
Al-Qur’an mempunyai bukti-bukti kuat
sebagai firman Allah SWT. Dari segi susunan kalimat, tidak ada satupun Sastra
Arab yang seindah Al-Qur’an. Sejak dari zaman Nabi Muhammad hingga saat
sekarang ini. Bahkan ucapan Nabi Muhammad pun tidak seindah Al-Qur’an. Padahal
ia adalah Nabi dan Rasul-Nya. Melalui Nabi, wahyu Allah disampaikan kepada umat
nya. Sehingga para sahabat sendiri sangat paham mana ayat-ayat Al-Qur’an dan
mana hadist-hadist Nabi Muhammad SAW.
Jika Nabi Muhammad saja tidak mampu
menandingi keindahan ayat Al-Qur’an, apalagi orang-orang kafir yang hatinya
tidak disinari oleh iman. Hatinya kotor dan penuh dengan kebencian kepada Islam.
Maka tuduhan Kaum Kafirin bahwa Al-Qur’an
Karya Nabi merupakan tuduhan murahan yang tidak berdasarkan secara ilmiah.
Tuduhan membabi-buta telah menghilangkan tradisi intelektualitas mereka yang
selalu mengagungkan kebenaran rasional dan kebenaran ilmiah. Saat mereka
dihadapkan dua fakta perbedaan sastra Al-Qur’an dan Hadist pun tidak bisa
membedakannya. Kecerdasan tumpul, tapi terlalu cepat menyimpulkan nya. ini
suatu tanda kebencian yang telah mengakar di hati kaum kafirin.
Q.S. Al-Baqarah ayat 23 sebagai berikut:
وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ
كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٢٣
Artinya:
Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang apa (Al-Qur’an) yang Kami
turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad), buatlah satu surah yang semisal
dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang
yang benar.
Ayat tersebut di atas merupakan wujud tantangan terbuka kepada
orang-orang kafir dan orang-orang yang meragukan Al-Qur’an yang diturunkan oleh
Allah kepada Nabi-Nya. kata [ وَادْعُوْا
شُهَدَاۤءَكُمْ ] merupakan kalimat bahwa Allah menantang kepada siapapun yang
meragukan keberadaan Al-Qur’an sebagai firman-Nya. Jika ragu, Tuhan
mempersilahkan setiap orang baik secara individu maupun berkelompok yang
terdiri dari para pakar dan ilmuwan untuk membatahnya. Para ahli bahasa,
sastra, hukum dan ahli sejarah melakukan diskusi dan merumuskan satu ayat yang
lebih indah atau sepadan keindahannya, bisa dipastikan tidak akan mampu
menandingi Al-Qur’an. Sebab dilihat dari semua aspek tersebut Al-Qur’an sudah
sangat sempurna
Kaum yang tidak mempercayai Al-Qur’an juga harus memahami bahwa kata [ عَبْدِنَا] adalah Nabi Muhammad SAW. Melalui nya,
Allah menurunkan Al-Qur’an yang berisi kabar kebahagiaan dan penderitaan.
Melalui nya, dia juga telah mengatur tentang cara ibadah yang benar dan diberi
penjelasan oleh nya melalui ucapan, perbuatan dan ketetapannya
Kenapa Allah menantang secara terbuka kepada setiap manusia yang
meragukan kebenaran firman-firman-Nya. Bukankah Allah juga mempunyai kemampuan
untuk menghancurkan mereka dengan kekuasaan-Nya?.
Pertanyaan ini sangat menarik sekali. Tuhan telah menempatkan pola
keagungan dalam sistem kehidupan sosial yang sangat tepat. Ada suatu fase
kehidupan berbeda-beda. Pada fase masa lalu, manusia menyukai sesuatu yang
bersifat praktis dan tidak perlu berfikir terlalu mendalam serta
mendewa-dewakan hal-hal yang bersifat mistik atau magis.
Saat ada Nabi Nuh mengajak untuk beriman kepada Allah dan memberi khabar
tentang bencana banjir yang sangat besar bagi orang-orang yang mendurhakai-Nya,
maka mereka ramai-ramai mengolok-ngolok Nabi Nuh sebagai orang-orang yang
berfikir tidak sehat. Sebab mereka melihat realita saat itu. Daerah yang mereka
tempati adalah daerah yang susah turun hujan, apalagi sampai terjadi banjir.
Jika toh terjadi, itu sangat jarang sekali. Hingga akhirnya, mereka berfikir
sederhana: “Jika banjir datang, bukankah masih ada tempat-tempat yang tinggi
atau bukit-bukit yang tinggi untuk menghindari bahaya banjir?”. Jadi pesan
dakwah Nabi Nuh dan ancaman nya bisa dibuat akal-akalan oleh kaum nya untuk
alasan tidak mengikuti perintah-perintah-Nya. Akhirnya, Allah mendatangkan
keberanan ucapan Nabi Nuh. Banjir besar menghancurkan egoisme dan kekafiran
mereka. Itu janji Allah.
Ketika datang Nabi Luth mengajak menyembah kepada Allah dan mengikuti
syariat-syariat-Nya dengan menikah antara laki-laki dan perempuan agar selamat
dunia dan akherat dan terbebas dari adzab-Nya, mereka lagi-lagi melihat
larangan tersebut sebagai sesuatu yang sangat remeh-temeh. Mereka berfikir
sederhana yaitu suatu kenikmatan. Jika berhubungan antara laki-laki dan
perempuan bisa mendatangkan kenikmatan, mengapa hubungan sesama jenis yang
mendatangkan kenikmatan kok dilarang. Bukankah semua dilakukan juga sama-sama
melakukan hubungan intim atau hubungan suami istri. Logika-logika berfikir yang
dikembangkan oleh sebagian kaum Nabi Luth benar-benar sangat berpengaruh saat
itu. Bahkan istrinya pun mendukung sistem hukum perkawinan yang dikembangkan
oleh sebagian kaumnya. Ketika mereka sudah tidak menerima kebenaran syariat Islam,
maka Tuhan pun menurunkan adzab kepada kaum Nabi Luth yang tidak beriman
kepada-Nya.
Jadi, Allah mengutus para Nabi dan Rasul saat itu disesuaikan dengan
pola berfikir yang masih kedaerahan, berfikir praktis dan bangga terhadap
hal-hal yang bersifat magis. Maka Tuhan menurunkan para nabi yang mempunyai
mukjizat seperti itu untuk menandingi kedigdayaan para penguasa yang kafir saat
itu seperti diturunkan Nabi Musa untuk menandingi Raja Fir’aun.
Sedangkan Al-Qur’an hadir sebagai Obor Peradaban Semesta Alam. Allah
mengutus Nabi Muhammad pada era modern. Letak kemodernan Al-Qur’an sangat
menonjol yaitu menyuguhkan kualitas sastra yang sangat tinggi. Allah tidak
melulu meletakan kehebatan Al-Qur’an pada cerita Isra Mi’raj atau Lail Al-Qadr dan
mukjizat-mukjizat nabi dengan membelah Bulan. Sebab semua itu manusia sekarang
ini sudah bisa menandingi rekasaya teknologi dengan ditemukan Pesawat Terbang, Pesawat
Peluncuran Satelit dan sejenisnya. Jika kehebatan Al-Qur’an diletakan pada
kisah magis, maka orang-orang di luar Islam lebih dulu bisa menguasainya.
Meskipun umat Islam tetap membela kehebatan mukjizat tersebut di atas,
orang-orang yang hanya melihat dunia ini secara akal lebih mudah menerima
fakta-fakta baru tersebut ketimbang mukjizat yang sebagian orang menganggapnya
sebagai tahayul.
Dari sini penulis bisa melihat bahwa Allah memberikan garansi bahwa Al-Qur’an
merupakan firman-firman-Nya. Hingga kini belum ada suatu kaum di dunia modern
yang bisa mengalahkan kehebatan Al-Qur’an dari segala aspek.
Meskipun demikian, umat Islam tidak boleh berbangga diri atas kebenaran
tersebut. Sebab saat ini, dunia tulis-menulis dan bobot kualitas nya dalam
beragam aspek kehidupan justru lahir bukan dari rahim pembawa Al-Qur’an, tapi
justru dari para pembenci Al-Qur’an. Umat Islam yang membawa keagungan Al-Qur’an
belum bisa menandingi kehebatan mereka. Salah satu penyebabnya yaitu pesan
kemodernan Al-Qur’an tidak cepat-cepat ditangkap oleh umat Islam. Sebagian
mereka masih kurang selera menghidupkan tulis-menulis dan melakukan penelitian.
Dari sini semakin terbuka, bukan karena kesalahan Al-Qur’an membuat umat
Nabi Muhammad terbelakang saat sekarang ini, tapi kesalahan sebagian umat nya
yang masih malas menghidupkan tradisi tersebut. Sampai kapan pun Al-Qur’an
tidak bisa dikalahkan oleh kaum manapun, tapi Al-Qur’an tidak menjamin umat
Islam bisa mengalahkan peradaban umat lain. Kecuali umat Islam itu sendiri yang
berusaha nya.
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Persoalan Ideologi Sunni dan Syi'ah
01 Juni 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   3
Tamak dan Takut Mati
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   9
Dari Setetes Air Menuju Kehidupan
31 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   116
Yahudi dan Ketakutan akan Kematian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   4
Ketika Iman Melahirkan Kepedulian
29 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   62
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1559
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1255
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1126
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      967
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      953