
Diantara keagungan bulan ramadhan yaitu
adanya malam yang disebut lail al-qadr. Q.S. Al-Qadr ([ 97 ] :1-5) sebagai berikut:
Sesungguhnya kami telah menurunkannya
(Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu?. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ
(Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit
fajar.
Surat al-qadr merupakan rujukan tentang
malam yang sangat agung sering disebut malam lailatul qadr. Malam yang
kualitasnya sama dengan seribu bulan. Siapa saja yang beramal kebaikan pada
malam tersebut, maka kualitas amal kebaikannya sama dengan seribu bulan.
Ayat al-qur’an dan hadist nabi memang
sering menampilkan janji-janji Allah yang sangat memberi motivasi positif untuk
beribadah dan beramal sholeh. Hal ini belum pernah terjadi pada masa sebelum Islam.
Pada saat itu [ masa yang sering disebut dengan zaman jahiliyah], masyarakat
terlalu disibukan dengan kemulyaan dunia seperti berlomba-lomba mengejar
kekayaan. Pamer harta dan jabatan serta kekuasaan. Tradisi yang telah membentuk
adat-istiadat sehingga terpatri tentang makna kemulyaan dan keagungan sebatas
pada persoalan banyak harta kekayaan dengan banyak nya onta, kuda, kambing dan
para budak-budak yang dibeli hingga mempunyai ribuan budak sebagai wujud
tingginya status sosial. Akibatnya, sistem kehidupan terbentuk stratifikasi
yang sangat akut. Manusia dibagi menjadi dua: Merdeka dan budak. Manusia berdeka
adalah kaum kapitalis. Sedangkan manusia budak adalah golongan manusia yang
tidak mempunyai status apapun. Ia laksana barang dagangan tidak ubahnya seperti
binatang yang bebas diperjual belikan di pasar.
Islam tampil merubah kehidupan tersebut. Sistem
kapitalisasi manusia dihilangkan. Sistem stratifikasi sosial dihapus. Tidak ada
lagi istilah manusia merdeka dan budak. Semua sama, antara raja, bangsawan dan
masyarakat biasa yaitu pada kualitas takwanya. Q.S. Al-Hujurat ([49 ]: 13)
berbunyi:
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang
paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.
Ayat tersebut benar-benar menampar sistem
kehidupan yang sudah mapan pada masa arab jahiliyah. Kaum bangsawan sangat
membenci ayat tersebut dan membenci agama Islam yang dianggap sebagai wujud
agama makar. Sebaliknya, kaum marginal, masyarakat biasa, buruh dan para
budak sangat menyambut dengan sangat antusias. Menurut mereka, ajaran Islam
sangat rasional sekali. Ia menjadi solusi yang sangat tepat untuk mencapai
kemuliaan sejati, yaitu kemuliaan yang tidak tergantung kepada dunia, tetapi
tergantung kepada Allah SWT.
Sistem keyakinan sangat logis yaitu “laa
ilaha illa allah”, tiada tuhan selain Allah. Masyarakat arab sangat memahami,
bahwa konsep politeisme yang mereka pahami selama ini sebenarnya hanya sebatas
permainan kaum kapitalis yang menjadi bagian lahan bisnis agar masyarakat selalu
tergantung kepada kehidupan mereka. Padahal kenyataanya, sistem politeisme yang
mereka anut sebenarnya tidak lah mampu menyelesaikan persoalan kehidupan
masyarakat dan kebahagiaan hakiki. Sebalikna justru sistem kehidupan yang dibangun
atas dasar politeisme mengantarkan kehidupan yang rusak dan jauh dari
moralitas agung yang sering disebut zaman jahiliyah. Para pemodal telah membuat
suatu sistem keyakinan yang kropos dan memuakan. Saat Islam memperkenalkan
sistem keyakinan yang kuat, mereka pun berduyun-duyun masuk Islam dan
mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Dengan bermodal kalimat tauhid mereka telah
menjadi manusia yang sangat mulia.dunia sudah tidak menjadi ukuran lagi. Dunia terlalu
kecil. Satu berbanding seribu. Satu amalan akherat berbanding seribu bulan
amalan bukan bernilai akherat. Ini yang kemudian dalam surat al-qadr
menggunakan istilah “lebih baik dari seribu bulan”.
Apa makna nya? Maknanya tidak lepas dari
persoalan sistem kehidupan. Ada dua sistem kehidupan saat itu: pertama
sistem kehidupan dengan hukum jahiliyah. Kedua sistem kehidupan dengan sistem
hukum Islam. Sistem kehidupan jahiliyah adalah sistem kehidupan buatan manusia.
Hukum akal-akalan. Sesuka hati. Sangat subyektif. Kekuatan mempunyai
kekuasaan untuk membuat hukum sesuai seleranya. Karena hukum ciptaan manusia,
maka nilai kualitas pada pandangan Allah tidak ada artinya sama sekali. bahkan
jika amalan kebaikan dibuat pun, maka kebaikan hanya mendapat balasan sebatas
kehidup di dunia saja.
Berbeda dengan hukum buatan Allah, maka
satu perbuatan mempunyai kemanfaatan ganda: pertama, perbuatan tersebut
bernilai kebaikan, baik untuk dirinya sendiri orang sekitarnya. Kedua bermanfaat
untuk masyarakat. Ketiga mendapatkan ridha dari Allah dan mendapatkan balasan
di hari kiamat, yaitu surga.
Jika ada dua orang kafir qurays pada malam Ramadhan
masing-masing melakukan amalan sebagai berikut. Pertama, orang kafir pertama
melakukan amalan Sholeh sepanjang tahun. Anggap saja dari bulan ramadhan sampai
bulan ramadhan berikutnya selalu berbuat kebaikan. Maka kebaikan tersebut dianggap
batal oleh Allah dan tidak bernilai ibadah. Ia hanya dilihat sebagai ibadah
sosial yang hanya dikenang oleh sesama manusia. hanya itu saja.
Kedua, orang kafir kedua kemudian masuk
islam dengan mengucapkan kalimat tauhid. Lalu ia berbuat baik dengan hanya
memberi semangkok kurma kepada tetangganya yang membutuhkan nya, maka kualitas
satu mangkok kurma kualitasnya sama dengan orang kafir yang melakukan sedekah
selama seribu tahun dari sisi kualitasnya. Sebab satu kali amal Sholeh atas
dasar iman dan islam jauh lebih mulia dalam pandangan allah, sebab orang yang
beramal Sholeh tersebut akan mendapatkan balasannya saat ia berada di alam
barzah sampai pada hari kiamat dan ditempatkan di surga. Sedangkan orang kafir
hanya sebatas mendapat keagungan di dunia. Padahal dalam pandangan Islam dunia
itu mempunyai makna fana. Artinya pasti akan hancur. Sedangkan akherat artinya
kekal bahwa apa yang dilakukan oleh orang yang beriman amalannya akan kekal
sampai di hadapan-Nya.
Itu sebab nya, ketika Allah menurunkan
syariat Islam[al-qur’an] pada bulan ramadhan, maka pada malam itu terjadi dua
garis pemisah yang jelas yaitu garis pemisah mengikuti hukum jahiliyah dan
garis pemisah mengikuti syariat Islam [al-qur’an]. Ketika orang-orang saat
al-qur’an diturunkan dan masuk islam, maka kualitas amalan kebaikan telah
mencapai maqam yang mulia disisi Allah. Untuk menunjukan kualitas kemuliaan
yang sangat agung, al-qur’an menggunakan bahasa “hoirun min alfi sahr”, lebih
baik dari seribu bulan. Selain sebagai bentuk kualitas amal kebaikan, juga
sebagai momentum tentang perubahan sistem hukum dari masa jahiliyah menuju
hukum Islam. dan orang-orang yang menggunakan hukum islam pada malam ramadhan tersebut
mendapatkan penghargaan dari allah yaitu “salamun”, yaitu kesejahteraan
hingga sampai fajar, yaitu penghargaan karena mulai malam itu hingga fajar
telah selamat menggunakan syariat Islam sebagai way of life, dan telah
meninggalkan peraturan jahiliyah.
Penulis : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I
Persoalan Ideologi Sunni dan Syi'ah
01 Juni 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   4
Tamak dan Takut Mati
31 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   10
Dari Setetes Air Menuju Kehidupan
31 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   129
Yahudi dan Ketakutan akan Kematian
30 Mei 2026   Oleh : Dr. Imam Ghozali,SH,M.Pd.I   6
Ketika Iman Melahirkan Kepedulian
29 Mei 2026   Oleh : M.Taufik, S.Pd.i   67
Bisa Sang Mawar Berduri
Rabu , 05 Maret 2025      1560
Golongan Orang Yang dirindui Surga Bagian I (Bang Herman Sang Ojol Sholeh).
Senin , 12 Mei 2025      1264
Cahaya dari Lantai Pesantren
Minggu , 14 Desember 2025      1128
Pelita Diujung desa
Selasa , 02 Desember 2025      971
Malam Pertama di Bulan Suci.
Sabtu , 01 Maret 2025      954