Avatar

Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I

Penulis Kolom

62 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tanda-Tanda Lail al-Qadr



Rabu , 12 Maret 2025



Telah dibaca :  538

Diantara keagungan bulan ramadhan yaitu adanya malam yang disebut lail al-qadr. Q.S. Al-Qadr ([ 97  ] :1-5) sebagai berikut:

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu?. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.

Surat al-qadr merupakan rujukan tentang malam yang sangat agung sering disebut malam lailatul qadr. Malam yang kualitasnya sama dengan seribu bulan. Siapa saja yang beramal kebaikan pada malam tersebut, maka kualitas amal kebaikannya sama dengan seribu bulan.

Ayat al-qur’an dan hadist nabi memang sering menampilkan janji-janji Allah yang sangat memberi motivasi positif untuk beribadah dan beramal sholeh. Hal ini belum pernah terjadi pada masa sebelum Islam. Pada saat itu [ masa yang sering disebut dengan zaman jahiliyah], masyarakat terlalu disibukan dengan kemulyaan dunia seperti berlomba-lomba mengejar kekayaan. Pamer harta dan jabatan serta kekuasaan. Tradisi yang telah membentuk adat-istiadat sehingga terpatri tentang makna kemulyaan dan keagungan sebatas pada persoalan banyak harta kekayaan dengan banyak nya onta, kuda, kambing dan para budak-budak yang dibeli hingga mempunyai ribuan budak sebagai wujud tingginya status sosial. Akibatnya, sistem kehidupan terbentuk stratifikasi yang sangat akut. Manusia dibagi menjadi dua: Merdeka dan budak. Manusia berdeka adalah kaum kapitalis. Sedangkan manusia budak adalah golongan manusia yang tidak mempunyai status apapun. Ia laksana barang dagangan tidak ubahnya seperti binatang yang bebas diperjual belikan di pasar.

Islam tampil merubah kehidupan tersebut. Sistem kapitalisasi manusia dihilangkan. Sistem stratifikasi sosial dihapus. Tidak ada lagi istilah manusia merdeka dan budak. Semua sama, antara raja, bangsawan dan masyarakat biasa yaitu pada kualitas takwanya. Q.S. Al-Hujurat ([49 ]: 13) berbunyi:

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

Ayat tersebut benar-benar menampar sistem kehidupan yang sudah mapan pada masa arab jahiliyah. Kaum bangsawan sangat membenci ayat tersebut dan membenci agama Islam yang dianggap sebagai wujud agama makar. Sebaliknya, kaum marginal, masyarakat biasa, buruh dan para budak sangat menyambut dengan sangat antusias. Menurut mereka, ajaran Islam sangat rasional sekali. Ia menjadi solusi yang sangat tepat untuk mencapai kemuliaan sejati, yaitu kemuliaan yang tidak tergantung kepada dunia, tetapi tergantung kepada Allah SWT.

Sistem keyakinan sangat logis yaitu “laa ilaha illa allah”, tiada tuhan selain Allah. Masyarakat arab sangat memahami, bahwa konsep politeisme yang mereka pahami selama ini sebenarnya hanya sebatas permainan kaum kapitalis yang menjadi bagian lahan bisnis agar masyarakat selalu tergantung kepada kehidupan mereka. Padahal kenyataanya, sistem politeisme yang mereka anut sebenarnya tidak lah mampu menyelesaikan persoalan kehidupan masyarakat dan kebahagiaan hakiki. Sebalikna justru sistem kehidupan yang dibangun atas dasar politeisme mengantarkan kehidupan yang rusak dan jauh dari moralitas agung yang sering disebut zaman jahiliyah. Para pemodal telah membuat suatu sistem keyakinan yang kropos dan memuakan. Saat Islam memperkenalkan sistem keyakinan yang kuat, mereka pun berduyun-duyun masuk Islam dan mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Dengan bermodal kalimat tauhid mereka telah menjadi manusia yang sangat mulia.dunia sudah tidak menjadi ukuran lagi. Dunia terlalu kecil. Satu berbanding seribu. Satu amalan akherat berbanding seribu bulan amalan bukan bernilai akherat. Ini yang kemudian dalam surat al-qadr menggunakan istilah “lebih baik dari seribu bulan”.

Apa makna nya? Maknanya tidak lepas dari persoalan sistem kehidupan. Ada dua sistem kehidupan saat itu: pertama sistem kehidupan dengan hukum jahiliyah. Kedua sistem kehidupan dengan sistem hukum Islam. Sistem kehidupan jahiliyah adalah sistem kehidupan buatan manusia. Hukum akal-akalan. Sesuka hati. Sangat subyektif. Kekuatan mempunyai kekuasaan untuk membuat hukum sesuai seleranya. Karena hukum ciptaan manusia, maka nilai kualitas pada pandangan Allah tidak ada artinya sama sekali. bahkan jika amalan kebaikan dibuat pun, maka kebaikan hanya mendapat balasan sebatas kehidup di dunia saja.

Berbeda dengan hukum buatan Allah, maka satu perbuatan mempunyai kemanfaatan ganda: pertama, perbuatan tersebut bernilai kebaikan, baik untuk dirinya sendiri orang sekitarnya. Kedua bermanfaat untuk masyarakat. Ketiga mendapatkan ridha dari Allah dan mendapatkan balasan di hari kiamat, yaitu surga.

Jika ada dua orang kafir qurays pada malam Ramadhan masing-masing melakukan amalan sebagai berikut. Pertama, orang kafir pertama melakukan amalan Sholeh sepanjang tahun. Anggap saja dari bulan ramadhan sampai bulan ramadhan berikutnya selalu berbuat kebaikan. Maka kebaikan tersebut dianggap batal oleh Allah dan tidak bernilai ibadah. Ia hanya dilihat sebagai ibadah sosial yang hanya dikenang oleh sesama manusia. hanya itu saja.

Kedua, orang kafir kedua kemudian masuk islam dengan mengucapkan kalimat tauhid. Lalu ia berbuat baik dengan hanya memberi semangkok kurma kepada tetangganya yang membutuhkan nya, maka kualitas satu mangkok kurma kualitasnya sama dengan orang kafir yang melakukan sedekah selama seribu tahun dari sisi kualitasnya. Sebab satu kali amal Sholeh atas dasar iman dan islam jauh lebih mulia dalam pandangan allah, sebab orang yang beramal Sholeh tersebut akan mendapatkan balasannya saat ia berada di alam barzah sampai pada hari kiamat dan ditempatkan di surga. Sedangkan orang kafir hanya sebatas mendapat keagungan di dunia. Padahal dalam pandangan Islam dunia itu mempunyai makna fana. Artinya pasti akan hancur. Sedangkan akherat artinya kekal bahwa apa yang dilakukan oleh orang yang beriman amalannya akan kekal sampai di hadapan-Nya.

Itu sebab nya, ketika Allah menurunkan syariat Islam[al-qur’an] pada bulan ramadhan, maka pada malam itu terjadi dua garis pemisah yang jelas yaitu garis pemisah mengikuti hukum jahiliyah dan garis pemisah mengikuti syariat Islam [al-qur’an]. Ketika orang-orang saat al-qur’an diturunkan dan masuk islam, maka kualitas amalan kebaikan telah mencapai maqam yang mulia disisi Allah. Untuk menunjukan kualitas kemuliaan yang sangat agung, al-qur’an menggunakan bahasa “hoirun min alfi sahr”, lebih baik dari seribu bulan. Selain sebagai bentuk kualitas amal kebaikan, juga sebagai momentum tentang perubahan sistem hukum dari masa jahiliyah menuju hukum Islam. dan orang-orang yang menggunakan hukum islam pada malam ramadhan tersebut mendapatkan penghargaan dari allah yaitu “salamun”, yaitu kesejahteraan hingga sampai fajar, yaitu penghargaan karena mulai malam itu hingga fajar telah selamat menggunakan syariat Islam sebagai way of life, dan telah meninggalkan peraturan jahiliyah. 



Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Persoalan Ideologi Sunni dan Syi'ah
01 Juni 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   4

Tamak dan Takut Mati
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   10

Dari Setetes Air Menuju Kehidupan
31 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   129

Yahudi dan Ketakutan akan Kematian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   6

Ketika Iman Melahirkan Kepedulian
29 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   67

   Berita Popular

Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560


Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1128


Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971


Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954