekitar ku dan kita semua, ditemukan
wajah-wajah yang penuh kelesuan, kemarahan, emosi, dan putus asa. Ada juga
sebagian wajah-wajah yang terlihat tenang, damai dan seolah-olah tidak ada
persoalan yang terjadi pada nya. Pandangan mata ku mungkin juga salah, bisa
juga ada sebagian kecil mengandung unsur kebenaran. Sebab kenyataannya
demikian, hidup adalah perjalanan waktu yang berisi beraneka persoalan dan
beragam suasana hati atas respon beragam persoalan tersebut. ada senang, ada
sedih, kecewa, dan bahagia. semua itu bagian dari perjalanan hidup manusia. Dan
kita semua mempunyai catatan kehidupan, hingga akhirnya bertemu dengan Tuhan
Sang Penguasa Alam Semesta.
Saudara-saudaraku yang mulia,
Mari kita sama-sama merenungkan firman
Allah Q.S. Al-Ashr ([103]:1-3) sebagai berikut:
وَالْعَصْرِۙ ١
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ٣
Artinya:
Demi masa, sesungguhnya manusia dalam
keadaan rugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal sholeh, dan senantiasa
saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Syeikh Ahmad Mustofa Al-Maraghi menjelaskan
bahwa makna ashr atau masa adalah wadah kejadian baik dan buruk pada
diri manusia. Kejadian baik dan buruk tidak lain adalah karena perbuatan
manusia itu sendiri. Itu sebabnya, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan
perbuatannya di hari kiamat.
Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan
secara umum bahwa manusia hidup dalam keadaan rugi. Pengertian rugi tidak
selalu karena tidak mempunyai jabatan, kekayaan, pendidikan dan kehormatan.
Pengertian rugi juga bukan karena sebatas hidup selalu berbuat maksiat dan
menjadi pendosa. Sebab kenyataannya tidak ada manusia yang tidak melakukan dosa
dan maksiat. Manusia rugi dalam pandangan Allah adalah manusia yang tidak
mengenal hakikat-Nya dalam hidup sehari-hari. Baik orang kaya atau miskin,
pejabat atau rakyat jelata hakikatnya adalah orang-orang yang sedang dalam
perjalanan, dan akan berjumpa dengan-Nya di Akherat. Tapi sebagian tidak
menyadari hal tersebut, lalu tidak menyembah Allah SWT. Orang-orang yang
demikian sebenarnya orang-orang yang sangat rugi. Hidup yang sangat sebentar
tapi tidak mengenal Allah SWT.
Saudara-saudara ku yang mulia,
Itu sebabnya, mungkin kita belum bisa
beruntung sebagaimana orang lain, tapi jangan menjadikan diri kita terlena oleh
kejam nya waktu yang terus menggilas tulang kita dan akan melumatkan seluruh
kehidupan kita. Mari kita gunakan sisa hidup ini agar lebih bermakna dengan
melakukan amalan hidup sebagai berikut:
Pertama, senantiasa beriman kepada Allah. Ketika kita telah
mengucapkan kalimat tauhid, maka hati kita sudah bersih dari anasir-anasir
tuhan selain-Nya. Hanya Allah yang pantas diimani dalam hati. pikiran kita juga
demikian, senantiasa menancapkan suatu keyakinan dan cara berfikir bahwa apa
yang kita lakukan dan kita kerjakan hanya untuk mencari ridha-Nya. Cara
berfikir seperti ini yang menyebabkan hati kita dan kehidupan kita terasa
tenang dan damai dalam kondisi hidup seperti apapun.
Kedua, amalun sholihun. Ketika kita telah
mendeklarasikan keimanan hanya untuk Allah SWT, maka segala aktivitas (amalun)
senantiasa berpijak pada hasil yang baik dan berkualitas (sholihun).
Aktivitas kita adalah hidup kita sendiri. Setiap waktu yang kita lakukan
sebenarnya menggunakan modal yang sangat besar. Kita beraktivitas 24 jam,
berarti kita sedang kehilangan waktu sebanyak 24 jam juga. Sungguh sangat rugi
sekali ketika aktivitas kita tidak berkualitas, hanya asal-asalan, bahkan
ironisnya justru aktivitas yang merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat
bangsa dan negara, juga agama. Sungguh sangat rugi, di dunia ia rugi, apalagi
di akhirat nanti ia akan bertambah celaka.
Ketiga, memberi nasehat yang konstruktif. Manusia dalam
melakukan aktivitas tidak lepas dari suatu kesalahan, baik kesalahan
prosedural, kelalaian, atau pun karena kesengajaan disebabkan ada faktor-faktor
yang ia tidak bisa hindari, sehingga harus melakukan hal tersebut. Dalam
pekerjaan atau aktivitas sering hal tersebut terjadi. Maka manusia membutuhkan
kontrol diri agar tidak terlalu bebas dan liar. Siapapun orangnya tidak lepas
dari lupa dan salah. Salah satu untuk mengurangi dan mengembalikan jati diri manusia,
perlu ada orang lain untuk memberi nasihat secara kontruktif, obyektif, dan
bertujuan untuk kebaikan dan kebenaran. Tentu saja kebenaran dan kebaikan
tersebut tidak lepas dari pandangan agama Islam.
Para Jamaah Sholat Jum’at Yang Dimulyakan Oleh Allah SWT,
Dari paparan di atas, khutbah singkat ini khatib
bisa mengambil pelajaran bahwa kehidupan yang bahagia bukan karena seluruh
fasilitas hidup ada. Sebab kenyataan pun itu tidak mungkin. Seandainya mungkin
pun tidak menjamin kebahagiaan sejati. Khatib berpandangan bahwa hidup yang
bahagia yaitu hidup yang memberi makna bagi diri sendiri dan orang lain, bukan
sebatas kehidupan dunia saja, tapi juga akherat. Mari kita gunakan waktu yang
sebentar ini untuk menanam kebaikan sebagai bekal untuk panen di hadapan Tuhan
nanti.
جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا
وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. باَرَكَ اللهُ
لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ
وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى
جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ
رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ
ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ
أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ
وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا
بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ
اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرْ
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Idul Fitri: Momentum Penyucian Hati dan Penguatan Takwa
18 Maret 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   51
5 Esensi Bulan Suci Ramadhan
27 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   26
Ramadhan Baru Dua Hari: Jangan Hanya Semangat di Awal
20 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   39
Bekal Menyambut Ramadhan
13 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   43
Menangislah Saat Membaca Al-Qur'an
06 Februari 2026   Oleh : Muhtaruddin,M.Pd.I   42
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1545
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1235
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1117
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      956
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      950